Profil penulis
E
588 karya publik ditemukan.
Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed
Tafsir al-Ayat al-Kawniyyah fi al-Qur'an al-Karim.
Tafsir al-Ayat al-Kawniyyah fi al-Qur'an al-Karim
Sejarah Islam di Nusantara.
Sejarah Islam di Nusantara
Peranan Ayah dalam Keluarga Menurut QS. Al-Baqoroh Ayat 233 dalam Tafsir Al-Munir
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya reposisi peranan ayah dalam institusi keluarga guna menjawab stigma domestik yang sering kali mereduksi fungsi ayah hanya pada mencari nafkah. Ayah sebagai pemimpin memiliki tanggung jawab strategis dalam membentuk karakter serta spiritualitas generasi. Batasan masalah dalam penelitian ini difokuskan pada analisis peran edukatif dan spiritual ayah sebagaimana digambarkan dalam lingkup QS. Āl-Baqarah ayat 233, dengan rumusan masalah yang mengkaji penafsiran mufasir terhadap ayat tersebut serta bagaimana manifestasi peran ayah dalam mewujudkan konsep Keluarga Rabbānī. (keluarga yang dekat dengan nilai-nilai agama) berdasarkan pesan-pesan dalam QS. Āl-Baqarah ayat 233 dengan menggunakan metode tafsir Taḥlīlī." Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (Library Research) dengan metode deskriptif kualitatif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan tarbawi (pendidikan), yaitu mengkaji ayat-ayat Al-Qur'an mengenai peran ayah dalam pendidikan keluarga pada QS. Āl-Baqarah ayat 233. Dalam mengolah data, saya menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sumber data primer dalam penelitian Tafsir Al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili. Sedangkan sumber data sekunder diambil dari buku-buku, jurnal, dan skripsi yang relevan. Adapun metode analisis yang digunakan adalah metode Taḥlīlī, yaitu menjelaskan makna ayat secara rinci dan mendalam. Metode ini dipilih agar pesan tentang peran ayah sebagai penanggung jawab atas keluarga dalam QS. Al-Baqarah ayat 233 dapat terungkap secara utuh dan jelas." Penelitian menemukan bahwa QS. Al-Baqarah memberikan prototipe nyata mengenai peran ayah dalam merancang masa depan generasi melalui kekuatan visi spiritual yang tertuang dalam bentuk tanggung jawab, penanaman nilai independensi batin atau muḥarraran, serta pengelolaan lingkungan edukasi yang positif di dalam institusi keluarga. Melalui analisis ini, dapat disimpulkan bahwa keluarag yang baik dan harmonis terwujud melalui sinergi antara kesalehan orang tua dan ekosistem pendidikan yang terjaga. Hal ini membuktikan bahwa peran ayah melampaui batas domestik karena mencakup kepemimpinan spiritual yang menjadi penentu kualitas generasi umat di masa depan
Pengantar Pengembangan Kurikulum.
