2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini berjudul "Nasehat Sebagai Tahap Penyelesaian Nusyuz (Analisis Lafad Fa'izhuhunna dalam Tafsir Ahkam Al-Qur'an Karya Ibnu Al-Arabi)", yang disusun oleh saudara Pauji Hidayat Tanjung. NIM. 2219041, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur'an (IDAQU) Payakumbuh. Permasalahan yang melatarbelakangi penelitian ini adalah Fenomena. pembangkangan istri (nusyuz) dalam rumah tangga menjadi salah satu persoalan yang banyak dibahas dalam perspektif hukum Islam. Nusyuz dipahami sebagai sikap tidak taat atau munculnya ketidakharmonisan antara suami dan istri yang dapat mengganggu keutuhan keluarga. Jenis peneltian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif, metode yang digunakan bersifat deskriptif analitis. Adapun pendekatan metode tafsir yang digunakan adalah tafsir tahlili. Metode tahlili yang di pakai yaitu metode Abdul Hayy al-Farmawi. Sumber data utama adalah kitab ahkam Al-Qur'an karya Ibn Al-Arabi. Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana bentuk-bentuk nasihat sebagai tahap penyelesaian nusyuz pada lafadz faizhuhunna menurut Tafsir Ahkam Al-Qur'an karya Ibnu al-'Arabi, Batasan masalah yang dibahas yaitu menjelaskan penafsiran Ibnu Al-Arabi' tentang lafad: fa'izhuhunna dalam Q.S. An-Nisa':34, serta Analisis penafsiran lafadz fa'izhuhunna dalam tafsir ibnu AL-Arab Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya langkap ataupun poin-poin yang harus disampaikan kepada istri yang nusyuz, dan Ibn Al-Arabi lebih mengutamakan cara menasihati istri yang nusyuz di banding cara pisah ranjang ataupun memukul.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Skripsi ini berjudul "Nasehat Sebagai Tahap Penyelesaian Nusyuz (Analisis Lafad Fa'izhuhunna dalam Tafsir Ahkam Al-Qur'an Karya Ibnu Al-Arabi)", yang disusun oleh saudara Pauji Hidayat Tanjung. NIM. 2219041, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur'an (IDAQU) Payakumbuh. Permasalahan yang melatarbelakangi penelitian ini adalah Fenomena. pembangkangan istri (nusyuz) dalam rumah tangga menjadi salah satu persoalan yang banyak dibahas dalam perspektif hukum Islam. Nusyuz dipahami sebagai sikap tidak taat atau munculnya ketidakharmonisan antara suami dan istri yang dapat mengganggu keutuhan keluarga. Jenis peneltian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif, metode yang digunakan bersifat deskriptif analitis. Adapun pendekatan metode tafsir yang digunakan adalah tafsir tahlili. Metode tahlili yang di pakai yaitu metode Abdul Hayy al-Farmawi. Sumber data utama adalah kitab ahkam Al-Qur'an karya Ibn Al-Arabi. Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana bentuk-bentuk nasihat sebagai tahap penyelesaian nusyuz pada lafadz faizhuhunna menurut Tafsir Ahkam Al-Qur'an karya Ibnu al-'Arabi, Batasan masalah yang dibahas yaitu menjelaskan penafsiran Ibnu Al-Arabi' tentang lafad: fa'izhuhunna dalam Q.S. An-Nisa':34, serta Analisis penafsiran lafadz fa'izhuhunna dalam tafsir ibnu AL-Arab Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya langkap ataupun poin-poin yang harus disampaikan kepada istri yang nusyuz, dan Ibn Al-Arabi lebih mengutamakan cara menasihati istri yang nusyuz di banding cara pisah ranjang ataupun memukul.