Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

52 hasil
Subjek: Tafsir
DaftarKartu
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Fenomena Toxic Parenting dalam Perspektif Al-Qur’ān dengan Pendekatan Tafsir Tematik

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena meningkatnya praktik pola asuh yang merusak (toxic parenting) , Toxic parenting adalah pola pengasuhan yang tidak sehat dan merugikan anak, dikatakan toxic jika perilaku tersebut dilakukan secara berulang dan konsisten tanpa adanya tujuan dan evaluasi. Pola asuh yang merusak berupa pengabaian, kekerasan fisik maupun emosional, kekerasan ekonomi, diskriminasi, serta perlakuan merugi lainnya. Fenomena ini tidak hanya berdampak negatif terhadap kesehatan mental dan perkembangan anak, tetapi juga bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Al-Qur’ān sebagai pedoman hidup umat Islam dapat menjadi solusi atas persoalan tersebut Oleh karena itu, penelitian ini berupaya menggali dan merumuskan solusi Al-Qur’ān terhadap fenomena toxic parenting dalam keluarga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research) serta menerapkan metode Tafsīr tematik (Maudhū’ī) sebagaimana dirumuskan oleh Abd al-Hayy al-Farmāwī. Sumber data primer berupa Al-Qur’ān dan terjemahannya serta penafsiran dari lima kitab Tafsīr, yaitu Tafsīr Al-Azhar, Tafsīr Al-Miṣbāḥ, Tafsīr Al-Munīr, Tafsīr Fī Zilālil Qur’ān, dan Tafsīr Kementerian Agama RI. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi, dengan bantuan kitab Mu’jam al-Mufahras li Alfāzh al-Qur’ān al-Karīm Analisis data dilakukan dengan analisis isi (content analysis) melalui langkah-langkahtafsīr maudhū’ī Maudhū’ī al-Farmāwī. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima ayat yang menjadi dasar pandangan Al-Qur’ān terhadap toxic parenting: QS. An-Nisā’ (4): 9 tentang tanggung jawab orang tua dan larangan meninggalkan keturunan dalam keadaan lemah; QS. Al-An‘ām (6): 140 tentang larangan kekerasan fisik dan pentingnya ilmu dalam pengasuhan; QS. Al-Isrā’ (17): 31 tentang larangan kekerasan ekonomi karena takut miskin; QS. An-Naḥl (16): 59 tentang penolakan kekerasan emosional dan penerimaan anak sebagai amanah; serta QS. Al-Mā’idah (5): 8 tentang keadilan dan larangan diskriminasi. Al-Qur’ān tidak hanya melarang pengasuhan yang merusak, tetapi juga menawarkan prinsip pengasuhan positif, yaitu tanggung jawab, perlindungan, ketakwaan, kasih sayang, dan keadilan. Dibandingkan dengan pandangan Susan Forward, Al-Qur’ān menekankan dimensi spiritual dan ketakwaan sebagai fondasi pengasuhan. Dengan demikian, Al-Qur’ān menjadi pedoman komprehensif dalam membentuk keluarga Muslim yang harmonis dan mendukung tumbuh kembang anak secara utuh.

11 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Penafsiran Jihad dalam Surah Al-Furqan Ayat 52 dalam Kitab Al-Jami‘ LI Ahkam Al-Qur'an dan Relevansinya dengan Era Modern (Kajian Tafsir Tahlili)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi yang berjudul “Penafsiran Jihad Dalam Surat Al Furqon Ayat 52 Dalam Kitab Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān dan Relevansi Nya Dengan Era Modern. (Kajian Tafsir Tahlili)” disusun oleh Reski Ananda NIM 2219006, Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya pemahaman jihad yang sering dikaitkan dengan peperangan, padahal Al-Qur’an menunjukkan adanya bentuk jihad yang dilakukan melalui sarana selain kekuatan fisik. Salah satunya terdapat dalam QS. Al-Furqān ayat 52 melalui lafaz wa jāhid-hum bihī jihādan kabīran. Ayat tersebut merupakan ayat Makkiyah yang turun sebelum disyariatkannya peperangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran jihad dalam QS. Al-Furqān ayat 52 menurut Imam Al-Qurṭubī serta mengetahui relevansi penafsiran tersebut dalam kehidupan kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Sumber primer penelitian adalah kitab Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān karya Imam Al-Qurṭubī, khususnya penafsiran QS. Al-Furqān ayat 52, sedangkan sumber sekunder berasal dari kitab tafsir, buku, jurnal, dan literatur yang relevan dengan pembahasan jihad. Data dianalisis secara deskriptif-analitis dengan memperhatikan aspek kebahasaan, konteks Makkiyah, riwayat, serta kronologi pensyariatan jihad. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Imam Al-Qurṭubī memahami jihad dalam QS. Al-Furqān ayat 52 sebagai perjuangan menghadapi kaum kafir dengan menggunakan Al-Qur’an sebagai instrumen utama. Pemahaman tersebut didasarkan pada lafaz bihī yang merujuk kepada Al-Qur’an, pendapat Ibn ‘Abbās dan Ibn Zayd, serta konteks Makkiyah yang berlangsung sebelum adanya perintah perang. Jihad dalam ayat tersebut pada era modern yaitunya jihad intelektual. Penafsiran tersebut relevan dengan kehidupan kontemporer karena nilai jihad dapat diwujudkan melalui pendidikan, dakwah, pengembangan ilmu pengetahuan, literasi Al-Qur’an, pembinaan akhlak, dan penyelesaian berbagai persoalan masyarakat secara damai dan konstruktif. Dengan demikian, penafsiran Al-Qurṭubī menunjukkan bahwa jihad memiliki makna yang kontekstual dan tidak selalu identik dengan peperangan.

