Profil penulis
Riza
13 karya publik ditemukan.
Kemampuan Tajwid Siswa Kelas V dan VI Sekolah Dasar Takhashshus Qur’an ‘Ibadurrahman Kota Payakumbuh
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan murid-murid dalam menyempurnakan pengucapan makharijul huruf dalam membaca surat Attakwir, untuk mengetahui kemampuan murid-murid dalam menerapkan kaidah mad wal qashr dalam membaca surat At-takwir. Sekolah Dasar Takhashshus Qur’an ‘Ibadurrahman Kota Payakumbuh memiliki media yang berbeda dari sekolah-sekolah lain. Yaitu menggunakan audio rekamaan para Imam Timur Tengah yang popular, untuk menghafal dan muraja’ah Al-Qur’an yaitu membacakan ayat demi ayat yang diikuti oleh siswa-siswi setelahnya. Para guru diharuskan untuk mengikuti pembelajaran setiap minggunya yaitu mempelajari Fashahatul Lisan dan Matan Tuhfatul Athfal. Sekolah ini juga memiliki beberapa tingkatan level dari setiap kelasnya, dari level I sampai VII. Pemberian materi tajwid terhadap siswa bukan menurut tingkatan kelasnya akan tetapi menurut tingkatan levelnya, dimulai pada level III sampai seterusnya. Dibalik keunggulan media yang di gunakan, penulis masih menemukan kesalahan pada bacaan siswa dari segi tajwid. Rumusan dan Batasan Masalahnya adalah bagaimana kemampuan tajwid Siswa-siswi Sekolah Dasar Takhashshus Qur’an ‘Ibadurrahman Kota Payakumbuh dalam menerapkan kaidah-kaidah tajwid dalam membaca surat At-takwir. Alasan penulis memilih dari Surat At-Takwir untuk dibaca oleh siswa karena, dalam Surah At-Takwir terdapat huruf-huruf yang berdekatan seperti makhraj dan yang lainya. Penulis membatasi penelitian pada bidang kemampuan pengucapan Makharijul Huruf, Mad Wal Qashr dan Hukum nun sukun dan tanwin. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan ( field research ), dengan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, dokumentasi dan observasi dengan cara penjajakan awal ke lokasi penelitian kemudian mewawancarai pimpinan Sekolah Dasar Takhashshus Qur’an ‘Ibadurrahman Kota Payakumbuh, lalu merekam bacaan Siswa Kelas V dan VI yang ada di Sekolah dengan sampel sebanyak 14 Siswa.
Makna Jihad Berdasarkan Ayat Makiyyah dan Madaniyyah
Fenomena penyerangan yang mengatas namakan jihad masih sering kita dengar belakangan ini. Sasarannya pun kian berkembang dari yang semula hanya memerangi non-muslim, kini juga berperang dengan kaum muslim yang berbeda paham dengan mereka. Mereka berkeyakinan bahwa hal itu merupakan syariat islam yang wajib dijalankan. Hal ini tidak bisa dipungkiri bahwa banyak ayat-ayat yang membicarakan tentang jihad yang secara eksplisit memang menunjukkan perintah untuk berperang. Dari sini timbul permasalahan,apakah memang ayat tersebut memerintahkan untuk terus berperang?. Bagaimana dengan kenyataan bahwa Rasulullah baru berperang ketika beliau pada periode Madinah?. Peperangan itu pun kebanyakan dilakukan untuk melawan kaum kafir Makkah, bukan penduduk non muslim di Madinah. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, jenis penelitian dalam skripsi ini yaitu penelitian pustaka(libraryresearch), dan metode tafsir yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode tafsir tematik (maudhu’iy) yaitu dengan memilih satu istilah yang terdapat pada ayat-ayat al-Qur’an, menghimpunnya, menafsirkannya dan menyimpulkan penjelasan-penjelasan dari tema pembahasan yang terkait. Guna mengungkap permasalahan ini, penulis menggunakan analisis dokumen tafsir maudhu’iy, dimana semua isyarat serta fenomena yang berhubungan dengan pokok bahasan dideskripsikan kemudian dianalisa. Hasil dalam penelitian ini, Setelah dilakukan penelusuran, ditemukan bahwa seluruh ayat –ayat jihad yang terdapat pada ayat Makkiyyah, seluruhnya tidak ada yang bermakna perang. karena peperangan baru dilakukan Rasulullah pada periode Madinah. Dari sini dapat dipahami bahwa ternyata makna jihad berdasarkan ayat-ayat makiyyah dan madaniyyah tidak harus perang. Ia dapat berbentuk bersungguh-sungguh, kuat, kemampuan, paksaan, ujian atau cobaan, pemberantasan kebodohan, pengentasan kemiskinan, dan pembenahan sistem hukum. Terdapat perbedaan makna antara ayat jihad berdasarkan ayat-ayat Makiyyah dengan ayat-ayat Madaniyyah. Ayat-ayat jihad Makiyyah pada umumnya menyeru untuk bersabar terhadap tindakan-tindakan musuh, disamping terus berdakwah secara lisan ditengah tengah umat manusia. Memang tidak ada pilihan lain bagi mereka selain pilihan itu. Sedangkan ayat-ayat jihad Madaniyyah, sesuai dengan kondisi umat Islam pada waktu itu, menyeru kaum mukminin untuk menghadapi musuh secara berhadapan langsung dan mewajibkan mereka untuk memerangi orang-orang kafir.
