ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi yang berjudul “Penafsiran Jihad Dalam Surat Al Furqon Ayat 52 Dalam Kitab Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān dan Relevansi Nya Dengan Era Modern. (Kajian Tafsir Tahlili)” disusun oleh Reski Ananda NIM 2219006, Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya pemahaman jihad yang sering dikaitkan dengan peperangan, padahal Al-Qur’an menunjukkan adanya bentuk jihad yang dilakukan melalui sarana selain kekuatan fisik. Salah satunya terdapat dalam QS. Al-Furqān ayat 52 melalui lafaz wa jāhid-hum bihī jihādan kabīran. Ayat tersebut merupakan ayat Makkiyah yang turun sebelum disyariatkannya peperangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran jihad dalam QS. Al-Furqān ayat 52 menurut Imam Al-Qurṭubī serta mengetahui relevansi penafsiran tersebut dalam kehidupan kontemporer.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Sumber primer penelitian adalah kitab Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān karya Imam Al-Qurṭubī, khususnya penafsiran QS. Al-Furqān ayat 52, sedangkan sumber sekunder berasal dari kitab tafsir, buku, jurnal, dan literatur yang relevan dengan pembahasan jihad. Data dianalisis secara deskriptif-analitis dengan memperhatikan aspek kebahasaan, konteks Makkiyah, riwayat, serta kronologi pensyariatan jihad.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Imam Al-Qurṭubī memahami jihad dalam QS. Al-Furqān ayat 52 sebagai perjuangan menghadapi kaum kafir dengan menggunakan Al-Qur’an sebagai instrumen utama. Pemahaman tersebut didasarkan pada lafaz bihī yang merujuk kepada Al-Qur’an, pendapat Ibn ‘Abbās dan Ibn Zayd, serta konteks Makkiyah yang berlangsung sebelum adanya perintah perang. Jihad dalam ayat tersebut pada era modern yaitunya jihad intelektual. Penafsiran tersebut relevan dengan kehidupan kontemporer karena nilai jihad dapat diwujudkan melalui pendidikan, dakwah, pengembangan ilmu pengetahuan, literasi Al-Qur’an, pembinaan akhlak, dan penyelesaian berbagai persoalan masyarakat secara damai dan konstruktif. Dengan demikian, penafsiran Al-Qurṭubī menunjukkan bahwa jihad memiliki makna yang kontekstual dan tidak selalu identik dengan peperangan.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya penyempitan makna lafadz Muqaddas
di tengah masyarakat, yang kerap kali hanya dipahami sebatas tempat fisik seperti Masjid
al-Aqsha. Padahal dalam Al-Qur`an lafadz Muqaddas memiliki dimensi makna yang lebih
luas dan dalam mencakup aspek spiritual, geografis, teologis, dan simbolik. Ketidaktahuan
terhadap konteks penggunaan lafadz ini berpotensi menimbulkan kekeliruan pemahaman,
terlebih dalam konteks Baitul Maqdis yang menjadi objek sengketa antarperadaban, baik
dari sisi dunia Islam maupun Barat.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan analisis lafadz Muqaddas yang ada
dalam Al-Qur`an sebagaimana yang digunakan dalam tiga ayat Al-Qur’an, yaitu QS. al-
Ma`idah: 21, Thaha: 12, dan an-Nazi’at: 16. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk
menganalisis penafsiran para mufasir terhadap lafadz tersebut.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan
(library research) dan metode tafsir maudhu‘i (tematik). Sumber data utama berasal dari Al-
Qur’an dan enam kitab tafsir : al-Misbah, Ibnu Katsir, al-Thabari, al-Jashash, al-Munir, dan
al-Azhar.
Hasil penelitian ini terbagi kepada 2 pembahasan. Pertama, analisis lafadz
muqaddas dalam Al-Qur`an mengandung makna kesucian yang bersumber dari kehendak
Ilahi, tidak hanya secara lahiriah tetapi juga spiritual dan teologis. Akar kata q-d-s
menunjukkan makna penyucian dan pemuliaan yang dikaitkan langsung dengan kehadiran
Allah SWT. Kedua, analisis penafsiran ayat-ayat tentang muqaddas dalam Al-Qur`an
terbagi kepada dua penafsiran. Yaitu penafsiran muqaddas dengan makna lembah tuwa
yang terdapat pada dua surat yaitu surat Thaha ayat 12 dan surat an-Nazi’at ayat 16.
