Profil penulis
Muhammad
212 karya publik ditemukan.
Kemudahan dari Allah : Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4
Kemudahan dari Allah : Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2
Kemudahan dari Allah : Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1
Rugi dalam al-Qur’an (Studi Tafsir al Azhar)
Judul skripsi ini yaitu: “RUGI DALAM AL QUR’AN (Studi Tafsir Al Azhar)” yang ditulis oleh Muhammad Ilyas Nasution, Nirm S1.VI.19.19.484, Mahasiswa STAI Darul Qur’an Payakumbuh. Latar belakang pemilihan judul ini adalah dari banyaknya istilah dari makna kerugian yang ada, baik ia di dunia dan di akhirat. Tetapi manusia di zaman sekarang ini lebih mengartikan sebuah kerugian hanya dalam konteks dunia sebagai contoh: dalam bisnisnya, hartanya, dagangannya dan lain sebagainya. Padahal kerugian yang sesungguhnya adalah kerugian akhirat, yang mana ketika semua amal perbuatan yang dilakukan di dunia tidak dapat membantu dan menolong saat di akhirat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis makna dari sebuah kerugian di dalam Al Qur’an, dan untuk memberikan informasi mengenai solusi untuk mengatasi kerugian menurut Buya Hamka. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, jenis penelitian dalam skripsi ini yaitu penelitian pustaka (Library research), dan termasuk penelitian sejarah dengan menggunakan pendekatan biografi yaitu studi tokoh atau sering disebut penelitian riwayat hidup (Individual Life History). Adapun sumber data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini terdiri dari data primer dan sekunder Sumber data primer adalah Kitab tafsir Al Azhar Sedangkan sumber data sekunder adalah data pendukung yang memudahkan kajian, seperti: jurnal, buku dan artikel. Penyajian tafsirnya dengan pendekatan tafsir tematik, dengan metode maudhu'i karya Abdul Al Hayy Al Farmawi, penafsiran yang mencari jawaban langsung dari Al-Qur’an tentang sebuah persoalan. Rumusan masalah dalam skripsi ini adalah penafsiran Buya Hamka terhadap kerugian dalam tafsir Al Azhar, yang terfokuskan pada penafsiran Buya Hamka terhadap kerugian dalam Al Qur’an dan penyebab rugi dan solusinya di dalam Al Qur’an. Hasil dalam penelitian ini adalah kerugian merupakan kesusahan dan kesulitan hidup dan juga merupakan keadaan hidup yang pahit, penyesalan dan menimpa dalam tempo yang tidak sebentar. Kerugian adalah hal yang tidak bisa terhindar dari manusia karena adanya faktor keburukan yang mempengaruhi jiwa dan iman manusia. Mulai dari diri sendiri seperti sipat dzalim, pikiran kotor, tidak mau melangkah ke dalam kebaikan, tidak mau menerima nasehat dan sebagainya. Disebabkan juga faktor dari luar seperti, lingkungan, pertemanan dan bahkan Jin. Hal inilah yang mesti diperhatikan dan dijaga oleh setiap manusia jangan sampai terjerumus dan tergoda ke dalam keburukan. Sebab segala yang diusahakan nantinya di dunia akan di adili di akhirat, apakah ia masuk ke dalam orang yang merugi atau beruntung. Orang-orang yang merugi nantinya di akhirat itulah orang-orang yang mengakui penyesalannya, tempatnya adalah neraka balasan atas perbuatannya.
