Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

Ridwan

8 karya publik ditemukan.

2025: 22023: 42022: 12021: 1

Kontekstualisasi Ayat Tolong-Menolong Pada Tradisi Bagorak di Jorong Sungai Data

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul “Kontekstualisasi Ayat Tolong-Menolong Pada Tradisi Bagorak di Jorong Sungai Data” yang ditulis oleh Septian Arya Dwi Pratama Ridwan, NIRM.S1.VI.19.21.033, Mahasiswa Institut Darul Qur’an Payakumbuh. QS. Al-Māidah ayat 2 memuat prinsip ta‘āwun ‘alā al-birr wa al-taqwā sebagai landasan kerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan, serta larangan wa lā ta‘āwanū ‘alā al-itsmi wa al-‘udwān sebagai batas agar kolaborasi tidak mengarah pada dosa dan permusuhan. Nilai-nilai ini memiliki relevansi kuat dengan praktik sosial-budaya masyarakat Minangkabau, khususnya tradisi Bagorak di Jorong Sungai Data, yang dikenal sebagai bentuk gotong royong mempersiapkan hajatan secara kolektif dan sukarela. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kontekstualisasi ayat-ayat tolong-menolong dalam Al-Qur’an, khususnya QS. Al-Māidah ayat 2, pada tradisi Bagorak di Jorong Sungai Data, Nagari Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan tafsir tematik (tafsīr maudhū‘ī) versi Baqir Shadr, yang diawali dari pengamatan realitas (min al-wāqi‘ ilā al-naṣ) lalu kembali mengaplikasikan nilai-nilai ayat pada konteks lokal (min al-naṣ ilā al-wāqi‘). Data primer diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh adat, kepala jorong, dan masyarakat, serta dokumentasi kegiatan. Data sekunder berasal dari literatur tafsir, kajian kontekstualisasi, dan referensi budaya Minangkabau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Dari seluruh ayat yang membahas tolong-menolong, hanya QS. Al-Māidah ayat 2 dipilih secara khusus untuk dianalisis mendalam karena merupakan satu-satunya ayat yang menggunakan lafaz ta‘āwun secara eksplisit. Penafsiran para mufassir menegaskan bahwa ayat ini memuat panduan kerja sama dalam kebajikan dan ketakwaan serta larangan berkolaborasi dalam keburukan. (2) Tradisi Bagorak mencerminkan nilai-nilai ta‘āwun seperti kebersamaan, gotong royong, saling membantu tanpa pamrih, dan resiprositas sosial, yang sejalan dengan prinsip al-birr wa al-taqwā. Namun, potensi pelanggaran al-itsm wa al-‘udwān dapat muncul jika terdapat paksaan atau ketidaksetaraan kontribusi. Kontekstualisasi QS. Al-Māidah ayat 2 pada tradisi Bagorak menegaskan relevansi ajaran Qur’ani secara normatif maupun aplikatif dalam memperkuat solidaritas dan ukhuwah di tengah masyarakat.

