ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini berjudul “Penafsiran Sholat Wustha Dalam Surah Al-Baqarah ayat 238 (Studi Komparatif Tafsir Al-Qurtubi dan Al-Mishbah)”, yang ditulis oleh Gitra Yono NIRM S1.VI.19.20.160, Mahasiswa Institut Darul Quran Payakumbuh. Latar belakang dari penelitian ini adalah lafadz shalat Wustha menjadi salah satu istilah yang diperdebatkan banyak ulama karena shalat wustha tidak dijelaskan secara gamblang dalam hukum Islam sehingga menimbulkan beberapa perbedaan para ulama dalam mengartikan pengertian shalat wustha. Dalam Al-Quran kata shalat wustha disebutkan sekali dalam Surah Al-Baqarah ayat 238 dan tidak ada penjelasan secara rinci mengenai apa itu shalat wustha ataupun kapan waktu yang paling tepat untuk dilaksanakan. Salah satu jalan yang bisa diambil dalam menentukan pengertian shalat wustha adalah ijtihad ulama dengan berbagai sumber hukum agama Islam sebagai pertimbangan seperti Al-Quran dan Hadits dan lain sebagainya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penfasiran Al-Qurtubi dan M. Quraish Shihab dalam memaknai sholat wustha dalam surah al-baqarah ayat 238. kemudian menganalisis perbedaan penafsiran antara kedua mufassir. Penelitian ini dilakukan menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research) dengan metode analisis-deskriptif. Data penelitian ini diambil dari beberapa sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer pada penelitian ini adalah kitab tafsir Al-Qurtubi atau dikenal juga “Al-jami` li ahkam al-quran” karya Imam Al-Qurtubi dan kitab tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan, dan keserasian Al-Quran karya M. Quraish Shihab. Sedangkan data sekunder dalam penelitian ini berupa jurnal, artikel, buku, skripsi yang berkaitan dengan tema penelitian. Adapun metode yang penulis gunakan dalam menganailisis data adalah metode muqaran, yaitu membandingkan antara penafsiran mufasir yang satu dengan yang lainnya. Hasil dari penelitian ini bahwa kedua mufasir berbeda dalam menafsirkan kata Sholat Wustha. Imam Al-Qurtubi berpendapat bahwa yang dimaksud Sholat Wustha ialah Sholat Ashar berdasarkan hadis dari Ali Bin Abi Thalib yang diriwiyatkan oleh muslim yang dinilai paling shahih. Berbeda dengan Al-Qurtubi, M. Quraish Shihab berpandangan bahwa Sholat wustha merujuk pada sholat maghrib. dikarenakan menurut M. Quraish Shihab jika dilihat dari jumlah rakaat yaitu tiga rakaat dan waktu permulaan ibadah salat wajib dalam sehari yang diawali dari salat Zuhur, juga melihat dari segi periwayatan hadits yang mengindikasikan shalat Maghrib dan segi sosial-budaya masyarakat Indonesia yang cenderung memuliakan ibadah shalat Maghrib serta sebagai shalat yang paling utama untuk dilaksanakan bagi umat Islam.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Judul skripsi ini yaitu: “PENAFSIRAN LA’NAT DALAM Q.S AL-BAQARAH AYAT 141 (STUDI MUQARAN TAFSIR ATH-THABARI DAN TAFSIR AL-QURTHUBI)”. yang ditulis oleh Dede Febriani, Nirm S1.VI.19.20.148, Mahasiswa STAI Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini didasari oleh kenyataan bahwa manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan hubungan baik dengan orang lain, namun sering terjadi konflik di masyarakat. Salah satunya adalah kecenderungan melaknat orang yang tidak disukai atau sedang berkonflik, tanpa memandang siapa yang dila’nat. Dalam Islam, melaknat mukmin adalah dosa besar, namun banyak orang salah paham dan menganggap la’nat sebagai makian atau ungkapan marah. Kemudian penulis ingin menganalisa kedua Tafsir Ath-Thabari dan Tafsir Al-Qurthubi karena dua tafsir tersebut berpengaruh yang menawarkan perspektif berbeda tentang ayat ini. Ath-Thabari menggunakan pendekatan historis dan analitis, sedangkan Al-Qurthubi menggunakan pendekatan fiqhiyah dan menyertakan banyak pendapat ulama. Penelitian ini mengeksplorasi makna la’nat dan implikasinya melalui kedua tafsir tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan dan mengungkap penafsiran la’nat dalam kitab tafsir Ath-Thabari dan kitab tafsir Al-Qurthubi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data diperoleh melalui studi pustaka dengan mengacu pada Tafsir Ath-Thabari dan Tafsir Al-Qurthubi sebagai sumber utama. Analisis dilakukan dengan membandingkan interpretasi kedua tafsir tersebut terhadap ayat yang diteliti, serta mempertimbangkan konteks historis dan metodologis masing-masing mufasir. Berdasarkan hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa penafsiran la’nat dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 161 kitab tafsir Ath-Thabari dan kitab tafsir Ath-Thabari saling melengkapi satu sama lain, Menurut Imam Ath-Thabari, menjelaskan bahwa penafsiran la’nat dari allah merupakan hukuman allah yang berbentuk dijauhkan dari rahmat allah, Menurut Imam Al-Qurthubi, menjelaskan bahwa penafsiran la’nat dari allah merupakan bentuk hukuman yang berupa kutukan dalam konsekuensi yang sangat berat dan pedih. Dan la’nat dari Malaikat dan manusia adalah sebagai bentuk do’a ataupun perkataan. Analisa penulis mengemukakan bahwa bentuk dari la’nat allah itu adalah hukuman dan bentuk dari doa karena merasa benci. Sementara perbedaan anatara kedua mufassir tersebut yaitu imam Ath-Thabari menjelaskan la’nat bentuk hukuman yang allah jauhkan dari rahmat dan keberkahannya, Sedangkan Imam Al-Qurthubi menafsirkan lanat bentuk kutukan dari allah dalam perbuatan yang sangat buruk yangdilakukan oleh manusia. Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam bidang studi Al-Qur'an dan membantu umat Islam dalam memahami pesan-pesan Allah secara lebih mendalam.