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini berjudul “ KARAKTERISTIK MUNAFIK DALAM SURAT AL-BAQARAH AYAT 8-16 (Kajian Muqaran Tafsir Fi Zilalil Qur’an dan Tafsir al-Munir) ” ditulis oleh Hidayatul Azizati, NIRM:SI.VI.19.21.021, Mahasiswa Prodi Ilmu Qur’an dan Tafsir Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini didasari oleh kenyataan bahwa banyak yang tidak sadar akan sifat dan tanda-tanda munafik. Munafik ini adalah penyakit yang sulit diketahui di masyarakat, bahkan munafik ini lebih berbahaya dari orang kafir. Oleh karena itu penulis ingin menjabarkan dan menjelaskan tentang karakteristik munafik dalam surat Al-Baqarah ayat 8-16. Penulis ingin menganalisis pendapat Sayyid Quthb dan wahbah az-Zuhaili perbedaan dalam menafsirkan karakteristik munafik yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 8-16. Maka penulis ingin menjelaskan dan mengungkap bagaimana penafsiran Qs Al-Baqarah ayat 8-16 menurut tafsir Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb dan tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) menggunakan metode kualitatif. Sumber data primer yaitu, Al-Qur’an, tafsir Fi Zhilalil Qur’an dan tafsir al-Munir dan sumber data sekunder yaitu jurnal, buku, skripsi tulisan-tulisan tokoh lain yang didalamnya terdapat pembahasan yang terkait. Penelitian ini menemukan bahwa Sayyid Quthb dan Wahbah az-Zuhaili sepakat bahwasanya orang-orang munafik menampilkan keimanan di lisan mereka dan berbeda pendapat tentang apa yang kaum munafik simpan di hati mereka. Sayyid Quthb menyebutkan di dalam hatinya mengatakan bahwa mereka merasa tidak memiliki keberanian untuk menghadapi kebenaran dengan iman yang benar dan tidak berani mengatakan pengingkaran secara terus terang terhadap kaum mukminin. Sedangkan Wahbah al-Zuhaili menyebutkan hati mereka penuh dengan kekafiran dan kesesatan. Keduanya juga sepakat tentang penipuan yang dilakukan oleh kaum munafik terhadap Allah yaitu dalam bentuk pendustaan mereka dengan menampilkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran untuk keamanan jiwa dan harta mereka. Adapun mengenai penyakit yang ada di dalam hati orang-orang munafik, keduanya menyebutkan penyakit itu dalam bentuk keragu-raguan antara keimanan dan kekafiran. Adapun mengenai perusakan di muka bumi yang dilakukan oleh kaum munafik, Sayyid Quthb menyatakan perusakan di sini adalah kebaikan, keburukan, keshalihan dan kerusakan yang ada di dalam hati mereka lebih berat kepada hawa nafsu dan tidak lagi cenderung kepada kaidah ilahi (Allah), sedangkan Wahbah az-Zuhaili menyebutkan perusakan yang dilakukan kaum munafik yaitu menyulut fitnah, menebarkan rahasia kaum mukminin kepada kaum kafir, serta ingkar dan menghalangi manusia untuk berjuang di jalan Allah. Keduanya juga berbeda pendapat mengenai orang-orang bodoh yang dimaksud oleh orang munafik ketika diseru untuk beriman, Sayyid Quthb menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah khusus bagi orang-orang miskin saja yang tidak layak menduduki posisi yang terhormat, sedangkan Wahbah az-Zuhaili menyebutkan yang dimaksud adalah orang-orang lemah dari kaum hamba sahaya dan orang-orang miskin yang mengikuti Nabi. Keduanya juga sepakat tentang perumpamaan kaum munafik yakni dengan menyebutkan mereka sebagai pedagang yang rugi karena telah menukarkan hidayah dan petunjuk demi kesesatan. Salah satu yang menjadi perbedaan penafsiran adalah penafsiran Sayyid Quthb dalam kitab tafsir Fi Zhilalil Qur’an merujuk kepada orang-orang munafik yang berasal dari suku Aus dan Khazraj serta orang-orang yang mengikuti mereka. Wahbah az-zuahaili dalam kitab tafsir Al-Munir merujuk kepada orang-orang munafik yang berasal dari orang-orang munafik dari zaman Rasulullah sampai zaman modern.