PENAFSIRAN QS. AL-MA'ARIJ AYAT 19 ( STUDI KOMPARATIF TAFSIR AL-AZHAR DAN TAFSIR AL-MUNIR)
Penelitian ini dilatar belakangi oleh berbagai macam penyebutan manusia dalam Al-Qur'an yaitu Basyar, Al-Ins, An-Nas, Bani Adam dan Al-Insan. Namun, penulis menemukan hal menarik dalam penyebutan manusia yang terdapat dalam Al-Qur'an, terutama dalam Qs. Al-Ma'arij ayat 19 yaitu menyebutkan tentang sifat atau karakter manusia terutama yang berkaitan dengan Al-Insan. Kemudian penulis ingin menganalisis dari kedua pendapat mufassir tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap bagaimana penafsiran Qs. Al-Ma'arij ayat 19 menurut Tafsir Al-Azhar karya Hamka dan Tafsir Al-Munir karya Wahbah Az-Zuhaili serta analisis penulis dari kedua mufassir. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penafsiran Qs. Al-Ma'arij ayat 19 menurut Hamka bahwa manusia selalu berkeluh kesah dalam keadaan apapun. Sedangkan Wahbah Az-Zuhaili bahwa manusia itu sangat berkeluh kesah yang disebabkan oleh munculnya situasi atau kondisi yang berakibat keluh kesah itu muncul. Analisis penulis, keduanya mengemukakan bahwa manusia diciptakan dari sifat keluh kesah. Kedua mufassir ini memiliki perbedaan penafsiran, akan tetapi guru kedua mufassir ini sama-sama Mahmud Syaltut. Namun, kedua mufassir ini mempunyai corak yang berbeda dalam menulis kitab tafsir yaitu Hamka memakai corak Adabi al-Ijtima'i sedangkan Wahbah Az-Zuhaili memakai corak fiqih