BookOpen AccessPDF tersedia
2024•Koleksi Perpustakaan
Sejarah dan dasar pelaksanaan bubur Asyura merupakan inisiatif ibu-ibu yang ada diwilayah pondok pesantren pada tanggal 10 muharram, kemudian setelah pondok pesantren Darul Ulum Muara Mais berkembang dan santrinya semakin banyak, maka kegiatan ini dilaksanakan di pondok pesantren Darul Ulum Muara Mais yang didasari dalam Q.S at-Taubat ayat 36 bahwasanya ada 4 bulan mulia di antaranya bulan Muharram. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), berupa kajian Living Qur’an dengan metode deskriptif melalui pendekatan living qur’an. Penelitian dilakukan di Pondok Pesantren Darul Ulum Muara Mais Kecamatan Tambangan kabupaten Mandailing Natal. Proses pelaksanaanya, sebelum tanggal ke 10 Muharram para santri mengumpulkan peralatan dan bahan-bahan untuk memasak Bubur Asyura. Kedua, ditanggal 10 Muharram para santri memasaknya, mulai dari pemotongan bahan-bahan hingga penyajian Bubur untuk di jadikan buka puasa. Pada bulan ini umat Islam berlomba-lomba melakukan kebaikan, diantaranya melakukan puasa dan pelaksanaan Bubur Asyura ini merupakan kegiatan yang menimbulkan rasa silaturahmi yang semakin erat, kerjasama dalam gotong royong, saling berbagi dan akan dijadikan bukaan puasa pada hari Asyura. Pemahaman santri terhadap tradisi ini adalah memuliakan bulan Muharram karna dianjurkan puasa sunnah dihari Asyura. Sedangkan penafsiran ayat dasar dijadikannya Bubur Asyura sebagai bulan yang dimuliakan Allah, maka tradisi ini sesuai dengan ayat Al-qur’an .
BookOpen AccessPDF tersedia
2024•Koleksi Perpustakaan
ABSTRAK
Skripsi dengan judul “Tradisi Bubur Asyura di Pondok Pesantren
Darul Ulum Muara Mais Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing
Natal ( Kajian Living Qur’an)” yang disusun oleh Nirma Fadilah NST NIRM
S1.VI.19.20.180, Prodi Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Sekolah Tinggi Agama
Islam Darul Al-Qur’an (STAIDA) Payakumbuh.
Yang melatar belakangi skripsi ini adalah tentang adanya keunikan dalam
pelaksanan memasak Bubur Asyura pada setiap tahunnya di pondok pesantren
Darul Ulum Muara Mais, bila dibandingkan dengan pondok pesantren lain tradisi
ini sudah mulai menghilang dan sudah jarang didapatkan dikalangan masyarakat,
maka hal inilah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian di Pondok
Pesantrren tersebut. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk megetahui sejarah
dan dasar pelaksanaan memasakan Bubur Asyura di pondok pesantren Darul
Ulum Muara Mais. Selanjutnya untuk mengetahui bagaimana proses Tradisi
pelaksanaan Bubur Asyura di pondok pesantren Darul Ulum Muara Mais serta
untuk mengetahui bagaimana pemahaman santri dan penafsiran ayat Q.S atTaubah ayat 36 sebagai dasar tradisi pelaksanaan Bubur Asyura.
Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), berupa kajian
Living Qur’an dengan metode deskriptif kualitatif melalui pendekatan living
qur’an. Penelitian dilakukan di Pondok Pesantren Darul Ulum Muara Mais
Kecamatan Tambangan kabupaten Mandailing Natal. Dalam pengumpulan data,
penulis menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Selanjutnya,
dalam menganalisis data penulis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Penelitian ini menemukan bahwa sejarah dan dasar pelaksanaan Bubur
Asyura ini adalah merupakan pemikiran ibu-ibu yang ada diwilayah pondok
pesantren tersebut. Namun setelah berkembangnya pondok pesantren pada tahun
1998 tradisi ini sudah mulai dilakukan di pondok pesantren yang diikuti oleh para
santri. Dasar pelaksanaan Bubur Asyura terdapat dalam Q.S at-Taubah ayat 36,
tentang jumlah bulan disisi Allah adalah 12 bulan disisi Allah adaah 12 bulan
diantaranya 4 bulan mulia salah satunya bulan Muharram. Pada bulan ini umat
Islam berlomba-lomba melakukan kebaikan, diantaranya melakukan puasa dan
pelaksanaan Bubur Asyura ini merupakan kegiatan yang menimbulkan rasa
silaturahmi yang semakin erat, kerjasama dalam gotong royong, saling berbagi
dan akan dijadikan bukaan puasa pada hari Asyura. Proses pelaksanaanya,
pertama sebelum tanggal ke 10 Muharram para santri mengumpulkan peralatan
dan bahan-bahan untuk memasak Bubur Asyura. Kedua, ditanggal 10 Muharram
para santri memasak Asyura, mulai dari pemotongan bahan-bahannya hingga
penyajian makanan untuk di jadikan buka puasa
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Skripsi dengan judul “Tradisi Bubur Asyura di Pondok Pesantren
Darul Ulum Muara Mais Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing
Natal ( Kajian Living Qur’an)” yang disusun oleh Nirma Fadilah NST NIRM
S1.VI.19.20.180, Prodi Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Sekolah Tinggi Agama
Islam Darul Al-Qur’an (STAIDA) Payakumbuh.
Yang melatar belakangi skripsi ini adalah tentang adanya keunikan dalam
pelaksanan memasak Bubur Asyura pada setiap tahunnya di pondok pesantren
Darul Ulum Muara Mais, bila dibandingkan dengan pondok pesantren lain tradisi
ini sudah mulai menghilang dan sudah jarang didapatkan dikalangan masyarakat,
maka hal inilah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian di Pondok
Pesantrren tersebut. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk megetahui sejarah
dan dasar pelaksanaan memasakan Bubur Asyura di pondok pesantren Darul
Ulum Muara Mais. Selanjutnya untuk mengetahui bagaimana proses Tradisi
pelaksanaan Bubur Asyura di pondok pesantren Darul Ulum Muara Mais serta
untuk mengetahui bagaimana pemahaman santri dan penafsiran ayat Q.S atTaubah ayat 36 sebagai dasar tradisi pelaksanaan Bubur Asyura.
Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), berupa kajian
Living Qur’an dengan metode deskriptif kualitatif melalui pendekatan living
qur’an. Penelitian dilakukan di Pondok Pesantren Darul Ulum Muara Mais
Kecamatan Tambangan kabupaten Mandailing Natal. Dalam pengumpulan data,
penulis menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Selanjutnya,
dalam menganalisis data penulis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Penelitian ini menemukan bahwa sejarah dan dasar pelaksanaan Bubur
Asyura ini adalah merupakan pemikiran ibu-ibu yang ada diwilayah pondok
pesantren tersebut. Namun setelah berkembangnya pondok pesantren pada tahun
1998 tradisi ini sudah mulai dilakukan di pondok pesantren yang diikuti oleh para
santri. Dasar pelaksanaan Bubur Asyura terdapat dalam Q.S at-Taubah ayat 36,
tentang jumlah bulan disisi Allah adalah 12 bulan disisi Allah adaah 12 bulan
diantaranya 4 bulan mulia salah satunya bulan Muharram. Pada bulan ini umat
Islam berlomba-lomba melakukan kebaikan, diantaranya melakukan puasa dan
pelaksanaan Bubur Asyura ini merupakan kegiatan yang menimbulkan rasa
silaturahmi yang semakin erat, kerjasama dalam gotong royong, saling berbagi
dan akan dijadikan bukaan puasa pada hari Asyura. Proses pelaksanaanya,
pertama sebelum tanggal ke 10 Muharram para santri mengumpulkan peralatan
dan bahan-bahan untuk memasak Bubur Asyura. Kedua, ditanggal 10 Muharram
para santri memasak Asyura, mulai dari pemotongan bahan-bahannya hingga
penyajian makanan untuk di jadikan buka puasa