SARAH AULIA
2025 · Book · Open Access
Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya praktik living Qur’an/Al-Qur’an in everyday life di pondok Pesantren Daarul Ulum putri Pekanbaru, yaitu pelaksanaan amalan empat surat (Yasin, al-Mulk, as-Sajadah dan Ad-Dukhan) pada malam jum’at. Amalan ini tidak hanya dibaca pada malan jum’at saja akan tetapi dipraktekkan dalam shalat malam dan juga dipelajari maknanya melalui pembelajaran tafsir. Bila dibandingkan dengan beberapa pondok pesantren lain yang ada di Indonesia, amalan seperti ini hanya dibaca saja atau hanya praktik shalat malam saja, yang bisa di sebut denga shalat hifdzi. Karna amalan ini berbeda dengan amalan pondok pesantren lainnya, hal ini yang mendorong penulis untuk meneliti amalan empat surat di pondok Pesantren Daarul Ulum putri Pekanbaru. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana konstruksi terhadap penafsiran amalan empat surat di pondok pesantren putri Daarul Ulum Pekanbaru. Karena keterbatasan waktu dalam penelitian dan banyaknya keutamaan yang terdapat dalam surah Al-Mulk, penulis menfokuskan kajian pada penafsiran hanya surah Al-Mulk saja. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tata cara pelaksanaan, pola penafsiran surah al-Mulk dalam amalan empat surat dan pemahaman ustad dan santri terhadap surah al-Mulk dalam amalan empat surat sesuai dengan kitab tafsir yang dipelajari. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah etnografi yaitu penelitian lapangan (field reseach), penelitian ini merupakan bagian dari penelitian kualitatif yang mendeskripsikan karakteristik kultural, dengan pendekatan living Qur’an. Penelitian ini juga menggunakan teori sosial petter berger dan Thomas Lukman: proses eksternalisasi, Objektifitas dan eksternalisasi. Penelitian ini dilakukan di pondok pesantren Daarul Ulum putri Pekanbaru. Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Pertama tata cara amalan empat surat yaitu terbagi menjadi 3 tahapan: 1) tahapan persiapan: berbenah sebelum amalan, 2) tahap pembukaan: yang pembacaan do’a, 3) proses pelaksaanan: praktek pembacaan 4 surah dan proses shalat empat surat, yaitu; pada rakaat pertama membaca surah yaasin, rakaat kedua yaitu membaca surah ad-Dukhan, rakaat ketiga surah surah as-Sajadah dan terakhir yaitu surah al-Mulk, yang dilakukan dengan 2x salam. Kedua pola penafsiran, Pola penafsiran di pondok pesantren Daarul Ulum putri Pekanbaru terbagi menjadi 3 aspek, 1) metode penafsiran, 2) corak penafsiran dan 3) sumber penafsiran. Dalam penelitian ini metode yang digunakan dalam menjelaskan tafsir oleh ustadz yang mengajar adalah metode tahlili, sumber penafsirannya adalah tafsir bil al-Matsur,dan coraknya adalah sufi. Terakhir pemahaman santri dan ustadz, menurut santri mereka memahami amalan tersebut sesuai dengan fadhilah yang terdapat dalam kitab fadhilah amal, dan apa yang mereka pelajari dalam kitab tafsir, sedangkan menurut ustadz yang mengajar sesuai penafsiran surah al-Mulk yang merupakan bagian dari 4 surah adalah “surah Al-Mulk merupakan surah munjiyat yaitu surah yang menjaga pembacanya dari azab kubur. Oleh karena itu siapa saja yang membacanya insya Allah akan dijaga dan dijauhkan dari azab kubur. Dan siapa saja membacanya akan bertambah kepahamannya terhadap agama”.
