Profil penulis
MA
835 karya publik ditemukan.
Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya
Sejarah Peradaban Islam
Tema Pokok Al-Qur’an
Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam (Jilid 1)
Usul Sorfiyah
Juz ‘Amma dan Terjemahannya dilengkapi Iqro : Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an
Juz ‘Amma dan Terjemahannya dilengkapi Iqro : Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an
Juz ‘Amma dan Terjemahannya dilengkapi Iqro : Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an
Juz ‘Amma dan Terjemahannya dilengkapi Iqro : Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an
Juz ‘Amma dan Terjemahannya dilengkapi Iqro : Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an
Juz ‘Amma dan Terjemahannya dilengkapi Iqro : Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an
Petunjuk Pelaksanaan Pengendalian dan Evaluasi Pengelolaan Zakat
Petunjuk Pelaksanaan Pengendalian dan Evaluasi Pengelolaan Zakat
Kaidah Qiraat Tujuh
Evaluasi Pada Pembelajaran Era Society
PELUANG DAN TANTANGAN KAMPUS MERDEKADALAM PRESPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Kampus merdeka merupakan kebijakan yang baru-baru ini dicanangkan Menteri Pendidikan RI, Nadiem Makarim. Kebijakan kampus merdeka diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan agama Islam, di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan arus globalisasi. Suatu kebijakan atau wacana baru tentunya menjadi topik yang menarik untuk dibahas baik oleh akademisi maupun praktisi. Lebih lanjut, jika dikaitkan dengan pendidikan Islam, konsep belajar mandiri bukanlah hal yang tabu. Karena pada dasarnya Al-Qur'an dan Hadits telah membahas konsep belajar merdeka ini. Maka tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengungkap peluang dan tantangan kampus merdeka dalam perspektif pendidikan agama Islam. Metode yang penulis gunakan adalah studi literatur, yaitu dengan menggali informasi mengenai topik pembahasan dari berbagai literatur yang ada kemudian menganalisisnya. Dari hasil penelitian diperoleh informasi bahwa peluang keberadaan program kampus merdeka ini adalah sebagai pengembangan penelitian, pengembangan kewirausahaan, dan lulusan yang adaptif. Sedangkan tantangannya adalah mekanisme kerjasama antara perguruan tinggi Islam swasta dan program studi dengan pihak luar serta mekanisme magang di luar program studi. pengembangan kewirausahaan, dan lulusan yang adaptif. Sedangkan tantangannya adalah mekanisme kerjasama antara perguruan tinggi Islam swasta dan program studi dengan pihak luar serta mekanisme magang di luar program studi. pengembangan kewirausahaan, dan lulusan yang adaptif. Sedangkan tantangannya adalah mekanisme kerjasama antara perguruan tinggi Islam swasta dan program studi dengan pihak luar serta mekanisme magang di luar program studi.
Model Asesmen Pembelajaran Kooperatif: Strategi Menjawab Tantangan
Buku ini memperkenalkan metode baru bagi guru-guru yang menerapkan pembelajaran kooperatif. Landasan pokok terciptanya metode ini adalah prinsip kesesuaian. Harus ada kesesuaian antara metode pembelajaran yang diterapkan di kelas dengan cara menilai hasil metode. Singkat kata, harus ada kesesuaian antara pembelajaran dan cara menilai hasil pembelajaran. Ketika pembelajaran kooperatif yang menekankan kerja kelompok telah diterapkan, penilaian hasil kerja kelompok pun harus menjadikan ‘kelompok’ menjadi kunci penilaian. Pengalaman penulis dan juga hasil penelitian penulis dalam memantapkan metode baru ini menunjukkan ketimpangan yang cukup nyata yang terjadi di dunia pendidikan kita. Ketika preferensi terhadap pembelajaran kooperatif tinggi dan sudah diterapkan di kelas, penilaian terutama pada penilaian hasil kerja kelompok yang bersifat tes formatif masih bersifat konvensional. Penilaian yang diterapkan belum memiliki ‘roh’ kelompok. Karena pada dasarnya metode diciptakan dengan segala kekurangan dan kelebihannya masing-masing, penulis percaya satu hal: di tangan guru yang berwawasan ‘agen perubahan’ serta di tangan guru yang punya identitas dan integritas, kekurangan metode ini akan ‘tinggal diam’ dalam teori. Seperti kata bijak Parker J. Palmer (2007) “Good teaching cannot be reduced to technique; good teaching comes from the identity and integrity of the teacher.” Selamat mencoba metode baru yang tampil dalam beberapa model yang kami persembahkan dalam buku ini.
Platform Asesmen untuk Pembelajaran Daring: Teori & Praktik
Salah satu komponen pembelajaran adalah evaluasi pembelajaran. Dewasa ini, evaluasi pembelajaran mengalami perkembangan yang signifikan mengikuti perkembangan Teknologi, Informasi dan Komputer (TIK). Terkait akan hal tersebut, evaluasi pembelajaran juga turut andil dalam mengintegrasikan proses evaluasi menggunakan bantuan TIK. Seperti yang diketahui baik oleh guru maupun calon guru, proses evaluasi pembelajaran melalui berbagai tahapan, salah satunya adalah asesmen. Asesmen berperan penting dalam mengukur kualitas pembelajaran yang telah dilakukan oleh guru maupun calon guru serta melihat apakah terdapat kebermanfaatan keilmuan yang diperoleh siswa. Proses asesmen ini penting untuk evaluasi lanjutan tidak hanya dalam proses pembelajaran di kelas namun juga evaluasi lanjutan bagi perbaikan Kurikulum pembelajaran. Buku Platform Asesmen untuk Pembelajaran Daring ini akan membahas berbagai macam jenis platform yang direkomendasikan bagi para guru maupun calon guru sebagai platform asesmen pembelajaran daring. Selain itu, buku ini juga membahas secara konsep terkait seperti apa asesmen serta bagaimana perkembangan asesmen pembelajaran hingga bertransformasi seperti saat sekarang ini. Dengan adanya buku ini, diharapkan para guru serta calon guru dapat mengetahui bagaimana konsep dan teori asesmen, hingga cara serta prosedur menggunakan platform asesmen dalam pembelajaran daring.
Asesmen Sejawat Berkelompok
Teknik asesmen yang saat ini diterapkan di sekolah lebih banyak berpusat pada guru (teacher centered. Guru menjadi pemegang kendali dalam menentukan nilai siswa. Padahal, teknik penilaian seperti itu berpeluang untuk menciptakan keberpihakan pada siswa tertentu. Selain itu, umpan balik yang diberikan pada siswa kurang beragam karena hanya berasal dari sudut pandang guru saja. Instrumen asesmen yang digunakan untuk menilai keterampilan berbicara juga harus mampu mengukur ketercapaian kompetensi berbicara siswa secara tepat, objektif, dan komprehensif. Pembuatan instrumen semacam itu cukup sulit sehingga guru tidak menggunakan instrumen yang demikian untuk menilai.