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Skripsi ini berjudul “ KARAKTERISTIK MUNAFIK DALAM SURAT AL-BAQARAH AYAT 8-16 (Kajian Muqaran Tafsir Fi Zilalil Qur’an dan Tafsir al-Munir) ” ditulis oleh Hidayatul Azizati, NIRM:SI.VI.19.21.021, Mahasiswa Prodi Ilmu Qur’an dan Tafsir Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini didasari oleh kenyataan bahwa banyak yang tidak sadar akan sifat dan tanda-tanda munafik. Munafik ini adalah penyakit yang sulit diketahui di masyarakat, bahkan munafik ini lebih berbahaya dari orang kafir. Oleh karena itu penulis ingin menjabarkan dan menjelaskan tentang karakteristik munafik dalam surat Al-Baqarah ayat 8-16. Penulis ingin menganalisis pendapat Sayyid Quthb dan wahbah az-Zuhaili perbedaan dalam menafsirkan karakteristik munafik yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 8-16. Maka penulis ingin menjelaskan dan mengungkap bagaimana penafsiran Qs Al-Baqarah ayat 8-16 menurut tafsir Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb dan tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) menggunakan metode kualitatif. Sumber data primer yaitu, Al-Qur’an, tafsir Fi Zhilalil Qur’an dan tafsir al-Munir dan sumber data sekunder yaitu jurnal, buku, skripsi tulisan-tulisan tokoh lain yang didalamnya terdapat pembahasan yang terkait. Penelitian ini menemukan bahwa Sayyid Quthb dan Wahbah az-Zuhaili sepakat bahwasanya orang-orang munafik menampilkan keimanan di lisan mereka dan berbeda pendapat tentang apa yang kaum munafik simpan di hati mereka. Sayyid Quthb menyebutkan di dalam hatinya mengatakan bahwa mereka merasa tidak memiliki keberanian untuk menghadapi kebenaran dengan iman yang benar dan tidak berani mengatakan pengingkaran secara terus terang terhadap kaum mukminin. Sedangkan Wahbah al-Zuhaili menyebutkan hati mereka penuh dengan kekafiran dan kesesatan. Keduanya juga sepakat tentang penipuan yang dilakukan oleh kaum munafik terhadap Allah yaitu dalam bentuk pendustaan mereka dengan menampilkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran untuk keamanan jiwa dan harta mereka. Adapun mengenai penyakit yang ada di dalam hati orang-orang munafik, keduanya menyebutkan penyakit itu dalam bentuk keragu-raguan antara keimanan dan kekafiran. Adapun mengenai perusakan di muka bumi yang dilakukan oleh kaum munafik, Sayyid Quthb menyatakan perusakan di sini adalah kebaikan, keburukan, keshalihan dan kerusakan yang ada di dalam hati mereka lebih berat kepada hawa nafsu dan tidak lagi cenderung kepada kaidah ilahi (Allah), sedangkan Wahbah az-Zuhaili menyebutkan perusakan yang dilakukan kaum munafik yaitu menyulut fitnah, menebarkan rahasia kaum mukminin kepada kaum kafir, serta ingkar dan menghalangi manusia untuk berjuang di jalan Allah. Keduanya juga berbeda pendapat mengenai orang-orang bodoh yang dimaksud oleh orang munafik ketika diseru untuk beriman, Sayyid Quthb menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah khusus bagi orang-orang miskin saja yang tidak layak menduduki posisi yang terhormat, sedangkan Wahbah az-Zuhaili menyebutkan yang dimaksud adalah orang-orang lemah dari kaum hamba sahaya dan orang-orang miskin yang mengikuti Nabi. Keduanya juga sepakat tentang perumpamaan kaum munafik yakni dengan menyebutkan mereka sebagai pedagang yang rugi karena telah menukarkan hidayah dan petunjuk demi kesesatan. Salah satu yang menjadi perbedaan penafsiran adalah penafsiran Sayyid Quthb dalam kitab tafsir Fi Zhilalil Qur’an merujuk kepada orang-orang munafik yang berasal dari suku Aus dan Khazraj serta orang-orang yang mengikuti mereka. Wahbah az-zuahaili dalam kitab tafsir Al-Munir merujuk kepada orang-orang munafik yang berasal dari orang-orang munafik dari zaman Rasulullah sampai zaman modern.
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan
2022 · Book · Koleksi Perpustakaan