Pengantar Pengembangan Kurikulum
تأثير طريقة (Make a Match) على ميول تعلم اللغة العربية لدى طلاب الصف الثامن بمدرسة المتوسطة القرآن الزمريّة لمابولوه كوتا
فيري فرناندا. 2026. "تأثير طريقة (Make a Match) على ميول تعلم اللغة العربية لدى طلاب الصف الثامن بمدرسة المتوسطة القرآن الزمريّة لمابولوه كوتا"، رسالة علمية. قسم تعليم اللغة العربية، كلية التربية، جامعة دار القرآن باياكمبوه. تستند هذه الدراسة إلى انخفاض اهتمام الطلاب بتعلم اللغة العربية، وهو ما يتجلى في قلة الانتباه والمشاركة والحماس أثناء الحصص الدراسية. وتهدف هذه الدراسة إلى معرفة تطبيق طريقة (Make a Match)، وفعالية هذه الطريقة، وتأثيرها على ميول تعلم اللغة العربية لدى طلاب الصف الثامن بمدرسة المتوسطة القرآن الزمريّة لمابولوه كوتا. استخدم هذا البحث نهجًا كميًّا من نوع البحث شبه التجريبي بتصميم (اختبار لاحق فقط مع مجموعة مراقبة غير متكافئة). وبلغ عدد عينة البحث 38 طالبًا، تتألف من 24 طالبًا في الفصل التجريبي و14 طالبًا في الفصل المراقبة، تم اختيارهم باستخدام تقنية (الاختيار الهادف). وتشمل تقنيات جمع البيانات الملاحظة والمقابلات والاستبيانات والتوثيق. أما أداة البحث فهي استبيان اهتمامات التعلم الذي تم اختبار صحة وموثوقيته. وأُجري تحليل البيانات باستخدام الإحصاء الوصفي واختبار التوزيع الطبيعي واختبار التجانس واختبار الفرضية باستخدام اختبار t للعينات المستقلة. أظهرت نتائج البحث أن طريقة (Make a Match) تُطبق من خلال نشاط مطابقة بطاقات الأسئلة والأجوبة، مما يخلق عملية تعليمية نشطة وتفاعلية وممتعة. وأظهرت نتائج التحليل الوصفي أن متوسط الاهتمام بالتعلم في الفصل التجريبي بلغ 88,71، بينما بلغ في الفصل الضابط 60,64. وأظهر اختبار التوزيع الطبيعي أن البيانات تتبع توزيعًا طبيعيًا (Sig. 0,122 و0,673)، بينما أظهر اختبار التجانس أن التباين في المجموعتين متجانس (Sig. 0,190). وأسفر اختبار الفرضية باستخدام اختبار t للعينات المستقلة عن قيمة Sig. (ثنائية الذيل) 0,001 ( 0,05)، وبالتالي تم رفض H₀ وقبول H₁. وبناءً على ذلك، يمكن استنتاج أن طريقة (Make a Match) لها تأثير إيجابي وذو دلالة إحصائية على ميول تعلم اللغة العربية لدى طلاب الصف الثامن بمدرسة المتوسطة القرآن الزمريّة لمابولوه كوتا.
Pernikahan Beda Agama dalam Penafsiran Q.S Al-Baqarah Ayat 221
Skripsi ini berjudul ‘’PERNIKAHAN BEDA AGAMA DALAM PENAFSIRAN Q.S AL-BAQARAH AYAT 221’’ yang ditulis oleh Laura Alena NIRM 2219002, Mahasiswa Institut Darul Qur’an Payakmbuh. Latar Belakang penelitian ini di karenakan meningkatnya angka Fenomena Pernikahan Beda Agama di Indonesia, Karena Perbedaan agama tidak lagi selalu menjadi penghalang dalam memilih pasangan hidup. Banyak pasangan beranggapan bahwa keharmonisan rumah tangga lebih ditentukan oleh rasa saling mencintai, komunikasi yang baik, dan kesamaan tujuan hidup daripada kesamaan agama. Namun Beda Agama yang di maksud dalam penelitian ini terbagi atas dua golongan, yaitu ahl kitab dan musyrik. Tetapi penelitian ini lebih berfokus ke Q.S Al-Baqarah ayat 221, yang mana inti dari ayat tersebut memiliki arti dilarangnya menikahi wanita musyrik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan. Pendekatan yang di gunakan adalah tafsir tahlili. Sumber data primer meliputi kitab Tafsir Ma'alim At-Tanzil karya Al-Baghawi, kitab Tafsir Ahkam Al- Qur'an karya Ibnu Al-'Arabi, kitab Tafsir Al-Qumi, kitab Tafsir Ahkam Al-Qur'an karya Al-Jassas, kitab Tafsir Al-Munir karya Wahbah Az-Zuhaili, kitab Tafsir Al- Jami' li Ahkam Al-Qur'an karya Al-Qurthubi, kitab Tafsir Ahkam Ali Asaish, kitab Tafsir Ahkam As-Sabuni. Teknik Pengumpulan Data dilakukan melalui menelusuri kitab-kitab terkait untuk menemukan penafsiran Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 221 yang terkait tentang pernikahan beda agama, kemudian mengumpulkan data-data pendukung dari literatur sekunder yang relevan. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif eksploratif, yaitu dengan memaparkan isi penafsiran secara sistematis dan dilanjutkan dengan penelaahan secara mendalam. Analisis ini juga mencakup perbandingan antarpenafsiran dalam kitab-kitab terkait untuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaan pandangan mengenai pernikahan beda agama. Hasil Penelitian ini Berdasarkan analisis terhadap berbagai kitab tafsir yang telah dikaji, dapat disimpulkan bahwa tidak ada indikasi tentang kebolehan menikahi wanita musyrik, dan juga tidak ditemukan ulama yang membahas khusus tentang اُول ٰۤىِٕك َ يَدْعُو ْ نَ اِلَى النَّار , sehingga penulis menyimpulkan keharaman menikah dengan orang musyrik secara mutlak.