Penafsiran Ahsan Taqwim dalam QS At Tin Ayat 4 ( Studi Komparatif antara Tafsir al Misbah dan Tafsir al Maraghi)
Judul skripsi ini yaitu: “PENAFSIRAN AHSAN TAQWIM DALAM QS. AT TIN AYAT 4 (Studi Komparatif antara Tafsir Al Mishbah dan Tafsir Al Maraghi)” yang ditulis oleh Muhammad Rizal, Nirm S1.VI.19.19.487, Mahasiswa STAI Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini dilatar belakangi melihat dari artikel kompas.com Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah bayi prematur tertinggi di dunia, yaitu menempati peringkat kelima. Ada 15 juta bayi yang terlahir prematur setiap tahunnya di seluruh dunia. Dari sejumlah 15 juta bayi prematur tersebut, sebanyak 1,1 juta bayi dilaporkan meninggal dunia karena berbagai komplikasi. Maka dari itu penulis tertarik meneliti bagaimana penafsiran ahsan taqwim (sebaik-baik ciptaan) dalam Qs. At tin ayat 4 menurut Quraish Shihab dalam tafsir Al Mishbah dan Ahmad Musthafa Al Maraghi dalam tafsir Al Maraghi. Kemudian penulis ingin menganalisa dari kedua pendapat mufassir tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap bagaimana penafsiran ahsan taqwim menurut Tafsir Al Mishbah Karya M. Quraish Shihab dan Tafsir Al Maraghi Karya Ahmad Musthafa Al Maraghi serta analisa penulis dari kedua mufassir. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dan metode tafsir yang dipakai adalah metode muqaran jenis perbandingan antara mufassir, sumber data penelitian terbagi dua: pertama sumber data primer yaitu Al Qur’an, Tafsir Al Misbah Karya Muhammad Quraish Shihab, Tafsir Al-Maraghi Karya Ahmad Musthafa Al Maraghi. Kedua sumber data sekunder adalah data pendukung yang memudahkan untuk meneliti kajian, yaitu: jurnal, buku, skripsi tulisan-tulisan tokoh lain yang di dalamnya terdapat pembahasan yang berkaitan dengan pembahasan ahsan taqwim. Berdasarkan hasil dari penelitian ini yakni penafsiran ahsan taqwim dalam Qs. At tin ayat 4. Menurut Quraish Shihab ahsan taqwim adalah manusia yang diciptakan dalam bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya dalam arti yang sebaik-baiknya adalah dalam fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi. Menurut Al Maraghi ahsan taqwim merupakan ciptaan allah yang sempurna dibanding makhluk lain, diberikan pula akal pikiran agar dapat mencari dan mendalami ilmu pengetahuan sehinga bisa berkuasa atas segala makluk. Analisa penulis, keduanya mengemukakan bahwa manusia merupakan ciptaan allah swt yang paling baik dibandingkan makhluk lainnya. Sementara perbedaan dari kedua mufassir, M. Quraish Shihab menjelaskan ahsan taqwim itu sebaik-baik ciptaan agar menjadi hamba yang gemar beribadah dan khalifah allah di bumi. SedangkanAhmad Musthafa Al Maraghi menjelaskan ahsan taqwim itu yang mempunyai akal dengan tujuan bisa berkuasa atas segala makhluk dan gemar mengumpulkan harta untuk kesenangan semata.
Penafsiran Ahsan Taqwim dalam QS At Tin Ayat 4 ( Studi Komparatif antara Tafsir al Misbah dan Tafsir al Maraghi)
Judul skripsi ini yaitu: “PENAFSIRAN AHSAN TAQWIM DALAM QS. AT TIN AYAT 4 (Studi Komparatif antara Tafsir Al Mishbah dan Tafsir Al Maraghi)” yang ditulis oleh Muhammad Rizal, Nirm S1.VI.19.19.487, Mahasiswa STAI Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini dilatar belakangi melihat dari artikel kompas.com Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah bayi prematur tertinggi di dunia, yaitu menempati peringkat kelima. Ada 15 juta bayi yang terlahir prematur setiap tahunnya di seluruh dunia. Dari sejumlah 15 juta bayi prematur tersebut, sebanyak 1,1 juta bayi dilaporkan meninggal dunia karena berbagai komplikasi. Maka dari itu penulis tertarik meneliti bagaimana penafsiran ahsan taqwim (sebaik-baik ciptaan) dalam Qs. At tin ayat 4 menurut Quraish Shihab dalam tafsir Al Mishbah dan Ahmad Musthafa Al Maraghi dalam tafsir Al Maraghi. Kemudian penulis ingin menganalisa dari kedua pendapat mufassir tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap bagaimana penafsiran ahsan taqwim menurut Tafsir Al Mishbah Karya M. Quraish Shihab dan Tafsir Al Maraghi Karya Ahmad Musthafa Al Maraghi serta analisa penulis dari kedua mufassir. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dan metode tafsir yang dipakai adalah metode muqaran jenis perbandingan antara mufassir, sumber data penelitian terbagi dua: pertama sumber data primer yaitu Al Qur’an, Tafsir Al Misbah Karya Muhammad Quraish Shihab, Tafsir Al-Maraghi Karya Ahmad Musthafa Al Maraghi. Kedua sumber data sekunder adalah data pendukung yang memudahkan untuk meneliti kajian, yaitu: jurnal, buku, skripsi tulisan-tulisan tokoh lain yang di dalamnya terdapat pembahasan yang berkaitan dengan pembahasan ahsan taqwim. Berdasarkan hasil dari penelitian ini yakni penafsiran ahsan taqwim dalam Qs. At tin ayat 4. Menurut Quraish Shihab ahsan taqwim adalah manusia yang diciptakan dalam bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya dalam arti yang sebaik-baiknya adalah dalam fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi. Menurut Al Maraghi ahsan taqwim merupakan ciptaan allah yang sempurna dibanding makhluk lain, diberikan pula akal pikiran agar dapat mencari dan mendalami ilmu pengetahuan sehinga bisa berkuasa atas segala makluk. Analisa penulis, keduanya mengemukakan bahwa manusia merupakan ciptaan allah swt yang paling baik dibandingkan makhluk lainnya. Sementara perbedaan dari kedua mufassir, M. Quraish Shihab menjelaskan ahsan taqwim itu sebaik-baik ciptaan agar menjadi hamba yang gemar beribadah dan khalifah allah di bumi. SedangkanAhmad Musthafa Al Maraghi menjelaskan ahsan taqwim itu yang mempunyai akal dengan tujuan bisa berkuasa atas segala makhluk dan gemar mengumpulkan harta untuk kesenangan semata.