RANTI PERMATA SARI
2025 · Book · Open Access
ABSTRAK Skripsi ini berjudul “Penafsiran Ghosting Dalam Al-Qur’an (Studi Tafsir Tahlili Q.s An-Nmal:20)” yang ditulis oleh Ranti Permata Sari NIRM.S1.VI.19.21.007, Mahasiswa Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini dilatar belakangi oleh istilah Ghosting yang menjadi tranding di masyarakat dan sering dikaitkan dengan masalah percintaan. Dilihat lebih dalam lagi, ternyata istilah ghosting tidak hanya digunakan untuk menyebutkan pemutusan/hilang tiba-tiba dalam hubungan percintaan saja, melainkan menyangkut segala bentuk hubungan sosial. Dan dilihat dari kisahnya Nabi Sulaiman, beliau pernah dighosting oleh salah satu prajuritnya. Oleh karena itu, penulis berusaha memahami secara utuh bagaimana ghosting dalam Al-Qur’an. Karena ha ini lah perlu untuk ditelusuri penafsiran ulama mengenai Ghosting dan menganalisa penafsiran tentang ghosting dalam Al-Qur’an. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan pendekatan kualitatif, Sumber data penelitian terbagi dua, sumber data primer diantaranya tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, tafsir al-Misbah karya M.Quraisy Shihab, tafsir fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Qutb, tafsir Jalalaen karya Jalaludin Al-mahali dan Jalaludin as-suyuti, tafsir Al-Maraghi karya Ahmad Musthafa al-Maraghi dan Tafsir An-Nur karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy. Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Adapun metode yang digunakan penulis dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode Tahlili, yaitu: menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an dengan menjelaskan segala makna secara rinci. Hasil penelitian ini menemukan bahwa ghosting terdapat 1.061 ayat dalam Al-Qur’an, dengan kata ghosting hilang, putus, lenyap dan tiada. Kata hilang terdapat 17 lafadz 787 ayat dalam Al-Qur’an, kata putus terdapat 6 lafadz 241 ayat dalam Al-Qur’an, kata lenyap terdapat 7 lafadz 11 ayat dalam Al-Qur’an, kata tiada terdapat 5 lafadz 10 ayat dalam Al-Qur’an. Sedangkan ayat yang membahas ghosting Nabi Sulaiman dengan Burung Hud-hud terdapat dalam Q.S An-Naml:20, membahas tentang bahwasannya Burung Hud-hud pernah menghilang beberapa saat tanpa memberi kabar dan pengetahuan Nabi Sulaiman. Q.S maryam:59 tentang mengabaikan sholat, Q.S Al-baqarah:266 dan Q.S Al-Hadid:20 kebun yang ditiup angin lalu menghilang, Q.S Al-An’am:76 matahari yang dilihat ibrahim tiba-tiba menghilang, Q.S Al-Isra’:67 ketika kamu ketimpa musibah lalu yang biasa kamu sembah akan hilang kecuali allah, Q.S Al-An’am:94 putusnya hubungan pada hari pemberi syafaat, Q.S Thoha:78 fir’aun ditenggelamkan oleh ombak, Q.S Muhamad 22-23 memutuskan hubungan kekeluargaan, Q.S Arro’du 25 memutuskan perjanjian, Q.S Al-baqarah:166 pada hari kiamat hubungan sesama manusia terputus.
ALDI NOVENDRA
2025 · Book · Open Access
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul "Studi Kritis Terhadap Pemikiran Agus Mustofa Tentang Turunnya Nabi Isa di Akhir Zaman" yang ditulis oleh Aldi Novendra (NIRM. S1.V1.19.21.020) Mahasiswa Institut Darul Qur'an Payakumbuh.
Keyakinan akan turunnya Nabi Isa di akhir zaman merupakan bagian dari aqidah yang diyakini secara luas di masyarakat. Para ulama menukilkan adanya konsensus terkait malasah ini, hal ini diberitakan dalam Al-Qur'an dan banyak hadits yang derajatnya dikategorikan sebagai hadist-hadits yang mutawatir. Faktanya di Indonesia, seorang penggiat dakwah bernama Agus Mustofa menyatakan dalam karya-karyanya bahwa Nabi Isa tidak akan turun di akhir zaman, dan keyakinan akan hal itu merupakan kesalahkaprahan dan mitos yang berkembang di masyarakat.
Terkait hal tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian skripsi dengan judul "Studi Kritis Terhadap Pemikiran Agus Mustofa Tentang Turunnya Nabi Isa di Akhir Zaman" dengan fokus masalah yaitu: metode penafsiran Agus Mustofa, pemikiran Agus Mustofa tentang turunnya Nabi Isa di akhir zaman, serta analisis terkait pemikiran Agus Mustofa tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana metode dan pemikiran Agus Mustofa serta analisis terhadapnya.
Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kritis, jenis penelitiannya library research. Teknik pengumpulan data yang utama dalam penelitian ini adalah dokumentasi, kemudian metode analisis data yang digunakan adalah deskriptif analitis.
