Profil penulis
Aziz
19 karya publik ditemukan.
Karekteristik Munafik Dalam Surat Al-Baqarah ayat 8-16 (Kajian Muqarran Tafsir Fi Zhilalil Qur'an Dan Tafsir Al-Munir)
Skripsi ini berjudul “ KARAKTERISTIK MUNAFIK DALAM SURAT AL-BAQARAH AYAT 8-16 (Kajian Muqaran Tafsir Fi Zilalil Qur’an dan Tafsir al-Munir) ” ditulis oleh Hidayatul Azizati, NIRM:SI.VI.19.21.021, Mahasiswa Prodi Ilmu Qur’an dan Tafsir Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini didasari oleh kenyataan bahwa banyak yang tidak sadar akan sifat dan tanda-tanda munafik. Munafik ini adalah penyakit yang sulit diketahui di masyarakat, bahkan munafik ini lebih berbahaya dari orang kafir. Oleh karena itu penulis ingin menjabarkan dan menjelaskan tentang karakteristik munafik dalam surat Al-Baqarah ayat 8-16. Penulis ingin menganalisis pendapat Sayyid Quthb dan wahbah az-Zuhaili perbedaan dalam menafsirkan karakteristik munafik yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 8-16. Maka penulis ingin menjelaskan dan mengungkap bagaimana penafsiran Qs Al-Baqarah ayat 8-16 menurut tafsir Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb dan tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) menggunakan metode kualitatif. Sumber data primer yaitu, Al-Qur’an, tafsir Fi Zhilalil Qur’an dan tafsir al-Munir dan sumber data sekunder yaitu jurnal, buku, skripsi tulisan-tulisan tokoh lain yang didalamnya terdapat pembahasan yang terkait. Penelitian ini menemukan bahwa Sayyid Quthb dan Wahbah az-Zuhaili sepakat bahwasanya orang-orang munafik menampilkan keimanan di lisan mereka dan berbeda pendapat tentang apa yang kaum munafik simpan di hati mereka. Sayyid Quthb menyebutkan di dalam hatinya mengatakan bahwa mereka merasa tidak memiliki keberanian untuk menghadapi kebenaran dengan iman yang benar dan tidak berani mengatakan pengingkaran secara terus terang terhadap kaum mukminin. Sedangkan Wahbah al-Zuhaili menyebutkan hati mereka penuh dengan kekafiran dan kesesatan. Keduanya juga sepakat tentang penipuan yang dilakukan oleh kaum munafik terhadap Allah yaitu dalam bentuk pendustaan mereka dengan menampilkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran untuk keamanan jiwa dan harta mereka. Adapun mengenai penyakit yang ada di dalam hati orang-orang munafik, keduanya menyebutkan penyakit itu dalam bentuk keragu-raguan antara keimanan dan kekafiran. Adapun mengenai perusakan di muka bumi yang dilakukan oleh kaum munafik, Sayyid Quthb menyatakan perusakan di sini adalah kebaikan, keburukan, keshalihan dan kerusakan yang ada di dalam hati mereka lebih berat kepada hawa nafsu dan tidak lagi cenderung kepada kaidah ilahi (Allah), sedangkan Wahbah az-Zuhaili menyebutkan perusakan yang dilakukan kaum munafik yaitu menyulut fitnah, menebarkan rahasia kaum mukminin kepada kaum kafir, serta ingkar dan menghalangi manusia untuk berjuang di jalan Allah. Keduanya juga berbeda pendapat mengenai orang-orang bodoh yang dimaksud oleh orang munafik ketika diseru untuk beriman, Sayyid Quthb menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah khusus bagi orang-orang miskin saja yang tidak layak menduduki posisi yang terhormat, sedangkan Wahbah az-Zuhaili menyebutkan yang dimaksud adalah orang-orang lemah dari kaum hamba sahaya dan orang-orang miskin yang mengikuti Nabi. Keduanya juga sepakat tentang perumpamaan kaum munafik yakni dengan menyebutkan mereka sebagai pedagang yang rugi karena telah menukarkan hidayah dan petunjuk demi kesesatan. Salah satu yang menjadi perbedaan penafsiran adalah penafsiran Sayyid Quthb dalam kitab tafsir Fi Zhilalil Qur’an merujuk kepada orang-orang munafik yang berasal dari suku Aus dan Khazraj serta orang-orang yang mengikuti mereka. Wahbah az-zuahaili dalam kitab tafsir Al-Munir merujuk kepada orang-orang munafik yang berasal dari orang-orang munafik dari zaman Rasulullah sampai zaman modern.