20 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Penafsiran Kata Shayyib dalam Tafsir al-Ayat al-Kauniyyah Fi al-Qur’an al-Karim

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji penafsiran kata shayyib dalam QS. Al-Baqarah ayat 19 menurut Zaghloul Al-Najjar dalam Tafsir al-Ayat al-Kauniyyah fi al-Qur’an al-Karim. Kata shayyib merupakan istilah yang unik dalam Al-Qur’an dan ditafsirkan beragam oleh para mufasir, sehingga perlu dikaji melalui pendekatan tafsir ilmi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menganalisis penafsiran Zaghloul Al-Najjar terhadap kata tersebut. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif, metode tafsir tahlili, dan pendekatan ilmiah. Data primer berasal dari Al-Qur’an dan kitab tafsir karya Zaghloul Al-Najjar, sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai literatur pendukung yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa shayyib ditafsirkan sebagai hujan badai yang disertai kegelapan, petir, dan kilat, yang berkaitan dengan fenomena cuaca ekstrem di atmosfer. Melalui tafsir ilmi, Zaghloul Al-Najjar menghubungkan makna linguistik ayat dengan temuan sains modern, sehingga shayyib tidak hanya dipahami sebagai hujan, tetapi juga sebagai gambaran kekuatan alam yang besar. Fenomena tersebut menjadi perumpamaan bagi kondisi orang-orang munafik yang dipenuhi ketakutan, keraguan, dan kebingungan terhadap petunjuk Allah. Penafsiran ini menunjukkan keselarasan antara pesan Al-Qur’an dan fakta ilmiah serta memperkaya pemahaman terhadap ayat-ayat kauniyah.

21 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Konsep Pariwisata Dalam Al-Qur'an

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul “Konsep Pariwisata dalam Al-Qur’an”, yang disusun oleh saudara Muhandi, NIM 2219025, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh berkembangnya sektor pariwisata sebagai salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat modern. Dalam perspektif Islam, aktivitas pariwisata tidak hanya dipahami sebagai kegiatan rekreasi, tetapi juga sebagai sarana untuk mengambil pelajaran (ibrah), memperkuat keimanan, mengenal kebesaran Allah Swt., serta merenungkan sejarah kehidupan umat terdahulu sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang komprehensif mengenai konsep pariwisata dalam Al-Qur'an berdasarkan penafsiran para mufasir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep pariwisata dalam Al-Qur'an melalui penafsiran lima kitab tafsir, yaitu Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, Tafsir Al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Ibnu Katsir, dan Tafsir Al-Qurthubi, terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan aktivitas perjalanan, pengamatan alam, serta pengambilan pelajaran dari peninggalan umat terdahulu. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode tafsir maudhu'i (tematik). Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi terhadap sumber primer dan sekunder, sedangkan analisis data menggunakan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima mufasir memiliki kesamaan pandangan bahwa perintah melakukan perjalanan di muka bumi dalam ayat-ayat tersebut bukan sekadar bertujuan untuk rekreasi, tetapi lebih kepada upaya memperoleh pengetahuan, mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu, mengamati tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta, serta memperkuat keimanan kepada-Nya. Perbedaan penafsiran terletak pada penekanan masing-masing mufasir. Tafsir Al-Misbah lebih menonjolkan relevansi perjalanan dengan pengembangan wawasan dan pembentukan karakter. Tafsir Al-Azhar menekankan nilai pendidikan, pembangunan peradaban, dan kesadaran sosial. Tafsir Al-Munir mengaitkan perjalanan dengan fungsi dakwah, tadabbur, dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Sementara itu, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Qurthubi lebih menekankan aspek riwayat, pelajaran dari kehancuran umat terdahulu, serta hikmah yang dapat diambil sebagai bentuk penguatan akidah. Dengan demikian, konsep pariwisata dalam Al-Qur'an merupakan aktivitas yang mengandung dimensi edukatif, spiritual, historis, dan sosial, sehingga mampu mendorong manusia untuk semakin mengenal kebesaran Allah SWT serta mengambil hikmah dari perjalanan yang dilakukan

21 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Nisab Zakat Padi Masyarakat Nagari Sitanang (Kajian Ayat-ayat Zakat)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skrispsi ini berjudul “NISAB ZAKAT PERTANIAN (PADI) MASYARAKAT NAGARI SITANANG (KAJIAN AYAT-AYAT ZAKAT)”, yang ditulis oleh Syamsul Hanafi, NIM 2219001, Mahasiswa Institut Darul Quran (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan antara pemahaman masyarakat dan praktik pelaksanaan nisab zakat pertanian padi di Nagari Sitanang. Masyarakat pada umumnya telah mengetahui adanya ketentuan nisab sebagai syarat wajib zakat, namun pelaksanaannya masih mengacu pada ukuran lokal yang diwariskan secara turun-temurun sehingga belum sepenuhhnya sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan nisab zakat pertanian padi di Nagari Sitanang serta menganalisis berdasarkan penafsiran ayat-ayat zakat. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan metode tafsir maudu’i Baqir Shadr dengan mengkaji ayat-ayat zakat pertanian, khususnya penafsiran QS. Al-Baqarah : 267 dan QS Al-An’am : 141. Adapun sumber data dari penelitian ini yaitu data primer dengan mewawancarai langsung petani, pemuka masyarakat dan juga alim ulama di Nagari Sitanang, dan data sekunder untuk melengkapi data primer yang terkait dengan zakat pertanian padi. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat Nagari Sitanang mengenai nisab zakat pertanian masih beragam. Sebagian telah memahami dan melaksanakan zakat pertanian dengan berpedoman pada nisab 1.000 gantang sebagai konversi dari lima wasaq, serta mengetahui perbedaan kadar zakat sebesar 10% untuk sawah tadah hujan dan 5% untuk sawah beririgasi. Namun, sebagian masyarakat lainnya hanya mengetahui ukuran nisab berdasarkan tradisi turun-temurun tanpa memahami dasar hukum, kadar zakat, maupun tata cara pendistribusiannya sesuai syariat. Berdasarkan kajian QS. Al-Baqarah ayat 267 dan QS. Al-An'am ayat 141, pelaksanaan zakat pertanian harus mengacu pada ketentuan syariat yang meliputi nisab, kadar zakat, waktu pelaksanaan pada saat panen, serta kualitas hasil panen yang dizakatkan. Dalam kitab tafsir bercorak fiqh lima wasaq disetarakan dengan 653 kg gabah kering. Kemudian penelitian ini juga menunjukkan bahwa tokoh agama memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman masyarakat mengenai zakat pertanian, namun peran tersebut belum optimal karena masih terbatasnya pembinaan dan sosialisasi dari UPZ dan BAZNAS, sehingga diperlukan edukasi yang berkelanjutan agar pelaksanaan zakat pertanian sesuai dengan ketentuan syariat Islam.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Penafsiran Surat Al-Qariah Perspektif Tafsir AT-Thabari dan Tafsir AL-Azhar

