Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

Syah

38 karya publik ditemukan.

2026: 112025: 32024: 122023: 72022: 42021: 1

Penafsiran Kata Shayyib dalam Tafsir al-Ayat al-Kauniyyah Fi al-Qur’an al-Karim

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini mengkaji penafsiran kata shayyib dalam QS. Al-Baqarah ayat 19 menurut Zaghloul Al-Najjar dalam Tafsir al-Ayat al-Kauniyyah fi al-Qur’an al-Karim. Kata shayyib merupakan istilah yang unik dalam Al-Qur’an dan ditafsirkan beragam oleh para mufasir, sehingga perlu dikaji melalui pendekatan tafsir ilmi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menganalisis penafsiran Zaghloul Al-Najjar terhadap kata tersebut. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif, metode tafsir tahlili, dan pendekatan ilmiah. Data primer berasal dari Al-Qur’an dan kitab tafsir karya Zaghloul Al-Najjar, sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai literatur pendukung yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa shayyib ditafsirkan sebagai hujan badai yang disertai kegelapan, petir, dan kilat, yang berkaitan dengan fenomena cuaca ekstrem di atmosfer. Melalui tafsir ilmi, Zaghloul Al-Najjar menghubungkan makna linguistik ayat dengan temuan sains modern, sehingga shayyib tidak hanya dipahami sebagai hujan, tetapi juga sebagai gambaran kekuatan alam yang besar. Fenomena tersebut menjadi perumpamaan bagi kondisi orang-orang munafik yang dipenuhi ketakutan, keraguan, dan kebingungan terhadap petunjuk Allah. Penafsiran ini menunjukkan keselarasan antara pesan Al-Qur’an dan fakta ilmiah serta memperkaya pemahaman terhadap ayat-ayat kauniyah.

Penafsiran Kata Shayyib dalam Tafsir al-Ayat al-Kauniyyah Fi al-Qur’an al-Karim

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Penelitian ini mengkaji penafsiran kata shayyib dalam QS. Al-Baqarah ayat 19 menurut Zaghloul Al-Najjar dalam Tafsir al-Ayat al-Kauniyyah fi al-Qur’an al-Karim. Kata shayyib merupakan istilah yang unik dalam Al-Qur’an dan ditafsirkan beragam oleh para mufasir, sehingga perlu dikaji melalui pendekatan tafsir ilmi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menganalisis penafsiran Zaghloul Al-Najjar terhadap kata tersebut. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif, metode tafsir tahlili, dan pendekatan ilmiah. Data primer berasal dari Al-Qur’an dan kitab tafsir karya Zaghloul Al-Najjar, sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai literatur pendukung yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa shayyib ditafsirkan sebagai hujan badai yang disertai kegelapan, petir, dan kilat, yang berkaitan dengan fenomena cuaca ekstrem di atmosfer. Melalui tafsir ilmi, Zaghloul Al-Najjar menghubungkan makna linguistik ayat dengan temuan sains modern, sehingga shayyib tidak hanya dipahami sebagai hujan, tetapi juga sebagai gambaran kekuatan alam yang besar. Fenomena tersebut menjadi perumpamaan bagi kondisi orang-orang munafik yang dipenuhi ketakutan, keraguan, dan kebingungan terhadap petunjuk Allah. Penafsiran ini menunjukkan keselarasan antara pesan Al-Qur’an dan fakta ilmiah serta memperkaya pemahaman terhadap ayat-ayat kauniyah.