Karekteristik Munafik Dalam Surat Al-Baqarah ayat 8-16 (Kajian Muqarran Tafsir Fi Zhilalil Qur'an Dan Tafsir Al-Munir)
Skripsi ini berjudul “ KARAKTERISTIK MUNAFIK DALAM SURAT AL-BAQARAH AYAT 8-16 (Kajian Muqaran Tafsir Fi Zilalil Qur’an dan Tafsir al-Munir) ” ditulis oleh Hidayatul Azizati, NIRM:SI.VI.19.21.021, Mahasiswa Prodi Ilmu Qur’an dan Tafsir Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini didasari oleh kenyataan bahwa banyak yang tidak sadar akan sifat dan tanda-tanda munafik. Munafik ini adalah penyakit yang sulit diketahui di masyarakat, bahkan munafik ini lebih berbahaya dari orang kafir. Oleh karena itu penulis ingin menjabarkan dan menjelaskan tentang karakteristik munafik dalam surat Al-Baqarah ayat 8-16. Penulis ingin menganalisis pendapat Sayyid Quthb dan wahbah az-Zuhaili perbedaan dalam menafsirkan karakteristik munafik yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 8-16. Maka penulis ingin menjelaskan dan mengungkap bagaimana penafsiran Qs Al-Baqarah ayat 8-16 menurut tafsir Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb dan tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) menggunakan metode kualitatif. Sumber data primer yaitu, Al-Qur’an, tafsir Fi Zhilalil Qur’an dan tafsir al-Munir dan sumber data sekunder yaitu jurnal, buku, skripsi tulisan-tulisan tokoh lain yang didalamnya terdapat pembahasan yang terkait. Penelitian ini menemukan bahwa Sayyid Quthb dan Wahbah az-Zuhaili sepakat bahwasanya orang-orang munafik menampilkan keimanan di lisan mereka dan berbeda pendapat tentang apa yang kaum munafik simpan di hati mereka. Sayyid Quthb menyebutkan di dalam hatinya mengatakan bahwa mereka merasa tidak memiliki keberanian untuk menghadapi kebenaran dengan iman yang benar dan tidak berani mengatakan pengingkaran secara terus terang terhadap kaum mukminin. Sedangkan Wahbah al-Zuhaili menyebutkan hati mereka penuh dengan kekafiran dan kesesatan. Keduanya juga sepakat tentang penipuan yang dilakukan oleh kaum munafik terhadap Allah yaitu dalam bentuk pendustaan mereka dengan menampilkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran untuk keamanan jiwa dan harta mereka. Adapun mengenai penyakit yang ada di dalam hati orang-orang munafik, keduanya menyebutkan penyakit itu dalam bentuk keragu-raguan antara keimanan dan kekafiran. Adapun mengenai perusakan di muka bumi yang dilakukan oleh kaum munafik, Sayyid Quthb menyatakan perusakan di sini adalah kebaikan, keburukan, keshalihan dan kerusakan yang ada di dalam hati mereka lebih berat kepada hawa nafsu dan tidak lagi cenderung kepada kaidah ilahi (Allah), sedangkan Wahbah az-Zuhaili menyebutkan perusakan yang dilakukan kaum munafik yaitu menyulut fitnah, menebarkan rahasia kaum mukminin kepada kaum kafir, serta ingkar dan menghalangi manusia untuk berjuang di jalan Allah. Keduanya juga berbeda pendapat mengenai orang-orang bodoh yang dimaksud oleh orang munafik ketika diseru untuk beriman, Sayyid Quthb menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah khusus bagi orang-orang miskin saja yang tidak layak menduduki posisi yang terhormat, sedangkan Wahbah az-Zuhaili menyebutkan yang dimaksud adalah orang-orang lemah dari kaum hamba sahaya dan orang-orang miskin yang mengikuti Nabi. Keduanya juga sepakat tentang perumpamaan kaum munafik yakni dengan menyebutkan mereka sebagai pedagang yang rugi karena telah menukarkan hidayah dan petunjuk demi kesesatan. Salah satu yang menjadi perbedaan penafsiran adalah penafsiran Sayyid Quthb dalam kitab tafsir Fi Zhilalil Qur’an merujuk kepada orang-orang munafik yang berasal dari suku Aus dan Khazraj serta orang-orang yang mengikuti mereka. Wahbah az-zuahaili dalam kitab tafsir Al-Munir merujuk kepada orang-orang munafik yang berasal dari orang-orang munafik dari zaman Rasulullah sampai zaman modern.