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul “Analisis Penafsiran Surat Al-Qariah Perspektif Tafsir AtThabari Dan Tafsir Al-Azha” yang ditulis oleh Zulyadein, NIM. 2219021, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya asumsi yang mengatakan hari kiamat terjadi pada hari ini, dan itu. Padahal sebenarnya hanya Allah yang tahu kapan terjadinya. Maka penafsiran surah al Qari`ah ini semoga dapat menjawab seluruh asumsi yang berseleweran dimasyarakat dengan pendekatan penafsiran at Thabari dan Buya Hamka dalam tafsirnya. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research). Metode yang digunakan adalah metode tafsir muqaran. Sumber data primer penelitian ini adalah Tafsir at Thabari dan Tafsir al Azhar, dan sumbersumber sekunder lain yang dapat menjadi data penunjang. Hasil dari penelitian yang dilakukan penulis adalah sebagai berikut. Bahwa dalam penafsiran yang dilakukan tidak terdapat satu ayat dan penafsiran yang mengatakan bahwa hari kiamat terjadi dengan pastinya kapan, akan tetapi dalam ayat tersebut disampaikan bahwa keadaan dan kondisi bagaimana sebelum dan sesudah terjadinya hari kiamat. Pada penafsiran surah al-Qari`ah juga terdapat kekhususan dalam pembahasannya, di antaranya, dari bidang bahasa, al Qariah lebih tegas karena ada pengulangan, lebih to the point karena langsung membahas keadaan manusia dan hari kiamat itu sendiri dibandingkan dengan surah lain, seperti al Zalzalah, kalau di al Zalzalah hanya membahas balasan amal manusia saja. Sedangkan analisis dari perbedaan penafsiran yang dapat disimpulkan adalah pada metode keduanya sama sama menggunakan metode Tahlili yaitu menafsirkan al Qur`an secara keseluruhan yang dimulai dari surah al Fatihah sampai yang terakhir surah an Naas. Pada bagian corak juga sama, akan tetapi berbada dalam pendektan coraknya yaitu lughawi. Buya Hamka menggunakan pendekatan kebahasaan Nusantara, sedangkan at Thabari dengan pendekatan dengan riwayat.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Penggunaan Kata Laita dalam Al-Qur'an (Studi Analisis Kitab Tafsir Fathul Qadir Karya Imam Asy Syauqani)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul “Penggunaan kata Laita dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Kitab Tafsir Fathul Qadir)” yang ditulis oleh Soleman, NIM. 2219014, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keberagaman penggunaan kata laita dalam Al Qur’an yang tidak selalu dipahami dalam satu makna dalam Al-Qur’an, tetapi dapat menunjukkan makna yang berbeda sesuai dengan konteks ayat. Kata laita memiliki fungsi kebahasaan yang beragam sehingga menarik untuk dikaji melalui penafsiran para mufasir. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan ayat-ayat Al Qur’an yang mengandung kata laita berdasarkan subjek yang mengucapkan, serta menganalisis penafsiran kata laita dalam Tafsir Fathul Qadir. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research). Metode yang digunakan adalah metode tafsir maudhu’i. Sumber data primer penelitian ini adalah Tafsir Fathul Qadir karya Imam Asy-Syauqani, dan sumber sekunder lain yang dapat menjadi data penunjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kata laita dalam Al Qur’an disebutkan sebanyak 14 kali. Dari segi subjek yang mengucapkannya dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, pertama orang beriman 2 ayat, kedua orang munafik 1 ayat, dan ketiga orang kafir 11 ayat. Berdasarkan analisis penafsiran dalam Tafsir Fathul Qadir, penggunaan kata laita menunjukkan variasi makna yang dipengaruhi oleh konteks ayat dan keadaan subjek yang mengucapkannya. Berkaitan dengan orang beriman, laita bermakna angan-angan dan harapan yang sulit terwujud. Pada orang munafik, laita bermakna penyesalan yang lahir dari kepentingan duniawi. Adapun pada orang kafir, laita bermakna angan-angan, harapan, dan penyesalan setelah tersingkapnya kebenaran serta datangnya azab Allah SWT. Dari keseluruhan data yang diteliti, makna yang paling dominan adalah angan-angan, terutama angan-angan terhadap sesuatu yang telah berlalu atau mustahil terwujud kembali. Kata Kunci: Laita, At-Tamanni, Tafsir Fathul Qadir, Penggunaan Kata Laita.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Tanggung Jawab Suami Terhadap Istri dalam Al-Qur'an

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi berjudul “Tanggung Jawab Suami Terhadap Istri dalam Al-Qur’an” yang ditulis olch Sri Damai Yanti, NIM. 2219056, mahasiswi program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur‟an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi adanya pemahaman yang masih parsial mengenai tanggung jawab suami terhadap istri. Dalam kehidupan masyarakat, tanggung jawab suami sering kali dipahami hanya sebatas pemenuhan kebutuhan ekonomi, sementara Al-Qur'an memberikan konsep yang lebih luas, mencakup tanggung jawab material, moral, spiritual, serta tanggung jawab dalam berbagai kondisi kehidupan rumah tangga. Perbedaan pemahaman tersebut mendorong perlunya kajian yang komprehensif terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang membahas tanggung jawab suami terhadap istri. Jenis peneltian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif, bersifat deskriptif analitis. Metode tafsir yang digunakan maudhu‟i Abdul Hayy al-Farmawi. Sumber data utama adalah Kitab Tafsir Al- Munir karya Wahbah Az-Zuhaili, Kitab Al Jami’ Li Ahkam al-Qur’an karya AlQurtubi, Kitab Tafsir al-Kasysyasaf karya Abu al-Qosim Mahmud bin Umar al khorizmiy khowarizmiy az- Zamakhsyariy, Kitab Tafsir Ibnu Katsir karya Abu Al-Fida „Imad ad-Din Ismail bin Umar bin Katsir bin Dhau‟ bin Katsir al-Qiraisyi al-Dimasyqi as-syafi‟i, Kitab Tafsir Al-Azhar karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), Kitab Tafsir Al-Misbah karya Muhammad Quraish Shihab, Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana tanggung jawab suami terhadap istri dalam Al-Qur‟an, sementara batasan masalah yang dibahas adalah klasifikasi ayat-ayat tanggung jawab suami terhadap istri dan penafsirannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanggung jawab suami terhadap istri dibagi menjadi lima pembahasan: pertama, tanggung jawab terhadap keluarga yaitu seorang suami berkewajiban untuk melindungi diri dan keluarganya dari api neraka dengan cara mendidik keluarganya melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kedua tanggung jawab moral dan spritual, seorang suami sebagai pemimpin rumah tangga berkewajiban memberikan nafkah, melindungi, mendidik dan memperlakukan istrinya dengan baik. Ketiga, tanggung jawab mahar, seorang suami berkewajiban memberikan mahar kepada calon istrinya sesuai kesepekatan dan penuh kerelaan. Keempat tanggung jawab mut’ah, yaitu sesuatu yang diberikan oleh suami kepada istri yang diceraikannya sebagai penghibur selain nafkah sesuai kemampuannya. Dan terakhir tanggung jawab masa iddah seandainya terjadi perceraian, seorang suami mempunyai kewajiban memberikan nafkah dan tempat tinggal kepada mantan istrinya selama masa iddah Dengan demikian, tanggung jawab suami terhadap istri sesuai ayat-ayat AlQur‟an diharapkan dapat menjadi landasan dalam mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.