Hasil penelitian ini menemukan bahwa metode penelitian Agus Mustofa yaitu metode puzzle tidak memiliki metodologi dan sistematika penafsiran yang jelas, Ia hanya mengkombinasikan ayat-ayat, dan mengabaikan sumber lain seperti hadits, asbabbun nuzul, nasikh mansukh dan lainnya. Metode puzzle juga berbeda dengan tafsir qur'an bil qur'an para ulama tafsir. Metode ini membawa Agus Mustofa menyampingkan hadist-hadist mutawatir terkait turunnya Nabi Isa. Terkait penafsiran Agus Mustofa belum menghimpun seluruh ayat yang berkaitan dengan tema bahasan, dan meluputkan ayat yang penting. Pendapat Agus Mustofa bahwa turunnya Nabi Isa di akhir zaman itu kontra dengan ayat Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir terbantahkan para ulama karena Nabi Isa turun bukan membawa syari'at baru untuk menggantikan syari'at Nabi Muhammad. Agus Mustofa menafsirkan surah ali imran ayat 55 pada kata mutawaffiika yang didahulukan penyebutannya daripada waraafi'uka berarti Nabi Isa wafat terlebih dahulu sebelum diangkat, para ulama menjelaskan bahwa pada ayat ini terjadi muqaddam dan muakhar yaitu mendahulukan yang kemudian dan mengakhirkan yang dahulu. Kata mutawaffiika tidak hanya dipahami sebagai meninggal seperti yang dipahami Agus Mustofa, para ulama menjelaskan bisa juga bermakna mengangkat/mengambil dan menidurkan.
HARMILA DEWI
2025 · Book · Open Access
Skripsi yang berjudul “Studi Kritis terhadap Pemikiran Maurice Bucaille dalam Buku The Bible, the Qur’an and Science” yang disusun oleh Harmila Dewi NIRM S1.VI.19.21.026 program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh posisi Maurice Bucaille sebagai seorang orientalis yang mencoba untuk membandingkan redaksi Al-Qur’an dengan Bibel dan Ilmu Pengetahuan Sains Modern. Pemikiran ini dituangkan dalam sebuah buku yang diberi judul oleh Maurice Bucaille sendiri judul “The Bible, the Qur’an and Science” dan telah berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “ Bibel, Qur’an dan Sains Modern” oleh Prof. Dr. H. M. Rasyidi. Hal tersebut mendorong minat penulis untuk mengangkat judul skripisi “Studi Kritis terhadap Pemikiran Maurice Bucaille dalam Buku The Bible, the Qur’an and Science” untuk mengetahui bagaimana pendapat mufassir sains pada penafsiran ayat tentang banjir, selanjutnya untuk mengetahui bagaimana pemikiran Maurice Bucaille tentang peristiwa banjir Nabi Nuh dalam bukunya The Bible, the Qur’an and Science dan kritik terhadap pemikiran Maurice Bucaille dalam upayanya membandingkan Bibel, Qur’an dan Sains Modern. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian pustaka (library reseach), dengan pendekatan kualitatif studi kritis. Data yang digunakan dalam penelitian ini berfokus langsung pada Al-Qur’an dan buku The Bible, the Qur’an and Science serta artikel, jurnal dan buku-buku lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk dokumentasi, dimana data-data pada penelitian ini diperoleh dari dokumen-dokumen berupa buku, tulisan, dan lampiran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama Menurut pendapat Mufassir Tanthawi Jauhari dalam tafsirnya bahwa ayat-ayat tentang banjir dalam Al-Qur’an memiliki redaksi yang banyak, salah satu diantaranya QS. Al-‘Ankabut: 14-15 yang telah berhasil ia bahas dalam satu bab yang diberi judul besar dengan “Qishshoh Nuh ‘Alaihi As-Salam” (Kisah Nabi Nuh As.). Kedua, pemikiran Maurice Bucaille tentang banjir dalam bukunya The Bible, the Qur’an and Science menyebutkan bahwa banjir merupakan suatu hukuman yang khusus diturunkan kepada kaum nabi Nuh sebagai balasan atas kedurhakaan mereka. Penelitian Maurice Bucaille tentaang banjir nabi Nuh jika ditinjau dari metode maudhu’I Imam Abu Al-Hayy Al-farmawi diperoleh banyak kekurangan mulai dari penetapan ayat yang kurang, tidak menyusun ayat berdasarkan urutan turun, tidak mencantumkan munasabah ayat dan hadits, dan tidak membedakan antara ayat dengan redaksi ‘am dank has. Hasil kritik dalam penelitian ini menunjukkan bahwa banjir bukanlah sebuah hukuman yang khusus diturunkan kepada kaum nabi Nuh saja, akan tetapi pernah juga melanda Fir’aun dan kaumnya pada zaman nabi Musa.