Kemampuan Tajwid Siswa Kelas V dan VI Sekolah Dasar Takhashshus Qur’an ‘Ibadurrahman Kota Payakumbuh
Skripsi dengan judul “Kemampuan Tajwid Siswa Kelas V dan VI Di Sekolah Dasar Takhashshus Qur’an ‘Ibadurrahman Kota Payakumbuh”, ditulis oleh Rizal Khomsyah NIRM: S.1.V.I.19.17.108 Program Studi Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsir Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Qur’an Payakumbuh Tahun 2024. Sekolah Dasar Takhashshus Qur’an ‘Ibadurrahman Kota Payakumbuh memiliki metode yang berbeda dari sekolah-sekolah lain. Yaitu menggunakan media yang berisi audio rekamaan para Imam Timur Tengah yang popular, untuk menghafal dan muraja’ah Al-Qur’an atau membacakan ayat demi ayat yang diikuti oleh siswa-siswi setelahnya. Para guru diharuskan untuk mengikuti pembelajaran setiap minggunya yaitu mempelajari Fashahatul Lisan dan Matan Tuhfatul Athfal. Sekolah ini juga memiliki beberapa tingkatan level dari setiap kelasnya, dari level I sampai VII. Pemberian materi tajwid terhadap siswa bukan menurut tingkatan kelasnya akan tetapi menurut tingkatan levelnya, dimulai pada level III sampai seterusnya. Dibalik keunggulan metode yang di gunakan, penulis masih menemukan kesalahan pada bacaan siswa dari segi tajwid. Rumusan dan Batasan Masalahnya adalah bagaimana kemampuan tajwid Siswa-siswi Sekolah Dasar Takhashshus Qur’an ‘Ibadurrahman Kota Payakumbuh dalam menerapkan kaidah-kaidah tajwid dalam membaca surat At-takwir. Alasan penulis memilih dari Surat At-Takwir untuk dibaca oleh siswa karena, dalam Surah At-Takwir terdapat huruf-huruf yang berdekatan seperti makhraj dan yang lainya. Penulis membatasi penelitian pada bidang kemampuan pengucapan Makharijul Huruf, Mad Wal Qashr dan Hukum nun sukun dan tanwin. Karena pada poin-poin ini yang sering terjadi kesalahan dalam membaca Al- Qur’an. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan ( field research ), dengan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, dokumentasi dan observasi dengan cara penjajakan awal ke lokasi penelitian kemudian mewawancarai pimpinan Sekolah Dasar Takhashshus Qur’an ‘Ibadurrahman Kota Payakumbuh, lalu merekam bacaan Siswa Kelas V dan VI yang ada di Sekolah dengan sampel sebanyak 14 Siswa. Penelitian ini menemukan bahwa kemampuan Siswa-siswi kelas V dan VI SDTQ ‘Ibadurrahman , untuk makharijul huruf sebagian besar sudah benar. Akan tetapi sebagian kecil masih terdapat kesalahan dalam beberapa pengucapan makharijul huruf seperti makhraj Tsa kecil, ha tipis, ghoin, qaf, ‘ain dan lainnya. Pengucapan Mad Wal Qashr dalam peraktek sebagian besar masih memiliki kesalahan pada beberapa hukum mad, seperti pada Mad wajib muttasil, Mad jaiz munfasil, dan Mad ‘aridh lisukun. Begitu juga dengan hukum nun sukun dan tanwin secara umum sudah benar, namun secara garis besar masih memiliki kesalahan hukum tajwid, tepatnya pada hukum ikhfa. Hampir 50% Siswa SDTQ ‘Ibadurrahman memiliki kesalahannya pada hukum ikhfa, tepatnya pada ikhfa tarqiq , yang mana seharusnya mereka baca tipis namun malah terdengar kepada ikhfa tafkhim.