Tahsin Al-Qur'an Guru-Guru TPQ di Kenagarian Situjuah Batua
Skripsi dengan judul “Tahsin Qur’an Guru-guru TPQ Di Kenagarian Situjuah Batua” ditulis oleh Ferdi Winaldo NIRM: S1.VI.19.20.158, Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi adanya guru TPQ yang belum memahami tajwid dalam membaca al-Qur’an. Secara umum guru TPQ di Kenagarian Situjuah Batua masih menggunakan tajwid yang dipelajari ketika masih belajar di TPQ atau surau dahulu. Padahal guru TPQ tersebut akan menjadi tauladan bagi santri dan santriwan di TPQ Kenagarian Situjuah Batua. Kurangnya pemahaman ilmu tajwid sebagian guru TPQ di Kenagarian Situjuah Batua, membuat penulis ingin meneliti lebih jauh bacaan guru-guru TPQ di Kenagarian Situjuah Batua. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan metode deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dalam penelitian ini penulis memilih guru TPQ di Kenagarian Situjuah Batua sebagai sampel dengan teknik penentuan sampelnya ialah Simple Random Sampling. Pokok pembahasan dalam skripsi ini adalah untuk mengetahui kemampuan bacaan guru-guru TPQ di Kenagarian Situjuah Batua dalam hal makharijul huruf, mad wal qashr, serta ghunnah dan bilaghunnah. Kemampuan yang dimiliki oleh guru TPQ nantinya akan diajarkan kepada generasi yang akan datang sebagai pewaris al-Qur’an. Oleh karena itu sudah semestinya seorang guru TPQ menguasai ilmu tajwid dengan baik dan benar. Hasil penelitian ini dibagi kepada dua poin. Poin pertama, dalam hal penguasaan bacaan yang dibagi kepada tiga bidang yaitu, bidang makharijul huruf, secara umum hampir sama yaitu kesalahan dalam pengucapan huruf Dal. Bidang mad wal qasr dalam praktek ditemukan banyak kesalahan dalam mad far’iy seperti mad wajib muttasil, mad lazim mukhaffaf harfi dan mad ‘iwadh. Bidang ghunnah dan bilaghunnah, secara umum masih banyak kesalahan dalam melafaskan bacaan ikhfa dan nun musyaddadah, hanya sebagian kecil yang sudah menguasai baik secara teori maupun praktek. Selanjutnya poin kedua yaitu terdapat dua faktor yang mempengaruhi bacaan al-Qur’an para guru TPQ di Kenagarian Situjuah Batua, yaitu faktor positif seperti kegigihan dalam belajar tahsin al-Qur’an serta faktor usia yang belum lanjut. Dan faktor negatif seperti kurangnya pengetahuan tentang ilmu tajwid serta faktor usia yang sudah lanjut.
