Hasil pencarian
Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.
Pencarian lanjut AND / OR / NOT
Sejarah Peradaban Islam
Filsafat Hukum Islam
Sejarah peradaban Islam
Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif
Sejarah Pendidikan Indonesia
Pelaksanaan Tradisi Bubur Assyura di Pondok Pesantren Darul Ulum Muaramais Kec. Tambangan Kab. Mandailing Natal
Sejarah dan dasar pelaksanaan bubur Asyura merupakan inisiatif ibu-ibu yang ada diwilayah pondok pesantren pada tanggal 10 muharram, kemudian setelah pondok pesantren Darul Ulum Muara Mais berkembang dan santrinya semakin banyak, maka kegiatan ini dilaksanakan di pondok pesantren Darul Ulum Muara Mais yang didasari dalam Q.S at-Taubat ayat 36 bahwasanya ada 4 bulan mulia di antaranya bulan Muharram. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), berupa kajian Living Qur’an dengan metode deskriptif melalui pendekatan living qur’an. Penelitian dilakukan di Pondok Pesantren Darul Ulum Muara Mais Kecamatan Tambangan kabupaten Mandailing Natal. Proses pelaksanaanya, sebelum tanggal ke 10 Muharram para santri mengumpulkan peralatan dan bahan-bahan untuk memasak Bubur Asyura. Kedua, ditanggal 10 Muharram para santri memasaknya, mulai dari pemotongan bahan-bahan hingga penyajian Bubur untuk di jadikan buka puasa. Pada bulan ini umat Islam berlomba-lomba melakukan kebaikan, diantaranya melakukan puasa dan pelaksanaan Bubur Asyura ini merupakan kegiatan yang menimbulkan rasa silaturahmi yang semakin erat, kerjasama dalam gotong royong, saling berbagi dan akan dijadikan bukaan puasa pada hari Asyura. Pemahaman santri terhadap tradisi ini adalah memuliakan bulan Muharram karna dianjurkan puasa sunnah dihari Asyura. Sedangkan penafsiran ayat dasar dijadikannya Bubur Asyura sebagai bulan yang dimuliakan Allah, maka tradisi ini sesuai dengan ayat Al-qur’an .
Pelaksanaan Tradisi Bubur Assyura di Pondok Pesantren Darul Ulum Muaramais Kec. Tambangan Kab. Mandailing Natal
ABSTRAK Skripsi dengan judul “Tradisi Bubur Asyura di Pondok Pesantren Darul Ulum Muara Mais Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing Natal ( Kajian Living Qur’an)” yang disusun oleh Nirma Fadilah NST NIRM S1.VI.19.20.180, Prodi Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Al-Qur’an (STAIDA) Payakumbuh. Yang melatar belakangi skripsi ini adalah tentang adanya keunikan dalam pelaksanan memasak Bubur Asyura pada setiap tahunnya di pondok pesantren Darul Ulum Muara Mais, bila dibandingkan dengan pondok pesantren lain tradisi ini sudah mulai menghilang dan sudah jarang didapatkan dikalangan masyarakat, maka hal inilah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian di Pondok Pesantrren tersebut. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk megetahui sejarah dan dasar pelaksanaan memasakan Bubur Asyura di pondok pesantren Darul Ulum Muara Mais. Selanjutnya untuk mengetahui bagaimana proses Tradisi pelaksanaan Bubur Asyura di pondok pesantren Darul Ulum Muara Mais serta untuk mengetahui bagaimana pemahaman santri dan penafsiran ayat Q.S atTaubah ayat 36 sebagai dasar tradisi pelaksanaan Bubur Asyura. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), berupa kajian Living Qur’an dengan metode deskriptif kualitatif melalui pendekatan living qur’an. Penelitian dilakukan di Pondok Pesantren Darul Ulum Muara Mais Kecamatan Tambangan kabupaten Mandailing Natal. Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Selanjutnya, dalam menganalisis data penulis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menemukan bahwa sejarah dan dasar pelaksanaan Bubur Asyura ini adalah merupakan pemikiran ibu-ibu yang ada diwilayah pondok pesantren tersebut. Namun setelah berkembangnya pondok pesantren pada tahun 1998 tradisi ini sudah mulai dilakukan di pondok pesantren yang diikuti oleh para santri. Dasar pelaksanaan Bubur Asyura terdapat dalam Q.S at-Taubah ayat 36, tentang jumlah bulan disisi Allah adalah 12 bulan disisi Allah adaah 12 bulan diantaranya 4 bulan mulia salah satunya bulan Muharram. Pada bulan ini umat Islam berlomba-lomba melakukan kebaikan, diantaranya melakukan puasa dan pelaksanaan Bubur Asyura ini merupakan kegiatan yang menimbulkan rasa silaturahmi yang semakin erat, kerjasama dalam gotong royong, saling berbagi dan akan dijadikan bukaan puasa pada hari Asyura. Proses pelaksanaanya, pertama sebelum tanggal ke 10 Muharram para santri mengumpulkan peralatan dan bahan-bahan untuk memasak Bubur Asyura. Kedua, ditanggal 10 Muharram para santri memasak Asyura, mulai dari pemotongan bahan-bahannya hingga penyajian makanan untuk di jadikan buka puasa
Pelaksanaan Tradisi Bubur Assyura di Pondok Pesantren Darul Ulum Muaramais Kec. Tambangan Kab. Mandailing Natal
ABSTRAK Skripsi dengan judul “Tradisi Bubur Asyura di Pondok Pesantren Darul Ulum Muara Mais Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing Natal ( Kajian Living Qur’an)” yang disusun oleh Nirma Fadilah NST NIRM S1.VI.19.20.180, Prodi Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Al-Qur’an (STAIDA) Payakumbuh. Yang melatar belakangi skripsi ini adalah tentang adanya keunikan dalam pelaksanan memasak Bubur Asyura pada setiap tahunnya di pondok pesantren Darul Ulum Muara Mais, bila dibandingkan dengan pondok pesantren lain tradisi ini sudah mulai menghilang dan sudah jarang didapatkan dikalangan masyarakat, maka hal inilah yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian di Pondok Pesantrren tersebut. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk megetahui sejarah dan dasar pelaksanaan memasakan Bubur Asyura di pondok pesantren Darul Ulum Muara Mais. Selanjutnya untuk mengetahui bagaimana proses Tradisi pelaksanaan Bubur Asyura di pondok pesantren Darul Ulum Muara Mais serta untuk mengetahui bagaimana pemahaman santri dan penafsiran ayat Q.S atTaubah ayat 36 sebagai dasar tradisi pelaksanaan Bubur Asyura. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), berupa kajian Living Qur’an dengan metode deskriptif kualitatif melalui pendekatan living qur’an. Penelitian dilakukan di Pondok Pesantren Darul Ulum Muara Mais Kecamatan Tambangan kabupaten Mandailing Natal. Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Selanjutnya, dalam menganalisis data penulis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menemukan bahwa sejarah dan dasar pelaksanaan Bubur Asyura ini adalah merupakan pemikiran ibu-ibu yang ada diwilayah pondok pesantren tersebut. Namun setelah berkembangnya pondok pesantren pada tahun 1998 tradisi ini sudah mulai dilakukan di pondok pesantren yang diikuti oleh para santri. Dasar pelaksanaan Bubur Asyura terdapat dalam Q.S at-Taubah ayat 36, tentang jumlah bulan disisi Allah adalah 12 bulan disisi Allah adaah 12 bulan diantaranya 4 bulan mulia salah satunya bulan Muharram. Pada bulan ini umat