19 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Peran Perempuan dalam Mewujudkan Keluarga Rabbānī pada QS. Āli ‘Imrān ayat 35-37

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi yang berjudul: "Peran Perempuan dalam Mewujudkan Keluarga Rabbānī pada QS. Āli ‘ImrānAyat 35-37". Disusun oleh: Mulya Rizka, NIM: 2219030, Mahasiswa Institut Darul Qur’an Payakumbuh.. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya reposisi peran perempuan dalam institusi keluarga guna menjawab stigma domestik yang sering kali mereduksi fungsi perempuan hanya pada urusan rumah tangga. Perempuan sebagai madrasah al-ūlā memiliki tanggung jawab strategis dalam membentuk karakter serta spiritualitas generasi. Batasan masalah dalam penelitian ini difokuskan pada analisis peran edukatif dan spiritual perempuan sebagaimana digambarkan dalam lingkup QS. Āli ‘Imrān ayat 35-37, dengan rumusan masalah yang mengkaji penafsiran mufasir terhadap ayat tersebut serta bagaimana manifestasi peran perempuan dalam mewujudkan konsep Keluarga Rabbānī. (keluarga yang dekat dengan nilai-nilai agama) berdasarkan pesan-pesan dalam QS. Āli ‘Imrān ayat 35-37 dengan menggunakan metode tafsir Taḥlīlī." Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (Library Research) dengan metode deskriptif kualitatif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan tarbawi (pendidikan), yaitu mengkaji ayat-ayat Al-Qur'an mengenai peran perempuan dalam pendidikan keluarga pada QS. Āli ‘Imrānayat 35-37.Dalam mengolah data, saya menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah Tafsir at-Tafsir at-Tarbawi lil Qur’an al-Karim karya Anwar al-Baz, Tafsir Al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, Tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab, serta Tafsir Al-Maraghi dan Tafsir Ibnu Katsir. Sedangkan sumber data sekunder diambil dari buku-buku, jurnal, dan skripsi yang relevan. Adapun metode analisis yang digunakan adalah metode Taḥlīlī, yaitu menjelaskan makna ayat secara rinci dan mendalam. Metode ini dipilih agar pesan tentang peran perempuan sebagai pendidik dalam QS. Āli ‘Imrānayat 35-37 dapat terungkap secara utuh dan jelas." Penelitian menemukan bahwa QS. Āli ‘Imrān ayat 35-37 memberikan prototipe nyata mengenai peran perempuan dalam merancang masa depan generasi melalui kekuatan visi spiritual yang tertuang dalam bentuk nażar dan doa, penanaman nilai independensi batin atau muḥarraran, serta pengelolaan lingkungan edukasi yang positif di dalam institusi keluarga. Melalui analisis ini, dapat disimpulkan bahwa Keluarga Rabbānī terwujud melalui sinergi antara kesalehan orang tua dan ekosistem pendidikan yang terjaga. Hal ini membuktikan bahwa peran perempuan melampaui batas domestik karena mencakup kepemimpinan spiritual yang menjadi penentu kualitas generasi umat di masa depan.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Proses Pembentukan Alam Semesta: Penafsiran Zaglul Al-Najjar Atas Qur'an Surah Al-Anbiya' Ayat 30 Dalam Kosmologi Modern.

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Skripsi yang berjudul: “Asal-Usul Alam Semesta: Penafsiran Zaghlul Al-Najjar Atas Qur'an Surah Al-Anbiya' Ayat 30 Dalam Cahaya Sains Modern”. Di susun oleh: Muliya Agustinawati. NIRM: 2219008. Mahasiswa Institut Darul Qur'an Payakumbuh. Penelitian ini dilatar belakangi adanya perbedaan pendapat tentang asal-usul terbentuk alam semesta, para ilmuwan dan para mufassir berbeda pendapat mengenai maksud dari berpadunya langit dan bumi, dan proses pemisahan antara keduanya dan dengan apa keduanya dipisahkan. Metode penelitian pada skripsi ini menggunakan metode kualitatif, karena bertujuan memahami atau mengkaji penafsiran Zaglul Al-Najjar tentang asal-usul alam semesta dengan pendekatan kepustakaan (library research). Adapun metode tafsir yang digunakan adalah metode tafsir tahlili, karena penelitian ini mengkaji penafsiran QS. Al-Anbiya’ ayat 30 secara terperinci berdasarkan pemikiran Zaghlul Al-Najjar dengan pendekatan sains (scientific approach), yaitu pendekatan yang mengkaji ayat-ayat kauniyah melalui lensa ilmu pengetahuan modern. Analisis yang digunakan dalam skripsi ini bersifat deskriptif analisis, yakni menggambarkan dan menguraikan penafsiran dalam Al-Qur'an dengan temuan sains modern. Hasil dari penelitian ini yaitu penelitian ini terdiri dari tiga pembahasan, pertama penafsiran Zaglul Al-Najjar atas Qur'an surah Al-Anbiya' ayat 30 tentang asal-usul penciptaan alam semesta, terdiri dari tiga tahap, yaitu tahap pertama penciptaan alam semesta dimulai dari satu masa primer (sesuatu yang menyatu dan berpadu) yang dalam bahasa arab disebut "ratq". Tahap kedua pemisahan atau penghancuran masa primer ini atas perintah Allah yang disebut dengan "fatq" dan tahap ketiga terbentuknya selubung asap dari hasil pemisahan masa primer tersebut, dari asap inilah Allah menciptakan langit dan bumi, dan segala apa yang ada diantara keduanya(alam semesta). Pembahasan kedua yaitu para Mufassir Ilmi dalam menafsirkan surah Al-Anbiya' ayat 30 sepakat bahwasanya alam semesta ini berasal dari satu yang padu dan berbeda pandangan pada bagaimana pemisahannya terjadi. Ar-Razi menyebutkan ada yang berpendapat Allah pisahkan dengan angin dan ada juga yang berpendapat Allah pisahkan dengan hujan, dan sedangkan Tantawi Jauhari menyebutkan terpisahnya langit dan bumi (alam semesta) karena mendinginya matahari. Dan pembahasan ketiga yaitu analisis penafsiran Zaglul Al-Najjar dengan temuan sains modern, yaitu terdapat tiga aspek kesamaan konsep dengan sains modern. Pertama kata "ratq" yang berarti menyatu, Zaglul Al-Najjar mengartikan dengan masa primer dan temuan sains mengatakan dengan titik tunggal (singularitas). Kedua pada kata "fatq" Zaglul Al-Najjar mengartikan dengan pemisahan dan dalam teori temuan sains modern disebutkan dengan ledakan yang dahsyat. Ketiga Zaglul Al-Najjar mengatakan terbentuknya selubung asap dari hasil pemisahan masa primer tersebut, dalam temuan sains disebut gas kosmik. Dari selubung asap atau gas kosmik inilah yang membentuk alam semesta.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Penafsiran Surah Al Baqarah Ayat 148 (Studi Kasus MTQ Satu Syawal di Desa Muara Potan Kec. Kota Nopan kab. Mandailing Natal