Penafsiran Jihad dalam Surah Al-Furqan Ayat 52 dalam Kitab Al-Jami‘ LI Ahkam Al-Qur'an dan Relevansinya dengan Era Modern (Kajian Tafsir Tahlili)
Skripsi yang berjudul “Penafsiran Jihad Dalam Surat Al Furqon Ayat 52 Dalam Kitab Al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’ān dan Relevansi Nya Dengan Era Modern. (Kajian Tafsir Tahlili)” disusun oleh Reski Ananda NIM 2219006, Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya pemahaman jihad yang sering dikaitkan dengan peperangan, padahal Al-Qur’an menunjukkan adanya bentuk jihad yang dilakukan melalui sarana selain kekuatan fisik. Salah satunya terdapat dalam QS. Al-Furqān ayat 52 melalui lafaz wa jāhid-hum bihī jihādan kabīran. Ayat tersebut merupakan ayat Makkiyah yang turun sebelum disyariatkannya peperangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran jihad dalam QS. Al-Furqān ayat 52 menurut Imam Al-Qurṭubī serta mengetahui relevansi penafsiran tersebut dalam kehidupan kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Sumber primer penelitian adalah kitab Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān karya Imam Al-Qurṭubī, khususnya penafsiran QS. Al-Furqān ayat 52, sedangkan sumber sekunder berasal dari kitab tafsir, buku, jurnal, dan literatur yang relevan dengan pembahasan jihad. Data dianalisis secara deskriptif-analitis dengan memperhatikan aspek kebahasaan, konteks Makkiyah, riwayat, serta kronologi pensyariatan jihad. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Imam Al-Qurṭubī memahami jihad dalam QS. Al-Furqān ayat 52 sebagai perjuangan menghadapi kaum kafir dengan menggunakan Al-Qur’an sebagai instrumen utama. Pemahaman tersebut didasarkan pada lafaz bihī yang merujuk kepada Al-Qur’an, pendapat Ibn ‘Abbās dan Ibn Zayd, serta konteks Makkiyah yang berlangsung sebelum adanya perintah perang. Jihad dalam ayat tersebut pada era modern yaitunya jihad intelektual. Penafsiran tersebut relevan dengan kehidupan kontemporer karena nilai jihad dapat diwujudkan melalui pendidikan, dakwah, pengembangan ilmu pengetahuan, literasi Al-Qur’an, pembinaan akhlak, dan penyelesaian berbagai persoalan masyarakat secara damai dan konstruktif. Dengan demikian, penafsiran Al-Qurṭubī menunjukkan bahwa jihad memiliki makna yang kontekstual dan tidak selalu identik dengan peperangan.
Penafsiran Al-Qur'an Surah Hud tentang Istighfar dalam Kitab Tafsir Al-Azhar
Skripsi ini berjudul Penafsiran Q.S. Hud Tentang Istighfar dalam Kitab Tafsir Al-Azhar”, yang disusun oleh saudari Erna Agustina, NIM 2219035, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur‟an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami konsep istighfar dalam Al-Qur'an secara komprehensif. Istighfar tidak hanya dimaknai sebagai permohonan ampun kepada Allah SWT tetapi juga mengandung nilai nilai pendidikan spiritual, pembinaan akhlak, serta perubahan perilaku menuju kehidupan yang lebih baik. Dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka memberikan penafsiran yang kontekstual terhadap ayat-ayat istighfar, khususnya dalam Q.S. Hud ayat 3, 52, 61, dan 90, dengan menghubungkan pesan Al-Qur'an terhadap realitas kehidupan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penafsiran Buya Hamka terhadap ayat-ayat istighfar dalam Q.S. Hud. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif-analitis. Sumber data primer penelitian ini adalah Al-Qur'an dan Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari kitab tafsir, buku, jurnal ilmiah, dan literatur lain yang berkaitan dengan tema penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan metode tafsir maudhu'i Muhammad al-Ghazali as Saqa dengan mengidentifikasi tema utama, menganalisis keterkaitan antar ayat, serta menjelaskan kandungan ayat. Adapun yang menjadi rumusuan masalah yaitu Deskrifsi ayat-ayat istighfar dalam Q.S. Hud: 3, 52, 61, dan 90 serta penafsiran ayat tersebut dalam Kitab Tafsir Al-Azhar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa istighfar dalam Al-Qur‟an disebut sebanyak 168 kali, dan istighfar berupa perintah terdapat 24 ayat dari 17 surah yang berbeda. Dalam skripsi ini penulis hanya membahas tentang istighfar yang terdapat dalam Q.S. Hud yang di bagi menjadi dua tema pembahasan yang pertama tentang keutamaan Istighfar dan Tobat yaitu Allah akan memberi kenikmatan dan kekuatan diatas kekuatan kita bagi orang yang beristighfar dan bertobat. Kedua tentang seruan Nabi Saleh kepada kaum samut agar meminta ampun dan bertobat kepada Allah, serta seruan Nabi Syu‟aib kepada umatnya agar memohon ampun kepada Allah dan minta tobat karna sesungguhnya Allah SWT Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan penerima Tobat yang sungguh- sungguh. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep istighfar menurut Buya Hamka memiliki dimensi spiritual, moral, dan sosial yang saling berkaitan. Istighfar bukan hanya sarana memperoleh ampunan Allah SWT tetapi juga menjadi jalan pembentukan karakter, peningkatan ketakwaan, perbaikan hubungan antar sesama manusia, serta pembangunan masyarakat yang berakhlak mulia dan diridhai Allah SWT.
