Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Koleksi Perpustakaan

Koleksi otomatis dari Perpustakaan

2.134 item publik

Publikasi

Halaman 9 dari 107

Proses pembentukan alam semesta: Penafsiran Zaglul Al-Najjar atas Qur'an surah Al-Anbiya' ayat 30 dalam kosmologi modern.

MULIYA AGUSTINAWATI
2026 · Book · Open Access

ABSTRAK Skripsi yang berjudul: “Asal-Usul Alam Semesta: Penafsiran Zaghlul Al-Najjar Atas Qur'an Surah Al-Anbiya' Ayat 30 Dalam Cahaya Sains Modern”. Di susun oleh: Muliya Agustinawati. NIRM: 2219008. Mahasiswa Institut Darul Qur'an Payakumbuh. Penelitian ini dilatar belakangi adanya perbedaan pendapat tentang asal-usul terbentuk alam semesta, para ilmuwan dan para mufassir berbeda pendapat mengenai maksud dari berpadunya langit dan bumi, dan proses pemisahan antara keduanya dan dengan apa keduanya dipisahkan. Metode penelitian pada skripsi ini menggunakan metode kualitatif, karena bertujuan memahami atau mengkaji penafsiran Zaglul Al-Najjar tentang asal-usul alam semesta dengan pendekatan kepustakaan (library research). Adapun metode tafsir yang digunakan adalah metode tafsir tahlili, karena penelitian ini mengkaji penafsiran QS. Al-Anbiya’ ayat 30 secara terperinci berdasarkan pemikiran Zaghlul Al-Najjar dengan pendekatan sains (scientific approach), yaitu pendekatan yang mengkaji ayat-ayat kauniyah melalui lensa ilmu pengetahuan modern. Analisis yang digunakan dalam skripsi ini bersifat deskriptif analisis, yakni menggambarkan dan menguraikan penafsiran dalam Al-Qur'an dengan temuan sains modern. Hasil dari penelitian ini yaitu penelitian ini terdiri dari tiga pembahasan, pertama penafsiran Zaglul Al-Najjar atas Qur'an surah Al-Anbiya' ayat 30 tentang asal-usul penciptaan alam semesta, terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap pertama penciptaan alam semesta dimulai dari satu masa primer (sesuatu yang menyatu dan berpadu) yang dalam bahasa arab disebut "ratq". Tahap kedua pemisahan atau penghancuran masa primer ini atas perintah Allah yang disebut dengan "fatq" dan tahap ketiga terbentuknya selubung asap dari hasil pemisahan masa primer tersebut, dari asap inilah Allah menciptakan langit dan bumi, dan segala apa yang ada diantara keduanya(alam semesta). Pembahasan kedua yaitu para Mufassir Ilmi dalam menafsirkan surah Al-Anbiya' ayat 30 sepakat bahwasanya alam semesta ini berasal dari satu yang padu dan berbeda pandangan pada bagaimana pemisahannya terjadi. Ar-Razi menyebutkan ada yang berpendapat Allah pisahkan dengan angin dan ada juga yang berpendapat Allah pisahkan dengan hujan, dan sedangkan Tantawi Jauhari menyebutkan terpisahnya langit dan bumi (alam semesta) karena mendinginya matahari. Dan pembahasan ketiga yaitu analisis penafsiran Zaglul Al-Najjar dengan temuan sains modern, yaitu terdapat tiga aspek kesamaan konsep dengan sains modern. Pertama kata "ratq" yang berarti menyatu, Zaglul Al-Najjar mengartikan dengan masa primer dan temuan sains mengatakan dengan titik tunggal (singularitas). Kedua pada kata "fatq" Zaglul Al-Najjar mengartikan dengan pemisahan dan dalam teori temuan sains modern disebutkan dengan ledakan yang dahsyat. Ketiga Zaglul Al-Najjar mengatakan terbentuknya selubung asap dari hasil pemisahan masa primer tersebut, dalam temuan sains disebut gas kosmik. Dari selubung asap atau gas kosmik inilah yang membentuk alam semesta.