Konsep Dasar IPS
Begini seharusnya menjadi guru
Penafsiran Halim dalam Al-Quran
Nama Allah diterangkan dalam surat Al-A’raf ayat 180 yang berbunyi dan milik Allah asmaul husna, namun penelitian penulis menemukan nama Allah tersebut juga ditujukan kepada makhluknya. Bertujuan untuk mengetahui klasifikasi dan penafsiran Ḥalîm dalam Al-Qur’an melalui metode tafsir maudhu’i yang digagas oleh Abd Hayy al-Farmawi bersifat kualitatif deskriptif, adapun sumber data penelitian terbagi 2 yaitu data primer diantaranya Al-Qur’an dan enam kitab tafsir yakni tafsir Al-Azhar, Al-Maraghi, Al-Misbah, Al-Qurtuby, Ibnu Katsir, AlManar. Data sekunder yakni jurnal dan artikel mengenai Ḥalîm serta buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan. Hasil penelitian ini menemukan bahwa lafadz م ل ح dalam Al-Qur’an sebanyak 20 ayat dalam 16 surat. Lafadz yang bermakna penyantun ialah Ḥalîm yang terdapat 15 ayat dalam 12 surat, dengan derivasi Ḥalîmun, Ḥalîman, Ḥalîmin. Sifat Ḥalîm tersebut tidak berdiri sendiri melainkan juga disandingkan dengan sifat Ghafur, ghaniy,‘Alim, Awwah, Rasyid dan Syakur. Ḥalîm berarti sifat menangguhkan atau tidak menyegerakan hukuman bagi manusia yang berbuat dosa serta memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertaubat dan akan memaafkannya jika memohon ampunan. Setelah melewati setiap langkah dalam penelitian penulis mendapatkan kesimpulan bahwa bagi manusia sikap penyantun bermakna sabar dan tidak tergesa-gesa melakukan sesuatu, sedangkan penyantun bagi Allah ialah menangguhkan hukuman dan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi orang yang mau bertaubat.
Fonologi Bahasa Indonesia: Suatu Tinjauan Tentang Bunyi Bahasa
Buku fonologi yang berjudul Fonologi Bahasa Indonesia: Suatu Tinjauan Tentang Bunyi Bahasa merupakan buku karya Sutrimah, ... [et al.]. Buku ini menyajikan beberapa chapter yang memuat tentang kajian bunyi bahasa. Masing-masing materi dilengkapi dengan adanya pendahuluan, topik yang dibahas, rangkuman, latihan, dan tes formatif. Keberadaan latihan dan tes formatif membantu pembaca untuk meningkatkan pemahaman pada masing-masing bagian sebagai bentuk evaluasi mandiri setelah membaca buku ini. Buku ini memuat sembilan materi tentang fonologi bahasa Indonesia. Materi tersebut dimulai dari: 1) Hakikat dan Kedudukan Fonologi; 2) Hubungan Fonologi dengan Cabang Ilmu Bahasa Lain; 3) Sejarah Fonologi; 4) Klasifikasi Bunyi, Unsur Suprasegmental dan Silabel; dan lainnya dapat dibaca pada e-book ini. Daftar isi buku ini meliputi : 1. Hakikat dan Kedudukan Fonologi 2. Hubungan Ilmu Fonologi dengan Ilmu Cabang lain 3. Sejarah Fonologi 4. Klasifikasi Bunyi, Unsur Suprasegmental, dan Silabel dan lainnya dapat dibaca pada e-book ini. Spesifikasi buku ini meliputi : Kategori : Fonologi Penulis : Sutrimah, ... [et al.] E-ISBN : 978-623-02-6365-1 Ukuran : 17,5x25 cm Halaman : 114 Tahun Terbit : 2023 Penerbit Deepublish adalah penerbit buku yang memfokuskan penerbitannya dalam bidang pendidikan, terutama pendidikan tinggi (universitas dan sekolah tinggi).
