Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

ZULYADEIN

2 karya publik ditemukan.

2026: 2

ANALISIS PENAFSIRAN SURAT AL-QARIAH PERSPEKTIF TAFSIR AT-THABARI DAN TAFSIR AL-AZHAR

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Skripsi ini berjudul “Analisis Penafsiran Surat Al-Qariah Perspektif Tafsir AtThabari Dan Tafsir Al-Azha” yang ditulis oleh Zulyadein, NIM. 2219021, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya asumsi yang mengatakan hari kiamat terjadi pada hari ini, dan itu. Padahal sebenarnya hanya Allah yang tahu kapan terjadinya. Maka penafsiran surah al Qari`ah ini semoga dapat menjawab seluruh asumsi yang berseleweran dimasyarakat dengan pendekatan penafsiran at Thabari dan Buya Hamka dalam tafsirnya. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research). Metode yang digunakan adalah metode tafsir muqaran. Sumber data primer penelitian ini adalah Tafsir at Thabari dan Tafsir al Azhar, dan sumbersumber sekunder lain yang dapat menjadi data penunjang. Hasil dari penelitian yang dilakukan penulis adalah sebagai berikut. Bahwa dalam penafsiran yang dilakukan tidak terdapat satu ayat dan penafsiran yang mengatakan bahwa hari kiamat terjadi dengan pastinya kapan, akan tetapi dalam ayat tersebut disampaikan bahwa keadaan dan kondisi bagaimana sebelum dan sesudah terjadinya hari kiamat. Pada penafsiran surah al-Qari`ah juga terdapat kekhususan dalam pembahasannya, di antaranya, dari bidang bahasa, al Qariah lebih tegas karena ada pengulangan, lebih to the point karena langsung membahas keadaan manusia dan hari kiamat itu sendiri dibandingkan dengan surah lain, seperti al Zalzalah, kalau di al Zalzalah hanya membahas balasan amal manusia saja. Sedangkan analisis dari perbedaan penafsiran yang dapat disimpulkan adalah pada metode keduanya sama sama menggunakan metode Tahlili yaitu menafsirkan al Qur`an secara keseluruhan yang dimulai dari surah al Fatihah sampai yang terakhir surah an Naas. Pada bagian corak juga sama, akan tetapi berbada dalam pendektan coraknya yaitu lughawi. Buya Hamka menggunakan pendekatan kebahasaan Nusantara, sedangkan at Thabari dengan pendekatan dengan riwayat.

Penafsiran Surat Al-Qariah Perspektif Tafsir AT-Thabari dan Tafsir AL-Azhar

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul “Analisis Penafsiran Surat Al-Qariah Perspektif Tafsir AtThabari Dan Tafsir Al-Azha” yang ditulis oleh Zulyadein, NIM. 2219021, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya asumsi yang mengatakan hari kiamat terjadi pada hari ini, dan itu. Padahal sebenarnya hanya Allah yang tahu kapan terjadinya. Maka penafsiran surah al Qari`ah ini semoga dapat menjawab seluruh asumsi yang berseleweran dimasyarakat dengan pendekatan penafsiran at Thabari dan Buya Hamka dalam tafsirnya. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research). Metode yang digunakan adalah metode tafsir muqaran. Sumber data primer penelitian ini adalah Tafsir at Thabari dan Tafsir al Azhar, dan sumbersumber sekunder lain yang dapat menjadi data penunjang. Hasil dari penelitian yang dilakukan penulis adalah sebagai berikut. Bahwa dalam penafsiran yang dilakukan tidak terdapat satu ayat dan penafsiran yang mengatakan bahwa hari kiamat terjadi dengan pastinya kapan, akan tetapi dalam ayat tersebut disampaikan bahwa keadaan dan kondisi bagaimana sebelum dan sesudah terjadinya hari kiamat. Pada penafsiran surah al-Qari`ah juga terdapat kekhususan dalam pembahasannya, di antaranya, dari bidang bahasa, al Qariah lebih tegas karena ada pengulangan, lebih to the point karena langsung membahas keadaan manusia dan hari kiamat itu sendiri dibandingkan dengan surah lain, seperti al Zalzalah, kalau di al Zalzalah hanya membahas balasan amal manusia saja. Sedangkan analisis dari perbedaan penafsiran yang dapat disimpulkan adalah pada metode keduanya sama sama menggunakan metode Tahlili yaitu menafsirkan al Qur`an secara keseluruhan yang dimulai dari surah al Fatihah sampai yang terakhir surah an Naas. Pada bagian corak juga sama, akan tetapi berbada dalam pendektan coraknya yaitu lughawi. Buya Hamka menggunakan pendekatan kebahasaan Nusantara, sedangkan at Thabari dengan pendekatan dengan riwayat.