Memaafkan dalam Perspektif Al-Qur'an dan Relevansinya dengan Kesehatan secara Holistik
ABSTRAK Skripsi ini berjudul “Memaafkan dalam Perspektif Al-Qur’an dan Relevansinya dengan Kesehatan secara Holistik” yang ditulis oleh Adek Rahmat NIRM 2219038, Mahasiswa Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Di Penelitian ini penulis mengangkat topik memaafkan dalam perspektif Al-Qur’an yang mana sudah diperintahkan dalam Al-Qur’an semenjak 1400 tahun yang lalu serta sudah di contohkan oleh Rasulullah SAW dan para Sahabat. Disisi lain, Dalam ilmu kesehatan Holistik punya metode pengobatan secara menyeluruh yang mencakup aspek Spiritual, Emosional, mental dan Fisik. Berbeda dengan pengobatan konvensional yang cendrung berfokus pada pengobatan fisik semata. Dalam pengobatan holistic, terutama dalam ilmu Matalogi (analisis tanda tanda lewat iris, sclera dan pupil mata), dibahas mengenai emosi negative seperti tanda tanda dendam, benci, marah dan konsep memaafkan. Peneliti ingin mensyinkron Ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi dengan Ilmu Matalogi tersebut. Penelitian ini menggunakan Pendekatan Kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (Library Research) dan menggunakan metode Tafsir Maudhu’I (Tematik). Hasil Penelitian Menunjukkan 10 Ayat Al-Qur’an tentang memaafkan dengan akar kata al-afw dan Maghfirah. Dengan akar kata al-afw sebanyak 9 ayat dan dengan akar kata Maghfirah sebanyak 1 ayat. Penelitian ini dibagi kepada dua pembahasan. Pertama, Mengklasifikasi ayat ayat tentang memaafkan. Kedua, penafsiran ayat memaafkan, di bagi kepada empat tema, tema pertama memaafkan dalam interaksi social, tema kedua , maafkan orang kafir , tema ketiga memaafkan walaupun sanggup membalas dan tema ke empat, memaafkan dan tidak dendam dalam ruang lingkup keluarga. Integrasi diantara ayat ayat al-qur’an memiliki hubungan langsung terhadap Kesehatan spriritual, mental, emosional dan fisik. Di sertai penjelasan hubungan memaafkan dengan teori Kesehatan secara holistic.