Kemudian penafsiran muqaddas dengan makna baitul maqdis yang terdapat pada surat al-
Ma`idah ayat 21. Dengan demikian, konsep kesucian dalam lafadz muqaddas bersifat
teosentris (tuhan sebagai pusat dan sumber utama segala nilai, tujuan dan makna
kehidupan), menegaskan bahwa kesucian suatu tempat lahir dari keterhubungannya dengan
Allah, wahyu, dan para rasul-Nya.
BookOpen AccessPDF tersedia
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang masalah dari pemilihan judul ini adalah karena al-‘Adl dalam al-Qur’an mempunyai
aspek dan objek yang beragam. Keragaman tersebut mengakibatkan beragamnya makna al-‘Adl. Kata
yang sama belum tentu memiliki arti yang sama pula ketika kata tersebut diulang pada tempat yang
berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengungkap makna dari al-‘Adl
dalam al-Qur’an. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, jenis penelitian
dalam skripsi ini yaitu penelitian pustaka (library research), dan metode tafsir yang penulis gunakan
dalam penelitian ini adalah metode tafsir tematik (maudhu’iy) yaitu dengan memilih satu tema yang
terdapat pada ayat-ayat al-Qur’an, menghimpunnya, menafsirkannya dan menyimpulkan penjelasanpenjelasan dari tema pembahasan yang terkait. Guna mengungkap permasalahan ini, penulis
menggunakan analisis dokumen tafsir maudhu’iy, dimana semua isyarat serta fenomena yang
berhubungan dengan pokok bahasan dideskripsikan kemudian dianalisa. Hasil dalam penelitian ini
adalah A. deskripsi ayat yaitu dalam al-Qur’an kata al-‘adl dimuat sebanyak 28 kali dengan berbagai
shighat-nya (bentuk kata). Dalam al-Qur’an ada beberapa kata yang semakna dengan kata al-‘adl
yaitu kata al-qisth dan kata al-wazn. Masing-masing kata tersebut ditempatkan dalam ayat-ayat yang
berbeda dan dalam beberapa ayat berada dalam satu ayat secara bersamaan. B. penefsiran ayat yaitu:
Al-‘adl adalah “Sesuatu yang lurus” menyamakan sesuatu dengan yang lain “seimbang” benar dan
lurus, mengimbangi sesuatu “tebusan” dan “syirik (menyekutukan Allah)”. Dilihat dari titik
persamaan arti al-‘adl tersebut yaitu “tidak memihak” (dalam penetepan hukum), “seimbang” (dalam
timbangan/neraca), “tebusan” (menyamakan perbuatan dengan akibatnya). Al-‘adl memiliki beberapa
makna, yaitu: 1. al-‘adl yang bermakna tebusan, 2. al-‘adl yang bermakna adil, 3. al-‘adl yang
bermakna sebanding/seimbang, dan 4. al-‘adl yang bermakna sekutu (menyimpang)
BookOpen AccessPDF tersedia
2024•Koleksi Perpustakaan
Cara Allah dalam menyampaikan al-Qur’an kepada manusia menggunakan Uslub (gaya bahasa) yang
beraneka ragam, ada yang disampaikan melalui kisah-kisah, melalui qasam (sumpah),
ketauhidan,hukum-hukum dan perumpamaan-perumpamaan (amtsal). Kata kafir ( kufr ) yang
bermakna menutupi. Malam disebut sebagai kafir karena menutupi segala objek dengan kegelapan,
dan petani disebut juga sebagai kafir karena menutupi benih ditanah. Adapun tujuan penulis
mengumpulkan ayat-ayat tentang Amtsal Orang-orang Kafir dalam al-Qur’an untuk mengetahui
penafsiran ayat-ayat Amtsal Orang-orang Kafir dalam al-Qur’an. Dalam penelitian ini menggunakan
metode studi kepustakaan ( Library research ) dengan pendekatan kualitatif, adapun Sumber data
primer penelitian ini adalah al-Qur’an, data sekunder penelitian ini adalah kitab-kitab tafsir, skripsi,
dan jurnal. Dari hasil penafsiran terhadap amtsal orang-orang kafir dikelompokkan menjadi enam
golongan Kesimpulan penelitian ini amtsal kafir, dalam al-qur’an pertama, orang-orang kafir yang
mendustakan ayat-ayat Allah mereka diperumpamakan seperti seekor anjing, orang yang buta dan tuli,
dan seperti domba, kedua, Orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan, mereka
memperumpamakan Allah seperti makhluk yang tidak akan bisa mengembalikan tulang-belulang yang
hancur, ketiga, orang-orang kafir yang menyekutukan Allah berhala mereka Allah perumpamakan
seperti hamba sahaya yang buta dan tuli, seekor laba-laba yang berlindung kepada sarangnya, orang
yang duduk ditepi sumur untuk mengambil air, patung yang lemah yang mati menciptakan seekor lalat
pun tidak akan sanggup, keempat, perumpamaan orang-orang kafir yang menginfakkan harta nya di
dunia Allah perumpamakan harta yang mereka infakkan itu seperti ladang yang hancur yang tidak
bisa dipanen, kelima, perumpamaan keadaan orang yang melakukan syirik Allah perumpamakan
seperti orang yang jatuh dari langit sehingga badan nya hancur, dan yang keenam Perumpamaan
orang kafir Allah perumpamakan seprti kekafiran istri Nabi Nuh dan Nabi Luth.
BookOpen AccessPDF tersedia
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang penelitian ini adalah bahwa pembaca Al-qur’an memang betul-betul heterogen.
Tidak mengenal batas usia, jenis kelamin,disiplin ilmu,. Tetapi yang menjadi persoalan dari kesekian
pembaca tersebut terutama kaum muslimim sudahkah mereka memahami dan mengamalkan bagaimana
adab-adab yang harus dilaksanakan ketika akan dan sedang berinteraksi dengan Al-qur’an. hal ini
menjadi suatu tuntutan kembali untuk membahasnya. Apalagi dengan melihat realitas saat ini, dimana
pembaca Al-qur’an mengalami pergeseran sekaligus kemajuan dikarenakan mengikuti perkembangan
zaman.Sejumlah ulama terkemuka telah menulis kitab-kitab yang berhubungan dengan adab atau etika,
salah satunya yaitu kitab At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’an karya Imam An-Nawawi Al-Hafidz AlFaqih Al-Muhaddits.
BookOpen AccessPDF tersedia
2024•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini berfokus pada kehadiran gadget di dunia pesantren, khususnya terkait
dengan tradisi menghafal Al-Qur'an. Gadget, sebagai simbol modernitas,
menimbulkan tantangan dalam menjaga konsentrasi santri dalam menghafal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak positif dan negatif
penggunaan gadget terhadap hafalan Al-Qur'an santriwati di Ma’had Tahfizh
Aisyah As-Salamah serta menganalisis penafsiran QS. Al-Qamar ayat 17 yang
menegaskan kemudahan menghafal Al-Qur'an. Menggunakan metode kualitatif
dengan pendekatan studi kasus, penelitian ini mengumpulkan data melalui
observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
meskipun gadget dapat mendukung pembelajaran, penggunaannya harus bijaksana
agar tidak mengganggu fokus hafalan. Surah Al-Qamar mengajarkan pentingnya
mengambil hikmah dan petunjuk Allah, sehingga gadget sebaiknya dimanfaatkan
untuk tujuan yang baik dengan pengawasan dan pembatasan yang tepat.
BookOpen AccessPDF tersedia
2024•Koleksi Perpustakaan
Latar belakang penelitian ini adalah dengan adanya keunikan dalam pelaksanaan Khatam
Al-Qur’an dalam memperingati Haul Syekh Muhammad Baqi di Desa Basilam Baru, karena dari
bayaknya ulama yang ada di Tapanuli Selatan hanya Syekh Muhammad Baqi yang di lakukan
Haulnya tiap tahunnya, dan biasanya Haul dilakukan di pesantren-pesantren tapi Haul Syekh
Muhammad Baqi dilakukan masyarakat di Desa Basilam Baru kecamatan Muaratais kabupaten
Tapanuli Selatan. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), berupa kajian
Living Qur’an dengan metode deskriptif kualitatif melalui pendekatan living Qur’an. Dalam
pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi.
Selanjutnya, dalam menganalisis data peneliti menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil pembahasan dalam penelitian ini
adalah Sejarah Khatam Al-Qur’an dalam memperingati Haul Syekh Muhammad Baqi ini
dilakukan pada tahun 1992 M. Dimana ini dari inisiatif keluarga yang melihat dari tempat belajar
Syekh Muhammad Baqi di langkat yang juga mengadakan Haul setiap tahunnya. Dalam
pelaksanaan Khatam Al-Qur’an ada beberapa tahapan yaitu:pertama persiapan, Kedua,
Pelaksanaan Khatam Al-Qur’an Pelaksanaan Khatam Al-Qur’an pertama istighfar bersamasama sebanyak tiga kali dan lanjut membaca Tawassul dan dilanjut membaca Al-Qur’an sesuai
juz yang telah dibagi, kemudian tahlil dan takhtim, Ketiga, Penutup (doa)Pembacaan doa dan
makan bersama. Dasar pelaksanaan Haul yaitu Surah Al-Hasyar ayat 10, dari penjelasan kitab
tafsir menghormati umat muslim yang sudah meninggal yaitu dengan cara mendoakan orang
tersebut. Sedangkan menurut pemahaman ketua pelaksana Hasrul Sofyan surah Al-Hasyar ayat
10 adalah mengadakan acara Khatam Al-Qur’an dalam memperingati Haul Syekh Muhammad
Baqi dalam rangka menghormati dan memberikan hadiah sebagai atas jasanya dalam membuka
Desa Basilam Baru, mendirikan pesantren dan guru besar tarekat Naqsabandiyah.
BookOpen AccessPDF tersedia
2024•Koleksi Perpustakaan
Saat ini program tahfidz Al-Qur’an menjadi program yang sangat populer dan sangat
digemari di beberapa lembaga pendidikan baik negri maupun swasta, baik formal maupun non
formal yang sudah menjamur di kota Payakumbuh. Hal ini terlihat dari banyaknya sekolahsekolah yang bernuansa tahfidz yang bermunculan di kota Payakumbuh, banyak trik-trik dan
keutamaaan tentang menghafal al-Qur’an guna untuk memotivasi dan menumbuhkan semangat
dalam menghafal al-Qur’an. Salah satu sekolah di kota Payakumbuh melakukan program tahfidz
untuk anak usia dini yaitu PAUD Al-Huffazh Kota Payakumbuh, yang mana mereka memiliki
program unggulan Festival al-Qur’an yang dilakukan rutin setiap sekali sebulan sebagai bentuk
apresiasi pada anak-anak penghafal al-Qur’an di usia dini. Selain itu program ini juga
menumbuhkan semangat belajar bagi para santri, mu’allimah dalam meningkatkan kualitas
belajar mengajar, serta orang tua para santri jadi ikut rajin dalam muroja’ah hafalan bersama
anak-anaknya dirumah.
BookOpen AccessPDF tersedia
2024•Koleksi Perpustakaan
Nama Allah diterangkan dalam surat Al-A’raf ayat 180 yang berbunyi dan milik Allah asmaul
husna, namun penelitian penulis menemukan nama Allah tersebut juga ditujukan kepada
makhluknya. Bertujuan untuk mengetahui klasifikasi dan penafsiran Ḥalîm dalam Al-Qur’an
melalui metode tafsir maudhu’i yang digagas oleh Abd Hayy al-Farmawi bersifat kualitatif
deskriptif, adapun sumber data penelitian terbagi 2 yaitu data primer diantaranya Al-Qur’an dan
enam kitab tafsir yakni tafsir Al-Azhar, Al-Maraghi, Al-Misbah, Al-Qurtuby, Ibnu Katsir, AlManar. Data sekunder yakni jurnal dan artikel mengenai Ḥalîm serta buku-buku yang berkaitan
dengan pembahasan. Hasil penelitian ini menemukan bahwa lafadz م ل ح dalam Al-Qur’an
sebanyak 20 ayat dalam 16 surat. Lafadz yang bermakna penyantun ialah Ḥalîm yang terdapat
15 ayat dalam 12 surat, dengan derivasi Ḥalîmun, Ḥalîman, Ḥalîmin. Sifat Ḥalîm tersebut tidak
berdiri sendiri melainkan juga disandingkan dengan sifat Ghafur, ghaniy,‘Alim, Awwah, Rasyid
dan Syakur. Ḥalîm berarti sifat menangguhkan atau tidak menyegerakan hukuman bagi manusia
yang berbuat dosa serta memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertaubat dan akan
memaafkannya jika memohon ampunan. Setelah melewati setiap langkah dalam penelitian penulis
mendapatkan kesimpulan bahwa bagi manusia sikap penyantun bermakna sabar dan tidak
tergesa-gesa melakukan sesuatu, sedangkan penyantun bagi Allah ialah menangguhkan hukuman
dan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi orang yang mau bertaubat.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
a