Kemampuan Tajwid Siswa Kelas V dan VI Sekolah Dasar Takhashshus Qur’an ‘Ibadurrahman Kota Payakumbuh
Skripsi dengan judul “Kemampuan Tajwid Siswa Kelas V dan VI Di Sekolah Dasar Takhashshus Qur’an ‘Ibadurrahman Kota Payakumbuh”, ditulis oleh Rizal Khomsyah NIRM: S.1.V.I.19.17.108 Program Studi Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsir Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Qur’an Payakumbuh Tahun 2024. Sekolah Dasar Takhashshus Qur’an ‘Ibadurrahman Kota Payakumbuh memiliki metode yang berbeda dari sekolah-sekolah lain. Yaitu menggunakan media yang berisi audio rekamaan para Imam Timur Tengah yang popular, untuk menghafal dan muraja’ah Al-Qur’an atau membacakan ayat demi ayat yang diikuti oleh siswa-siswi setelahnya. Para guru diharuskan untuk mengikuti pembelajaran setiap minggunya yaitu mempelajari Fashahatul Lisan dan Matan Tuhfatul Athfal. Sekolah ini juga memiliki beberapa tingkatan level dari setiap kelasnya, dari level I sampai VII. Pemberian materi tajwid terhadap siswa bukan menurut tingkatan kelasnya akan tetapi menurut tingkatan levelnya, dimulai pada level III sampai seterusnya. Dibalik keunggulan metode yang di gunakan, penulis masih menemukan kesalahan pada bacaan siswa dari segi tajwid. Rumusan dan Batasan Masalahnya adalah bagaimana kemampuan tajwid Siswa-siswi Sekolah Dasar Takhashshus Qur’an ‘Ibadurrahman Kota Payakumbuh dalam menerapkan kaidah-kaidah tajwid dalam membaca surat At-takwir. Alasan penulis memilih dari Surat At-Takwir untuk dibaca oleh siswa karena, dalam Surah At-Takwir terdapat huruf-huruf yang berdekatan seperti makhraj dan yang lainya. Penulis membatasi penelitian pada bidang kemampuan pengucapan Makharijul Huruf, Mad Wal Qashr dan Hukum nun sukun dan tanwin. Karena pada poin-poin ini yang sering terjadi kesalahan dalam membaca Al- Qur’an. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan ( field research ), dengan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, dokumentasi dan observasi dengan cara penjajakan awal ke lokasi penelitian kemudian mewawancarai pimpinan Sekolah Dasar Takhashshus Qur’an ‘Ibadurrahman Kota Payakumbuh, lalu merekam bacaan Siswa Kelas V dan VI yang ada di Sekolah dengan sampel sebanyak 14 Siswa. Penelitian ini menemukan bahwa kemampuan Siswa-siswi kelas V dan VI SDTQ ‘Ibadurrahman , untuk makharijul huruf sebagian besar sudah benar. Akan tetapi sebagian kecil masih terdapat kesalahan dalam beberapa pengucapan makharijul huruf seperti makhraj Tsa kecil, ha tipis, ghoin, qaf, ‘ain dan lainnya. Pengucapan Mad Wal Qashr dalam peraktek sebagian besar masih memiliki kesalahan pada beberapa hukum mad, seperti pada Mad wajib muttasil, Mad jaiz munfasil, dan Mad ‘aridh lisukun. Begitu juga dengan hukum nun sukun dan tanwin secara umum sudah benar, namun secara garis besar masih memiliki kesalahan hukum tajwid, tepatnya pada hukum ikhfa. Hampir 50% Siswa SDTQ ‘Ibadurrahman memiliki kesalahannya pada hukum ikhfa, tepatnya pada ikhfa tarqiq , yang mana seharusnya mereka baca tipis namun malah terdengar kepada ikhfa tafkhim.