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Skripsi ini berjudul judul "Penafsiran Surah Al-Baqarah Ayat 148 (Studi Kasus MTQ Satu Syawal di Desa Muara Potan Kecamatan Kota Nopan Kabupaten Mandailing Natal)". ditulis oleh Muhammad Roihan Lubis NIRM. SI.VI.19.20.174, Mahasiswa Institut Darul Qur'an Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi adanya pengaruh MTQ terhadap bacaan Al-Qur'an anak-anak di Desa Muara Potan, sebelum adanya pelaksanaan MTQ di Desa Muara Potan tersebut ketertarikan anak-anak terhadap membaca AL-Qur'an tidak begitu kuat, hanya sebagian saja dari mereka yang mempunyai minat dan ketertarikan untuk belajar membaca Al-Qur'an, dikarenakan pada waktu itu belum adanya media bagi mereka untuk menyalurkan bakat dan minat di bidang Al-Qur'an, dan juga rasa ingin berlomba-lomba untuk mendapatkan prestasi dalam bidang MTQ tersebut. Tapi setelah adanya MTQ ini minat dan ketertarikan anak-anak untuk belajar dalam bidang AL-Qur'an khususnya belajar membaca AL-Qur'an meningkat dikarenakan adanya rasa persaingan ingin mencapai prestasi dalam perlombaan MTQ yang di adakan di Desa Muara Potan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif melalui metode Studi kasus. Penelitian ini dilakukan melalui wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap tokoh agama, panitia pelaksana kegiatan, serta masyarakat desa Muara Potan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, pencetus kegiatan MTQ di desa Muara Potan bapak Akhir Lubis, pelaksanaan MTQ di desa Muara Potan untuk meningkatkan minat dan bakat anak-anak terhadap Al-Qur'an dan menjadikan MTQ sebagai rutinitas masyarakat dan anak-anak disetiap satu syawal. Kedua, dasar hukum kegiatan MTQ di desa Muara Potan di ambil dari surah Al-baqarah ayat 148. Ketiga, pengaruh dari pelaksanaan MTQ ini meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur'an anak-anak terkhusus bagi peserta yang mengikuti kegiatan MTQ ini dan menjadi nilai keagamaan di desa Muara Potan. Keempat, kasus yang ditemukan dalam kegiatan ini kurangnya minat dan bakat anak-anak terhadap Al-Qur'an, pengumpulan dana, tidak terkontrolnya peserta dalam pelaksanaan kegiatan MTQ.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Penafsiran Q.S LUQMAN AYAT 19 (Kajian Tafsir Tahlili)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Skripsi ini berjudul “Penafsiran واغضض من صوتك Dalam Al-Qur’an (Kajian Tafsir Tahlili)”, ditulis oleh Robiatul Adawiyah NIRM. S1.VI.19.21.052, Mahasiswa Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Tata krama merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan sosial, terutama dalam hal bertutur kata yang menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari. Dalam perspektif Islam, bertutur kata bukan hanya sekadar menyampaikan pesan, tetapi harus dilakukan dengan adab, kesopanan, dan penghormatan terhadap lawan bicara. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam memberikan arahan mengenai pentingnya etika dalam berbicara, salah satunya terdapat dalam Q.S. Luqman ayat 19, melalui kalimat وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ yang berarti “dan lunakkanlah suaramu.” Maka hal inilah yang mendorong penulis untuk meliti ini. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk megetahui Penafsiran واغضض من صوتك Dalam Al-Qur’an, dan Untuk mengetahui bagaimana konsep واغضض من صوتك dalam bertutur kata . Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (Library research), berupa kajian pustaka dengan metode deskriptif kualitatif. Dalam menganalisis data penulis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, melalui kitab-kitab yang dikarang oleh ulama-ulama yang diakui keilmuanya. Sumber data primer di antaranya tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, tafsir Al-Misbah Qurais Shihab, tafsir Al Maraghi dan tafsir An-Nur, tafsir Fi Dzilalil Qur’an, tafsir Al-Baghawi. Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal artikel, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Adapun metode yang penulis gunakan dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode Tahlili, yaitu: menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an dengan menjelaskan segala makna secara rinci. Penelitian ini menemukan bahwa perintah untuk melunakkan atau merendahkan suara dalam Surah Luqman ayat 19 merupakan bagian dari pembinaan akhlak dan etika sosial dalam Islam. Melunakkan suara tidak berarti berbicara terlalu pelan hingga tak terdengar, melainkan menghindari nada yang keras, tinggi, atau membentak tanpa keperluan yang mendesak, terutama di tempat umum. Konsep melunakkan suara dalam bertutur kata mengajarkan umat Islam untuk berkomunikasi dengan sopan, tenang, tidak berlebihan, dan menghormati lawan bicara, sebagai wujud dari kesempurnaan akhlak.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Menyantuni Anak Yatim dan Orang Miskin dalam Perspektif Tafsir Al-Azhar