Kontekstualisasi Ayat Tolong-Menolong Pada Tradisi Bagorak di Jorong Sungai Data

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Skripsi ini berjudul “Kontekstualisasi Ayat Tolong-Menolong Pada Tradisi Bagorak di Jorong Sungai Data” yang ditulis oleh Septian Arya Dwi Pratama Ridwan, NIRM.S1.VI.19.21.033, Mahasiswa Institut Darul Qur’an Payakumbuh. QS. Al-Māidah ayat 2 memuat prinsip ta‘āwun ‘alā al-birr wa al-taqwā sebagai landasan kerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan, serta larangan wa lā ta‘āwanū ‘alā al-itsmi wa al-‘udwān sebagai batas agar kolaborasi tidak mengarah pada dosa dan permusuhan. Nilai-nilai ini memiliki relevansi kuat dengan praktik sosial-budaya masyarakat Minangkabau, khususnya tradisi Bagorak di Jorong Sungai Data, yang dikenal sebagai bentuk gotong royong mempersiapkan hajatan secara kolektif dan sukarela. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kontekstualisasi ayat-ayat tolong-menolong dalam Al-Qur’an, khususnya QS. Al-Māidah ayat 2, pada tradisi Bagorak di Jorong Sungai Data, Nagari Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan tafsir tematik (tafsīr maudhū‘ī) versi Baqir Shadr, yang diawali dari pengamatan realitas (min al-wāqi‘ ilā al-naṣ) lalu kembali mengaplikasikan nilai-nilai ayat pada konteks lokal (min al-naṣ ilā al-wāqi‘). Data primer diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh adat, kepala jorong, dan masyarakat, serta dokumentasi kegiatan. Data sekunder berasal dari literatur tafsir, kajian kontekstualisasi, dan referensi budaya Minangkabau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Dari seluruh ayat yang membahas tolong-menolong, hanya QS. Al-Māidah ayat 2 dipilih secara khusus untuk dianalisis mendalam karena merupakan satu-satunya ayat yang menggunakan lafaz ta‘āwun secara eksplisit. Penafsiran para mufassir menegaskan bahwa ayat ini memuat panduan kerja sama dalam kebajikan dan ketakwaan serta larangan berkolaborasi dalam keburukan. (2) Tradisi Bagorak mencerminkan nilai-nilai ta‘āwun seperti kebersamaan, gotong royong, saling membantu tanpa pamrih, dan resiprositas sosial, yang sejalan dengan prinsip al-birr wa al-taqwā. Namun, potensi pelanggaran al-itsm wa al-‘udwān dapat muncul jika terdapat paksaan atau ketidaksetaraan kontribusi. Kontekstualisasi QS. Al-Māidah ayat 2 pada tradisi Bagorak menegaskan relevansi ajaran Qur’ani secara normatif maupun aplikatif dalam memperkuat solidaritas dan ukhuwah di tengah masyarakat.

RELEVANSI SYURA DENGAN DEMOKRASI DI DALAM AL-QUR'AN (Studi Analisis Tafsir Al Maraghi)

2023 · Book · Koleksi Perpustakaan

Judul skripsi ini yaitu : “KONSEP SYURA DIDALAM AL QURAN (Studi Komparatif tafsir Al Azhar dan Al Munir)” yang ditulis oleh Ridwan Rambe, Nrim S1.VI.19.19.505, Mahasiswa STAI Darul Qur‟an Payakumbuh. Latar belakang pemilihan judul ini adalah adanya keinginan tahuan bagaimana syura yang terjadi di masa Rasullulah dan para sahabatnya, selanjutnya juga bagaimana Konsep syura ini dalam tafsir Al Azhar dan Al Munir. Karena sistem ini terus dipakai dalam memutuskan sesuatu, dan islam mewajibkan dalam memutuskan permasalahan dengan musyawarah, baik itu terkait pribadi apalagi menyangkut banyak orang. Adapun alasan penulis dalam memilih judul ini dikarenakan belum ada yang meneliti Konsep syura dengan Demokrasi ini menurut pandangan Wahbah Az Zuhaili dan Buya Hamka. Dengan demikian penulis memilih "Konsep Syura Didalam Al Qur‟an (Studi komparatif Tafsir Al Azhar dan Al Munir). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penafsiran Buya Hamka dan Wahbah Az Zuhaili terhadap ayat-ayat syura , untuk mengetahui bagaimana perbedaan penafsiran keduanya, dan juga untuk mengetahui analisin konsep syura menurut kedua tafsir tersebut. Rumusan masalah dalam skripsi ini yaitu ; Bagaimana penafsiran Buya Hamka dan Wahbah Az Zuhaili terhadap ayat-ayat syura , Bagaimana perbedaan penafsiran keduanya, dan juga bagaimana analisi konsep syura yang terdapat dalam dua tafsir tersebut. Penelitian ini ditulis dengan menggunakan metode muqarran, yaitu dengan membandingkan pendapat dua mufassir (Buya Hamka dan Wahbah Az Zuhaili). Jenis penelitianya pustaka (Library research) dan adapun sumber data yang digunakan terdiri dari data primer dan skunder. Sumber data primer adalah kitab Tafsir Al Azhar dan Al Munir. Sedangkan sumber data skunder adalah data pendukung yang memudahkan kajian seperti ,jurnal, buku,dan artikel yang berkaitan dengan penelitian ini. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa dalam tafsir Wahbah Az Zuhaili beliau menjelaskan fungsi syūra adalah mencari berbagai sudut pandang dan memilih salah satu pendapat yang diajukan, namun beliau tidak menjelaskan secara detail dalam memilih satu pendapat apakah dengan suara terbanyak atau tergantung pada pemimpinnya, Sedangkan Buya Hamka dalam tafsirnya, ia menjelaskan bahwa syūra atau musyawarah menjadi pokok dalam pembangunan masyarakat dan negara Islam. Inilah dasar politik pemerintah dan pimpinan negara, masyarakat dalam perang dan damai, Ketika aman atau terancam bahaya, dan dalam tafsirnya menjelaskan bahwah dalam memilih pendapat dengan suara terbanyak.Dalam pelaksanaan syura‟ ini itu tidak ada di tetapkan atau ditentukan oleh Rasulullah, jadi untuk pelaksanaannya tergantung perkembangan waktu dan zaman.