Islam berlomba-lomba melakukan kebaikan, diantaranya melakukan puasa dan pelaksanaan Bubur Asyura ini merupakan kegiatan yang menimbulkan rasa silaturahmi yang semakin erat, kerjasama dalam gotong royong, saling berbagi dan akan dijadikan bukaan puasa pada hari Asyura. Proses pelaksanaanya, pertama sebelum tanggal ke 10 Muharram para santri mengumpulkan peralatan dan bahan-bahan untuk memasak Bubur Asyura. Kedua, ditanggal 10 Muharram para santri memasak Asyura, mulai dari pemotongan bahan-bahannya hingga penyajian makanan untuk di jadikan buka puasa
Qira'at Sab'ah
Rugi dalam al-Qur’an (Studi Tafsir al Azhar)
Judul skripsi ini yaitu: “RUGI DALAM AL QUR’AN (Studi Tafsir Al Azhar)” yang ditulis oleh Muhammad Ilyas Nasution, Nirm S1.VI.19.19.484, Mahasiswa STAI Darul Qur’an Payakumbuh. Latar belakang pemilihan judul ini adalah dari banyaknya istilah dari makna kerugian yang ada, baik ia di dunia dan di akhirat. Tetapi manusia di zaman sekarang ini lebih mengartikan sebuah kerugian hanya dalam konteks dunia sebagai contoh: dalam bisnisnya, hartanya, dagangannya dan lain sebagainya. Padahal kerugian yang sesungguhnya adalah kerugian akhirat, yang mana ketika semua amal perbuatan yang dilakukan di dunia tidak dapat membantu dan menolong saat di akhirat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis makna dari sebuah kerugian di dalam Al Qur’an, dan untuk memberikan informasi mengenai solusi untuk mengatasi kerugian menurut Buya Hamka. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, jenis penelitian dalam skripsi ini yaitu penelitian pustaka (Library research), dan termasuk penelitian sejarah dengan menggunakan pendekatan biografi yaitu studi tokoh atau sering disebut penelitian riwayat hidup (Individual Life History). Adapun sumber data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini terdiri dari data primer dan sekunder Sumber data primer adalah Kitab tafsir Al Azhar Sedangkan sumber data sekunder adalah data pendukung yang memudahkan kajian, seperti: jurnal, buku dan artikel. Penyajian tafsirnya dengan pendekatan tafsir tematik, dengan metode maudhu'i karya Abdul Al Hayy Al Farmawi, penafsiran yang mencari jawaban langsung dari Al-Qur’an tentang sebuah persoalan. Rumusan masalah dalam skripsi ini adalah penafsiran Buya Hamka terhadap kerugian dalam tafsir Al Azhar, yang terfokuskan pada penafsiran Buya Hamka terhadap kerugian dalam Al Qur’an dan penyebab rugi dan solusinya di dalam Al Qur’an. Hasil dalam penelitian ini adalah kerugian merupakan kesusahan dan kesulitan hidup dan juga merupakan keadaan hidup yang pahit, penyesalan dan menimpa dalam tempo yang tidak sebentar. Kerugian adalah hal yang tidak bisa terhindar dari manusia karena adanya faktor keburukan yang mempengaruhi jiwa dan iman manusia. Mulai dari diri sendiri seperti sipat dzalim, pikiran kotor, tidak mau melangkah ke dalam kebaikan, tidak mau menerima nasehat dan sebagainya. Disebabkan juga faktor dari luar seperti, lingkungan, pertemanan dan bahkan Jin. Hal inilah yang mesti diperhatikan dan dijaga oleh setiap manusia jangan sampai terjerumus dan tergoda ke dalam keburukan. Sebab segala yang diusahakan nantinya di dunia akan di adili di akhirat, apakah ia masuk ke dalam orang yang merugi atau beruntung. Orang-orang yang merugi nantinya di akhirat itulah orang-orang yang mengakui penyesalannya, tempatnya adalah neraka balasan atas perbuatannya.