M.ARIF
2025 · Book · Open Access
Skripsi ini berjudul “Amalan Baco Yasin Ompek Puluh Satu di Desa Panipahan (Kajian Living Qur’an)”, ditulis oleh M. ARIF NIRM. S1.VI.19.21.003, mahasiswa prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Latar belakang penelitian ini adalah untuk mengkaji amalan baco Yasin ompek puluh satu di Desa Panipahan, Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau dalam konteks Living Qur'an, adanya keunikan dalam pelaksanaan amalan baco Yasin ompek puluh satu di Desa Panipahan, mendorong penulis untuk mengembangkan penelitian di desa tersebut. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah dasar dan praktik pelaksanaan amalan baco Yasin ompek puluh satu di Desa Panipahan dan pengaruh yang dirasakan oleh pemilik hajat setelah baco Yasin ompek puluh satu dan korelasinya terhadap penafsiran dalam kitab Tafsir Surah Yasin karya Ibnu Katsir. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), dengan metode deskriptif kualitatif melalui pendekatan Living Qur’an. Penelitian dilakukan di Desa Panipahan. Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Selanjutnya, dalam menganalisis data penulis menggunakan langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian menemukan bahwa sejarah baco Yasin ompek puluh satu di Desa Panipahan pertama kali dilaksanakan pada tahun 1950 oleh Sayyidi Syekh Abdul Majid Faqih Al-Kholidi Naqsyabandi, ketika belajar langsung dengan gurunya Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Kholidi Naqsyabandi yang merupakan orang yang pertama kali mengajarkan amalan ini terkhusus di daerah Sumatera Utara dan Riau. Amalan ini pertama kali dilakukan oleh Syekh Ahmad ad-Dairobi yang mengatakan bahwa Al-Qur’an bukan hanya firman Allah S.W.T semata, akan tetapi Al-Qur’an juga bermanfaat menyembuhkan berbagai penyakit, bahkan untuk memenuhi berbagai hajat dan kebutuhan manusia. Praktik pelaksanaan amalan baco Yasin ompek puluh satu ini adalah dengan membaca surah Yasin sebanyak 41 kali secara bersama-sama. Imam (pemandu) memulai amalan ini dengan membaca istighfar sebanyak 3 kali, kemudian bertawasul atau istilah di Desa Panipahan membaca Ummul Fatihah dengan membaca beberapa bacaan tertentu dan menghadiahkan bacaan tersebut kepada ruh-ruh orang yang sudah meninggal, kemudian dilanjutkan membaca surah Yasin secara bersama-sama dan ditutup dengan pembacaan do’a. Pengaruh yang dirasakan pemilik hajat setelah baco Yasin ompek puluh satu ini adalah segala hajat yang diminta dikabulakan dan dipermudah oleh Allah S.W.T, dan hal ini sesuai juga yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Kastir dalam kitab Tafsir Surah Yasin, bahwa apabila surah Yasin ini dibacakan pada suatu perkara yang sulit, niscaya Allah S.W.T akan mudahkan.