Rugi dalam al-Qur’an (Studi Tafsir al Azhar)
Judul skripsi ini yaitu: “RUGI DALAM AL QUR’AN (Studi Tafsir Al Azhar)” yang ditulis oleh Muhammad Ilyas Nasution, Nirm S1.VI.19.19.484, Mahasiswa STAI Darul Qur’an Payakumbuh. Latar belakang pemilihan judul ini adalah dari banyaknya istilah dari makna kerugian yang ada, baik ia di dunia dan di akhirat. Tetapi manusia di zaman sekarang ini lebih mengartikan sebuah kerugian hanya dalam konteks dunia sebagai contoh: dalam bisnisnya, hartanya, dagangannya dan lain sebagainya. Padahal kerugian yang sesungguhnya adalah kerugian akhirat, yang mana ketika semua amal perbuatan yang dilakukan di dunia tidak dapat membantu dan menolong saat di akhirat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis makna dari sebuah kerugian di dalam Al Qur’an, dan untuk memberikan informasi mengenai solusi untuk mengatasi kerugian menurut Buya Hamka. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, jenis penelitian dalam skripsi ini yaitu penelitian pustaka (Library research), dan termasuk penelitian sejarah dengan menggunakan pendekatan biografi yaitu studi tokoh atau sering disebut penelitian riwayat hidup (Individual Life History). Adapun sumber data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini terdiri dari data primer dan sekunder Sumber data primer adalah Kitab tafsir Al Azhar Sedangkan sumber data sekunder adalah data pendukung yang memudahkan kajian, seperti: jurnal, buku dan artikel. Penyajian tafsirnya dengan pendekatan tafsir tematik, dengan metode maudhu'i karya Abdul Al Hayy Al Farmawi, penafsiran yang mencari jawaban langsung dari Al-Qur’an tentang sebuah persoalan. Rumusan masalah dalam skripsi ini adalah penafsiran Buya Hamka terhadap kerugian dalam tafsir Al Azhar, yang terfokuskan pada penafsiran Buya Hamka terhadap kerugian dalam Al Qur’an dan penyebab rugi dan solusinya di dalam Al Qur’an. Hasil dalam penelitian ini adalah kerugian merupakan kesusahan dan kesulitan hidup dan juga merupakan keadaan hidup yang pahit, penyesalan dan menimpa dalam tempo yang tidak sebentar. Kerugian adalah hal yang tidak bisa terhindar dari manusia karena adanya faktor keburukan yang mempengaruhi jiwa dan iman manusia. Mulai dari diri sendiri seperti sipat dzalim, pikiran kotor, tidak mau melangkah ke dalam kebaikan, tidak mau menerima nasehat dan sebagainya. Disebabkan juga faktor dari luar seperti, lingkungan, pertemanan dan bahkan Jin. Hal inilah yang mesti diperhatikan dan dijaga oleh setiap manusia jangan sampai terjerumus dan tergoda ke dalam keburukan. Sebab segala yang diusahakan nantinya di dunia akan di adili di akhirat, apakah ia masuk ke dalam orang yang merugi atau beruntung. Orang-orang yang merugi nantinya di akhirat itulah orang-orang yang mengakui penyesalannya, tempatnya adalah neraka balasan atas perbuatannya.