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul “Menyantuni Anak Yatim dan Orang Miskin dalam Perspektif Tafsir Al-Azhar” yang ditulis oleh Nurul Hafizah NIRM.S1.VI.10.20.182, Mahasiswa Institut Darul Qur’an. Al-Qur’an merupakan kitab suci yang di dalamnya terdapat segala kebenaran dan dijadikan sebagai pedoman bagi umat manusia di seluruh dunia. Al- Qur’an juga didalamnya terdapat berbagai ilmu tentang keislaman yang dapat menuntun dan mendorong pemeluknya untuk mempelajari dan juga mengerjakan sebagai tindakan sosial. Manusia sebagai makhluk sosial memerlukan interasksi sosial dengan manusia yang lainnya. Interaksi sosial ini bukan hanya menjalin hubungan dengan lingkungan masyarakat tetapi juga diperlukan sikap untuk saling tolong menolong, saling membantu, tanpa melihat strata sosialnya. Di dalam Al- Qur’an dijelaskan bahwa kita diharuskan untuk saling tolong menolong terhadap sesama. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh Manusia sebagai makhluk sosial memerlukan interasksi sosial dengan manusia yang lainnya. Interaksi sosial ini bukan hanya menjalin hubungan dengan lingkungan masyarakat tetapi juga diperlukan sikap untuk saling tolong menolong, saling membantu, tanpa melihat strata sosialnya. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa kita diharuskan untuk saling tolong menolong terhadap sesama. Dalam hal ini salah satu contoh mewujudkan hubungan yang baik antar sesama mahkluk hidup yaitu menyatuni anak yatim dan orang miskin Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan ketode tafsir maudhu’I Abd Hayy al-Farmawi yakni menentukan tema yang akan dibahas lalu mengumpulkan ayat sesuai dengan tema yang dibahas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tentang menyantuni anak yatim dan orang miskin dalam Tafsir Al-Azhar. Sumber data penelitian terbagi dua, sumber data primer yaitu tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka. Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal, artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Penelitian ini menemukan bahwa ayat yang membahas tentang anak yatim dan orang miskin berjumlah 45 ayat. Ayat yang berkaitan dengan menyantuni anak yatim 17 ayat dan yang berkaitan dengan menyantuni orang miskin 20 ayat. Ayat yang beriringan kata yatim dan miskin ada 8 ayat. Menyantuni anak yatim dan orang miskin terbagi menjadi dua bagian yaitu yang pertama memberi bantuan diantaranya yaitu membayar fidyah, memberi harta yang dicintai, memberi infak, memberi sedekah, memberi zakat, memberi rezeki anak yatim dan orang miskin yang hadir dalam pembagian harta warisan, pembagian ghanimah dan fa’i, memberi makanan dan membayar kafarat. Kedua yaitu berbuat baik diantaranya menjaga dan mengelola harta anak yatim, mengajak orang lain untuk memberi dan membantu, memuliakan anak yatim,tidak sewenang-wenang kepada anak yatim, dan tidak menghardik anak yatim.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Makna Mimpi Dalam Al-Quran Surah Yusuf

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul Makna Mimpi dalam Quran Surah Yusuf yang ditulis oleh Nurul Halima, Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, NIRM.S1.VI.19.20.183, Mahasiswa Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Pemilihan judul ini didasari oleh signifikansi fenomena mimpi dalam Al-Qur'an, khususnya pada Surah Yusuf, yang menyajikan narasi paling luas sekaligus kaya akan nuansa linguistik dan implikasi teologis terkait mimpi. Meskipun narasi ini telah banyak dikaji, masih terdapat celah dalam eksplorasi mendalam terhadap presisi linguistik dan implikasi teologis dari setiap makna mimpi yang digunakan Al-Qur'an. Kurangnya penekanan pada nuansa bahasa dan konteks tafsir dapat berpotensi menyederhanakan makna atau bahkan menimbulkan kesalahpahaman tentang hakikat mimpi dalam pandangan Islam. Oleh karena itu, penelitian ini diajukan untuk mengisi kekosongan tersebut, dengan fokus pada analisis deskriptif-analitis terhadap makna dari ru'yā dan ahlam, serta frasa-frasa terkait lainnya. Pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan ini diharapkan mampu mengungkap keindahan mukjizat Al-Qur'an melalui ketepatan bahasanya, sekaligus memberikan pemahaman yang lebih komprehensif dan akurat mengenai pemaknaan mimpi sebagaimana disampaikan dalam wahyu ilahi. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan metode tafsir maudhu’i Muhammad al-Ghazali . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana makna mimpi dalam surah Yusuf. Dengan mengklasifikasikan ayat yang satu tema dalam satu surah. Sumber data utama dalam penelitian adalah kitab tafsir Nahwa Tafsir Maudhu'i li Suwar al-Qur'an al-Karim. Penelitian ini menemukan bahwa ada 10 tema yang terdapat dalam Surah Yusuf, di antaranya yang menjadi pembahasan dalam penelitian ini adalah tema tentang mimpi. Ada tiga poin pembahasan tentang mimpi: pertama, analisis terfokus pada mimpi awal Nabi Yusuf tentang sebelas bintang, matahari, dan bulan yang bersujud kepadanya yang diinterpretasikan sebagai wahyu kenabian dan isyarat kemuliaan masa depan, disertai peringatan dari Nabi Ya'qub akan potensi fitnah dari saudara-saudaranya. Kedua, mimpi dua tahanan di penjara yang ditafsirkan oleh Yusuf, menunjukkan kemampuannya dalam menakwilkan mimpi dan menjelaskan salah satu di antara tahanan itu ada yang selamat dan tidak dan juga bagian ini mengulas mimpi Raja Mesir tentang tujuh sapi gemuk dan kurus serta bulir gandum, yang penafsirannya memerintahkan untuk memanen dan menyimpan sebelum datangnya masa panceklik. Ketiga, puncak dari pembahasan ini adalah terwujudnya mimpi Nabi Yusuf di kemudian hari, di mana ayah dan saudara-saudaranya datang kepadanya di Mesir dan bersujud, menggenapi nubuat yang terkandung dalam mimpinya. Realisasi mimpi ini tidak hanya menandai pencapaian kedudukan dan kekuasaan Yusuf, tetapi juga menjadi bukti nyata janji dan takdir ilahi. Keseluruhan penafsiran mimpi ini mengukuhkan peran sentral mimpi dalam Surah Yusuf dan hikmah di baliknya.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessPDF tersedia

Pelaksanaan Tradisi Bubur Assyura di Pondok Pesantren Darul Ulum Muaramais Kec. Tambangan Kab. Mandailing Natal