RELEVANSI SYURA DENGAN DEMOKRASI DI DALAM AL-QUR'AN (Studi Analisis Tafsir Al Maraghi)

2023 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Judul skripsi ini yaitu : “KONSEP SYURA DIDALAM AL QURAN (Studi Komparatif tafsir Al Azhar dan Al Munir)” yang ditulis oleh Ridwan Rambe, Nrim S1.VI.19.19.505, Mahasiswa STAI Darul Qur‟an Payakumbuh. Latar belakang pemilihan judul ini adalah adanya keinginan tahuan bagaimana syura yang terjadi di masa Rasullulah dan para sahabatnya, selanjutnya juga bagaimana Konsep syura ini dalam tafsir Al Azhar dan Al Munir. Karena sistem ini terus dipakai dalam memutuskan sesuatu, dan islam mewajibkan dalam memutuskan permasalahan dengan musyawarah, baik itu terkait pribadi apalagi menyangkut banyak orang. Adapun alasan penulis dalam memilih judul ini dikarenakan belum ada yang meneliti Konsep syura dengan Demokrasi ini menurut pandangan Wahbah Az Zuhaili dan Buya Hamka. Dengan demikian penulis memilih "Konsep Syura Didalam Al Qur‟an (Studi komparatif Tafsir Al Azhar dan Al Munir). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penafsiran Buya Hamka dan Wahbah Az Zuhaili terhadap ayat-ayat syura , untuk mengetahui bagaimana perbedaan penafsiran keduanya, dan juga untuk mengetahui analisin konsep syura menurut kedua tafsir tersebut. Rumusan masalah dalam skripsi ini yaitu ; Bagaimana penafsiran Buya Hamka dan Wahbah Az Zuhaili terhadap ayat-ayat syura , Bagaimana perbedaan penafsiran keduanya, dan juga bagaimana analisi konsep syura yang terdapat dalam dua tafsir tersebut. Penelitian ini ditulis dengan menggunakan metode muqarran, yaitu dengan membandingkan pendapat dua mufassir (Buya Hamka dan Wahbah Az Zuhaili). Jenis penelitianya pustaka (Library research) dan adapun sumber data yang digunakan terdiri dari data primer dan skunder. Sumber data primer adalah kitab Tafsir Al Azhar dan Al Munir. Sedangkan sumber data skunder adalah data pendukung yang memudahkan kajian seperti ,jurnal, buku,dan artikel yang berkaitan dengan penelitian ini. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa dalam tafsir Wahbah Az Zuhaili beliau menjelaskan fungsi syūra adalah mencari berbagai sudut pandang dan memilih salah satu pendapat yang diajukan, namun beliau tidak menjelaskan secara detail dalam memilih satu pendapat apakah dengan suara terbanyak atau tergantung pada pemimpinnya, Sedangkan Buya Hamka dalam tafsirnya, ia menjelaskan bahwa syūra atau musyawarah menjadi pokok dalam pembangunan masyarakat dan negara Islam. Inilah dasar politik pemerintah dan pimpinan negara, masyarakat dalam perang dan damai, Ketika aman atau terancam bahaya, dan dalam tafsirnya menjelaskan bahwah dalam memilih pendapat dengan suara terbanyak.Dalam pelaksanaan syura‟ ini itu tidak ada di tetapkan atau ditentukan oleh Rasulullah, jadi untuk pelaksanaannya tergantung perkembangan waktu dan zaman.