Tradisi Tolak Bala di Desa Ranto Natas Kecamatan Panyabungan Timur Kabupaten Mandailing Natal (kajian Living Qur’an)
Judul skripsi ini yaitu: “TRADISI TOLAK BALA DI DESA RANTO NATAS KECAMATAN PANYABUNGAN TIMUR KABUPATEN MANDAILING NATAL ( Kajian Living Qur’an)” yang ditulis oleh Muhammad Ridwan, Nirm S1.VI.19.19.486, Mahasiswa STAI Darul Qur’an Payakumbuh. Latar belakang masalah dalam penulisan skripsi ini adalah tentang Fenomena living Qur'an yang merupakan respon sosial suatu komunitas atau masyarakat tertentu dalam meresepsi kehadiran Al-Qur'an seperti yang terjadi di Desa Rato Natas, Kecamatan Panyabungan Timur, Kabupaten Mandailing Natal. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah: bertujuan untuk mengetahui sejarah pelaksanaan tradisi tolak bala di Desa Ranto Natas Kecamatan Panyabungan Timur Kabupaten Mandailing Natal, bagaimana prosesi tradisi tolak bala di Desa Ranto Natas Kecamatan Panyabungan Timur Kabupaten Mandailing Natal, serta bagaimana persepsi dan manfaat Tolak Bala bagi masyarakat Desa Ranto Natas Kecamatan Panyabungan Timur. Pada pembahasan skripsi ini penulis menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif untuk menggambarkan kegiatan tradisi tolak bala dengan melakukan pengamatan, wawancara dan dokumentasi, kemudian menganalisis dan mereduksi data yang telah didapatkan. Adapun pendekatan penelitian dalam skripsi ini adalah pendekatan sosial karena Penulis menemukan adanya kajian Living Qur’an dalam pelaksanaan Tradisi Tolak Bala di Desa Ranto Natas Kecamatan Pnyabungan Timur Kabupaten Mandailing Natal. Hasil penelitian ini adalah Pertama, Pristiwa yang melatar belakangi tradsi Tolak Bala yang di laksanakan di Desa Ranto Natas adalah pada zaman sebelum di laksanaknnya tradisi Tolak Bala masyarakat ranto natas pernah dilanda berupa penyakit, beberapa hama yang mengganggu tanam-tanaman masyarakat dan bencana alam lainnya seperti longsor baik yang dekat maupun di dengar dari kejauhan. Kedua, Pelaksanaan dalam tolak bala ini ada dua rangkaian acara yaitu dimulai dari persiapan seperti mempersiapkan tempat, menentukan waktu, anggota, sarana prasarana, dan pembawa acara. Kemudian pelaksanaan yaitu, istighfar 3 kali, membca alfatihah, membaca surah yasin, tahlil, membaca ayat pendek, dan doa. Ketiga, pandangan dan manfaat yang dirasakan masyarakat setelah melaksanakan tolak bala, yaitu masyarakat menerima dengan baik dan mendukung dengan kegiatan tersebut, manfaat yang dirasakan sangat banyak diantaranya setelah di adakan kegiatan tolak bala ini desa ranto natas terasa aman dan jauh dari hal-hal yang membuat kurang nyaman.
Tradisi Tolak Bala di Desa Ranto Natas Kecamatan Panyabungan Timur Kabupaten Mandailing Natal (kajian Living Qur’an)
Judul skripsi ini yaitu: “TRADISI TOLAK BALA DI DESA RANTO NATAS KECAMATAN PANYABUNGAN TIMUR KABUPATEN MANDAILING NATAL ( Kajian Living Qur’an)” yang ditulis oleh Muhammad Ridwan, Nirm S1.VI.19.19.486, Mahasiswa STAI Darul Qur’an Payakumbuh. Latar belakang masalah dalam penulisan skripsi ini adalah tentang Fenomena living Qur'an yang merupakan respon sosial suatu komunitas atau masyarakat tertentu dalam meresepsi kehadiran Al-Qur'an seperti yang terjadi di Desa Rato Natas, Kecamatan Panyabungan Timur, Kabupaten Mandailing Natal. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah: bertujuan untuk mengetahui sejarah pelaksanaan tradisi tolak bala di Desa Ranto Natas Kecamatan Panyabungan Timur Kabupaten Mandailing Natal, bagaimana prosesi tradisi tolak bala di Desa Ranto Natas Kecamatan Panyabungan Timur Kabupaten Mandailing Natal, serta bagaimana persepsi dan manfaat Tolak Bala bagi masyarakat Desa Ranto Natas Kecamatan Panyabungan Timur. Pada pembahasan skripsi ini penulis menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif untuk menggambarkan kegiatan tradisi tolak bala dengan melakukan pengamatan, wawancara dan dokumentasi, kemudian menganalisis dan mereduksi data yang telah didapatkan. Adapun pendekatan penelitian dalam skripsi ini adalah pendekatan sosial karena Penulis menemukan adanya kajian Living Qur’an dalam pelaksanaan Tradisi Tolak Bala di Desa Ranto Natas Kecamatan Pnyabungan Timur Kabupaten Mandailing Natal. Hasil penelitian ini adalah Pertama, Pristiwa yang melatar belakangi tradsi Tolak Bala yang di laksanakan di Desa Ranto Natas adalah pada zaman sebelum di laksanaknnya tradisi Tolak Bala masyarakat ranto natas pernah dilanda berupa penyakit, beberapa hama yang mengganggu tanam-tanaman masyarakat dan bencana alam lainnya seperti longsor baik yang dekat maupun di dengar dari kejauhan. Kedua, Pelaksanaan dalam tolak bala ini ada dua rangkaian acara yaitu dimulai dari persiapan seperti mempersiapkan tempat, menentukan waktu, anggota, sarana prasarana, dan pembawa acara. Kemudian pelaksanaan yaitu, istighfar 3 kali, membca alfatihah, membaca surah yasin, tahlil, membaca ayat pendek, dan doa. Ketiga, pandangan dan manfaat yang dirasakan masyarakat setelah melaksanakan tolak bala, yaitu masyarakat menerima dengan baik dan mendukung dengan kegiatan tersebut, manfaat yang dirasakan sangat banyak diantaranya setelah di adakan kegiatan tolak bala ini desa ranto natas terasa aman dan jauh dari hal-hal yang membuat kurang nyaman.