2024•Koleksi Perpustakaan

Sejarah dan dasar pelaksanaan bubur Asyura merupakan inisiatif ibu-ibu yang ada diwilayah pondok pesantren pada tanggal 10 muharram, kemudian setelah pondok pesantren Darul Ulum Muara Mais berkembang dan santrinya semakin banyak, maka kegiatan ini dilaksanakan di pondok pesantren Darul Ulum Muara Mais yang didasari dalam Q.S at-Taubat ayat 36 bahwasanya ada 4 bulan mulia di antaranya bulan Muharram. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), berupa kajian Living Qur’an dengan metode deskriptif melalui pendekatan living qur’an. Penelitian dilakukan di Pondok Pesantren Darul Ulum Muara Mais Kecamatan Tambangan kabupaten Mandailing Natal. Proses pelaksanaanya, sebelum tanggal ke 10 Muharram para santri mengumpulkan peralatan dan bahan-bahan untuk memasak Bubur Asyura. Kedua, ditanggal 10 Muharram para santri memasaknya, mulai dari pemotongan bahan-bahan hingga penyajian Bubur untuk di jadikan buka puasa. Pada bulan ini umat Islam berlomba-lomba melakukan kebaikan, diantaranya melakukan puasa dan pelaksanaan Bubur Asyura ini merupakan kegiatan yang menimbulkan rasa silaturahmi yang semakin erat, kerjasama dalam gotong royong, saling berbagi dan akan dijadikan bukaan puasa pada hari Asyura. Pemahaman santri terhadap tradisi ini adalah memuliakan bulan Muharram karna dianjurkan puasa sunnah dihari Asyura. Sedangkan penafsiran ayat dasar dijadikannya Bubur Asyura sebagai bulan yang dimuliakan Allah, maka tradisi ini sesuai dengan ayat Al-qur’an .

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessPDF tersedia

Kriteria Memilih Pasangan Hidup Menurut Hamka dalam kitab tafsir Al-Azhar

2024•Koleksi Perpustakaan

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena angka pernikahan yang semakin menurun di Indonesia dan sekitar 400.000 kasus perceraian terjadi setiap tahunnya. Ini menunjukkan ada yang salah dalam proses pencarian pasangan. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan metode tafsir maudhu’i Abdul Hayy AlFarmawi. Sumber data utama dalam penelitian ini yaitu kitab tafsir AlAzhar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui klasifikasi ayat tentang kriteria memilih pasangan hidup serta penafsirannya menurut Hamka dalam kitab Tafsir Al-Azhar. Hasil dari penelitian ini adalah berdasarkan lafadz “zawaja”, terdapat 13 ayat diantaranya Az-zukhruf:12, Az-zumar:6, An-nahl:72, Ar-ruum:21, Faatiir:11, Asy-syura:11, An-naba’:8, An-nisa:1, Az-zariyat:49, An-najm:45, Al:qiyamah:39, Yaa-siin:36 dan Albaqarah:221. Dari penafsiran ayat tersebut terdapat 4 kriteria memilih pasangan hidup;pertama seiman. Ditegaskan larangan menikahi laki-laki musyrik atau perempuan musyrik, kecuali kemudian mereka beriman. Namun pada ayat lain (Qs. Al-Maidah:5) dijelaskan laki-laki beriman boleh menikahi perempuan musyrik (ahlul kitab) yaitu Yahudi dan Nasrani, orang yang beragama lain seperti Kristen, Hindu, Budha dan lain-lain tidak bisa digolongkan ke dalam Ahli Kitab. Maka dari itu menikahi Ahli Kitab sudah tidak relevan lagi dizaman sekarang. Kedua bertaqwa, Ketiga sesama manusia., keempat, berpasangan. Allah menciptakan semuanya berpasangan (manusia, tanaman, hewan, alam dan lain-lain). Allah menciptakan manusia berpasangan laki-laki dan perempuan agar berkembangnya manusia dimuka bumi.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessPDF tersedia

Makna عليكم أنفسكم dalam Al-Qur'an (Kajian Tafsir Tahlili)

2024•Koleksi Perpustakaan

Al-Qur’an tidak hanya selalu berbicara tentang perihal akidah dan perihal ibadah saja tapi juga mengandung ilmu pengaetahuan dan sains. Sudah banyak kita temukan hasil karya yang berkaitan dengan Ilmu pengetahuan dan sains dalam Al-Qur’an. Diantara hal yang digambarkan dalam ayat Al-Qur’an berkaitan dengan Solar System atau lebih dikenal dengan Tata Surya. Pada kesempatan ini penulis akan mencoba untuk menelusuri ayat-ayat yang berkaitan dengan Solar System. Tata surya salah satu bukti nyata keagungan Allah Ta’ala, Tuhan yang menciptakan seluruh alam semesta dengan sangat detail dengan sistem yang terstruktur. Pada zaman modern ini, banyak sekali fakta-fakta Ilmiah yang telah diungkap oleh para ilmuwan sains mengenai tata surya. Informasi mengenai Tata Surya ini sebenarnya sudah tertulis 14 abad yang lalu di dalam Al Qur’an yang merupakan kitab suci dan petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia. Hal ini membuktikan bahwa sains dan agama (Islam) bisa berjalan beriringan tanpa perlu terjadi pemisahan diantara keduanya. Maka disini penulis menggunakan sistem Penelitian Kepustakaan dengan Pendekatan Kualitatif Tafsir Ilmi dalam pembahasan ini. Kemudian pembahasan kali ini berfokus terhadap surat Al-Anbiya’ ayat 30-33 dan surat Yasin ayat 38-40 sebagai ayat utamanya. Penulis berusaha untuk menghubungkan antara penelitian Ilmiah dengan ayat-ayat yang memiliki indikasi tentang Tata Surya didalamnya

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessPDF tersedia

Menafsirkan Kata Ghalazh Dalam Al-Qur'an (Studi Tafsir Maudhu'i)