Reaktualisasi Penafsiran Ayat Etika Sosial Untuk Membentuk Karakter Generasi Z
Skripsi ini berjudul “Reaktualisasi Penafsiran Ayat Etika Sosial Untuk Membentuk Karakter Generasi Z”, yang ditulis oleh Yuli Hendri NIM. 2219034, Mahasiswa Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Latar belakang penelitian ini adalah untuk mengkaji lebih dalam tentang “Reaktualisasi Penafsiran Ayat Etika Sosial Untuk Membentuk Karakter Generasi Z. Masalah dalam penelitian ini terkait generasi Z menuntut adanya keseimbangan antara kebebasan berekspresi dengan tanggung jawab sosial agar tidak terjebak dalam budaya pembatalan (cancel culture). Berdasarkan hal diatas, maka penulis tertarik untuk mengembangkan penelitian ini. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan klasifikasi ayat-ayat tentang etika sosial dalam Al-Qur’an dan menjelaskan penafsiran ayat-ayat tentang etika sosial dalam Al-Qur’an serta untuk menganalisis penafsiran tersebut untuk membentuk karakter generasi Z Penelitian ini adalah penelitian Kepustakaan (Library research). Metode tafsir yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode tafsir maudhu’i (tematik). Dalam menganalisis data, penulis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan melalui kitab-kitab yang di karang oleh ulama-ulama yang diakui akan keilmuanya. Adapun sumber data primer dalam penelitian ini adalah Al-Qur’an Al-Kariim, Kitab Tafsir Al-Munir, tafsir Al-Misbah, tafsir Al-Azhar, dan tafsir ibnu katsir. Sedangkan sumber data sekunder meliputi buku-buku, jurnal-jurnal, artikel, karya tulis lainnya yang relevan dengan tema etika sosial dalam perspektif islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 ayat yang yang membahas etika sosial untuk membentuk karakter Generasi Z, yaitu Q.S. An-Nisa ayat 58 dan 135, Q.S. Ali-Imran ayat 159, Q.S. Luqman ayat 18, Q.S. Al-Hujurat ayat 12, dan Q.S. Al-'Ashr ayat 3. Berdasarkan penafsiran para mufasir, ayat-ayat tersebut mengandung nilai-nilai pokok berupa keadilan, kecintaan/kasih sayang dan amal shaleh. Analisis penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut sangat relevan untuk direaktualisasikan dalam kehidupan generasi Z sebagai pedoman etika sosial, membangun kepedulian sosial, memperkuat integritas moral, mengembangkan sikap toleransi, serta membentuk karakter yang bertanggung jawab di tengah perkembangan teknologi digital. Dengan demikian, reaktualisasi penafsiran ayat-ayat etika sosial membuktikan bahwa ajaran Al-Qur'an bersifat universal dan tetap relevan sebagai landasan pembentukan karakter generasi Z pada era modern.
Perintah Berbuat Baik dalam Kitab Tafsir Al-Azhar
Skripsi ini berjudul “Perintah Berbuat Baik dalam Kitab Tafsir AlAzhar “yang ditulis oleh Asnita Efendi, NIRM 2219024, mahasiswi Institut Darul Qur‟an Payakumbuh. Penelitian ini mengkaji penafsiran ayat-ayat tentang ma'ruf dalam AlQur'an menurut Tafsir Al-Azhar karya Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka). Kajian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami konsep ma'ruf secara komprehensif, karena selama ini pemaknaannya sering dipersempit hanya sebagai ajakan kepada kebaikan secara umum, padahal Al-Qur'an menampilkan konsep ma'ruf dalam berbagai dimensi kehidupan, seperti dakwah, kepemimpinan, pendidikan, keluarga, dan kehidupan sosial. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui klasifikasi ayat-ayat ma'ruf serta menganalisis penafsiran Buya Hamka terhadap ayat-ayat tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif. Metode penafsiran yang digunakan adalah metode tafsir maudhū'i menurut Abdul Hayy Al-Farmawi, yaitu dengan menghimpun seluruh ayat yang berkaitan dengan tema ma'ruf, mengurutkannya sesuai kronologi turunnya ayat, memperhatikan munāsabah ayat, mengkaji penafsiran dalam Tafsir Al-Azhar, kemudian menyusun konsep yang utuh mengenai makna ma'ruf berdasarkan keseluruhan ayat yang diteliti. Sumber data primer penelitian ini adalah Tafsir Al-Azhar karya Abdul Malik Karim Amrullah, sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari kitab tafsir, buku, jurnal ilmiah, serta literatur lain yang relevan. Hasil penelitian dibagi menjadi dua pembahasan, pertama klasifikasi ayat dibagi menjadi tiga tema yaitu amar ma‟ruf sebagai identitas dan karakter umat, amar ma‟ruf sebagai misi kenabian dan tanggung jawab kepemimpinan, dan amar ma‟ruf sebagai prinsip pendidikan dan etika sosial. Pembahasan kedua yaitu penafsiran ayat berdasarkan Tafsir Al-Azhar.