MAKNA JIHAD BERDASARKAN AYAT MAKIYYAH DAN MADANIYYAH
ABSTRAK Judul skripsi ini yaitu: Jihad Berdasarkan Ayat Makiyyah dan Madaniyyah yang ditulis oleh Afrizal, Nirm S1.VI.19.20.860, mahasiswa STAI Darul Qur’an Payakumbuh. Latar belakang masalah dari penelitian ini adalah karena Fenomena penyerangan yang mengatas namakan jihad masih sering kita dengar belakangan ini. Sasarannya pun kian berkembang dari yang semula hanya memerangi non-muslim, kini juga berperang dengan kaum muslim yang berbeda paham dengan mereka. Mereka berkeyakinan bahwa hal itu merupakan syariat islam yang wajib dijalankan. Hal ini tidak bisa dipungkiri bahwa banyak ayat-ayat yang membicarakan tentang jihad yang secara eksplisit memang menunjukkan perintah untuk berperang. Dari sini timbul permasalahan,apakah memang ayat tersebut memerintahkan untuk terus berperang?. Bagaimana dengan kenyataan bahwa Rasulullah baru berperang ketika beliau pada periode Madinah?. Peperangan itu pun kebanyakan dilakukan untuk melawan kaum kafir Makkah, bukan penduduk non muslim di Madinah. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, jenis penelitian dalam skripsi ini yaitu penelitian pustaka(libraryresearch), dan metode tafsir yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode tafsir tematik (maudhu’iy) yaitu dengan memilih satu istilah yang terdapat pada ayat-ayat al-Qur’an, menghimpunnya, menafsirkannya dan menyimpulkan penjelasan-penjelasan dari tema pembahasan yang terkait. Guna mengungkap permasalahan ini, penulis menggunakan analisis dokumen tafsir maudhu’iy, dimana semua isyarat serta fenomena yang berhubungan dengan pokok bahasan dideskripsikan kemudian dianalisa. Hasil dalam penelitian ini, Setelah dilakukan penelusuran, ditemukan bahwa seluruh ayat –ayat jihad yang terdapat pada ayat Makkiyyah, seluruhnya tidak ada yang bermakna perang. karena peperangan baru dilakukan Rasulullah pada periode Madinah. Dari sini dapat dipahami bahwa ternyata makna jihad berdasarkan ayat-ayat makiyyah dan madaniyyah tidak harus perang. Ia dapat berbentuk bersungguh-sungguh, kuat, kemampuan, paksaan, ujian atau cobaan, pemberantasan kebodohan, pengentasan kemiskinan, dan pembenahan sistem hukum. Terdapat perbedaan makna antara ayat jihad berdasarkan ayat-ayat Makiyyah dengan ayat-ayat Madaniyyah. Ayat-ayat jihad Makiyyah pada umumnya menyeru untuk bersabar terhadap tindakan-tindakan musuh, disamping terus berdakwah secara lisan ditengah tengah umat manusia. Memang tidak ada pilihan lain bagi mereka selain pilihan itu. Sedangkan ayat-ayat jihad Madaniyyah, sesuai dengan kondisi umat Islam pada waktu itu, menyeru kaum mukminin untuk menghadapi musuh secara berhadapan langsung dan mewajibkan mereka untuk memerangi orang-orang kafir.
