ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini berjudul “Figur Ayah Sebagai Pendidik Perspektif Al-Qur’an Surat Luqman Ayat 33 (Kajian Tafsir Tahlili)”, yang ditulis oleh Karina Dwi Kurnia Maharani NIRM. S1.VI.19.21.015, Mahasiswa Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Latar belakang penelitian ini adalah untuk mengkaji tentang Figur Ayah Sebagai Pendidik Perspektif Al-Qur’an Surat Luqman Ayat 33 (Kajian Tafsir Tahlili)”, penulis ingin menggali dan membahas apakah yang dimaksud figur ayah sebagai pendidik perspektif Al-Qur’an surat Luqman ayat 33. Maka hal inilah yang mendorong penulis untuk meliti ini. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk megetahui Penafsiran Al-Qur’an Surah Luqman Ayat 33 tentang figur ayah sebagai pendidik Al-Qur’an, dan Untuk mengetahui analisis figur ayah sebagai pendidik perspektif Al-Qur’an Surat Luqman ayat 33 tentang figur ayah berdasarkan Al-Qur’an. Penelitian ini adalah penelitian Kepustakaan (Library research), berupa kajian pustaka dengan metode deskriptif kualitatif. dalam menganalisis data penulis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, Melalui kitab-kitab yang dikarang oleh ulama-ulama yang diakui keilmuanya. Sumber data primer diantaranya Tafsir Al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, tafsir Jalalaen karya Jalaludin Al-mahali dan Jalaludin as-suyuti, Tafsir Al-Misbah Qurais Shihab, Tafsir Al Maraghi dan Tafsir Ibnu Katsir. Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal artikel, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Adapun metode yang penulis gunakan dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode Tahlili, yaitu: menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an dengan menjelaskan segala makna secara rinci. Penelitian ini menemukan bahwa QS. Luqman ayat 33 mengandung peringatan keras kepada manusia agar bertakwa kepada Allah dan tidak terpedaya oleh kehidupan dunia serta tipu daya setan. Ayat ini menegaskan bahwa pada hari kiamat, tidak ada seorang pun yang dapat menolong orang lain, bahkan antara ayah dan anak. Meskipun ayat ini tidak secara eksplisit menyebutkan peran ayah dalam pendidikan, namun secara implisit menunjukkan pentingnya tanggung jawab ayah dalam menanamkan nilai-nilai ketakwaan, kesadaran akan kehidupan akhirat, dan pembinaan akhlak anak sejak dini. Dari hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa figur ayah sebagai pendidik dalam perspektif QS. Luqman ayat 33 adalah sosok yang tidak hanya memberikan nafkah lahiriah, tetapi juga wajib menjadi pembimbing spiritual bagi anak-anaknya. Ayah harus menjadi teladan dalam ketakwaan, mampu membentengi keluarganya dari godaan dunia dan setan, serta mempersiapkan anak-anak agar memiliki bekal amal saleh untuk keselamatan di akhirat. Dengan demikian, peran ayah sangat vital dalam membentuk generasi yang tangguh secara spiritual dan bertanggung jawab secara pribadi di hadapan Allah.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Skripsi ini berjudul “Kedaulatan Sebuah Negeri dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 55 (kajian tafsir Tahlili))”, yang ditulis oleh Hazhar NIRM. S1.VI.19.21.015, Mahasiswa Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Latar belakang penelitian ini adalah untuk mengkaji dalam tentang makna kedaulatan Sebuah Negeri Dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 55 (kajian tafsir Tahlili))”, penulis ingin menggali dan membahas apakah yang dimaksud berdaulat dalam bernegara menurut Pesfektif Al-Qur’an surat AnNur ayat 55. maka hal inilah yang mendorong penulis untuk mengembangkan penelitian ini. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk megetahui Penafsiran dalam Surah An-Nur Ayat 55 tentang keadaulatan dalam Al-Qur’an, dan Untuk mengetahui analisis kedaulatan dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 55 tentang kedaulatan dalam Al-Qur’an. Penelitian ini adalah penelitian Kepustakaan (Library research), berupa kajian pustaka dengan metode deskriptif kualitatif. dalam menganalisis data penulis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, Melalui kitab-kitab yang di karang oleh ulama-ulama yang diakui akan keilmuanya. Sumber data primer diantaranya tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, tafsir al-Misbah karya M.Quraisy Shihab, tafsir Jalalaen karya Jalaludin Al-mahali dan Jalaludin as-suyuti, tafsir Al-Maraghi karya Ahmad Musthafa al-Maraghi dan Tafsir An-Nur karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, tafsir As-Sa’di karya Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Adapun metode yang digunakan penulis dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode Tahlili, yaitu: menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an dengan menjelaskan segala makna secara rinci. Peneliti menemukan bahwasanya masih banyak orang yang salah kaprah dalam memahami makna dari kedaulatan itu sendiri, mereka menggangap negaranya sudah berdaulat, padahal masih banyak negara yang berkonflik sedangkan kedaulatanya telah diakui, dan masih bnyak orang yang beribadah terhadap keyakinanya justru tidak tenang dalam melaksanakanya, apakah itu yang dinamakan kemerdekaan dalam sebuah bangsa ataupun Negeri. Dalam Surah An-Nur ayat 55 menggambarkan konsep kedaulatan sebuah negeri dalam Islam sebagai suatu anugerah dari Allah swt kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, dalam ayat ini menegaskan bahwa kedaulatan sejati bukan hanya sekedar kebebasan dari penjajahan fisik tetapi juga meliputi keamanan, keadilan, serta kebebasan dalam menjalankan ajaran agama tanpa tekanan, serta menjalankan kehidupan tanpa adanya penindasan dan tekanan-tekanan dari pihak lain.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Skripsi ini berjudul “Penafsiran Ghosting Dalam Al-Qur’an (Studi Tafsir Tahlili Q.s An-Nmal:20)” yang ditulis oleh Ranti Permata Sari NIRM.S1.VI.19.21.007, Mahasiswa Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini dilatar belakangi oleh istilah Ghosting yang menjadi tranding di masyarakat dan sering dikaitkan dengan masalah percintaan. Dilihat lebih dalam lagi, ternyata istilah ghosting tidak hanya digunakan untuk menyebutkan pemutusan/hilang tiba-tiba dalam hubungan percintaan saja, melainkan menyangkut segala bentuk hubungan sosial. Dan dilihat dari kisahnya Nabi Sulaiman, beliau pernah dighosting oleh salah satu prajuritnya. Oleh karena itu, penulis berusaha memahami secara utuh bagaimana ghosting dalam Al-Qur’an. Karena ha ini lah perlu untuk ditelusuri penafsiran ulama mengenai Ghosting dan menganalisa penafsiran tentang ghosting dalam Al-Qur’an. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan pendekatan kualitatif, Sumber data penelitian terbagi dua, sumber data primer diantaranya tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, tafsir al-Misbah karya M.Quraisy Shihab, tafsir fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Qutb, tafsir Jalalaen karya Jalaludin Al-mahali dan Jalaludin as-suyuti, tafsir Al-Maraghi karya Ahmad Musthafa al-Maraghi dan Tafsir An-Nur karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy. Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Adapun metode yang digunakan penulis dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode Tahlili, yaitu: menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an dengan menjelaskan segala makna secara rinci. Hasil penelitian ini menemukan bahwa ghosting terdapat 1.061 ayat dalam Al-Qur’an, dengan kata ghosting hilang, putus, lenyap dan tiada. Kata hilang terdapat 17 lafadz 787 ayat dalam Al-Qur’an, kata putus terdapat 6 lafadz 241 ayat dalam Al-Qur’an, kata lenyap terdapat 7 lafadz 11 ayat dalam Al-Qur’an, kata tiada terdapat 5 lafadz 10 ayat dalam Al-Qur’an. Sedangkan ayat yang membahas ghosting Nabi Sulaiman dengan Burung Hud-hud terdapat dalam Q.S An-Naml:20, membahas tentang bahwasannya Burung Hud-hud pernah menghilang beberapa saat tanpa memberi kabar dan pengetahuan Nabi Sulaiman. Q.S maryam:59 tentang mengabaikan sholat, Q.S Al-baqarah:266 dan Q.S Al-Hadid:20 kebun yang ditiup angin lalu menghilang, Q.S Al-An’am:76 matahari yang dilihat ibrahim tiba-tiba menghilang, Q.S Al-Isra’:67 ketika kamu ketimpa musibah lalu yang biasa kamu sembah akan hilang kecuali allah, Q.S Al-An’am:94 putusnya hubungan pada hari pemberi syafaat, Q.S Thoha:78 fir’aun ditenggelamkan oleh ombak, Q.S Muhamad 22-23 memutuskan hubungan kekeluargaan, Q.S Arro’du 25 memutuskan perjanjian, Q.S Al-baqarah:166 pada hari kiamat hubungan sesama manusia terputus.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Judul skripsi ini adalah “Adab Panggilan Kepada Rasulullah SAW Dalam Tafsir Al-Azhar” ditulis oleh: Ummi Sakinah, Nirm: S1.VI.19.19.526. Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Qur’an (STAIDA) Payakumbuh. Adapun yang melatar belakangi penelitian ini adanya penyimpangan adab kepada Rasulullah SAW, mulai dari non muslim yang mengatakan Rasulullah tidak obahnya bagaikan anjing, Nabi bodoh yang tidak pandai membaca yang pasti pengikutnya lebih bodoh, ada juga dari komika muslim yang menganggap remeh nama Rasulullah SAW, bahkan dari ulama ada juga mengatakan tidak pantasnya kata sayyid (pemimpin) di sandarkan kepada Rasul. Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library Research), deskriptif dengan pendekatan metode tafsir tahlili. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui deskripsi ayat-ayat tentang adab kepada Rasul dalam Al-Quran dan untuk mengetahui bagaimana penafsiran Buya Hamka tentang Adab kepada Rasul dalam Tafsir Al-Azhar dan apa kegunaan mempelajari adab kepada Rasul untuk zaman sekarang. Kerna penulis menganggap adab itu sangat penting untuk diketahui meskipun terhadap hal-hal yang dianggap kecil, baik dalam berbicara, perbuatan, tingkah laku, dan berbedanya keadaan tempat dan waktu akan berbeda juga adab yang seharusnya diperbuat ketika itu. Adapun penelitian ini, bersumber dari data primer dan data sekunder. Primer yaitu yang diperoleh dari literatur yang berkaitan langsung dengan judul ini yakni Kitab Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka. Adapun data sekundernya yaitu buku-buku, jurnal, artikel, skripsi dan tulisan yang mengandung isi dari pembahasan. Analisis data dilakukan secara deskriptif analisis yaitu memberikan deskripsi-deskripsi analisa terhadap objek penelitian dari data yang berhasil dikumpulkan untuk kemudian ditarik kesimpulan. Hasil dari penelitian ini setelah menganalisa penafsiran Buya Hamka penulis menyimpulkan pertama, ayat adab dari kata Rasul hanya 4 ayat sebagai berikut: Surah An-Nur ayat 63, Surah Al-Hujurat ayat 3, Surah Al-Mujadalah ayat 9 dan juga Surah Al-Mujadalah ayat 12. Dan dari 4 ayat adab kepada Rasul hanya 1 ayat yang penulis bahas yaitu: Surah An-Nur ayat 63. Dua, bahwa adab kepada Rasul antara lain tidak boleh menyebut nama Rasul tanpa gelar kehormatan di awalnya, seperti dalan banyak kitab tafsir Ya Nabi, Ya Rasul dan dalam tafsir buya Hamka dengan menambah kata Sayyid, penambahan kata sayyid hanya didapati dalam tafsir Buya Hamka. Tiga, adab panggilan kepada Rasul juga bisa di terapkan kepada ulama dengan menyebut buya, kepada guru dengan panggilan ustadz/ustadzah dan kepada orangtua dengan panggilan umak/ayah yang biasa penulis ucapkan.
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2023•Koleksi Perpustakaan