Penafsiran Surah Al-Fatihah dalam Tafsir Al-bahr Al-Muhit

2026 · Book · Koleksi Perpustakaan

Skripsi yang berjudul ―Penafsiran Surah Al-Fatihah dalam Tafsir Al-Bahr AlMuhith‖ yang disusun oleh Ardiansyah NIM 2219045 program studi Ilmu AlQur‘an dan Tafsir Institut Darul Qur‘an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh posisi surah Al-Fatihah dianggap sebagai surah yang paling mulia dalam Al-Quran karena memiliki peran yang krusial dalam pelaksanaan sholat, yaitu sebagai salah satu dari rukun sholat. Pengkajian surah Al-Fatihah sangat dibutuhkan untuk memahami makna dari setiap potongan ayat dalam surah tersebut. Salah satu diantaranya adalah penafsiran surah AlFatihah dari aspek lughawi. Hal tersebut mendorong minat penulis untuk meneiliti penafsiran surah Al-Fatihah dalam tafsir Al-Bahr Al-Muhith, untuk mengetahui bagaimana penafsiran surah Al-Fatihah dalam tafsir Al-Bahr Al-Muhith berdasarkan aspek ilmu nahwu dan ilmu sharaf. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian pustaka (library reseach), dengan pendekatan kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini berfokus langsung pada kitab tafsir Al-Bahr Al-Muhith surah Al-Fatihah, artikel, jurnal dan buku-buku lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk dokumentasi, dimana data-data pada penelitian ini diperoleh dari dokumen-dokumen berupa kitab-kitab lughah, buku, tulisan, dan lampiran. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan bentuk deskriptif analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama pada penafsiran surah Al-Fatihah dalam tafsir Al-Bahr Al-Muhith berdasarkan aspek ilmu nahwu ditemukan hasil, ayat pertama huruf ba‘ pada kata bismi makna sebagai isti‟anah (memohon pertolongan), ilshaq (keterikatan), ayat kedua lafadz ―Al-hamdu” dibaca dengan rafa‘ sebagai mubtada‘ , “lillaahi”, terdapat huruf lam bermakna istihqaq (hak mutlak). menujukkan pernyataan segala pujian adalah milik Allah semata. Pada susunan ayat kelima “iyyaka na‟budu”, terdapat taqdim (pendahuluan) pada peletakan maf‘ul yang berfungsi sebagai hasr (pembatasan), artinya segala ibadah tidak layak dilakukan kecuali semata-mata karena Allah. Kedua, ditinjau dari segi ilmu sharaf ditemukan hasil; pada ayat ketiga lafadz “Ar-Rahman Ar-Rahim” menunjukkan bentuk mubalaghah, Ar-Rahman bermakna kasih sayang secara umum, sedangkan Ar-Rahim diberikan secara khusus dan berkelanjutan. Pada ayat kelima lafadz “nasta‟iin” berasal dari wazan “istif‟al” menunjukkan makna permohonan, artinya sesungguhnya manusia selalu membutuhkan pertololongan dari Allah dan hanya Allah lah yang mampu menolong manusia dalam keadaan apapun. Pada ayat ketujuh lafadz an‟amta merupakan wazan af‟ala yang berfungsi memberikan pengaruh kepada objek atau menjadikan seseorang memperoleh sesuatu, arti ayat ini menjadi ―Engkau beri mikmat‖.

Penafsiran Surah Al-Fatihah dalam Tafsir Al-bahr Al-Muhit

2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi yang berjudul ―Penafsiran Surah Al-Fatihah dalam Tafsir Al-Bahr AlMuhith‖ yang disusun oleh Ardiansyah NIM 2219045 program studi Ilmu AlQur‘an dan Tafsir Institut Darul Qur‘an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh posisi surah Al-Fatihah dianggap sebagai surah yang paling mulia dalam Al-Quran karena memiliki peran yang krusial dalam pelaksanaan sholat, yaitu sebagai salah satu dari rukun sholat. Pengkajian surah Al-Fatihah sangat dibutuhkan untuk memahami makna dari setiap potongan ayat dalam surah tersebut. Salah satu diantaranya adalah penafsiran surah AlFatihah dari aspek lughawi. Hal tersebut mendorong minat penulis untuk meneiliti penafsiran surah Al-Fatihah dalam tafsir Al-Bahr Al-Muhith, untuk mengetahui bagaimana penafsiran surah Al-Fatihah dalam tafsir Al-Bahr Al-Muhith berdasarkan aspek ilmu nahwu dan ilmu sharaf. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian pustaka (library reseach), dengan pendekatan kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini berfokus langsung pada kitab tafsir Al-Bahr Al-Muhith surah Al-Fatihah, artikel, jurnal dan buku-buku lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk dokumentasi, dimana data-data pada penelitian ini diperoleh dari dokumen-dokumen berupa kitab-kitab lughah, buku, tulisan, dan lampiran. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan bentuk deskriptif analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama pada penafsiran surah Al-Fatihah dalam tafsir Al-Bahr Al-Muhith berdasarkan aspek ilmu nahwu ditemukan hasil, ayat pertama huruf ba‘ pada kata bismi makna sebagai isti‟anah (memohon pertolongan), ilshaq (keterikatan), ayat kedua lafadz ―Al-hamdu” dibaca dengan rafa‘ sebagai mubtada‘ , “lillaahi”, terdapat huruf lam bermakna istihqaq (hak mutlak). menujukkan pernyataan segala pujian adalah milik Allah semata. Pada susunan ayat kelima “iyyaka na‟budu”, terdapat taqdim (pendahuluan) pada peletakan maf‘ul yang berfungsi sebagai hasr (pembatasan), artinya segala ibadah tidak layak dilakukan kecuali semata-mata karena Allah. Kedua, ditinjau dari segi ilmu sharaf ditemukan hasil; pada ayat ketiga lafadz “Ar-Rahman Ar-Rahim” menunjukkan bentuk mubalaghah, Ar-Rahman bermakna kasih sayang secara umum, sedangkan Ar-Rahim diberikan secara khusus dan berkelanjutan. Pada ayat kelima lafadz “nasta‟iin” berasal dari wazan “istif‟al” menunjukkan makna permohonan, artinya sesungguhnya manusia selalu membutuhkan pertololongan dari Allah dan hanya Allah lah yang mampu menolong manusia dalam keadaan apapun. Pada ayat ketujuh lafadz an‟amta merupakan wazan af‟ala yang berfungsi memberikan pengaruh kepada objek atau menjadikan seseorang memperoleh sesuatu, arti ayat ini menjadi ―Engkau beri mikmat‖.

QARIN DALAM AL QUR`AN MENURUT TAFSIR AL AZHAR HAMKA

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Judul skripsi ini adalah “Qarin Dalam Al-Qur’an Menurut Tafsir Al-Azhar” ditulis oleh: Alvin Auliansyah, Nirm: S1.VI.19.20.369. Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an Fakultas Ushuluddin Dan Studi Islam Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Adapun yang melatar belakangi penelitian ini adanya maraknya di media sosial tiktok, yaitu cek khodam live. Bahkan banyak yang menyumbang agar si penyiar mau menyebutkan khodam apa yang ia punya, hanya dengan menyebutkan nama, si penyiar akan mengatakan khodam seperti apa yang ada dalam tubuh pemirsanya. Ada yang khodam Nyi Roro Kidul, Harimau Putih, Kris Merah, Elang Petir, Nyi Blorong dan ada juga yang kosong khodamnya. Jenis penelitian yang digunakan dalam skripsi ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library Research), menggunakan analisis deskriptif, yang merupakan sebuah metode yang mengambil bahan kajian dari berbagai sumber, dengan pendekatan metode tafsir maudhu’i. Adapun penelitian ini, bersumber dari data primer dan data sekunder. Primer yaitu yang diperoleh dari literatur yang berkaitan langsung dengan judul ini yakni Kitab Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka karna hanya Hamka yang penulis temukan bahwa qarin ada yang makhluk kasar dan halus. Adapun data sekundernya yaitu buku-buku, jurnal, artikel, skripsi dan tulisan yang mengandung isi dari pembahasan. Hasil dari penelitian ini setelah menganalisa penafsiran Buya Hamka penulis menyimpulkan bahwa ada 8 ayat yang mengisaratkan tentang keberadaannya jin qarin, surat An-Nisa’ ayat 38, surat As-Shaffat ayat 51, surat Fusshilat ayat 25, surat Az-Zukhruf ayat 36,38,53, surat Qaf ayat 23 dan 27. Dari semua ayat yang mengisaratkan tentang jin qarin hanya surat An-Nisa saja yang kategori Madaniyah yang lainnya masuk kategori Makkiyah. Penafsiran Hamka menjelaskan bahwa jin qarin itu bukan hanya makhluk halus yaitu jin, setan dan malaikat yang membisikkan kebaikan dan kejahatan , namun ada juga dari makhluk kasar yaitu manusia yang perannya sama seperti qarin dari gologan makhluk halus. Karna qarin yang mengajak kepada kejahatan juga ada dari manusia, yang bisa jadi qarin itu adalah sahabat karib selama bergaul di dunia maka harus berhati-hati dalam memilih teman, jangan sampai teman karib hanya memuji perbuatan tanpa ada menasihati kelakuan buruk yang akhirnya membawa kepada kemaksitan, kesyirikan namun selalu merasa bahwa yang dilakukan selama ini adalah suatu kebenaran. Adapun peran qarin dalam kehidupan manusia ada empat macam, pertama sebagai penggiring manusia masuk ke neraka, ke dua sebagai saksi atas apa yang manusia kerjakan selama hidup di dunia, ke tiga menyeru manusia untuk melakukan keburukan, dan yang ke empat menyeru manusia untuk melakukan kebaikan.

QARIN DALAM AL QUR`AN MENURUT TAFSIR AL AZHAR HAMKA

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Judul skripsi ini adalah “Qarin Dalam Al-Qur’an Menurut Tafsir Al-Azhar” ditulis oleh: Alvin Auliansyah, Nirm: S1.VI.19.20.369. Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an Fakultas Ushuluddin Dan Studi Islam Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Adapun yang melatar belakangi penelitian ini adanya maraknya di media sosial tiktok, yaitu cek khodam live. Bahkan banyak yang menyumbang agar si penyiar mau menyebutkan khodam apa yang ia punya, hanya dengan menyebutkan nama, si penyiar akan mengatakan khodam seperti apa yang ada dalam tubuh pemirsanya. Ada yang khodam Nyi Roro Kidul, Harimau Putih, Kris Merah, Elang Petir, Nyi Blorong dan ada juga yang kosong khodamnya. Jenis penelitian yang digunakan dalam skripsi ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library Research), menggunakan analisis deskriptif, yang merupakan sebuah metode yang mengambil bahan kajian dari berbagai sumber, dengan pendekatan metode tafsir maudhu’i. Adapun penelitian ini, bersumber dari data primer dan data sekunder. Primer yaitu yang diperoleh dari literatur yang berkaitan langsung dengan judul ini yakni Kitab Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka karna hanya Hamka yang penulis temukan bahwa qarin ada yang makhluk kasar dan halus. Adapun data sekundernya yaitu buku-buku, jurnal, artikel, skripsi dan tulisan yang mengandung isi dari pembahasan. Hasil dari penelitian ini setelah menganalisa penafsiran Buya Hamka penulis menyimpulkan bahwa ada 8 ayat yang mengisaratkan tentang keberadaannya jin qarin, surat An-Nisa’ ayat 38, surat As-Shaffat ayat 51, surat Fusshilat ayat 25, surat Az-Zukhruf ayat 36,38,53, surat Qaf ayat 23 dan 27. Dari semua ayat yang mengisaratkan tentang jin qarin hanya surat An-Nisa saja yang kategori Madaniyah yang lainnya masuk kategori Makkiyah. Penafsiran Hamka menjelaskan bahwa jin qarin itu bukan hanya makhluk halus yaitu jin, setan dan malaikat yang membisikkan kebaikan dan kejahatan , namun ada juga dari makhluk kasar yaitu manusia yang perannya sama seperti qarin dari gologan makhluk halus. Karna qarin yang mengajak kepada kejahatan juga ada dari manusia, yang bisa jadi qarin itu adalah sahabat karib selama bergaul di dunia maka harus berhati-hati dalam memilih teman, jangan sampai teman karib hanya memuji perbuatan tanpa ada menasihati kelakuan buruk yang akhirnya membawa kepada kemaksitan, kesyirikan namun selalu merasa bahwa yang dilakukan selama ini adalah suatu kebenaran. Adapun peran qarin dalam kehidupan manusia ada empat macam, pertama sebagai penggiring manusia masuk ke neraka, ke dua sebagai saksi atas apa yang manusia kerjakan selama hidup di dunia, ke tiga menyeru manusia untuk melakukan keburukan, dan yang ke empat menyeru manusia untuk melakukan kebaikan.

Kemampuan Tajwid Siswa Kelas V dan VI Sekolah Dasar Takhashshus Qur’an ‘Ibadurrahman Kota Payakumbuh

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan murid-murid dalam menyempurnakan pengucapan makharijul huruf dalam membaca surat Attakwir, untuk mengetahui kemampuan murid-murid dalam menerapkan kaidah mad wal qashr dalam membaca surat At-takwir. Sekolah Dasar Takhashshus Qur’an ‘Ibadurrahman Kota Payakumbuh memiliki media yang berbeda dari sekolah-sekolah lain. Yaitu menggunakan audio rekamaan para Imam Timur Tengah yang popular, untuk menghafal dan muraja’ah Al-Qur’an yaitu membacakan ayat demi ayat yang diikuti oleh siswa-siswi setelahnya. Para guru diharuskan untuk mengikuti pembelajaran setiap minggunya yaitu mempelajari Fashahatul Lisan dan Matan Tuhfatul Athfal. Sekolah ini juga memiliki beberapa tingkatan level dari setiap kelasnya, dari level I sampai VII. Pemberian materi tajwid terhadap siswa bukan menurut tingkatan kelasnya akan tetapi menurut tingkatan levelnya, dimulai pada level III sampai seterusnya. Dibalik keunggulan media yang di gunakan, penulis masih menemukan kesalahan pada bacaan siswa dari segi tajwid. Rumusan dan Batasan Masalahnya adalah bagaimana kemampuan tajwid Siswa-siswi Sekolah Dasar Takhashshus Qur’an ‘Ibadurrahman Kota Payakumbuh dalam menerapkan kaidah-kaidah tajwid dalam membaca surat At-takwir. Alasan penulis memilih dari Surat At-Takwir untuk dibaca oleh siswa karena, dalam Surah At-Takwir terdapat huruf-huruf yang berdekatan seperti makhraj dan yang lainya. Penulis membatasi penelitian pada bidang kemampuan pengucapan Makharijul Huruf, Mad Wal Qashr dan Hukum nun sukun dan tanwin. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan ( field research ), dengan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, dokumentasi dan observasi dengan cara penjajakan awal ke lokasi penelitian kemudian mewawancarai pimpinan Sekolah Dasar Takhashshus Qur’an ‘Ibadurrahman Kota Payakumbuh, lalu merekam bacaan Siswa Kelas V dan VI yang ada di Sekolah dengan sampel sebanyak 14 Siswa.

Penafsiran Salat Wustho Dalam Q.S Al Baqarah 238 (Studi Tafsir Fathul Qodhir)

2024 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi yang berjudul “Penafsiran Salat Wustho Dalam Q.S Al-Baqarah Ayat 238 (Studi Tafsir Fathul Qodhir) “ yang disusun oleh Andri Ansyah Sitompul NIRM S1.VI.19.20.144. program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Qur’an (STAIDA) Payakumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan penafsiran Imam As-Syaukani tentang shalat Wusṭā dalam al-Qur’ān surat al-Baqarāh ayat 238 dalam Tafsir Fathul Qodhir. Penelitian ini membahas dua hal yaitu, pertama, penafsiran shalat Wusṭā menurut Imam As-Syaukani, kedua, penafsiran ulama tentang shalat Wusṭo. Penelitian ini menggunakan pendekatan content analysis, karena dalam penelitian ini membahas secara mendalam shalat Wusṭho menurut Imam As-Syaukani dalam Tafsir Fathul Qodhir dalam Q.S al-Baqarāh ayat 238 . Penafsiran Imam AS-Syaukani dalam Tafsir Fathul Qodhir surat al-Baqarah ayat 238 tentang salat Wusṭho, Imam As-Syaukani berpendapat bahwa shalat Wusṭho adalah shalat Ashar karena pada waktu Ashar kebanyakan orang sudah letih karena seharian beraktivitassehingga kebanyakan melalaikannya. Dalil yang di kemukakan oleh Imam As-Syaukani adalah hadits dari Nabi Saw : Mereka telah menyibukkan kita sehingga terlewatkan Salat Wushto,yaitu SalatAshar. Semoga Allah memenuhi hati dan perut mereka dengan api)." Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan yang lainnya juga meriwayatkan seperti itu dari hadits Ibnu Mas'ud secara marfu”.

Penafsiran Salat Wustho Dalam Q.S Al Baqarah 238 (Studi Tafsir Fathul Qodhir)

2024 · Book · Koleksi Perpustakaan

Skripsi yang berjudul “Penafsiran Salat Wustho Dalam Q.S Al-Baqarah Ayat 238 (Studi Tafsir Fathul Qodhir) “ yang disusun oleh Andri Ansyah Sitompul NIRM S1.VI.19.20.144. program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Qur’an (STAIDA) Payakumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan penafsiran Imam As-Syaukani tentang shalat Wusṭā dalam al-Qur’ān surat al-Baqarāh ayat 238 dalam Tafsir Fathul Qodhir. Penelitian ini membahas dua hal yaitu, pertama, penafsiran shalat Wusṭā menurut Imam As-Syaukani, kedua, penafsiran ulama tentang shalat Wusṭo. Penelitian ini menggunakan pendekatan content analysis, karena dalam penelitian ini membahas secara mendalam shalat Wusṭho menurut Imam As-Syaukani dalam Tafsir Fathul Qodhir dalam Q.S al-Baqarāh ayat 238 . Penafsiran Imam AS-Syaukani dalam Tafsir Fathul Qodhir surat al-Baqarah ayat 238 tentang salat Wusṭho, Imam As-Syaukani berpendapat bahwa shalat Wusṭho adalah shalat Ashar karena pada waktu Ashar kebanyakan orang sudah letih karena seharian beraktivitassehingga kebanyakan melalaikannya. Dalil yang di kemukakan oleh Imam As-Syaukani adalah hadits dari Nabi Saw : Mereka telah menyibukkan kita sehingga terlewatkan Salat Wushto,yaitu SalatAshar. Semoga Allah memenuhi hati dan perut mereka dengan api)." Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan yang lainnya juga meriwayatkan seperti itu dari hadits Ibnu Mas'ud secara marfu”.