Lewati ke konten utama
BookOpen AccessTerbit 2024Versi 1

Penafsiran Halim dalam Al-Quran

Koleksi Perpustakaan•2 dilihat · 0 unduhan

Abstrak

Penelitian ini dilatar belakangi dengan 99 nama Allah sebagaimana diterangkan dalam surat Al-A’raf ayat 180, namun penelitian penulis menemukan nama Allah tersebut juga ditujukan kepada manusia. Ḥalîm terdapat dalam 12 surat dan 15 ayat, sebelas ayat menjelaskan tentang sifat Allah sedangkan empat ayat menjelaskan sifat makhluknya, dimana ayat-ayat tersebut tidak berdiri sendiri melainkan juga disandingkan dengan sifat Ghafur, ghaniy, ‘Alim, Awwah, Rasyid, dan Syakur. Dalam penelitian ini penulis menelusuri kata ح ل م ditemukan 20 ayat dengan rincian ḥuluma, ahlamin, ahlamuhum, ḥalimun, ḥaliman, dan ḥalimin. Berikutnya kata yang bermakna penyantun yakni ḥalimun, ḥaliman, dan ḥalimin Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan metode tafsir maudhu’i yakni penggabungan ayat-ayat Al-Quran yang memiliki tujuan yang sama untuk membahas topik yang sama dan disusun berdasarkan asbabun nuzul dan kronologinya. Sumber data primer yaitu Al-Quran, Tafsir Al-Azhar, Tafsir Al-Misbah, Tafsir al-Maraghi, Tafsir Al-Manar, Tafsir Qurtuby dan Tafsir Ibn Katsir, sedangkan sumber data sekunder yaitu kitab Mu’jam al-Mufahros li Alfazh Al-Quran, data pendukung untuk meneliti kajian seperti jurnal, buku, skripsi dan tulisan tokoh lain yang didalamnya terdapat pembahasan yang berkaitan dengan penelitian penulis. Hasil penelitian ini menemukan bahwa ḥalîm dengan sifat Allah disandingkan dengan Ghafur menunjukkan penangguhan hukuman bagi orang berbuat dosa, sehingga masih diberi kesempatan untuk bertaubat, disandingkan dengan Ghaniy mengisyaratkan bahwa Allah maha kaya Dia tidak memerlukan sedikit pun balasan dari pendosa, disandingkan dengan ‘Alim menunjukkan sifat maha mengetahui Allah mengenai pendosa dan dosa-dosanya, sifat dengan Syakur mengisyaratkan rasa syukur makhluknya kepadaNya dicerminkan juga oleh penangguhan sanksi. Sedangkan sifat yang disandarkan kepada Nabi Ibrahim dan Ismail yang berarti pujian dari Allah atas pribadi mereka yang lembut hati, penyantun, sabar dan mengembalikan urusannya kepada Allah, dan kepada Nabi Syu’aib merupakan sebuah sindiran dari kaumnya. Maka bagi manusia sikap penyantun bermakna sabar dan tidak tergesa-gesa melakukan sesuatu. sedangkan penyantun bagi Allah ialah menangguhkan hukuman dan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi orang yang mau bertaubat.

Informasi bibliografis

Versi dan riwayat publik

  1. Versi 1Penafsiran Halim dalam Al-Quran2024 · oai:ais:library-item:18481