Penafsiran Halim dalam Al-Quran
Penelitian ini dilatar belakangi dengan 99 nama Allah sebagaimana diterangkan dalam surat Al-A’raf ayat 180, namun penelitian penulis menemukan nama Allah tersebut juga ditujukan kepada manusia. Ḥalîm terdapat dalam 12 surat dan 15 ayat, sebelas ayat menjelaskan tentang sifat Allah sedangkan empat ayat menjelaskan sifat makhluknya, dimana ayat-ayat tersebut tidak berdiri sendiri melainkan juga disandingkan dengan sifat Ghafur, ghaniy, ‘Alim, Awwah, Rasyid, dan Syakur. Dalam penelitian ini penulis menelusuri kata ح ل م ditemukan 20 ayat dengan rincian ḥuluma, ahlamin, ahlamuhum, ḥalimun, ḥaliman, dan ḥalimin. Berikutnya kata yang bermakna penyantun yakni ḥalimun, ḥaliman, dan ḥalimin Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan metode tafsir maudhu’i yakni penggabungan ayat-ayat Al-Quran yang memiliki tujuan yang sama untuk membahas topik yang sama dan disusun berdasarkan asbabun nuzul dan kronologinya. Sumber data primer yaitu Al-Quran, Tafsir Al-Azhar, Tafsir Al-Misbah, Tafsir al-Maraghi, Tafsir Al-Manar, Tafsir Qurtuby dan Tafsir Ibn Katsir, sedangkan sumber data sekunder yaitu kitab Mu’jam al-Mufahros li Alfazh Al-Quran, data pendukung untuk meneliti kajian seperti jurnal, buku, skripsi dan tulisan tokoh lain yang didalamnya terdapat pembahasan yang berkaitan dengan penelitian penulis. Hasil penelitian ini menemukan bahwa ḥalîm dengan sifat Allah disandingkan dengan Ghafur menunjukkan penangguhan hukuman bagi orang berbuat dosa, sehingga masih diberi kesempatan untuk bertaubat, disandingkan dengan Ghaniy mengisyaratkan bahwa Allah maha kaya Dia tidak memerlukan sedikit pun balasan dari pendosa, disandingkan dengan ‘Alim menunjukkan sifat maha mengetahui Allah mengenai pendosa dan dosa-dosanya, sifat dengan Syakur mengisyaratkan rasa syukur makhluknya kepadaNya dicerminkan juga oleh penangguhan sanksi. Sedangkan sifat yang disandarkan kepada Nabi Ibrahim dan Ismail yang berarti pujian dari Allah atas pribadi mereka yang lembut hati, penyantun, sabar dan mengembalikan urusannya kepada Allah, dan kepada Nabi Syu’aib merupakan sebuah sindiran dari kaumnya. Maka bagi manusia sikap penyantun bermakna sabar dan tidak tergesa-gesa melakukan sesuatu. sedangkan penyantun bagi Allah ialah menangguhkan hukuman dan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi orang yang mau bertaubat.
Penafsiran Halim dalam Al-Quran
Penelitian ini dilatar belakangi dengan 99 nama Allah sebagaimana diterangkan dalam surat Al-A’raf ayat 180, namun penelitian penulis menemukan nama Allah tersebut juga ditujukan kepada manusia. Ḥalîm terdapat dalam 12 surat dan 15 ayat, sebelas ayat menjelaskan tentang sifat Allah sedangkan empat ayat menjelaskan sifat makhluknya, dimana ayat-ayat tersebut tidak berdiri sendiri melainkan juga disandingkan dengan sifat Ghafur, ghaniy, ‘Alim, Awwah, Rasyid, dan Syakur. Dalam penelitian ini penulis menelusuri kata ح ل م ditemukan 20 ayat dengan rincian ḥuluma, ahlamin, ahlamuhum, ḥalimun, ḥaliman, dan ḥalimin. Berikutnya kata yang bermakna penyantun yakni ḥalimun, ḥaliman, dan ḥalimin Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan metode tafsir maudhu’i yakni penggabungan ayat-ayat Al-Quran yang memiliki tujuan yang sama untuk membahas topik yang sama dan disusun berdasarkan asbabun nuzul dan kronologinya. Sumber data primer yaitu Al-Quran, Tafsir Al-Azhar, Tafsir Al-Misbah, Tafsir al-Maraghi, Tafsir Al-Manar, Tafsir Qurtuby dan Tafsir Ibn Katsir, sedangkan sumber data sekunder yaitu kitab Mu’jam al-Mufahros li Alfazh Al-Quran, data pendukung untuk meneliti kajian seperti jurnal, buku, skripsi dan tulisan tokoh lain yang didalamnya terdapat pembahasan yang berkaitan dengan penelitian penulis. Hasil penelitian ini menemukan bahwa ḥalîm dengan sifat Allah disandingkan dengan Ghafur menunjukkan penangguhan hukuman bagi orang berbuat dosa, sehingga masih diberi kesempatan untuk bertaubat, disandingkan dengan Ghaniy mengisyaratkan bahwa Allah maha kaya Dia tidak memerlukan sedikit pun balasan dari pendosa, disandingkan dengan ‘Alim menunjukkan sifat maha mengetahui Allah mengenai pendosa dan dosa-dosanya, sifat dengan Syakur mengisyaratkan rasa syukur makhluknya kepadaNya dicerminkan juga oleh penangguhan sanksi. Sedangkan sifat yang disandarkan kepada Nabi Ibrahim dan Ismail yang berarti pujian dari Allah atas pribadi mereka yang lembut hati, penyantun, sabar dan mengembalikan urusannya kepada Allah, dan kepada Nabi Syu’aib merupakan sebuah sindiran dari kaumnya. Maka bagi manusia sikap penyantun bermakna sabar dan tidak tergesa-gesa melakukan sesuatu. sedangkan penyantun bagi Allah ialah menangguhkan hukuman dan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi orang yang mau bertaubat.