Rugi dalam al-Qur’an (Studi Tafsir al Azhar)
Judul skripsi ini yaitu: “RUGI DALAM AL QUR’AN (Studi Tafsir Al Azhar)” yang ditulis oleh Muhammad Ilyas Nasution, Nirm S1.VI.19.19.484, Mahasiswa STAI Darul Qur’an Payakumbuh. Latar belakang pemilihan judul ini adalah dari banyaknya istilah dari makna kerugian yang ada, baik ia di dunia dan di akhirat. Tetapi manusia di zaman sekarang ini lebih mengartikan sebuah kerugian hanya dalam konteks dunia sebagai contoh: dalam bisnisnya, hartanya, dagangannya dan lain sebagainya. Padahal kerugian yang sesungguhnya adalah kerugian akhirat, yang mana ketika semua amal perbuatan yang dilakukan di dunia tidak dapat membantu dan menolong saat di akhirat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis makna dari sebuah kerugian di dalam Al Qur’an, dan untuk memberikan informasi mengenai solusi untuk mengatasi kerugian menurut Buya Hamka. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, jenis penelitian dalam skripsi ini yaitu penelitian pustaka (Library research), dan termasuk penelitian sejarah dengan menggunakan pendekatan biografi yaitu studi tokoh atau sering disebut penelitian riwayat hidup (Individual Life History). Adapun sumber data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini terdiri dari data primer dan sekunder Sumber data primer adalah Kitab tafsir Al Azhar Sedangkan sumber data sekunder adalah data pendukung yang memudahkan kajian, seperti: jurnal, buku dan artikel. Penyajian tafsirnya dengan pendekatan tafsir tematik, dengan metode maudhu'i karya Abdul Al Hayy Al Farmawi, penafsiran yang mencari jawaban langsung dari Al-Qur’an tentang sebuah persoalan. Rumusan masalah dalam skripsi ini adalah penafsiran Buya Hamka terhadap kerugian dalam tafsir Al Azhar, yang terfokuskan pada penafsiran Buya Hamka terhadap kerugian dalam Al Qur’an dan penyebab rugi dan solusinya di dalam Al Qur’an. Hasil dalam penelitian ini adalah kerugian merupakan kesusahan dan kesulitan hidup dan juga merupakan keadaan hidup yang pahit, penyesalan dan menimpa dalam tempo yang tidak sebentar. Kerugian adalah hal yang tidak bisa terhindar dari manusia karena adanya faktor keburukan yang mempengaruhi jiwa dan iman manusia. Mulai dari diri sendiri seperti sipat dzalim, pikiran kotor, tidak mau melangkah ke dalam kebaikan, tidak mau menerima nasehat dan sebagainya. Disebabkan juga faktor dari luar seperti, lingkungan, pertemanan dan bahkan Jin. Hal inilah yang mesti diperhatikan dan dijaga oleh setiap manusia jangan sampai terjerumus dan tergoda ke dalam keburukan. Sebab segala yang diusahakan nantinya di dunia akan di adili di akhirat, apakah ia masuk ke dalam orang yang merugi atau beruntung. Orang-orang yang merugi nantinya di akhirat itulah orang-orang yang mengakui penyesalannya, tempatnya adalah neraka balasan atas perbuatannya.
Khataman al-Qur’an Sebelum Penyelenggaraan Jenazah di Desa Simangambat TB Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing Natal ( Kajian Living Al-Qur’an)
Judul skripsi ini yaitu: Khataman al-Qur’an sebelum Penyelenggaraan Jenazah di Desa Simangambat Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing Natal (Kajian living Qur’an) yang ditulis oleh Nur Salamah Naution, Nirm S1.VI.19.19.498, Mahasiswa STAI Darul Qur’an Payakumbuh. Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Rasulullah untuk ummat islam sebagai pedoman bagi kehidupan mereka di dunia dan akhirat. Rasulullah memerintahkan kita membaca al-Qur’an dan mengajarkannya. Dalam tradisi dan kebiasaan masyarakat, al-Qur’an tidak hanya dibaca di masjid atau rumah mereka, tetapi mereka mengkhatamkan al-Qur’an ketika sebelum penyelenggaraan jenazah dilaksanakan, ini terjadi di daerah desa Simangambat Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing Natal. Pokok permasalahan dalam tulisan ini, yaitu: bagaimana dasar pelaksanaan pelaksanaan khataman al-Qur’an, bagaimana dan manfaat kegiatan khataman al-Qur’an sebelum penyelenggaraan jenazah di desa Simangambat Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing Natal. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengungkap dasar pelaksanaan khataman al-Qur'an di Desa Simangambat Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing Natal dan untuk mengungkap bagaimana pelaksanaan khataman al-Qur'an di Desa Simangambat Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing Natal. Pada pembahasan skripsi ini penulis menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif ini untuk menggambarkan kegiatan khataman al-Qur’an sebelum penyelenggaraan jenazah dengan melakukan pengamatan, wawancara dan dokumentasi, kemudian menganalisis dan mereduksi data yang telah didapatkan. Penulis menemukan adanya kajian Living Qur’an dalam pelaksanaan khataman al-Qur’an sebelum penyelenggaraan jenazah di desa Simangambat Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing Natal. Hasil penelitian dalam skripsi ini dapat disimpulkan berdasarkan hasil wawancara dengan ketua persatuan ibu-ibu di desa Simangambat. Pertama, bahwa dalil dasar pelaksanaan khataman al-Qur’an sebelum penyelenggaraan jenazah di desa Simangambat Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing Natal adalah pada surah al-Ankabut ayat 45. Kedua, bahwa pelaksanaan khataman al-Qur’an disini adalah dengan membaca keseluruhan al-Qur’an dengan membagi setiap juz nya kepada setiap anggota khataman al-Qur’an. Ketiga, ada banyak manfaat yang dapat dirasakan masyarakat, terutama keluarga duka dan pembaca khataman al-Qur’an, diantaranya: mendapat nikmat pahala, Allah Swt menurunkan rahmat dan kasih sayangnya, Allah Swt akan memberikan syafa’at di hari kiamat, keberkahan dalam membaca al-Qur’an, hati dan pikiran terasa lebih tenang, nyaman dan ringan ketika membaca al-Qur’an serta meningkatkan ketakwaan, menjadi obat penyembuh bagi keluarga si mait yang sedang bersedih, dan persaudaraan umat Muslim semakin erat.