DELPI WIJAYA
2025 · Book · Open Access
ABSTRAK Skripsi ini berjudul “Talqin Mayat Setelah Di Kubur Studi Kasus Terhadap Masyarakat Desa Limbur Merangin Kecamatan Pamenang Barat Kabupaten Merangin Provinsi Jambi.” yang ditulis oleh Delpi Wijaya NIRM.S1.VI.19.21.054, Mahasiswa Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini dilatar belakangi oleh sebuah tradisi yang ada didalam masyarakat Indonesia terutama di Desa Limbur Merangin Kecamatan Pamenang barat ini yaitu tradisi talqin mayat setelah dikuburkan, tradisi yang sudah ada sejak islam masuk ke Desa Limbur Merangin ini membuat peneliti tertarik untuk mengungkap berbagai aspek dari praktik talqin mayat ini, hal ini perlu ditelusuri penafsiran ulama mengenai praktik talqin mayat setelah dikuburkan. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif, metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara,dan dokumentasi. Sumber data penelitian terbagi menjadi dua, yaitu sumber data primer tokoh agama, adat dan masyarakat Desa Limbur Merangin, serta sumber data sekunder dari literature-literatur yang ada dari kitab-kitab, makalah, jurnal dan lain-lain. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan residu data, display data, kesimpulan dan verifikasi data. Hasil penelitian ini bahwa tradisi ini terjadi tidak lepas dari kebiasan masyarakat Desa Limbur Merangin yang sudah terjadi dari zaman berkembang nya Islam pada Desa Limbur Merangin sampai saat sekarang ini masih di pertahankan, hal ini bisa terjadi juga karena dukungan dari segala pihak yang terkait dan kesepakatan bersama terhadap suatu amalan dengan tujuan yang akan penulis terangkan setelah ini, hal ini bisa terjadi karena sesuai dengan keyakinan mereka yang bermazhab Imam Syafi’i. pembacaan talqin mayat setelah di kubur masyarakat setempat melakukan amalan tersebut berdasarkan dengan dalil yang di ambil dari kitab suci al-Qur’an yaitu yang terdapat dalam surah Az-Zariyat ayat 55dan kitab Ianatut Tholibin juz 2 halaman 140-143.
HIDAYATUL AZIZATI
2025 · Book · Open Access
Skripsi ini berjudul “ KARAKTERISTIK MUNAFIK DALAM SURAT AL-BAQARAH AYAT 8-16 (Kajian Muqaran Tafsir Fi Zilalil Qur’an dan Tafsir al-Munir) ” ditulis oleh Hidayatul Azizati, NIRM:SI.VI.19.21.021, Mahasiswa Prodi Ilmu Qur’an dan Tafsir Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini didasari oleh kenyataan bahwa banyak yang tidak sadar akan sifat dan tanda-tanda munafik. Munafik ini adalah penyakit yang sulit diketahui di masyarakat, bahkan munafik ini lebih berbahaya dari orang kafir. Oleh karena itu penulis ingin menjabarkan dan menjelaskan tentang karakteristik munafik dalam surat Al-Baqarah ayat 8-16. Penulis ingin menganalisis pendapat Sayyid Quthb dan wahbah az-Zuhaili perbedaan dalam menafsirkan karakteristik munafik yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 8-16. Maka penulis ingin menjelaskan dan mengungkap bagaimana penafsiran Qs Al-Baqarah ayat 8-16 menurut tafsir Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb dan tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) menggunakan metode kualitatif. Sumber data primer yaitu, Al-Qur’an, tafsir Fi Zhilalil Qur’an dan tafsir al-Munir dan sumber data sekunder yaitu jurnal, buku, skripsi tulisan-tulisan tokoh lain yang didalamnya terdapat pembahasan yang terkait. Penelitian ini menemukan bahwa Sayyid Quthb dan Wahbah az-Zuhaili sepakat bahwasanya orang-orang munafik menampilkan keimanan di lisan mereka dan berbeda pendapat tentang apa yang kaum munafik simpan di hati mereka. Sayyid Quthb menyebutkan di dalam hatinya mengatakan bahwa mereka merasa tidak memiliki keberanian untuk menghadapi kebenaran dengan iman yang benar dan tidak berani mengatakan pengingkaran secara terus terang terhadap kaum mukminin. Sedangkan Wahbah al-Zuhaili menyebutkan hati mereka penuh dengan kekafiran dan kesesatan. Keduanya juga sepakat tentang penipuan yang dilakukan oleh kaum munafik terhadap Allah yaitu dalam bentuk pendustaan mereka dengan menampilkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran untuk keamanan jiwa dan harta mereka. Adapun mengenai penyakit yang ada di dalam hati orang-orang munafik, keduanya menyebutkan penyakit itu dalam bentuk keragu-raguan antara keimanan dan kekafiran. Adapun mengenai perusakan di muka bumi yang dilakukan oleh kaum munafik, Sayyid Quthb menyatakan perusakan di sini adalah kebaikan, keburukan, keshalihan dan kerusakan yang ada di dalam hati mereka lebih berat kepada hawa nafsu dan tidak lagi cenderung kepada kaidah ilahi (Allah), sedangkan Wahbah az-Zuhaili menyebutkan perusakan yang dilakukan kaum munafik yaitu menyulut fitnah, menebarkan rahasia kaum mukminin kepada kaum kafir, serta ingkar dan menghalangi manusia untuk berjuang di jalan Allah. Keduanya juga berbeda pendapat mengenai orang-orang bodoh yang dimaksud oleh orang munafik ketika diseru untuk beriman, Sayyid Quthb menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah khusus bagi orang-orang miskin saja yang tidak layak menduduki posisi yang terhormat, sedangkan Wahbah az-Zuhaili menyebutkan yang dimaksud adalah orang-orang lemah dari kaum hamba sahaya dan orang-orang miskin yang mengikuti Nabi. Keduanya juga sepakat tentang perumpamaan kaum munafik yakni dengan menyebutkan mereka sebagai pedagang yang rugi karena telah menukarkan hidayah dan petunjuk demi kesesatan. Salah satu yang menjadi perbedaan penafsiran adalah penafsiran Sayyid Quthb dalam kitab tafsir Fi Zhilalil Qur’an merujuk kepada orang-orang munafik yang berasal dari suku Aus dan Khazraj serta orang-orang yang mengikuti mereka. Wahbah az-zuahaili dalam kitab tafsir Al-Munir merujuk kepada orang-orang munafik yang berasal dari orang-orang munafik dari zaman Rasulullah sampai zaman modern.
