Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

3 hasil
Penulis: Rusfa Azizi
DaftarKartu
BookOpen AccessPDF tersedia

Penafsiran Halim dalam Al-Quran

2024•Koleksi Perpustakaan

Nama Allah diterangkan dalam surat Al-A’raf ayat 180 yang berbunyi dan milik Allah asmaul husna, namun penelitian penulis menemukan nama Allah tersebut juga ditujukan kepada makhluknya. Bertujuan untuk mengetahui klasifikasi dan penafsiran Ḥalîm dalam Al-Qur’an melalui metode tafsir maudhu’i yang digagas oleh Abd Hayy al-Farmawi bersifat kualitatif deskriptif, adapun sumber data penelitian terbagi 2 yaitu data primer diantaranya Al-Qur’an dan enam kitab tafsir yakni tafsir Al-Azhar, Al-Maraghi, Al-Misbah, Al-Qurtuby, Ibnu Katsir, AlManar. Data sekunder yakni jurnal dan artikel mengenai Ḥalîm serta buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan. Hasil penelitian ini menemukan bahwa lafadz م ل ح dalam Al-Qur’an sebanyak 20 ayat dalam 16 surat. Lafadz yang bermakna penyantun ialah Ḥalîm yang terdapat 15 ayat dalam 12 surat, dengan derivasi Ḥalîmun, Ḥalîman, Ḥalîmin. Sifat Ḥalîm tersebut tidak berdiri sendiri melainkan juga disandingkan dengan sifat Ghafur, ghaniy,‘Alim, Awwah, Rasyid dan Syakur. Ḥalîm berarti sifat menangguhkan atau tidak menyegerakan hukuman bagi manusia yang berbuat dosa serta memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertaubat dan akan memaafkannya jika memohon ampunan. Setelah melewati setiap langkah dalam penelitian penulis mendapatkan kesimpulan bahwa bagi manusia sikap penyantun bermakna sabar dan tidak tergesa-gesa melakukan sesuatu, sedangkan penyantun bagi Allah ialah menangguhkan hukuman dan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi orang yang mau bertaubat.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Penafsiran Halim dalam Al-Quran

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini dilatar belakangi dengan 99 nama Allah sebagaimana diterangkan dalam surat Al-A’raf ayat 180, namun penelitian penulis menemukan nama Allah tersebut juga ditujukan kepada manusia. Ḥalîm terdapat dalam 12 surat dan 15 ayat, sebelas ayat menjelaskan tentang sifat Allah sedangkan empat ayat menjelaskan sifat makhluknya, dimana ayat-ayat tersebut tidak berdiri sendiri melainkan juga disandingkan dengan sifat Ghafur, ghaniy, ‘Alim, Awwah, Rasyid, dan Syakur. Dalam penelitian ini penulis menelusuri kata ح ل م ditemukan 20 ayat dengan rincian ḥuluma, ahlamin, ahlamuhum, ḥalimun, ḥaliman, dan ḥalimin. Berikutnya kata yang bermakna penyantun yakni ḥalimun, ḥaliman, dan ḥalimin Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan metode tafsir maudhu’i yakni penggabungan ayat-ayat Al-Quran yang memiliki tujuan yang sama untuk membahas topik yang sama dan disusun berdasarkan asbabun nuzul dan kronologinya. Sumber data primer yaitu Al-Quran, Tafsir Al-Azhar, Tafsir Al-Misbah, Tafsir al-Maraghi, Tafsir Al-Manar, Tafsir Qurtuby dan Tafsir Ibn Katsir, sedangkan sumber data sekunder yaitu kitab Mu’jam al-Mufahros li Alfazh Al-Quran, data pendukung untuk meneliti kajian seperti jurnal, buku, skripsi dan tulisan tokoh lain yang didalamnya terdapat pembahasan yang berkaitan dengan penelitian penulis. Hasil penelitian ini menemukan bahwa ḥalîm dengan sifat Allah disandingkan dengan Ghafur menunjukkan penangguhan hukuman bagi orang berbuat dosa, sehingga masih diberi kesempatan untuk bertaubat, disandingkan dengan Ghaniy mengisyaratkan bahwa Allah maha kaya Dia tidak memerlukan sedikit pun balasan dari pendosa, disandingkan dengan ‘Alim menunjukkan sifat maha mengetahui Allah mengenai pendosa dan dosa-dosanya, sifat dengan Syakur mengisyaratkan rasa syukur makhluknya kepadaNya dicerminkan juga oleh penangguhan sanksi. Sedangkan sifat yang disandarkan kepada Nabi Ibrahim dan Ismail yang berarti pujian dari Allah atas pribadi mereka yang lembut hati, penyantun, sabar dan mengembalikan urusannya kepada Allah, dan kepada Nabi Syu’aib merupakan sebuah sindiran dari kaumnya. Maka bagi manusia sikap penyantun bermakna sabar dan tidak tergesa-gesa melakukan sesuatu. sedangkan penyantun bagi Allah ialah menangguhkan hukuman dan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi orang yang mau bertaubat.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessPDF tersedia

