Profil penulis
B
707 karya publik ditemukan.
17 Motivasi Berinteraksi dengan Alqur'an
Matan Hadits Arba'in Qur'aniyyah
Adab Pengajar & Penghafal Al-Qur'an
Ilmu Faraidh
Sirah Nabawiyah
Ushul Fiqih
Matan Safinatunnajah
Intisari Fiqih Islam
Pengantar Ushul Fikih
Tajwid Lengkap Asy- Syafii
Kaidah - Kaidah Praktis Memahami Fiqih Islami
‘Ulumul Qur’an: Prinsip-Prinsip dalam Pengkajian Ilmu Tafsir Al-Qur’an
Allah telah menurunkan Al-Qur’an ke muka bumi sebagai wahyu yang mengandung mukjizat bersifat universal membawa misi sebagai Kitab Suci yang menjadi pedoman hidup manusia untuk mengeluarkan dari suasana yang gelap menuju terang benderang. Kandungan-kandungannya memberi petunjuk kepada manusia ke arah jalan yang lurus dengan menegakkan asas kehidupan yang didasarkan pada keimanan. Ayat-ayatnya terpatri hukum-hukum syari’at, mu’amalat, politik dan akhlak sosial. Untuk itu Al-Qur’an wajib dipelajari dan diamalkan dalam kehidupan kita yang eksistensinya menjadi rahmatan lil ‘alamin sampai akhir zaman. Dan ketika men-tadabburi-nya akan terasa kedalaman lautan ilmu isi kandungannya tentang hakikat hidup dan kehidupan Dunia sampai dengan Akhirat serta membahas seluruh esensinya. Al-Qur’an sebagai wahyu Ilahi akan melahirkan gagasan, saran, pemikiran, penemuan ilmiah, tatanan sosial yang egaliter, keyakinan kebenaran Ilahi, memperkaya pengetahuan, petunjuk dan kesejahteraan manusia serta meninggikan harkat dan martabat manusia. Dari wahyu pula bisa membebaskan pikiran-pikiran jumud, emosi-emosi yang terbelenggu dan keterbelakangan. Oleh karenanya kajian terhadap wahyu membutuhkan ‘Ulumul Qur’an dengan berbagai metode dan pendekatannya. Pembahasannya mengalami perkembangan yang dinamis seiring dengan tuntutan perkembangan pemikiran manusia dan perkembangan zaman. Maka dari itu buku yang dihadapan Anda ini sangat penting dipelajari. Selamat membaca !
Ulumul Qur’an: Sebuah Pengantar
Untuk dapat memahami Al-Qur’an dengan benar diperlukan penafsiran yang tidak hanya mengandalkan bahasa Arab secara baik dan benar, akan tetapi juga diperlukan pengetahuan yang komprehensif tentang ilmu-ilmu yang berhubungan dengan penafsiran Al-Qur’an itu sendiri dan kaidah-kaidah dari ilmu-ilmu tersebut seperti yang ditulis dalam buku ini. Buku yang sekarang ada di hadapan Anda ini adalah buku Ulumul Qur’an: Sebuah Pengantar Edisi Revisi yang memang disusun sesuai dengan silabus mata kuliah Studi al-Qur’an di PTKAI, baik Negeri maupun Swasta. Penulisannya dilakukan dalam rangka membantu mahasiswa dan masyarakat pada umumnya dalam mendapatkan literatur Ulumul Qur’an. Buku ini juga dimaksudkan untuk membantu para pembaca dalam mempelajari dan memahami hal-hal yang terpenting dalam Al-Qur’an yang diturunkan Allah Swt. Selamat membaca.
