Abstrak
Penelitian ini didasari oleh kenyataan bahwa manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan hubungan baik dengan orang lain, namun sering terjadi konflik di masyarakat. Salah satunya adalah kecenderungan melaknat orang yang tidak disukai atau sedang berkonflik, tanpa memandang siapa yang dila’nat. Dalam Islam, melaknat mukmin adalah dosa besar, namun banyak orang salah paham dan menganggap la’nat sebagai makian atau ungkapan marah. Kemudian penulis ingin menganalisa kedua Tafsir Ath-Thabari dan Tafsir Al-Qurthubi karena dua tafsir tersebut berpengaruh yang menawarkan perspektif berbeda tentang ayat ini. Ath-Thabari menggunakan pendekatan historis dan analitis, sedangkan Al-Qurthubi menggunakan pendekatan fiqhiyah dan menyertakan banyak pendapat ulama. Penelitian ini mengeksplorasi makna la’nat dan implikasinya melalui kedua tafsir tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan dan mengungkap penafsiran la’nat dalam kitab tafsir AthThabari dan kitab tafsir Al-Qurthubi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptifanalitis. Data diperoleh melalui studi pustaka dengan mengacu pada Tafsir AthThabari dan Tafsir Al-Qurthubi sebagai sumber utama. Analisis dilakukan dengan membandingkan interpretasi kedua tafsir tersebut terhadap ayat yang diteliti, serta mempertimbangkan konteks historis dan metodologis masing-masing mufasir. Berdasarkan hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa penafsiran la’nat dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 161 kitab tafsir Ath-Thabari dan kitab tafsir Al-Qurthubi saling melengkapi satu sama lain, Menurut Imam Ath-Thabari, menjelaskan bahwa penafsiran la’nat dari Allah merupakan hukuman Allah yang berbentuk dijauhkan dari rahmat Allah, Menurut Imam Al-Qurthubi, menjelaskan bahwa penafsiran la’nat dari Allah merupakan bentuk hukuman yang berupa kutukan dalam konsekuensi yang sangat berat dan pedih. Dan la’nat dari Malaikat dan manusia adalah sebagai bentuk do’a ataupun perkataan. Analisa penulis mengemukakan bahwa bentuk dari la’nat allah itu adalah hukuman dan bentuk dari do’a karena merasa benci. Sementara perbedaan anatara kedua mufasir tersebut yaitu imam Ath-Thabari menjelaskan la’nat bentuk hukuman yang allah jauhkan dari rahmat dan keberkahannya, Sedangkan Imam AlQurthubi menafsirkan lanat bentuk kutukan dari Allah dalam perbuatan yang sangat buruk yang dilakukan oleh manusia. Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam bidang studi Al-Qur'an dan membantu umat Islam dalam memahami pesan-pesan Allah secara lebih mendalam.