Mengenal Qira-at Al-Qur’an
Al-Qur'an Imamku : Telaah Mendalam Mengenai Ulumul Qur'an
Studi Al-Qur'an Al-Karim
Balaghah tasrif al-qawl fi al-Qur'an al-Karim
Mutiara Nahjul Balaghah
Ali bin Abi Thalib r.a. memiliki kedudukan khusus di sisi Rasulullah Saw. dengan kekerabatannya yang amat dekat. Sejak dia masih seorang bocah, Rasulullah meletakkan Ali di pangkuannya, mendekapkannya ke dada beliau, memeluknya di pembaringan beliau, menyentuhkannya dengan tubuh beliau, dan menciumkannya harum aroma beliau. Adakalanya beliau mengunyah sesuatu lalu disuapkan ke mulut Ali. Begitulah gambaran kedekatan dirinya dengan Rasulullah Saw. sejak dia masih anak-anak. Sejak usianya yang amat dini, dia berada di bawah asuhan seorang manusia pilihan: Muhammad Saw. Maka tak heran jika dia yang paling banyak menerima pancaran sinar ilmu dan hikmah. Sehingga Nabi Saw. bersabda, "Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya. Maka siapa saja ingin mendapat ilmu, hendaknya dia melewati pintunya." Berkat pancaran ilmunya itulah, tak seorang pun ahli bahasa Arab berani mengingkari ucapan-ucapan Ali r.a. Bahkan ulama besar memuji ucapan-ucapan Ali r.a. sebagai yang paling mulia, paling fasih, paling padat isinya, paling tinggi mutunya, dan paling meliputi makna-makna agung setelah firman Allah Swt. dan sabda Nabi-Nya Saw. Tak heran jika pada suatu kesempatan Khalifah Umar bin Khaththab mengatakan, "Kalau bukan karena Ali, sungguh telah binasa Umar." [Mizan, Noura Books, Agama, Religi, Islam, Khalifah, Indonesia,]
Memahami Balaghah dengan Kacamata Gaya Bahasa Indonesia
Bala>ghah merupakan pelajaran yang dianggap sulit bagi siswa dibandingkan nahwu dan s}araf. Di antara faktor kesulitannya adalah, karena s}araf hanya mempelajari pembentukan dan perubahan kata sesuai makna yang dikehendaki, asal kata dan perubahan kelas kata. Begitu juga nahwu, hanya mempelajari hubungan kata dalam kalimat dan kegramatisan ungkapan. Sedangkan bala>ghah, membahas hubungan kata dan ungkapan dengan situasi, lingkungan, dan makna, dalam bala>ghah ada makna hakiki (denotatif) dan majazi (konotatif), ada hubungan ungkapan dengan perasaan, keindahan, dan imajinasi (Tammam Hasan: 2000). Halhal tersebut tidak mudah bagi siswa memahami dan mempraktikkannya dalam membuat kalimat. Selain faktor sifat-sifat kekhasan Bala>ghah tersebut, yang membuat sulit bagi pembelajar adalah contoh-contoh yang tersaji dalam buku-buku Bala>ghah di kelas diambil dari syair-syair Arab. Alih-alih memahami teori bala>ghah, memahami kosa kata syair saja sulit. Maka perlu ada solusi untuk membantu mempermudahnya.