Pemahaman Praktis Ulumul Qur'an
Al-Qur’an menjadi petunjuk hidup bagi manusia yang mendambakan kebahagiaan yang hakiki. Manusia wajib mengikuti petunjuk-petunjuk Al-Qur’an. Ketika manusia jauh dari petunjuk hidupnya, maka sesungguhnya mereka telah “membinatangkan” dirinya. Telah tampak di hadapan mata kita, seseorang yang tidak berpedoman pada Al-Qur’an, maka perilakunya tidak jauh beda dengan binatang. Jangan bersedih jika engkau tidak dihargai, tetapi bersedihlah jika tidak berharga lagi. Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil, tetapi jadilah manusia yang bermanfaat. Bertemanlah dengan orang yang suka membela kebenaran. Dialah hiasan di kala kita senang dan perisai di waktu susah. Namun, kita tidak akan pernah memiliki seorang teman, jika kita mengharapkan seseorang tanpa kesalahan. Semua manusia itu baik, jika kita bisa melihat kebaikan dan keunikannya. Sebaliknya, semua manusia itu akan buruk dan membosankan, jika kita tidak bisa melihat keduanya. Hidup tanpa rencana tak ubahnya melangkah tanpa arah. Ibaratnya perjalanan tanpa tujuan. Tujuan akhir manusia adalah surga, maka ikutilah petunjuk Al-Qur’an Al-Karim.
Penafsiran Lafadz Muqaddas Dalam Al-Qur’an
Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya penyempitan makna lafadz Muqaddas di tengah masyarakat, yang kerap kali hanya dipahami sebatas tempat fisik seperti Masjid al-Aqsha. Padahal dalam Al-Qur`an lafadz Muqaddas memiliki dimensi makna yang lebih luas dan dalam mencakup aspek spiritual, geografis, teologis, dan simbolik. Ketidaktahuan terhadap konteks penggunaan lafadz ini berpotensi menimbulkan kekeliruan pemahaman, terlebih dalam konteks Baitul Maqdis yang menjadi objek sengketa antarperadaban, baik dari sisi dunia Islam maupun Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan analisis lafadz Muqaddas yang ada dalam Al-Qur`an sebagaimana yang digunakan dalam tiga ayat Al-Qur’an, yaitu QS. al- Ma`idah: 21, Thaha: 12, dan an-Nazi’at: 16. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis penafsiran para mufasir terhadap lafadz tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research) dan metode tafsir maudhu‘i (tematik). Sumber data utama berasal dari Al- Qur’an dan enam kitab tafsir : al-Misbah, Ibnu Katsir, al-Thabari, al-Jashash, al-Munir, dan al-Azhar. Hasil penelitian ini terbagi kepada 2 pembahasan. Pertama, analisis lafadz muqaddas dalam Al-Qur`an mengandung makna kesucian yang bersumber dari kehendak Ilahi, tidak hanya secara lahiriah tetapi juga spiritual dan teologis. Akar kata q-d-s menunjukkan makna penyucian dan pemuliaan yang dikaitkan langsung dengan kehadiran Allah SWT. Kedua, analisis penafsiran ayat-ayat tentang muqaddas dalam Al-Qur`an terbagi kepada dua penafsiran. Yaitu penafsiran muqaddas dengan makna lembah tuwa yang terdapat pada dua surat yaitu surat Thaha ayat 12 dan surat an-Nazi’at ayat 16. Kemudian penafsiran muqaddas dengan makna baitul maqdis yang terdapat pada surat al- Ma`idah ayat 21. Dengan demikian, konsep kesucian dalam lafadz muqaddas bersifat teosentris (tuhan sebagai pusat dan sumber utama segala nilai, tujuan dan makna kehidupan), menegaskan bahwa kesucian suatu tempat lahir dari keterhubungannya dengan Allah, wahyu, dan para rasul-Nya.