MAKNA JIHAD BERDASARKAN AYAT MAKIYYAH DAN MADANIYYAH
ABSTRAK Judul skripsi ini yaitu: Jihad Berdasarkan Ayat Makiyyah dan Madaniyyah yang ditulis oleh Afrizal, Nirm S1.VI.19.20.860, mahasiswa STAI Darul Qur’an Payakumbuh. Latar belakang masalah dari penelitian ini adalah karena Fenomena penyerangan yang mengatas namakan jihad masih sering kita dengar belakangan ini. Sasarannya pun kian berkembang dari yang semula hanya memerangi non-muslim, kini juga berperang dengan kaum muslim yang berbeda paham dengan mereka. Mereka berkeyakinan bahwa hal itu merupakan syariat islam yang wajib dijalankan. Hal ini tidak bisa dipungkiri bahwa banyak ayat-ayat yang membicarakan tentang jihad yang secara eksplisit memang menunjukkan perintah untuk berperang. Dari sini timbul permasalahan,apakah memang ayat tersebut memerintahkan untuk terus berperang?. Bagaimana dengan kenyataan bahwa Rasulullah baru berperang ketika beliau pada periode Madinah?. Peperangan itu pun kebanyakan dilakukan untuk melawan kaum kafir Makkah, bukan penduduk non muslim di Madinah. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, jenis penelitian dalam skripsi ini yaitu penelitian pustaka(libraryresearch), dan metode tafsir yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode tafsir tematik (maudhu’iy) yaitu dengan memilih satu istilah yang terdapat pada ayat-ayat al-Qur’an, menghimpunnya, menafsirkannya dan menyimpulkan penjelasan-penjelasan dari tema pembahasan yang terkait. Guna mengungkap permasalahan ini, penulis menggunakan analisis dokumen tafsir maudhu’iy, dimana semua isyarat serta fenomena yang berhubungan dengan pokok bahasan dideskripsikan kemudian dianalisa. Hasil dalam penelitian ini, Setelah dilakukan penelusuran, ditemukan bahwa seluruh ayat –ayat jihad yang terdapat pada ayat Makkiyyah, seluruhnya tidak ada yang bermakna perang. karena peperangan baru dilakukan Rasulullah pada periode Madinah. Dari sini dapat dipahami bahwa ternyata makna jihad berdasarkan ayat-ayat makiyyah dan madaniyyah tidak harus perang. Ia dapat berbentuk bersungguh-sungguh, kuat, kemampuan, paksaan, ujian atau cobaan, pemberantasan kebodohan, pengentasan kemiskinan, dan pembenahan sistem hukum. Terdapat perbedaan makna antara ayat jihad berdasarkan ayat-ayat Makiyyah dengan ayat-ayat Madaniyyah. Ayat-ayat jihad Makiyyah pada umumnya menyeru untuk bersabar terhadap tindakan-tindakan musuh, disamping terus berdakwah secara lisan ditengah tengah umat manusia. Memang tidak ada pilihan lain bagi mereka selain pilihan itu. Sedangkan ayat-ayat jihad Madaniyyah, sesuai dengan kondisi umat Islam pada waktu itu, menyeru kaum mukminin untuk menghadapi musuh secara berhadapan langsung dan mewajibkan mereka untuk memerangi orang-orang kafir.
Penafsiran Ahsan Taqwim dalam QS At Tin Ayat 4 ( Studi Komparatif antara Tafsir al Misbah dan Tafsir al Maraghi)
Judul skripsi ini yaitu: “PENAFSIRAN AHSAN TAQWIM DALAM QS. AT TIN AYAT 4 (Studi Komparatif antara Tafsir Al Mishbah dan Tafsir Al Maraghi)” yang ditulis oleh Muhammad Rizal, Nirm S1.VI.19.19.487, Mahasiswa STAI Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini dilatar belakangi melihat dari artikel kompas.com Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah bayi prematur tertinggi di dunia, yaitu menempati peringkat kelima. Ada 15 juta bayi yang terlahir prematur setiap tahunnya di seluruh dunia. Dari sejumlah 15 juta bayi prematur tersebut, sebanyak 1,1 juta bayi dilaporkan meninggal dunia karena berbagai komplikasi. Maka dari itu penulis tertarik meneliti bagaimana penafsiran ahsan taqwim (sebaik-baik ciptaan) dalam Qs. At tin ayat 4 menurut Quraish Shihab dalam tafsir Al Mishbah dan Ahmad Musthafa Al Maraghi dalam tafsir Al Maraghi. Kemudian penulis ingin menganalisa dari kedua pendapat mufassir tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap bagaimana penafsiran ahsan taqwim menurut Tafsir Al Mishbah Karya M. Quraish Shihab dan Tafsir Al Maraghi Karya Ahmad Musthafa Al Maraghi serta analisa penulis dari kedua mufassir. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dan metode tafsir yang dipakai adalah metode muqaran jenis perbandingan antara mufassir, sumber data penelitian terbagi dua: pertama sumber data primer yaitu Al Qur’an, Tafsir Al Misbah Karya Muhammad Quraish Shihab, Tafsir Al-Maraghi Karya Ahmad Musthafa Al Maraghi. Kedua sumber data sekunder adalah data pendukung yang memudahkan untuk meneliti kajian, yaitu: jurnal, buku, skripsi tulisan-tulisan tokoh lain yang di dalamnya terdapat pembahasan yang berkaitan dengan pembahasan ahsan taqwim. Berdasarkan hasil dari penelitian ini yakni penafsiran ahsan taqwim dalam Qs. At tin ayat 4. Menurut Quraish Shihab ahsan taqwim adalah manusia yang diciptakan dalam bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya dalam arti yang sebaik-baiknya adalah dalam fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi. Menurut Al Maraghi ahsan taqwim merupakan ciptaan allah yang sempurna dibanding makhluk lain, diberikan pula akal pikiran agar dapat mencari dan mendalami ilmu pengetahuan sehinga bisa berkuasa atas segala makluk. Analisa penulis, keduanya mengemukakan bahwa manusia merupakan ciptaan allah swt yang paling baik dibandingkan makhluk lainnya. Sementara perbedaan dari kedua mufassir, M. Quraish Shihab menjelaskan ahsan taqwim itu sebaik-baik ciptaan agar menjadi hamba yang gemar beribadah dan khalifah allah di bumi. SedangkanAhmad Musthafa Al Maraghi menjelaskan ahsan taqwim itu yang mempunyai akal dengan tujuan bisa berkuasa atas segala makhluk dan gemar mengumpulkan harta untuk kesenangan semata.