Penafsiran Kata Khasyyah dalam Al-Qur'an Menurut Ibnu Rajab Al-Hanbali

INDAH SRI GUSTINI
2026 · Book · Open Access

Penelitian ini membahas penafsiran Ibnu Rajab Al-Ḥanbali terhadap konsep khasyyah dalam Al-Qur’an. Kajian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami makna khasyyah yang sering diterjemahkan sebagai “rasa takut kepada Allah”teteapi ternyata tidak sesederhana itu, bukan hanya sebagai emosi keagamaan, tetapi sebagai kesadaran spiritual yang lahir dari pengetahuan dan pengenalan terhadap keagungan Allah. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana Ibnu Rajab menafsirkan ayat-ayat yang berkaitan dengan khasyyah, serta untuk mengungkap hubungan antara khasyyah, ilmu, dan keimanan menurut perspektif beliau. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan tafsir maudhu’i (tematik), yaitu menelusuri seluruh ayat yang berkaitan dengan khasyyah dalam Al-Qur’an kemudian mengkaji penafsiran Ibnu Rajab sebagaimana terdapat dalam karya-karyanya, terutama Rawai’ut Tafsir. Data sekunder diperoleh dari karya-karya tafsir klasik dan modern dan jurnal-jurnal yang relevan untuk memperkuat analisis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Ibnu Rajab hanya menafsirkan konsep khasyyah secara mendalam dan utuh pada Q.S. Faṭir ayat 28, yang menegaskan bahwa orang yang takut kepada Allah adalah para ulama. Ayat ini secara jelas mengaitkan khasyyah dengan ilmu, sehingga menunjukkan bahwa rasa takut yang benar lahir dari pengetahuan yang mendalam tentang Allah. Menurut Ibnu Rajab, khasyyah bukan sekadar rasa takut, melainkan kesadaran batin yang muncul dari pengenalan terhadap keagungan, kebesaran, dan kekuasaan Allah. Ia juga mengaitkan rasa takut yang lahir dari ilmu ini dengan keyakinan terhadap yaumul akhir (hari akhir), karena kesadaran akan hari pembalasan memperkuat ketaatan dan ketakwaan seorang hamba kepad Allah SWT. Dengan demikian, khasyyah menurut Ibnu Rajab merupakan cerminan dari ilmu yang benar, aqidah yang kuat, serta tanda keimanan sejati yang menghantarkan seseorang pada derajat ulama yang hakiki.

Harmoni Ilmu

Abdullah Abdullah; Zulfa Ayu Zahra; Irawan Irawan; Adam Malik
2026 · Book · Open Access

Buku "Harmoni Ilmu : Filsafat Islam dan Barat dalam Era Sains Modern" mengupas hubungan antara filsafat Islam dan filsafat Barat dalam konteks perkembangan sains modern. Buku ini mengeksplorasi bagaimana kedua tradisi pemikiran, meskipun berasal dari latar belakang budaya dan filosofis yang berbeda, memiliki kesamaan dalam pencarian kebenaran. Melalui pendekatan kritis dan reflektif, buku ini menunjukkan bagaimana filsafat Islam, dengan nilai-nilai spiritual dan etika yang kuat, dapat memperkaya pandangan dunia sains modern. Sebaliknya, pendekatan rasional dan empiris dari filsafat Barat memberikan kontribusi besar dalam inovasi teknologi dan metode ilmiah. Pembaca diajak untuk menemukan titik temu yang harmonis antara kedua tradisi ini, menjadikan sains sebagai alat untuk memahami dunia dan meningkatkan kesejahteraan manusia secara holistik. Buku ini tidak hanya relevan bagi kalangan akademik, tetapi juga masyarakat umum yang tertarik untuk memahami integrasi antara agama, filsafat, dan sains di era modern.