Mematikan diri sebelum Mati dikalangan Jamaah Thariqat Naqsyabandiyah disurau suluk Al-Mujahadah, Dusun Huta Bargot, Desa Tangun, Kec. Bangun Purba, Kab. Rokan Hulu, Provinsi Riau
Skripsi yang berjudul: “Mematikan Diri Sebelum Mati Di kalangan Jamaah Thariqat Naqsyabandiyah di Surau Suluk Al-Mujahadah Dusun Huta Bargot, Desa Tangun, Kec. Bangun Purba, Kab. Rokan Hulu, Prov. Riau.” Di susun Oleh: Muzakkir Kholiq, NIRM: S1.VI.19.19.490. Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini dilatar belakangi adanya suatu pemahaman dan ajaran yang ada di dalam thariqat naqsyabandiyah yang menjadikan kematian sebagai salah satu dari kaifiat dzikir yang harus dilakukan sebelum melakukan dzikir. Adapun istilah yang dipakai di dalam kaifiat dzikir tersebut adalah istilah mematikan diri sebelum mati. Secara pendekatan bahasa maka dapat diartikan, mematikan diri sebelum mati adalah suatu upaya untuk mematikan diri sebelum kematian itu datang. Dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah akan tumbuh pada diri seseorang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dasar dan penafsiran serta mengungkap tata cara Mematikan diri sebelum mati di kalangan jamaah Thariqat Nasyabandiyah khususnya di Surau Suluk Al-Mujahadah di Desa Tangun, Kecamatan Bangun Purba, Kabupaten Rokan Hulu, provinsi Riau. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif (lapangan) yaitu mengumpulkan data-data melalui wawancara, observasi dan lain sebagainya dengan melihat bagaimana syariat Islam dalam memahami kematian. Sehingga ditemukan titik permasalahan dalam penelitian ini. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa mematikan diri sebelum mati ternyata adalah suatu upaya bagi seorang salik (penganut ajaran thariqat) untuk mengalahkan hawa nafsunya yang hidup di dalam dirinya sendiri, dengan tujuannya adalah agar seorang salik itu dapat merasakan kedekatannya dengan Rabbnya sehingga menjauhkannya dari kecintaan dunia, dan menjadikan seorang salik itu dapat beramal ibadah secara ikhlas dan penuh kekhusyukan dengan semata-mata mengharapkan rahmat dan ridho dari Rabbnya. Dengan cara yang digunakan memejamkan mata, memekakakn telinga, menutup mulut serta menguncikan gigi dalam berdzikir secara sirr (rahasia).