Penafsiran Ahsan Taqwim dalam QS At Tin Ayat 4 ( Studi Komparatif antara Tafsir al Misbah dan Tafsir al Maraghi)
Judul skripsi ini yaitu: “PENAFSIRAN AHSAN TAQWIM DALAM QS. AT TIN AYAT 4 (Studi Komparatif antara Tafsir Al Mishbah dan Tafsir Al Maraghi)” yang ditulis oleh Muhammad Rizal, Nirm S1.VI.19.19.487, Mahasiswa STAI Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini dilatar belakangi melihat dari artikel kompas.com Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah bayi prematur tertinggi di dunia, yaitu menempati peringkat kelima. Ada 15 juta bayi yang terlahir prematur setiap tahunnya di seluruh dunia. Dari sejumlah 15 juta bayi prematur tersebut, sebanyak 1,1 juta bayi dilaporkan meninggal dunia karena berbagai komplikasi. Maka dari itu penulis tertarik meneliti bagaimana penafsiran ahsan taqwim (sebaik-baik ciptaan) dalam Qs. At tin ayat 4 menurut Quraish Shihab dalam tafsir Al Mishbah dan Ahmad Musthafa Al Maraghi dalam tafsir Al Maraghi. Kemudian penulis ingin menganalisa dari kedua pendapat mufassir tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap bagaimana penafsiran ahsan taqwim menurut Tafsir Al Mishbah Karya M. Quraish Shihab dan Tafsir Al Maraghi Karya Ahmad Musthafa Al Maraghi serta analisa penulis dari kedua mufassir. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dan metode tafsir yang dipakai adalah metode muqaran jenis perbandingan antara mufassir, sumber data penelitian terbagi dua: pertama sumber data primer yaitu Al Qur’an, Tafsir Al Misbah Karya Muhammad Quraish Shihab, Tafsir Al-Maraghi Karya Ahmad Musthafa Al Maraghi. Kedua sumber data sekunder adalah data pendukung yang memudahkan untuk meneliti kajian, yaitu: jurnal, buku, skripsi tulisan-tulisan tokoh lain yang di dalamnya terdapat pembahasan yang berkaitan dengan pembahasan ahsan taqwim. Berdasarkan hasil dari penelitian ini yakni penafsiran ahsan taqwim dalam Qs. At tin ayat 4. Menurut Quraish Shihab ahsan taqwim adalah manusia yang diciptakan dalam bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya dalam arti yang sebaik-baiknya adalah dalam fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi. Menurut Al Maraghi ahsan taqwim merupakan ciptaan allah yang sempurna dibanding makhluk lain, diberikan pula akal pikiran agar dapat mencari dan mendalami ilmu pengetahuan sehinga bisa berkuasa atas segala makluk. Analisa penulis, keduanya mengemukakan bahwa manusia merupakan ciptaan allah swt yang paling baik dibandingkan makhluk lainnya. Sementara perbedaan dari kedua mufassir, M. Quraish Shihab menjelaskan ahsan taqwim itu sebaik-baik ciptaan agar menjadi hamba yang gemar beribadah dan khalifah allah di bumi. SedangkanAhmad Musthafa Al Maraghi menjelaskan ahsan taqwim itu yang mempunyai akal dengan tujuan bisa berkuasa atas segala makhluk dan gemar mengumpulkan harta untuk kesenangan semata.