Jual Beli Online tanpa Aplikasi Menurut Al-Qur`an
Perkembangan teknologi komunikasi digital melahirkan fenomena jual beli online tanpa aplikasi, yakni transaksi melalui telepon atau WhatsApp tanpa dukungan platform e-commerce terstruktur. Praktik ini berpotensi mengandung gharar (ketidakjelasan) akibat ketiadaan dokumentasi formal, ketidakjelasan spesifikasi barang, dan minimnya perlindungan konsumen. Kementerian Perdagangan RI mencatat bahwa dari 20.942 keluhan konsumen sejak 2022 hingga Maret 2025, sebanyak 92% berasal dari transaksi online yang umumnya berkaitan dengan barang tidak sesuai spesifikasi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mengklasifikasikan ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan fenomena tersebut, menafsirkannya melalui Tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili, dan merumuskan pandangan Al-Qur'an yang komprehensif terhadap fenomena jual beli online tanpa aplikasi. Penelitian ini merupakan library research dengan pendekatan kualitatif-deskriptif analitis, menggunakan metode tafsir maudhu'i model kedua Muhammad Baqir al-Shadr yang bertolak dari fenomena kehidupan nyata sebelum mendatangi Al-Qur'an sebagai sumber jawaban. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat-ayat yang relevan terbagi dalam dua tema. Tema yang pertama adalah Muamalah dan Transaksi Ekonomi dalam Islam, mencakup Q.S. Al-Baqarah [2]: 282 tentang perintah pencatatan dan dokumentasi transaksi, Q.S. An-Nisa [4]: 29 tentang larangan transaksi batil dan perintah an-tarādhin yang hakiki, serta Q.S. Al-Baqarah [2]: 275 tentang kehalalan jual beli dan keharaman riba. Tema yang kedua adalah Perdagangan sebagai Konsep Dunia dan Akhirat, diwakili Q.S. As-Saff [61]: 10 tentang tijarah yang menyelamatkan sebagai landasan etika dan spiritualitas perdagangan. Berdasarkan penafsiran az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir, pandangan AlQur'an terhadap jual beli online tanpa aplikasi dapat dirumuskan sebagai berikut. Pertama, status hukum dasarnya adalah boleh (halal) karena termasuk dalam albay' yang dihalalkan Allah secara umum (lil-jinsi). Kedua, kebolehan tersebut terikat pada empat syarat minimal, yaitu adanya dokumentasi digital yang memadai sebagai al-bayyinah modern berdasarkan pandangan Ibnu al-Qayyim yang dikutip az-Zuhaili, terpenuhinya an-tarādhin yang hakiki melalui spesifikasi barang yang jelas dan dapat diverifikasi, terjaganya nilai shidq, amanah, dan tabligh dalam seluruh proses transaksi, serta bebasnya transaksi dari riba, gharar kathir, dan tadlis. Ketiga, apabila syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi sehingga terdapat gharar kathir maka akad menjadi fasid (rusak), dan apabila terdapat tadlis yang disengaja maka akad menjadi batil.
