ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini berjudul “Menyantuni Anak Yatim dan Orang Miskin dalam Perspektif Tafsir Al-Azhar” yang ditulis oleh Nurul Hafizah NIRM.S1.VI.10.20.182, Mahasiswa Institut Darul Qur’an. Al-Qur’an merupakan kitab suci yang di dalamnya terdapat segala kebenaran dan dijadikan sebagai pedoman bagi umat manusia di seluruh dunia. Al- Qur’an juga didalamnya terdapat berbagai ilmu tentang keislaman yang dapat menuntun dan mendorong pemeluknya untuk mempelajari dan juga mengerjakan sebagai tindakan sosial. Manusia sebagai makhluk sosial memerlukan interasksi sosial dengan manusia yang lainnya. Interaksi sosial ini bukan hanya menjalin hubungan dengan lingkungan masyarakat tetapi juga diperlukan sikap untuk saling tolong menolong, saling membantu, tanpa melihat strata sosialnya. Di dalam Al- Qur’an dijelaskan bahwa kita diharuskan untuk saling tolong menolong terhadap sesama. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh Manusia sebagai makhluk sosial memerlukan interasksi sosial dengan manusia yang lainnya. Interaksi sosial ini bukan hanya menjalin hubungan dengan lingkungan masyarakat tetapi juga diperlukan sikap untuk saling tolong menolong, saling membantu, tanpa melihat strata sosialnya. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa kita diharuskan untuk saling tolong menolong terhadap sesama. Dalam hal ini salah satu contoh mewujudkan hubungan yang baik antar sesama mahkluk hidup yaitu menyatuni anak yatim dan orang miskin Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan ketode tafsir maudhu’I Abd Hayy al-Farmawi yakni menentukan tema yang akan dibahas lalu mengumpulkan ayat sesuai dengan tema yang dibahas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tentang menyantuni anak yatim dan orang miskin dalam Tafsir Al-Azhar. Sumber data penelitian terbagi dua, sumber data primer yaitu tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka. Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal, artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Penelitian ini menemukan bahwa ayat yang membahas tentang anak yatim dan orang miskin berjumlah 45 ayat. Ayat yang berkaitan dengan menyantuni anak yatim 17 ayat dan yang berkaitan dengan menyantuni orang miskin 20 ayat. Ayat yang beriringan kata yatim dan miskin ada 8 ayat. Menyantuni anak yatim dan orang miskin terbagi menjadi dua bagian yaitu yang pertama memberi bantuan diantaranya yaitu membayar fidyah, memberi harta yang dicintai, memberi infak, memberi sedekah, memberi zakat, memberi rezeki anak yatim dan orang miskin yang hadir dalam pembagian harta warisan, pembagian ghanimah dan fa’i, memberi makanan dan membayar kafarat. Kedua yaitu berbuat baik diantaranya menjaga dan mengelola harta anak yatim, mengajak orang lain untuk memberi dan membantu, memuliakan anak yatim,tidak sewenang-wenang kepada anak yatim, dan tidak menghardik anak yatim.
BookOpen AccessPDF tersedia
2024•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena angka pernikahan
yang semakin menurun di Indonesia dan sekitar 400.000 kasus perceraian
terjadi setiap tahunnya. Ini menunjukkan ada yang salah dalam proses
pencarian pasangan. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka
(Library research) dengan metode tafsir maudhu’i Abdul Hayy AlFarmawi. Sumber data utama dalam penelitian ini yaitu kitab tafsir AlAzhar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui klasifikasi ayat tentang kriteria memilih pasangan hidup serta penafsirannya menurut Hamka
dalam kitab Tafsir Al-Azhar. Hasil dari penelitian ini adalah berdasarkan
lafadz “zawaja”, terdapat 13 ayat diantaranya Az-zukhruf:12, Az-zumar:6,
An-nahl:72, Ar-ruum:21, Faatiir:11, Asy-syura:11, An-naba’:8, An-nisa:1,
Az-zariyat:49, An-najm:45, Al:qiyamah:39, Yaa-siin:36 dan Albaqarah:221. Dari penafsiran ayat tersebut terdapat 4 kriteria memilih
pasangan hidup;pertama seiman. Ditegaskan larangan menikahi laki-laki
musyrik atau perempuan musyrik, kecuali kemudian mereka beriman.
Namun pada ayat lain (Qs. Al-Maidah:5) dijelaskan laki-laki beriman boleh
menikahi perempuan musyrik (ahlul kitab) yaitu Yahudi dan Nasrani, orang
yang beragama lain seperti Kristen, Hindu, Budha dan lain-lain tidak bisa
digolongkan ke dalam Ahli Kitab. Maka dari itu menikahi Ahli Kitab sudah
tidak relevan lagi dizaman sekarang. Kedua bertaqwa, Ketiga sesama
manusia., keempat, berpasangan. Allah menciptakan semuanya
berpasangan (manusia, tanaman, hewan, alam dan lain-lain). Allah
menciptakan manusia berpasangan laki-laki dan perempuan agar
berkembangnya manusia dimuka bumi.
BookOpen AccessPDF tersedia
2024•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini dilatar belakangi oleh berbagai macam penyebutan manusia dalam Al-Qur'an yaitu
Basyar, Al-Ins, An-Nas, Bani Adam dan Al-Insan. Namun, penulis menemukan hal menarik dalam
penyebutan manusia yang terdapat dalam Al-Qur'an, terutama dalam Qs. Al-Ma'arij ayat 19 yaitu
menyebutkan tentang sifat atau karakter manusia terutama yang berkaitan dengan Al-Insan.
Kemudian penulis ingin menganalisis dari kedua pendapat mufassir tersebut. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengungkap bagaimana penafsiran Qs. Al-Ma'arij ayat 19 menurut Tafsir Al-Azhar
karya Hamka dan Tafsir Al-Munir karya Wahbah Az-Zuhaili serta analisis penulis dari kedua mufassir.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penafsiran Qs. Al-Ma'arij ayat 19 menurut Hamka bahwa
manusia selalu berkeluh kesah dalam keadaan apapun. Sedangkan Wahbah Az-Zuhaili bahwa manusia
itu sangat berkeluh kesah yang disebabkan oleh munculnya situasi atau kondisi yang berakibat keluh
kesah itu muncul. Analisis penulis, keduanya mengemukakan bahwa manusia diciptakan dari sifat
keluh kesah. Kedua mufassir ini memiliki perbedaan penafsiran, akan tetapi guru kedua mufassir ini
sama-sama Mahmud Syaltut. Namun, kedua mufassir ini mempunyai corak yang berbeda dalam
menulis kitab tafsir yaitu Hamka memakai corak Adabi al-Ijtima'i sedangkan Wahbah Az-Zuhaili
memakai corak fiqih
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Judul skripsi ini adalah “Adab Panggilan Kepada Rasulullah SAW Dalam Tafsir Al-Azhar” ditulis oleh: Ummi Sakinah, Nirm: S1.VI.19.19.526. Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Qur’an (STAIDA) Payakumbuh. Adapun yang melatar belakangi penelitian ini adanya penyimpangan adab kepada Rasulullah SAW, mulai dari non muslim yang mengatakan Rasulullah tidak obahnya bagaikan anjing, Nabi bodoh yang tidak pandai membaca yang pasti pengikutnya lebih bodoh, ada juga dari komika muslim yang menganggap remeh nama Rasulullah SAW, bahkan dari ulama ada juga mengatakan tidak pantasnya kata sayyid (pemimpin) di sandarkan kepada Rasul. Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library Research), deskriptif dengan pendekatan metode tafsir tahlili. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui deskripsi ayat-ayat tentang adab kepada Rasul dalam Al-Quran dan untuk mengetahui bagaimana penafsiran Buya Hamka tentang Adab kepada Rasul dalam Tafsir Al-Azhar dan apa kegunaan mempelajari adab kepada Rasul untuk zaman sekarang. Kerna penulis menganggap adab itu sangat penting untuk diketahui meskipun terhadap hal-hal yang dianggap kecil, baik dalam berbicara, perbuatan, tingkah laku, dan berbedanya keadaan tempat dan waktu akan berbeda juga adab yang seharusnya diperbuat ketika itu. Adapun penelitian ini, bersumber dari data primer dan data sekunder. Primer yaitu yang diperoleh dari literatur yang berkaitan langsung dengan judul ini yakni Kitab Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka. Adapun data sekundernya yaitu buku-buku, jurnal, artikel, skripsi dan tulisan yang mengandung isi dari pembahasan. Analisis data dilakukan secara deskriptif analisis yaitu memberikan deskripsi-deskripsi analisa terhadap objek penelitian dari data yang berhasil dikumpulkan untuk kemudian ditarik kesimpulan. Hasil dari penelitian ini setelah menganalisa penafsiran Buya Hamka penulis menyimpulkan pertama, ayat adab dari kata Rasul hanya 4 ayat sebagai berikut: Surah An-Nur ayat 63, Surah Al-Hujurat ayat 3, Surah Al-Mujadalah ayat 9 dan juga Surah Al-Mujadalah ayat 12. Dan dari 4 ayat adab kepada Rasul hanya 1 ayat yang penulis bahas yaitu: Surah An-Nur ayat 63. Dua, bahwa adab kepada Rasul antara lain tidak boleh menyebut nama Rasul tanpa gelar kehormatan di awalnya, seperti dalan banyak kitab tafsir Ya Nabi, Ya Rasul dan dalam tafsir buya Hamka dengan menambah kata Sayyid, penambahan kata sayyid hanya didapati dalam tafsir Buya Hamka. Tiga, adab panggilan kepada Rasul juga bisa di terapkan kepada ulama dengan menyebut buya, kepada guru dengan panggilan ustadz/ustadzah dan kepada orangtua dengan panggilan umak/ayah yang biasa penulis ucapkan.