Lewati ke konten utama
BookOpen AccessTerbit 2026Versi 1

Penafsiran Surah Al-Fatihah dalam Tafsir Al-bahr Al-Muhit

Koleksi Perpustakaan•IDAQU PAYAKUMBUH•3 dilihat · 0 unduhan

Abstrak

Skripsi yang berjudul ―Penafsiran Surah Al-Fatihah dalam Tafsir Al-Bahr AlMuhith‖ yang disusun oleh Ardiansyah NIM 2219045 program studi Ilmu AlQur‘an dan Tafsir Institut Darul Qur‘an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh posisi surah Al-Fatihah dianggap sebagai surah yang paling mulia dalam Al-Quran karena memiliki peran yang krusial dalam pelaksanaan sholat, yaitu sebagai salah satu dari rukun sholat. Pengkajian surah Al-Fatihah sangat dibutuhkan untuk memahami makna dari setiap potongan ayat dalam surah tersebut. Salah satu diantaranya adalah penafsiran surah AlFatihah dari aspek lughawi. Hal tersebut mendorong minat penulis untuk meneiliti penafsiran surah Al-Fatihah dalam tafsir Al-Bahr Al-Muhith, untuk mengetahui bagaimana penafsiran surah Al-Fatihah dalam tafsir Al-Bahr Al-Muhith berdasarkan aspek ilmu nahwu dan ilmu sharaf. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian pustaka (library reseach), dengan pendekatan kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini berfokus langsung pada kitab tafsir Al-Bahr Al-Muhith surah Al-Fatihah, artikel, jurnal dan buku-buku lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk dokumentasi, dimana data-data pada penelitian ini diperoleh dari dokumen-dokumen berupa kitab-kitab lughah, buku, tulisan, dan lampiran. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan bentuk deskriptif analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama pada penafsiran surah Al-Fatihah dalam tafsir Al-Bahr Al-Muhith berdasarkan aspek ilmu nahwu ditemukan hasil, ayat pertama huruf ba‘ pada kata bismi makna sebagai isti‟anah (memohon pertolongan), ilshaq (keterikatan), ayat kedua lafadz ―Al-hamdu” dibaca dengan rafa‘ sebagai mubtada‘ , “lillaahi”, terdapat huruf lam bermakna istihqaq (hak mutlak). menujukkan pernyataan segala pujian adalah milik Allah semata. Pada susunan ayat kelima “iyyaka na‟budu”, terdapat taqdim (pendahuluan) pada peletakan maf‘ul yang berfungsi sebagai hasr (pembatasan), artinya segala ibadah tidak layak dilakukan kecuali semata-mata karena Allah. Kedua, ditinjau dari segi ilmu sharaf ditemukan hasil; pada ayat ketiga lafadz “Ar-Rahman Ar-Rahim” menunjukkan bentuk mubalaghah, Ar-Rahman bermakna kasih sayang secara umum, sedangkan Ar-Rahim diberikan secara khusus dan berkelanjutan. Pada ayat kelima lafadz “nasta‟iin” berasal dari wazan “istif‟al” menunjukkan makna permohonan, artinya sesungguhnya manusia selalu membutuhkan pertololongan dari Allah dan hanya Allah lah yang mampu menolong manusia dalam keadaan apapun. Pada ayat ketujuh lafadz an‟amta merupakan wazan af‟ala yang berfungsi memberikan pengaruh kepada objek atau menjadikan seseorang memperoleh sesuatu, arti ayat ini menjadi ―Engkau beri mikmat‖.

Informasi bibliografis

Versi dan riwayat publik

  1. Versi 1Penafsiran Surah Al-Fatihah dalam Tafsir Al-bahr Al-Muhit2026 · oai:ais:library-item:18941