MUHAMMAD MAHYUDIL FEJRA
2025 · Book · Open Access
ABSTRAK Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya ayat-ayat mutasyabihat (ayat-ayat Antropomorfisme ) dalam al-Qur’an dan untuk memahami dan menejemahkan ayat-ayat ini, maka para ulama telah banyak menulis kitab-kitab tafsir, terutama di Indonesia telah bermunculan para mufassir, salah satunya Teungku Muhammad Hasbi Ash-shiddieqy (1975w)., yang telah menulis kitab tafsir An-nur dan kitab tafsir al-Bayan. Kitab tafsi An-Nuur yang nama lainnya Tafsir al-Qur’anul Majid An-Nuur dan juga kitab Tafsir al-Furqan yang ditulis oleh Ahmad Hasan (1958w), Fokus pembahasan terdiri dari 2: Pertama, menklasifikasi ayat-ayat Antropomorfisme dalam kitab al-Qur’an Karim. Kedua, mengetahui penafsiran ayat-ayat Antropomorfisme dan menalisis penafsiran ayat-ayat Antropomorfisme dalam kitab tafsir an-Nuur dan al-Furqan . Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian pustaka dengan pendekatan penelitian kualitatif dan metode analisa deskpisi. Dengan metode muqaron yang membandingkan dua kitab sumber serta menganalisa ayat-ayat Antropomorfisme yang ada didalamnya. Untuk mengklasifikasi ayat-ayat Antropomorfisme dalam kitab al-Qur’an al-Karim penulis menggunakan kitab al-Mu’jam al-Mufahras li al-Fazhi al-Qur’an al-Karim karangan Muhammad Fuad Abdul Baqi. Di dalam penelitian ini, penulis hanya menkhususkan kepada ayat-ayat yang berkenaan jism Allah seperti Wajh, A’in, Yad, dan Saaq. Lafadz Wajh terdapat pada Q.S 02:115, Q.S 02:272, Q.S 06:52, Q.S 13:22, Q.S 18:28, Q.S 28:88, Q.S 30:38-39, Q.S 55:27, Q.S 76:9, dan Q.S 92:20. Dan lafadz A’in terdapat pada Q.S 11:37, Q.S 20:39, Q.S 23:27, Q.S 52:48, dan Q.S 54:14. Sedangkan lafadz Yad dapat ditemukan pada Q.S 03:26, Q.S 03:73, Q.S 05:64, Q.S 23:88, Q.S 36:83, Q.S 48:10, Q.S 57:29dan Q.S 67:1. Dan Lafadz Saaq hanya terdapat pada Q.S 68:42. Setelah melakukan analisis penulis dapat menyimpulkan penafsiran M.H. Ash-Shiddieqy dan Ahmad Hassan dalam menafsirkan ayat-ayat Antropomorfisme, tidaklah jauh berbeda, adakala melakukan takwil dan adakala melakukan literal sesuai tema ayat itu sendiri. Adapun penafsiran ayat-ayat Yad M.H. Ash-Shiddieqy dan Ahmad Hassan lebih cendrung kepada literal, ini terlihat jelas pada tabel 4.3 yang membahas lafazh yad. Begitu juga dengan ayat Saaq dengan makna betis, mereka juga memilih penafsiran literal, namun Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy menambah keterangan tambahan dalam kurung “terjadi bencana besar”
RIFKI WAHYUDI
2025 · Book · Open Access
Skripsi ini berjudul "PENAFSIRAN TSABBIT AQDAMANA Q.S AL-BAQARAH AYAT 250 DAN Q.S ALI IMRAN 147”(KAJIAN TAFSIR MUQARAN)” yang ditulis oleh Rifki Wahyudi NIRM.S1.VI.19.21.008, Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini dilatar belakangi oleh Al-Qur’an yang fungsi utamanya sebagai kitab petunjuk semua manusia, terutama umat islam bahwa untuk selalu mengerjakan kebajikan. Kebajikan sendiri harus istiqomah dilakukan seperti yang di tertera pada H.R Muslim No.38, istoqomah