Penafsiran Halim dalam Al-Quran

2024•Koleksi Perpustakaan

Penelitian ini dilatar belakangi dengan 99 nama Allah sebagaimana diterangkan dalam surat Al-A’raf ayat 180, namun penelitian penulis menemukan nama Allah tersebut juga ditujukan kepada manusia. Ḥalîm terdapat dalam 12 surat dan 15 ayat, sebelas ayat menjelaskan tentang sifat Allah sedangkan empat ayat menjelaskan sifat makhluknya, dimana ayat-ayat tersebut tidak berdiri sendiri melainkan juga disandingkan dengan sifat Ghafur, ghaniy, ‘Alim, Awwah, Rasyid, dan Syakur. Dalam penelitian ini penulis menelusuri kata ح ل م ditemukan 20 ayat dengan rincian ḥuluma, ahlamin, ahlamuhum, ḥalimun, ḥaliman, dan ḥalimin. Berikutnya kata yang bermakna penyantun yakni ḥalimun, ḥaliman, dan ḥalimin Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan metode tafsir maudhu’i yakni penggabungan ayat-ayat Al-Quran yang memiliki tujuan yang sama untuk membahas topik yang sama dan disusun berdasarkan asbabun nuzul dan kronologinya. Sumber data primer yaitu Al-Quran, Tafsir Al-Azhar, Tafsir Al-Misbah, Tafsir al-Maraghi, Tafsir Al-Manar, Tafsir Qurtuby dan Tafsir Ibn Katsir, sedangkan sumber data sekunder yaitu kitab Mu’jam al-Mufahros li Alfazh Al-Quran, data pendukung untuk meneliti kajian seperti jurnal, buku, skripsi dan tulisan tokoh lain yang didalamnya terdapat pembahasan yang berkaitan dengan penelitian penulis. Hasil penelitian ini menemukan bahwa ḥalîm dengan sifat Allah disandingkan dengan Ghafur menunjukkan penangguhan hukuman bagi orang berbuat dosa, sehingga masih diberi kesempatan untuk bertaubat, disandingkan dengan Ghaniy mengisyaratkan bahwa Allah maha kaya Dia tidak memerlukan sedikit pun balasan dari pendosa, disandingkan dengan ‘Alim menunjukkan sifat maha mengetahui Allah mengenai pendosa dan dosa-dosanya, sifat dengan Syakur mengisyaratkan rasa syukur makhluknya kepadaNya dicerminkan juga oleh penangguhan sanksi. Sedangkan sifat yang disandarkan kepada Nabi Ibrahim dan Ismail yang berarti pujian dari Allah atas pribadi mereka yang lembut hati, penyantun, sabar dan mengembalikan urusannya kepada Allah, dan kepada Nabi Syu’aib merupakan sebuah sindiran dari kaumnya. Maka bagi manusia sikap penyantun bermakna sabar dan tidak tergesa-gesa melakukan sesuatu. sedangkan penyantun bagi Allah ialah menangguhkan hukuman dan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi orang yang mau bertaubat.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail