ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi berjudul “Penafsiran Mahmud Yunus Tentang Batasan Aurat Perempuan Dalam Surah An-Nur 31” yang ditulis olch Delfi Yuliandra, NIM. 2219005, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perbedaan pendapat para ulama dan mufassir mengenai batasan aurat perempuan, khususnya dalam menafsirkan frasa illā mā zhahara minhā (kecuali yang biasa tampak) dalam Q.S. An-Nur: 31, yang ada dalam Tafsir Qur’an Karim memiliki pendekatan penafsiran yang khas dan kontekstual terhadap ayat ini. Adapun rumusan masalah Skripsi ini: Bagaimana penafsiran Mahmud Yunus tentang aurat dalam Q.S. An-Nur: 31, Batasan Masalah: Pertama, mengungkapkan penafsiran Mahmud Yunus terhadap Q.S. An-Nur: 31. Kedua, Analisis terhadap penafsiran Mahmud Yunus Surah An-Nur: 31. Dan tujuan penelitian ini yaitu: untuk mengatahui penafsiran Mahmud Yunus Surah An-Nur: 31. Metode penelitian ini ialah kualitatif, jenis penelitian kepustakaan (library research), dengan pendekatan fikih. Sumber data primer penelitian ini adalah Tafsir Qur’an Karim karya Mahmud Yunus dan sumber sekunder jurnal ilmiah karya Hanna Salsabila, dan teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumentasi dengan pedoman dokumentasi yang tersusun berdasarkan rumusan masalah. Analisis data dilakukan melalui metode deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan, Mahmud Yunus menafsirkan Q.S. An-Nur: 31merujuk kepada tafsir ibnu Abbas bahwa anggota yang biasa terbuka itu adalah muka dan telapak tangan juga diperkuat dengan hadis Nabi juga mengatakan hanya muka dan telapak tangan, tetapi jika dilihat dari pendekatan keilmuan Mahmud Yunus iya ber mazhab hanafi, menurut Wahbah az-Zuhaili dalam tafsir al-Munir mengatakan bahwa Diriwayatkan dari Imam Abu Hanifah bahwasanya kedua telapak kaki juga bukan termasuk aurat. Sebab unsur kerepotan dalam menutup kedua telapak kaki lebih besar daripada dalam menutup kedua telapak tangan, terutama bagi para penduduk. Analisis terhadap penafsiran Mahmud Yunus bahwa penafsirannya merupakan sintesis antara sumber bil ma’tsur (Ibnu Abbas dan hadis Sunan Abu Dawud) dan bil ra’yi (mazhab Hanafi), dengan metode gabungan ijmali-tahlili dan corak adabul ijtima’i. Posisi penafsirannya moderat luas lebih luas dari mazhab Syafi’i namun sejalan dengan mazhab Hanafi serta relevan sebagai rujukan tafsir kontekstual bagi masyarakat Muslim Indonesia yang beragam secara budaya.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi berjudul “ Rekonstruksi Pemikiran Theodor Nöldeke Tentang Kodifikasi Al-Qur`an” yang ditulis oleh Abdul Hamid, NIM. 2219029, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Usulluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur`an (IDAQU) Payakumbuh. Al-Qur'an merupakan kitab suci umat Islam yang diyakini sebagai wahyu Allah Swt yang keasliannya dijaga melalui proses hafalan dan kodifikasi. Namun, dalam sejarah perkembangan akademik Barat,kodifikasi Al-Qur'an sering kali dikaji oleh sarjana orientalis melalui pendekatan historis-kritis yang melahirkan perdebatan teologis dan historis. Salah satu tokoh sentral orientalis dalam kajian ini adalah Theodor Nöldeke melalui karya monumentalnya The History of the Qur'an. Beberapa asumsi Nöldeke dinilai kontroversial dan menuai kritik dari sarjana Muslim karena meragukan validitas riwayat tradisional Islam serta mengabaikan otoritas transmisi riwayat, sehingga diperlukan upaya rekonstruksi ilmiah secara objektif dan berimbang guna memahami dinamika pemikirannya dalam khazanah dialog akademik. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat deskriptif-analitis. Peneliti melakukan telaah kritis terhadap teks dan struktur gagasan tokoh dengan menguji pola argumentasi secara logis dan metodologis. Sumber data penelitian ini dibagi menjadi dua kategori. Sumber primer bertumpu pada karya asli Theodor Nöldeke, yaitu buku The History of the Qur'an edisi revisi. Sumber sekunder mencakup literatur pendukung berupa buku buku ‘Ulum al-Qur’an, skripsi, tesis, disertasi, serta jurnal ilmiah yang mengkaji pemikiran orientalis maupun karya sarjana Muslim yang memberikan kritik. Hasil penelitian di bagi ke dalam dua bagian: 1. Pemikiran Theodor Nöldeke pada bagian asumsinya mengatakan kalau dia meragukan mutu penghafAl-Qur`an hal ini berdasarkan data korban L. Caeni, Theodor Nöldeke berargumen kalau korban dari perang Yamamah itu merupakan mualaf baru bukan para penghafAl-Qur`an (huffaz), Theodor Nöldeke juga meragukan mengenai waktu dalam proses pengumpulan Al-Qur`an pada masa Abu Bakar yang dinilai terlalu singkat lebih kurang 15 bulan untuk proyek yang sebesar itu dan juga Theodor Nöldeke mengganggap bahwa Al-Qur`an yang sudah terkumpul,kemudian Umar Bin Khattab menyerahkanya kepada Hafsah Binti Umar merupakan koleksi Pribadi bukan milik negara. 2. Metode yang digunakan oleh Theodor Nöldeke dalam mengkaji/meneliti sebuah teks Al-Qur`an menggunakan Metode Filologi/ Kritik Historis-Tekstual ala barat yang akan dibahas dalam penelitian ini asumsi dasar Theodor Nöldeke dan tanggapanya. Rekonstruksi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa Theodor Nöldeke tidak langsung percaya dengan adanya apa yang sudah tertulis dalam sebuah teks (skeptisisme metodologis) sehingga dia akan menganalisis gaya bahasa dari teks tersebut, mencari keterkaitan antara teks yang satu dengan teks yang lain, ulama muslim berbeda pendapat mengenai hal tersebus salah satunya menurut Imam Jalaluddin As Suyuti mengatakan kalau apa yang sudah tertulis dalam Al-Qur`an itu memang itu datang dari Allah SWT hal ini di dasarkan pada hadis yang Shahih,Mutawatir.
BookOpen AccessPDF tersedia
2026•Koleksi Perpustakaan
Skripsi berjudul “Penafsiran Mahmud Yunus Tentang Batasan Aurat Perempuan Dalam Surah An-Nur 31” yang ditulis olch Delfi Yuliandra, NIM. 2219005, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perbedaan pendapat para ulama dan mufassir mengenai batasan aurat perempuan, khususnya dalam menafsirkan frasa illā mā zhahara minhā (kecuali yang biasa tampak) dalam Q.S. An-Nur: 31, yang ada dalam Tafsir Qur’an Karim memiliki pendekatan penafsiran yang khas dan kontekstual terhadap ayat ini. Adapun rumusan masalah Skripsi ini: Bagaimana penafsiran Mahmud Yunus tentang aurat dalam Q.S. An-Nur: 31, Batasan Masalah: Pertama, mengungkapkan penafsiran Mahmud Yunus terhadap Q.S. An-Nur: 31. Kedua, Analisis terhadap penafsiran Mahmud Yunus Surah An-Nur: 31. Dan tujuan penelitian ini yaitu: untuk mengatahui penafsiran Mahmud Yunus Surah An-Nur: 31. Metode penelitian ini ialah kualitatif, jenis penelitian kepustakaan (library research), dengan pendekatan fikih. Sumber data primer penelitian ini adalah Tafsir Qur’an Karim karya Mahmud Yunus dan sumber sekunder jurnal ilmiah karya Hanna Salsabila, dan teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumentasi dengan pedoman dokumentasi yang tersusun berdasarkan rumusan masalah. Analisis data dilakukan melalui metode deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan, Mahmud Yunus menafsirkan Q.S. An-Nur: 31merujuk kepada tafsir ibnu Abbas bahwa anggota yang biasa terbuka itu adalah muka dan telapak tangan juga diperkuat dengan hadis Nabi juga mengatakan hanya muka dan telapak tangan, tetapi jika dilihat dari pendekatan keilmuan Mahmud Yunus iya ber mazhab hanafi, menurut Wahbah az-Zuhaili dalam tafsir al-Munir mengatakan bahwa Diriwayatkan dari Imam Abu Hanifah bahwasanya kedua telapak kaki juga bukan termasuk aurat. Sebab unsur kerepotan dalam menutup kedua telapak kaki lebih besar daripada dalam menutup kedua telapak tangan, terutama bagi para penduduk. Analisis terhadap penafsiran Mahmud Yunus bahwa penafsirannya merupakan sintesis antara sumber bil ma’tsur (Ibnu Abbas dan hadis Sunan Abu Dawud) dan bil ra’yi (mazhab Hanafi), dengan metode gabungan ijmali-tahlili dan corak adabul ijtima’i. Posisi penafsirannya moderat luas lebih luas dari mazhab Syafi’i namun sejalan dengan mazhab Hanafi serta relevan sebagai rujukan tafsir kontekstual bagi masyarakat Muslim Indonesia yang beragam secara budaya.
BookOpen AccessPDF tersedia
2026•Koleksi Perpustakaan
Skripsi berjudul “ Rekonstruksi Pemikiran Theodor Nöldeke Tentang Kodifikasi Al-Qur`an” yang ditulis oleh Abdul Hamid, NIM. 2219029, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Usulluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur`an (IDAQU) Payakumbuh. Al-Qur'an merupakan kitab suci umat Islam yang diyakini sebagai wahyu Allah Swt yang keasliannya dijaga melalui proses hafalan dan kodifikasi. Namun, dalam sejarah perkembangan akademik Barat,kodifikasi Al-Qur'an sering kali dikaji oleh sarjana orientalis melalui pendekatan historis-kritis yang melahirkan perdebatan teologis dan historis. Salah satu tokoh sentral orientalis dalam kajian ini adalah Theodor Nöldeke melalui karya monumentalnya The History of the Qur'an. Beberapa asumsi Nöldeke dinilai kontroversial dan menuai kritik dari sarjana Muslim karena meragukan validitas riwayat tradisional Islam serta mengabaikan otoritas transmisi riwayat, sehingga diperlukan upaya rekonstruksi ilmiah secara objektif dan berimbang guna memahami dinamika pemikirannya dalam khazanah dialog akademik. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat deskriptif-analitis. Peneliti melakukan telaah kritis terhadap teks dan struktur gagasan tokoh dengan menguji pola argumentasi secara logis dan metodologis. Sumber data penelitian ini dibagi menjadi dua kategori. Sumber primer bertumpu pada karya asli Theodor Nöldeke, yaitu buku The History of the Qur'an edisi revisi. Sumber sekunder mencakup literatur pendukung berupa buku buku ‘Ulum al-Qur’an, skripsi, tesis, disertasi, serta jurnal ilmiah yang mengkaji pemikiran orientalis maupun karya sarjana Muslim yang memberikan kritik. Hasil penelitian di bagi ke dalam dua bagian: 1. Pemikiran Theodor Nöldeke pada bagian asumsinya mengatakan kalau dia meragukan mutu penghafAl-Qur`an hal ini berdasarkan data korban L. Caeni, Theodor Nöldeke berargumen kalau korban dari perang Yamamah itu merupakan mualaf baru bukan para penghafAl-Qur`an (huffaz), Theodor Nöldeke juga meragukan mengenai waktu dalam proses pengumpulan Al-Qur`an pada masa Abu Bakar yang dinilai terlalu singkat lebih kurang 15 bulan untuk proyek yang sebesar itu dan juga Theodor Nöldeke mengganggap bahwa Al-Qur`an yang sudah terkumpul,kemudian Umar Bin Khattab menyerahkanya kepada Hafsah Binti Umar merupakan koleksi Pribadi bukan milik negara. 2. Metode yang digunakan oleh Theodor Nöldeke dalam mengkaji/meneliti sebuah teks Al-Qur`an menggunakan Metode Filologi/ Kritik Historis-Tekstual ala barat yang akan dibahas dalam penelitian ini asumsi dasar Theodor Nöldeke dan tanggapanya. Rekonstruksi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa Theodor Nöldeke tidak langsung percaya dengan adanya apa yang sudah tertulis dalam sebuah teks (skeptisisme metodologis) sehingga dia akan menganalisis gaya bahasa dari teks tersebut, mencari keterkaitan antara teks yang satu dengan teks yang lain, ulama muslim berbeda pendapat mengenai hal tersebus salah satunya menurut Imam Jalaluddin As Suyuti mengatakan kalau apa yang sudah tertulis dalam Al-Qur`an itu memang itu datang dari Allah SWT hal ini di dasarkan pada hadis yang Shahih,Mutawatir.