Tradisi Tolak Bala di Desa Ranto Natas Kecamatan Panyabungan Timur Kabupaten Mandailing Natal (kajian Living Qur’an)

2023 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Judul skripsi ini yaitu: “TRADISI TOLAK BALA DI DESA RANTO NATAS KECAMATAN PANYABUNGAN TIMUR KABUPATEN MANDAILING NATAL ( Kajian Living Qur’an)” yang ditulis oleh Muhammad Ridwan, Nirm S1.VI.19.19.486, Mahasiswa STAI Darul Qur’an Payakumbuh. Latar belakang masalah dalam penulisan skripsi ini adalah tentang Fenomena living Qur'an yang merupakan respon sosial suatu komunitas atau masyarakat tertentu dalam meresepsi kehadiran Al-Qur'an seperti yang terjadi di Desa Rato Natas, Kecamatan Panyabungan Timur, Kabupaten Mandailing Natal. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah: bertujuan untuk mengetahui sejarah pelaksanaan tradisi tolak bala di Desa Ranto Natas Kecamatan Panyabungan Timur Kabupaten Mandailing Natal, bagaimana prosesi tradisi tolak bala di Desa Ranto Natas Kecamatan Panyabungan Timur Kabupaten Mandailing Natal, serta bagaimana persepsi dan manfaat Tolak Bala bagi masyarakat Desa Ranto Natas Kecamatan Panyabungan Timur. Pada pembahasan skripsi ini penulis menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif untuk menggambarkan kegiatan tradisi tolak bala dengan melakukan pengamatan, wawancara dan dokumentasi, kemudian menganalisis dan mereduksi data yang telah didapatkan. Adapun pendekatan penelitian dalam skripsi ini adalah pendekatan sosial karena Penulis menemukan adanya kajian Living Qur’an dalam pelaksanaan Tradisi Tolak Bala di Desa Ranto Natas Kecamatan Pnyabungan Timur Kabupaten Mandailing Natal. Hasil penelitian ini adalah Pertama, Pristiwa yang melatar belakangi tradsi Tolak Bala yang di laksanakan di Desa Ranto Natas adalah pada zaman sebelum di laksanaknnya tradisi Tolak Bala masyarakat ranto natas pernah dilanda berupa penyakit, beberapa hama yang mengganggu tanam-tanaman masyarakat dan bencana alam lainnya seperti longsor baik yang dekat maupun di dengar dari kejauhan. Kedua, Pelaksanaan dalam tolak bala ini ada dua rangkaian acara yaitu dimulai dari persiapan seperti mempersiapkan tempat, menentukan waktu, anggota, sarana prasarana, dan pembawa acara. Kemudian pelaksanaan yaitu, istighfar 3 kali, membca alfatihah, membaca surah yasin, tahlil, membaca ayat pendek, dan doa. Ketiga, pandangan dan manfaat yang dirasakan masyarakat setelah melaksanakan tolak bala, yaitu masyarakat menerima dengan baik dan mendukung dengan kegiatan tersebut, manfaat yang dirasakan sangat banyak diantaranya setelah di adakan kegiatan tolak bala ini desa ranto natas terasa aman dan jauh dari hal-hal yang membuat kurang nyaman.