sendiri memiliki banyak makna terutama teguh pendirian untuk selalu berada dalam ajaran Islam, bimbingan Al-Qur’an. Semakna dengan istiqomah terdapat dalam Q.S Al-Baqarah ayat 250 dan Q.S Ali Imran ayat 147 lafadz Tsabbit Aqdama yang memiliki makna teguhkanlah pendirian kami. Fokus penelitian pada lafadz tersebut di karenakan belum ada sebelumnya penelitian terfokus pada lafadz tersebut, hanya pada lafadz istiqomah, di karenakan kedua ayatnya memilik kesamaan memfokuskan kajiannya pada perbandingan penafsiran kedua ayat tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan metode tahlili majmu min al ayat, dalam surat berebeda namun ada kesamaan redaksi dan bahasan. Sumber data penelitian terbagi dua, sumber data primer diantaranya tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, tafsir al-Misbah karya M.Quraisy Shihab, tafsir fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Qutb, tafsir ibnu Katsir karya Ibnu Katsir , tafsir Al-Maraghi karya Ahmad Musthafa al-Maraghi dan Tafsir al-Munir karya syaikh Wahbah az-Zuhaili, tafsir Fathul Qodir karya imam As-Syaukani tafsir At-Thobary karya Imam At-Thobary tafsir al-Kasyaf karya imam Zamakzyari, tafsir al-Baghowi karya Imam al-baghowi Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Adapun metode yang digunakan penulis dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode Tahlili, yaitu: menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an dengan menjelaskan segala makna secara rinci dan membandingkan kedua ayat tersebut atau memuqoronkannya . Hasil penelitian ini menemukan bahwa tsabbit Aqdama yang terdapat dalam Q.S Al-Baqarah ayat 250 dan Q.S Ali Imran ayat 147 memiliki makna kokohkanlah pendirian kami yaitu makna majazi yang makna harfiahnya kokohkanlah kaki (tumit) kami. Lafadz Tsabbit Aqdamana pada kedua ayat ini merupakan do’a raja Tholut dan Pasukannya dan Do’a kaum Ribbiyyun dalam berperang melawan musuh. Perbandingan kedua ayat ini terdapat perbedaan pada redaksi utuh ayatnya, pada aspek historis dan sabab nuzulnya, Q.S Al-Baqarah 250 sabab nuzulnya sebagai penjelasan mengenai syari’at berperang sudah ada pada umat terdahulu seperti Raja Tholut dan pasukannta, Q,S Ali Imran memiliki sabab nuzul peristiwa perang Uhud. Do’a dalam Q.S Ali Imran lebih lengkap lafadznya yang di awali dengan keinsyafan dan merupakan do’anya kaum Ribbiyyun. Aspek balaghohnya Q.S Ali Imran merupakan kalam Isti’arah tamtsiliyyah dan kalam amr bermakna do’a dan Q.S Ali Imran hanya kalam amr bermakna do’a. Kata Kunci: Istiqomah, tafsir, tsabbit aqdamana, muqarran, dan balaghah.
Syahrial
2025 · Book · Open Access
Masnur Muslich
2025 · Book · Open Access
Muhammad Joko Susilo
2025 · Book · Open Access
TIM FKIP
2025 · Book · Open Access
Sri Tatminingsih
2025 · Book · Open Access
Mulyasa
2025 · Book · Open Access
Wardani
2025 · Book · Open Access
Djama'an Satori
2025 · Book · Open Access
Prayekti
2025 · Book · Open Access
Udin S. Wiranataputra
2025 · Book · Open Access
Hamka
2025 · Book · Open Access