Khataman al-Qur’an Sebelum Penyelenggaraan Jenazah di Desa Simangambat TB Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing Natal ( Kajian Living Al-Qur’an)
Judul skripsi ini yaitu: Khataman al-Qur’an sebelum Penyelenggaraan Jenazah di Desa Simangambat Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing Natal (Kajian living Qur’an) yang ditulis oleh Nur Salamah Naution, Nirm S1.VI.19.19.498, Mahasiswa STAI Darul Qur’an Payakumbuh. Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Rasulullah untuk ummat islam sebagai pedoman bagi kehidupan mereka di dunia dan akhirat. Rasulullah memerintahkan kita membaca al-Qur’an dan mengajarkannya. Dalam tradisi dan kebiasaan masyarakat, al-Qur’an tidak hanya dibaca di masjid atau rumah mereka, tetapi mereka mengkhatamkan al-Qur’an ketika sebelum penyelenggaraan jenazah dilaksanakan, ini terjadi di daerah desa Simangambat Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing Natal. Pokok permasalahan dalam tulisan ini, yaitu: bagaimana dasar pelaksanaan pelaksanaan khataman al-Qur’an, bagaimana dan manfaat kegiatan khataman al-Qur’an sebelum penyelenggaraan jenazah di desa Simangambat Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing Natal. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengungkap dasar pelaksanaan khataman al-Qur'an di Desa Simangambat Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing Natal dan untuk mengungkap bagaimana pelaksanaan khataman al-Qur'an di Desa Simangambat Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing Natal. Pada pembahasan skripsi ini penulis menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif ini untuk menggambarkan kegiatan khataman al-Qur’an sebelum penyelenggaraan jenazah dengan melakukan pengamatan, wawancara dan dokumentasi, kemudian menganalisis dan mereduksi data yang telah didapatkan. Penulis menemukan adanya kajian Living Qur’an dalam pelaksanaan khataman al-Qur’an sebelum penyelenggaraan jenazah di desa Simangambat Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing Natal. Hasil penelitian dalam skripsi ini dapat disimpulkan berdasarkan hasil wawancara dengan ketua persatuan ibu-ibu di desa Simangambat. Pertama, bahwa dalil dasar pelaksanaan khataman al-Qur’an sebelum penyelenggaraan jenazah di desa Simangambat Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing Natal adalah pada surah al-Ankabut ayat 45. Kedua, bahwa pelaksanaan khataman al-Qur’an disini adalah dengan membaca keseluruhan al-Qur’an dengan membagi setiap juz nya kepada setiap anggota khataman al-Qur’an. Ketiga, ada banyak manfaat yang dapat dirasakan masyarakat, terutama keluarga duka dan pembaca khataman al-Qur’an, diantaranya: mendapat nikmat pahala, Allah Swt menurunkan rahmat dan kasih sayangnya, Allah Swt akan memberikan syafa’at di hari kiamat, keberkahan dalam membaca al-Qur’an, hati dan pikiran terasa lebih tenang, nyaman dan ringan ketika membaca al-Qur’an serta meningkatkan ketakwaan, menjadi obat penyembuh bagi keluarga si mait yang sedang bersedih, dan persaudaraan umat Muslim semakin erat.