Penafsiran Mahmud Yunus tentang Batasan Aurat Perempuan dalam Surah An-Nur Ayat 31
Skripsi berjudul “Penafsiran Mahmud Yunus Tentang Batasan Aurat Perempuan Dalam Surah An-Nur 31” yang ditulis olch Delfi Yuliandra, NIM. 2219005, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perbedaan pendapat para ulama dan mufassir mengenai batasan aurat perempuan, khususnya dalam menafsirkan frasa illā mā zhahara minhā (kecuali yang biasa tampak) dalam Q.S. An-Nur: 31, yang ada dalam Tafsir Qur’an Karim memiliki pendekatan penafsiran yang khas dan kontekstual terhadap ayat ini. Adapun rumusan masalah Skripsi ini: Bagaimana penafsiran Mahmud Yunus tentang aurat dalam Q.S. An-Nur: 31, Batasan Masalah: Pertama, mengungkapkan penafsiran Mahmud Yunus terhadap Q.S. An-Nur: 31. Kedua, Analisis terhadap penafsiran Mahmud Yunus Surah An-Nur: 31. Dan tujuan penelitian ini yaitu: untuk mengatahui penafsiran Mahmud Yunus Surah An-Nur: 31. Metode penelitian ini ialah kualitatif, jenis penelitian kepustakaan (library research), dengan pendekatan fikih. Sumber data primer penelitian ini adalah Tafsir Qur’an Karim karya Mahmud Yunus dan sumber sekunder jurnal ilmiah karya Hanna Salsabila, dan teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumentasi dengan pedoman dokumentasi yang tersusun berdasarkan rumusan masalah. Analisis data dilakukan melalui metode deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan, Mahmud Yunus menafsirkan Q.S. An-Nur: 31merujuk kepada tafsir ibnu Abbas bahwa anggota yang biasa terbuka itu adalah muka dan telapak tangan juga diperkuat dengan hadis Nabi juga mengatakan hanya muka dan telapak tangan, tetapi jika dilihat dari pendekatan keilmuan Mahmud Yunus iya ber mazhab hanafi, menurut Wahbah az-Zuhaili dalam tafsir al-Munir mengatakan bahwa Diriwayatkan dari Imam Abu Hanifah bahwasanya kedua telapak kaki juga bukan termasuk aurat. Sebab unsur kerepotan dalam menutup kedua telapak kaki lebih besar daripada dalam menutup kedua telapak tangan, terutama bagi para penduduk. Analisis terhadap penafsiran Mahmud Yunus bahwa penafsirannya merupakan sintesis antara sumber bil ma’tsur (Ibnu Abbas dan hadis Sunan Abu Dawud) dan bil ra’yi (mazhab Hanafi), dengan metode gabungan ijmali-tahlili dan corak adabul ijtima’i. Posisi penafsirannya moderat luas lebih luas dari mazhab Syafi’i namun sejalan dengan mazhab Hanafi serta relevan sebagai rujukan tafsir kontekstual bagi masyarakat Muslim Indonesia yang beragam secara budaya.
Penafsiran Surat Al-Qariah Perspektif Tafsir AT-Thabari dan Tafsir AL-Azhar
Skripsi ini berjudul “Analisis Penafsiran Surat Al-Qariah Perspektif Tafsir AtThabari Dan Tafsir Al-Azha” yang ditulis oleh Zulyadein, NIM. 2219021, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya asumsi yang mengatakan hari kiamat terjadi pada hari ini, dan itu. Padahal sebenarnya hanya Allah yang tahu kapan terjadinya. Maka penafsiran surah al Qari`ah ini semoga dapat menjawab seluruh asumsi yang berseleweran dimasyarakat dengan pendekatan penafsiran at Thabari dan Buya Hamka dalam tafsirnya. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research). Metode yang digunakan adalah metode tafsir muqaran. Sumber data primer penelitian ini adalah Tafsir at Thabari dan Tafsir al Azhar, dan sumbersumber sekunder lain yang dapat menjadi data penunjang. Hasil dari penelitian yang dilakukan penulis adalah sebagai berikut. Bahwa dalam penafsiran yang dilakukan tidak terdapat satu ayat dan penafsiran yang mengatakan bahwa hari kiamat terjadi dengan pastinya kapan, akan tetapi dalam ayat tersebut disampaikan bahwa keadaan dan kondisi bagaimana sebelum dan sesudah terjadinya hari kiamat. Pada penafsiran surah al-Qari`ah juga terdapat kekhususan dalam pembahasannya, di antaranya, dari bidang bahasa, al Qariah lebih tegas karena ada pengulangan, lebih to the point karena langsung membahas keadaan manusia dan hari kiamat itu sendiri dibandingkan dengan surah lain, seperti al Zalzalah, kalau di al Zalzalah hanya membahas balasan amal manusia saja. Sedangkan analisis dari perbedaan penafsiran yang dapat disimpulkan adalah pada metode keduanya sama sama menggunakan metode Tahlili yaitu menafsirkan al Qur`an secara keseluruhan yang dimulai dari surah al Fatihah sampai yang terakhir surah an Naas. Pada bagian corak juga sama, akan tetapi berbada dalam pendektan coraknya yaitu lughawi. Buya Hamka menggunakan pendekatan kebahasaan Nusantara, sedangkan at Thabari dengan pendekatan dengan riwayat.