2024•Koleksi Perpustakaan

Penelitian ini dilatar belakangi oleh lafazh غلظ dengan 4 makna dalam AlQur’an, kemudian Ghalazh dengan 9 bentuk kata, 13 ayat, dalam 10 surat. Berkaitan dengan lafazh Ghalazh yang mana 5 ayat menjelaskan tentang sikap, 4 ayat yang menjelaskan tentang azab, 3 ayat yang menjelaskan tentang perjanjian, dan 1 ayat yang menjelaskan tentang malaikat. Karena hal inilah perlu untuk menelusuri penafsiran ulama mengenai kata Ghalazh, mengklafikasikan dan meneliti penafsiran kata Ghalazh dalam Al-Qur’an tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka(Library research) bertujuan untuk mengetahui klasifikasi dan penafsiran Ghalazh dalam Al-Qur’an melalui metode tafsir maudhu’i yang digagas oleh Abd Hayy al-Farmawi bersifat kualitatif deskriptif, adapun sumber data penelitian terbagi 2 yaitu data primer diantaranya Al-Qur’an dan beberapa kitab tafsir yakni, Tafsir Al-Kasyaf, Fath Al Qadir, AlAzhar, Al-Misbah, Al-Qurtuby, Jalalain, Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Fi ZhilalilQur'an, Al-Munir, Departemen Agama RI. Data sekunder yakni jurnal dan artikel mengenai Ghalazh serta buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan. Hasil penelitian ini menemukan bahwa lafadz ظ ل غ disebutkan dalam AlQur’an sebanyak 9 kata, dengan 13 ayat dalam 10 surah. Kata غلظ berarti keras, kasar, menguatkan, mengokohkan, dan kekerasan. Berkaitan dengan Ghalazh ada 9 kategori Madaniyyah dan 4 kategori Makkiyyah. Kata ghalazh ditafsirkan memiliki makna keras yang bisa disandarkan kepada benda maupun sifat makhluk Allah. Kata Ghalazh membahas tentang berbagai aspek seperti, sikap, perjanji, azab, dan juga malaikat. Ada empat pembagian dari kata Ghalazh tersebut yaitu, yang pertama Ghalazh di tafsirkan yang berhubungan dengan Azab yang merupakan azab neraka itu sangatlah keras atau pedih dan siksaannya tiada putus-putus yang tidak bisa dihindari itulah balasan untuk orang kafir atas berbagai kemaksiatan yang dibuatnya hal ini di jelaskan untuk orang kafir, kedua Ghalazh di tafsirkan yang berhubungan dengan Sikap yang merupakan perintah untuk berjihad dan juga bersifat atau bersikap keras terhadap orang kafir dan munafik, ketiga Ghalazh di tafsirkan yang berhubungan dengan Perjanjian yang merupakan kokoh atau kuatnya sebuah perjanjian yang sudah di buat disertai dengan sumpah kepada Allah, keempat Ghalazh di tafsirkan yang berhubungan dengan sifat atau sikap Malaikat yang merupakan penjelasan tentang malaikat yang sangat keras dan kasar dalam menyiksa para penghuni neraka, dan tidak pernah melawan perintah Allah. Karena itulah Allah memerintahkan orang-orang beriman menjaga dirinya maupun keluarganya dari api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia, dan batu.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessPDF tersedia

Adab Panggilan kepada Rasulullah SAW dalam tafsir Al-Azhar

2024•Koleksi Perpustakaan

Rasulullah SAW sebagai manusia termulia dan pemimpin para Nabi dan Rasul haruslah kiranya bersopan santun kepada rasul dengan adab yang baik dan mulia. Kata Addaba tidak ditemukan dalam kitab Mu’jam. Sedangkaan kata Rasul, dalam al-Quran ada 116 kata Rasul dalam 111 ayat ayat yang berkaitan tentang adab kepada Nabi Muhammad yang ada kata Rasul di dalamnya hanya 4 ayat. Maka dalam penelitian ini peneliti akan menjelaskan bagaimana Adab panggilan kepada Rasulullah dalam al-Quran surah An-Nur: 63. Hasil dari penelitian ini setelah menganalisa penafsiran Buya Hamka penulis menyimpulkan pertama, ayat adab dari kata Rasul hanya 4 ayat sebagai berikut: Surah An-Nur ayat 63, Surah Al-Hujurat ayat 3, Surah Al-Mujadalah ayat 9 dan juga Surah AlMujadalah ayat 12. Dari 4 ayat adab kepada Rasul hanya 1 ayat yang penulis bahas yaitu: Surah An-Nur ayat 63. Dua, bahwa adab kepada Rasul antara lain tidak boleh menyebut nama Rasul tanpa gelar kehormatan di awalnya, seperti dalan banyak kitab tafsir Ya Nabi, Ya Rasul dan dalam tafsir buya Hamka dengan menambah kata Sayyid, penambahan kata sayyid hanya didapati dalam tafsir Buya Hamka. Tiga, adab panggilan kepada Rasul juga bisa diterapkan kepada ulama dengan menyebut buya, kepada guru dengan panggilan ustadz/ustadzah dan kepada orangtua dengan panggilan ayah/bunda.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessPDF tersedia

Keluarga Ideal Prespektif Al-Qur'an (Studi Tafsir Tematik Ayat-Ayat Terkait Nabi Ibrahim dan Keluarganya)

2024•Koleksi Perpustakaan

Penelitian ini dilatarbelakangi kenyataan bahwa manusia sebagai makhluk hidup berpasangpasangan, membutuhkan keluarga yang ideal. Menciptakannya bukan hal yang mudah, banyak faktor yang menjadi penghambat. Peneliti mengungkapkan bentuk keluarga ideal dalam kisah nabi Ibrahim dan keluarganya yang terdapat di dalam al-Qur’an. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan metode tafsir maudhu’i Abd Hayy al-Farmawi, sumber data primer diantaranya tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, tafsir al- Misbah karya M.Quraisy Shihab, tafsir fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Qutb, tafsir al-Maraghi karya Ahmad Mustafa al-Maraghi, tafsir Kemenag dan Tafsir an-Nur karya Muhammad Hasbi AshShiddieqy. Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal artikel, tesis, skripsi dan sumbersumber lainnya. Penelitian menemukan terdapat 63 ayat terkait kisah nabi Ibrahim di dalam al-Qur’an, Ismail putranya ditemukan 12 ayat. Ya’qub cucu Nabi Ibrahim sebanyak 16 ayat. Ayat yang bercerita tentang nabi Ibrahim dan keluarganya terdapat 12 ayat, 3 ayat berkaitan dengan bentuk keluarga ideal. Pertama sikap mempercayai dalam Q.S ash-Shaffat ayat 102, kedua sikap menerima kekurangan keluarga dalam Q.S al-Hijr ayat 54-55, ketiga sikap mengerti dan memahami keadaan keluarga dalam Q.S Ibrahim ayat 37 dan Q.S ash-Shaffat ayat 102, keempat sikap saling menghargai dalam Q.S ashShaffat ayat 102, kelima sikap saling mencintai dalam Q.S al-Hijr ayat 54-55.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail