Profil penulis
Ali
153 karya publik ditemukan.
Terjemahan Al-Balaaghatul Waadhihah
Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam (Jilid 1)
Actualization (Taf’il) of the Higher Purposes (Maqasid) of Shari’ah
The higher purposes, or maqasid, of Shariah are applied and actualized (taf`il) through their means (wasa’il). This paper begins with the definition and meaning of maqasid and proceeds to ascertain three discernible tendencies regarding their scope: reductionist, expansionist, and the moderate approach of wasatiyyah/i’tidal. It addresses the question as to whether the maqasid may be recognized as a proof or source of Shariah in its own right. Can one, in other words, extract a ruling (hukm) of Shariah directly from the maqasid, or should one always follow the usul al-fiqh approach? Responding to these questions would help the reader to know more clearly what to expect of the maqasid. We often speak of the maqasid but when it comes to actual practice, we apply the fiqh rules. Can one just ignore the latter and refer directly to maqasid? The work explores the relationship of maqasid to the Qur’an and hadith, and to usul al-fiqh respectively. It also ascertains the roles respectively of the human intellect (‘aql) and innate human nature (fitrah) in the identification of maqasid. The author reviews the means and actualization of maqasid and elucidates this subject through several illustrations and a set of actionable recommendations.
The Cherry Tree that Survived the Bomb / Il ciliegio che sopravvisse alla bomba
Un progetto Lavinia Dickinson Editore. Edizione bilingue inglese-italiano. Le armi nucleari hanno preso in ostaggio il futuro del mondo. Dopo Hiroshima e Nagasaki, si è parlato in ogni sede istituzionale della loro non proliferazione o abolizione, ma contemporaneamente sono stati prodotti altri cinquantamila ordigni atomici, sempre più piccoli, efficienti e devastanti. I testimoni di Hiroshima e Nagasaki – che in giapponese si chiamano Hibakusha – dovrebbero essere una guida per l'umanità dell'era dell'atomo, ma il loro ammonimento, il loro insegnamento restano spesso inascoltati. Il ciliegio che sopravvisse alla bomba è poesia che si ispira alle loro vicende e alle loro voci. Invita il lettore a ricordare i martiri, ma anche ad abbandonare il sentimento di rassegnazione verso la condizione di assoluta precarietà in cui si trova l'umanità a causa degli arsenali nucleari. È tempo che ognuno di noi levi la sua voce per chiedere a chi ci governa di allontanarci dall'orlo dell'estinzione su cui ci troviamo oggi, attraverso la proibizione e l'eliminazione delle armi nucleari.
An-nahwu Al-wadhih
Quran Alive Nahwu Textbook
Ilmu tajwid lengkap
Ilmu tajwid al-Qur'an
Belajar Cepat Ilmu Tajwid
Allah SWT memerintahkan kita untuk membaca Al Quran dengan baik dan benar. Tidak hanya asal membaca, tetapi harus benar kaidah bacaan atau hukum-hukum tajwidnya. Allah SWT berfirman: “…. dan bacalah Al Quran itu dengan tartil.” (QS. Al Muzzammil: 4) Belajar ilmu tajwid bagi seorang muslim hukumnya fardhu kifayah. Artinya, dalam suatu daerah minimal harus ada satu orang yang belajar ilmu tajwid. Jika tidak, maka semua penduduk di daerah tersebut akan berdosa. Sedangkan menggunakan atau menerapkan ilmu tajwid ketika membaca Al Quran hukumnya adalah fardhu ain. Artinya, setiap orang yang membaca Al Quran wajib menggunakan kaidah-kaidah ilmu tajwid. Buku ini mengulas cara belajar cepat ilmu tajwid dengan mudah dan praktis. Dalam buku dari Wahyu Qolbu ini diulas antara lain: 1. Huruf hijaiyah & Makhroj Huruf 2. Hukum Nun Mati, Tanwin, Mim, & Nun Bertasydid 3. Hukum Alif Lam, Ra, Mim Sukun, & Mad 4. Macam-macam Idgham, Qolqolah, Washal, & Waqaf 5. Cara Membaca Ta’awudz, Basmallah, Surat, & lain-lain
Thalatha rasa'il fi i`jaz al-Qur'an
Hawla i'jaz al-Qur'an
Metodologi Studi AlQuran
"Semua umat beragama yang mendasarkan diri pada kitab suci sangat rentan terhadap kecenderungan untuk menempatkan teks dalam kedudukan yang begitu tinggi, hingga mengalahkan kenyataan hidup manusia yang terus berubah. ""Rezim teks"" akan selalu menjadi bayangbayang yang terus menghantui masyarakat pengagung kitab suci. Wujud modern dari kecenderungan itu adalah fundamentalisme dengan pemahaman agama yang bersifat literalis-skripturalistik dan bibliolatrik. Karena supremasi teks yang berlebihan, dimensi manusia (ghayab al-insan) hilang dari modus keberagamaan, dengan akibat pengasingan manusia dari pengalaman spiritualnya sendiri. Dalam konteks seperti itu, diperlukan pandangan yang lebih seimbang tentang teks wahyu yang hidup dalam konteks yang nyata, di mana masyarakat terlibat aktif dalam pemaknaan teks itu. Diperlukan metodologi yang menempatkan pengalaman manusia dan wahyu sebagai dua hal yang saling mengandaikan, tidak bisa dipisahkan, dan diperlakukan sebagai sesuatu yang memiliki status epistemologis yang sama dalam tindakan penafsiran. Buku ini adalah upaya untuk mencapai itu, yang tak pelak akan mendinamisasi cara kita memahami pesan kitab suci."