Tradisi Tolak Bala di Desa Ranto Natas Kecamatan Panyabungan Timur Kabupaten Mandailing Natal (kajian Living Qur’an)

2023 · Book · Koleksi Perpustakaan

Judul skripsi ini yaitu: “TRADISI TOLAK BALA DI DESA RANTO NATAS KECAMATAN PANYABUNGAN TIMUR KABUPATEN MANDAILING NATAL ( Kajian Living Qur’an)” yang ditulis oleh Muhammad Ridwan, Nirm S1.VI.19.19.486, Mahasiswa STAI Darul Qur’an Payakumbuh. Latar belakang masalah dalam penulisan skripsi ini adalah tentang Fenomena living Qur'an yang merupakan respon sosial suatu komunitas atau masyarakat tertentu dalam meresepsi kehadiran Al-Qur'an seperti yang terjadi di Desa Rato Natas, Kecamatan Panyabungan Timur, Kabupaten Mandailing Natal. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah: bertujuan untuk mengetahui sejarah pelaksanaan tradisi tolak bala di Desa Ranto Natas Kecamatan Panyabungan Timur Kabupaten Mandailing Natal, bagaimana prosesi tradisi tolak bala di Desa Ranto Natas Kecamatan Panyabungan Timur Kabupaten Mandailing Natal, serta bagaimana persepsi dan manfaat Tolak Bala bagi masyarakat Desa Ranto Natas Kecamatan Panyabungan Timur. Pada pembahasan skripsi ini penulis menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif untuk menggambarkan kegiatan tradisi tolak bala dengan melakukan pengamatan, wawancara dan dokumentasi, kemudian menganalisis dan mereduksi data yang telah didapatkan. Adapun pendekatan penelitian dalam skripsi ini adalah pendekatan sosial karena Penulis menemukan adanya kajian Living Qur’an dalam pelaksanaan Tradisi Tolak Bala di Desa Ranto Natas Kecamatan Pnyabungan Timur Kabupaten Mandailing Natal. Hasil penelitian ini adalah Pertama, Pristiwa yang melatar belakangi tradsi Tolak Bala yang di laksanakan di Desa Ranto Natas adalah pada zaman sebelum di laksanaknnya tradisi Tolak Bala masyarakat ranto natas pernah dilanda berupa penyakit, beberapa hama yang mengganggu tanam-tanaman masyarakat dan bencana alam lainnya seperti longsor baik yang dekat maupun di dengar dari kejauhan. Kedua, Pelaksanaan dalam tolak bala ini ada dua rangkaian acara yaitu dimulai dari persiapan seperti mempersiapkan tempat, menentukan waktu, anggota, sarana prasarana, dan pembawa acara. Kemudian pelaksanaan yaitu, istighfar 3 kali, membca alfatihah, membaca surah yasin, tahlil, membaca ayat pendek, dan doa. Ketiga, pandangan dan manfaat yang dirasakan masyarakat setelah melaksanakan tolak bala, yaitu masyarakat menerima dengan baik dan mendukung dengan kegiatan tersebut, manfaat yang dirasakan sangat banyak diantaranya setelah di adakan kegiatan tolak bala ini desa ranto natas terasa aman dan jauh dari hal-hal yang membuat kurang nyaman.

Pembelajaran Berorientasi AKM

2021 · Book · Koleksi Perpustakaan

Buku ini ditujukan bagi mahasiswa program kependidikan, guru, serta pemangku kepentingan (stakeholder) dalam bidang pendidikan yang ingin mempelajari tentang pembelajaran yang sesuai untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Asesmen Kompetensi Minimum merupakan salah satu komponen Asesmen Nasional yang dicanangkan sebagai pengganti Ujian Nasional (UN). Pembelajaran untuk meningkatkan AKM harus sejalan dengan pembejaran untuk meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills). Buku diorganisasikan dalam 9 bab yang mencakup: Bab 1 Pendahuluan Bab 2 Karakteristik Soal Asesmen Kompetensi Minimum Bab 3 Karakteristik Pembelajaran Berorientasi AKM Bab 4 Meningkatkan Literasi Membaca Bab 5 Meningkatkan Literasi Numerasi Bab 6 Mengembangkan Kreativitas Bab 7 Berpikir Kritis dan Membuat Keputusan Bab 8 Pembelajaran Berbasis Inkuiri Bab 9 Survei Karakter dan Lingkungan Belajar