QARIN DALAM AL QUR`AN MENURUT TAFSIR AL AZHAR HAMKA
Judul skripsi ini adalah “Qarin Dalam Al-Qur’an Menurut Tafsir Al-Azhar” ditulis oleh: Alvin Auliansyah, Nirm: S1.VI.19.20.369. Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an Fakultas Ushuluddin Dan Studi Islam Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Adapun yang melatar belakangi penelitian ini adanya maraknya di media sosial tiktok, yaitu cek khodam live. Bahkan banyak yang menyumbang agar si penyiar mau menyebutkan khodam apa yang ia punya, hanya dengan menyebutkan nama, si penyiar akan mengatakan khodam seperti apa yang ada dalam tubuh pemirsanya. Ada yang khodam Nyi Roro Kidul, Harimau Putih, Kris Merah, Elang Petir, Nyi Blorong dan ada juga yang kosong khodamnya. Jenis penelitian yang digunakan dalam skripsi ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library Research), menggunakan analisis deskriptif, yang merupakan sebuah metode yang mengambil bahan kajian dari berbagai sumber, dengan pendekatan metode tafsir maudhu’i. Adapun penelitian ini, bersumber dari data primer dan data sekunder. Primer yaitu yang diperoleh dari literatur yang berkaitan langsung dengan judul ini yakni Kitab Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka karna hanya Hamka yang penulis temukan bahwa qarin ada yang makhluk kasar dan halus. Adapun data sekundernya yaitu buku-buku, jurnal, artikel, skripsi dan tulisan yang mengandung isi dari pembahasan. Hasil dari penelitian ini setelah menganalisa penafsiran Buya Hamka penulis menyimpulkan bahwa ada 8 ayat yang mengisaratkan tentang keberadaannya jin qarin, surat An-Nisa’ ayat 38, surat As-Shaffat ayat 51, surat Fusshilat ayat 25, surat Az-Zukhruf ayat 36,38,53, surat Qaf ayat 23 dan 27. Dari semua ayat yang mengisaratkan tentang jin qarin hanya surat An-Nisa saja yang kategori Madaniyah yang lainnya masuk kategori Makkiyah. Penafsiran Hamka menjelaskan bahwa jin qarin itu bukan hanya makhluk halus yaitu jin, setan dan malaikat yang membisikkan kebaikan dan kejahatan , namun ada juga dari makhluk kasar yaitu manusia yang perannya sama seperti qarin dari gologan makhluk halus. Karna qarin yang mengajak kepada kejahatan juga ada dari manusia, yang bisa jadi qarin itu adalah sahabat karib selama bergaul di dunia maka harus berhati-hati dalam memilih teman, jangan sampai teman karib hanya memuji perbuatan tanpa ada menasihati kelakuan buruk yang akhirnya membawa kepada kemaksitan, kesyirikan namun selalu merasa bahwa yang dilakukan selama ini adalah suatu kebenaran. Adapun peran qarin dalam kehidupan manusia ada empat macam, pertama sebagai penggiring manusia masuk ke neraka, ke dua sebagai saksi atas apa yang manusia kerjakan selama hidup di dunia, ke tiga menyeru manusia untuk melakukan keburukan, dan yang ke empat menyeru manusia untuk melakukan kebaikan.
Penafsiran Lafadz Muqaddas Dalam Al-Qur’an
Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya penyempitan makna lafadz Muqaddas di tengah masyarakat, yang kerap kali hanya dipahami sebatas tempat fisik seperti Masjid al-Aqsha. Padahal dalam Al-Qur`an lafadz Muqaddas memiliki dimensi makna yang lebih luas dan dalam mencakup aspek spiritual, geografis, teologis, dan simbolik. Ketidaktahuan terhadap konteks penggunaan lafadz ini berpotensi menimbulkan kekeliruan pemahaman, terlebih dalam konteks Baitul Maqdis yang menjadi objek sengketa antarperadaban, baik dari sisi dunia Islam maupun Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan analisis lafadz Muqaddas yang ada dalam Al-Qur`an sebagaimana yang digunakan dalam tiga ayat Al-Qur’an, yaitu QS. al- Ma`idah: 21, Thaha: 12, dan an-Nazi’at: 16. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis penafsiran para mufasir terhadap lafadz tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research) dan metode tafsir maudhu‘i (tematik). Sumber data utama berasal dari Al- Qur’an dan enam kitab tafsir : al-Misbah, Ibnu Katsir, al-Thabari, al-Jashash, al-Munir, dan al-Azhar. Hasil penelitian ini terbagi kepada 2 pembahasan. Pertama, analisis lafadz muqaddas dalam Al-Qur`an mengandung makna kesucian yang bersumber dari kehendak Ilahi, tidak hanya secara lahiriah tetapi juga spiritual dan teologis. Akar kata q-d-s menunjukkan makna penyucian dan pemuliaan yang dikaitkan langsung dengan kehadiran Allah SWT. Kedua, analisis penafsiran ayat-ayat tentang muqaddas dalam Al-Qur`an terbagi kepada dua penafsiran. Yaitu penafsiran muqaddas dengan makna lembah tuwa yang terdapat pada dua surat yaitu surat Thaha ayat 12 dan surat an-Nazi’at ayat 16. Kemudian penafsiran muqaddas dengan makna baitul maqdis yang terdapat pada surat al- Ma`idah ayat 21. Dengan demikian, konsep kesucian dalam lafadz muqaddas bersifat teosentris (tuhan sebagai pusat dan sumber utama segala nilai, tujuan dan makna kehidupan), menegaskan bahwa kesucian suatu tempat lahir dari keterhubungannya dengan Allah, wahyu, dan para rasul-Nya.
QARIN DALAM AL QUR`AN MENURUT TAFSIR AL AZHAR HAMKA
Judul skripsi ini adalah “Qarin Dalam Al-Qur’an Menurut Tafsir Al-Azhar” ditulis oleh: Alvin Auliansyah, Nirm: S1.VI.19.20.369. Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an Fakultas Ushuluddin Dan Studi Islam Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Adapun yang melatar belakangi penelitian ini adanya maraknya di media sosial tiktok, yaitu cek khodam live. Bahkan banyak yang menyumbang agar si penyiar mau menyebutkan khodam apa yang ia punya, hanya dengan menyebutkan nama, si penyiar akan mengatakan khodam seperti apa yang ada dalam tubuh pemirsanya. Ada yang khodam Nyi Roro Kidul, Harimau Putih, Kris Merah, Elang Petir, Nyi Blorong dan ada juga yang kosong khodamnya. Jenis penelitian yang digunakan dalam skripsi ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library Research), menggunakan analisis deskriptif, yang merupakan sebuah metode yang mengambil bahan kajian dari berbagai sumber, dengan pendekatan metode tafsir maudhu’i. Adapun penelitian ini, bersumber dari data primer dan data sekunder. Primer yaitu yang diperoleh dari literatur yang berkaitan langsung dengan judul ini yakni Kitab Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka karna hanya Hamka yang penulis temukan bahwa qarin ada yang makhluk kasar dan halus. Adapun data sekundernya yaitu buku-buku, jurnal, artikel, skripsi dan tulisan yang mengandung isi dari pembahasan. Hasil dari penelitian ini setelah menganalisa penafsiran Buya Hamka penulis menyimpulkan bahwa ada 8 ayat yang mengisaratkan tentang keberadaannya jin qarin, surat An-Nisa’ ayat 38, surat As-Shaffat ayat 51, surat Fusshilat ayat 25, surat Az-Zukhruf ayat 36,38,53, surat Qaf ayat 23 dan 27. Dari semua ayat yang mengisaratkan tentang jin qarin hanya surat An-Nisa saja yang kategori Madaniyah yang lainnya masuk kategori Makkiyah. Penafsiran Hamka menjelaskan bahwa jin qarin itu bukan hanya makhluk halus yaitu jin, setan dan malaikat yang membisikkan kebaikan dan kejahatan , namun ada juga dari makhluk kasar yaitu manusia yang perannya sama seperti qarin dari gologan makhluk halus. Karna qarin yang mengajak kepada kejahatan juga ada dari manusia, yang bisa jadi qarin itu adalah sahabat karib selama bergaul di dunia maka harus berhati-hati dalam memilih teman, jangan sampai teman karib hanya memuji perbuatan tanpa ada menasihati kelakuan buruk yang akhirnya membawa kepada kemaksitan, kesyirikan namun selalu merasa bahwa yang dilakukan selama ini adalah suatu kebenaran. Adapun peran qarin dalam kehidupan manusia ada empat macam, pertama sebagai penggiring manusia masuk ke neraka, ke dua sebagai saksi atas apa yang manusia kerjakan selama hidup di dunia, ke tiga menyeru manusia untuk melakukan keburukan, dan yang ke empat menyeru manusia untuk melakukan kebaikan.
تحليل تعليم اللغة العربية في مدرسة روضة الجنة العالية الإسلامية باياكمبوه
عماد بسيل الربي، 2025، تحليل تعليم اللغة العربية في مدرسة روضة الجنة العالية الإسلامية باياكمبوه، قسم التربية اللغة العربية، كلية التربية، الجامعة دار القرآن باياكمبوه. الدافع وراء هذا البحث هو أهمية دور اللغة العربية كلغة دينية وعالمية غنية بالقيم التاريخية والروحية. اللغة العربية هي إحدى المواد التي يتم تدريسها في مدرسة روضة الجنة العالية الإسلامية باياكمبوه على الرغم من أنها ليست مدرجة ضمن المواد التخصصية كما هو الحال في المدرسة. ومع ذلك فقد تمكنت هذه المدرسة من تحقيق إنجازات استثنائية في مجال اللغة العربية، وخاصة في أولمبياد اللغة العربية بدءًا من مستوى المدينة إلى المستوى الوطني. تهدف هذه الدراسة إلى: أولاً، وصف التخطيط لتعليم اللغة العربية في مدرسة روضة الجنة العالية الإسلامية باياكمبوه. ثانيًا: شرح تطبيق تعليم اللغة العربية في مدرسة روضة الجنة العالية الإسلامية باياكمبوه في باياكومبوه. ثالثًا: الكشف عن وتقويم تعليم اللغة العربية في مدرسة روضة الجنة العالية الإسلامية باياكمبوه. يستخدم هذا البحث المنهج الوصفي الكيفي بنوع دراسة الحالة. مع تقنيات جمع البيانات من خلال الملاحظة والمقابلات والتوثيق. وفي تحليل البيانات، استخدام الباحث في تحليل البيانات نظرية مايلز وهيبرمن من خلال اختزال البيانات، وعرض البيانات، واستخلاص النتائج. وللتحقق من صحة البيانات، استخدام الباحث نظرية التثليث ومناقشة الأقران. أظهرت النتائج أن عملية تعليم اللغة العربية في مدرسة روضة الجنة العالية الإسلامية باياكمبوه تتكون من: أولًا: أن المدرسة تتوفر فيها جميع مقومات التعليم، والمعلم الذين يتمتعون بالكفاءة، والطلاب المتنوعون، والأهداف التي تتماشى مع القيم الدينية، والمادة الرئيسة من المركز، والمادة الإضافية التي يعدها المعلم، والأساليب المرنة، والمرافق الملائمة لدعم التعليم، والتقويم المستمر التكويني والختامي من المعرفي والوجداني والحركي النفسي للطلاب. ثانيًا، في مرحلة التخطيط، يخطط المعلم في مرحلة التخطيط من خلال مراعاة عدة عناصر، بما في ذلك القدرات المتنوعة للطلاب، والمنهج المستخدم كمرجع. يقوم المعلم دائمًا بالوفاء بالالتزامات الإدارية من خلال استكمال أدوات التعليم مثل الوحدات التعليمية. ثالثًا، في تنفيذ تعليم اللغة العربية هناك 3 أنشطة رئيسية، تشمل الأنشطة الافتتاحية تهيئة الطلاب نفسيًا وبدنيًا للمشاركة في التعليم. وتشمل الأنشطة الأساسية عرض المواد من قبل المعلم، وإدارة الصف، والتقويم التكويني. الأنشطة الختامية، وتشمل التأمل في التعليم، وتلخيص المادة التي تم تعليمها، ولا يعطي المعلم واجبات منزلية مراعاة لوقت تعليم الطالب. رابعًا: في التقويم، يقوم المعلم بنوعين من التقويم، وهما التكويني والتلخيصي، وهما يتعلقان بمهارات الطلاب المعرفية والوجدانية والنفسية الحركية. وتشير النتائج التي توصلت إليها هذه الدراسة إلى أنه من خلال عملية تعليم اللغة العربية هذه، يمكنهم الفوز بالبطولات على مستوى المدينة إلى الأولمبياد على المستوى الوطني.