ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi dengan judul “Tahsin Qur’an Guru-guru TPQ Di Kenagarian Situjuah Batua” ditulis oleh Ferdi Winaldo NIRM: S1.VI.19.20.158, Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi adanya guru TPQ yang belum memahami tajwid dalam membaca al-Qur’an. Secara umum guru TPQ di Kenagarian Situjuah Batua masih menggunakan tajwid yang dipelajari ketika masih belajar di TPQ atau surau dahulu. Padahal guru TPQ tersebut akan menjadi tauladan bagi santri dan santriwan di TPQ Kenagarian Situjuah Batua. Kurangnya pemahaman ilmu tajwid sebagian guru TPQ di Kenagarian Situjuah Batua, membuat penulis ingin meneliti lebih jauh bacaan guru-guru TPQ di Kenagarian Situjuah Batua. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan metode deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dalam penelitian ini penulis memilih guru TPQ di Kenagarian Situjuah Batua sebagai sampel dengan teknik penentuan sampelnya ialah Simple Random Sampling. Pokok pembahasan dalam skripsi ini adalah untuk mengetahui kemampuan bacaan guru-guru TPQ di Kenagarian Situjuah Batua dalam hal makharijul huruf, mad wal qashr, serta ghunnah dan bilaghunnah. Kemampuan yang dimiliki oleh guru TPQ nantinya akan diajarkan kepada generasi yang akan datang sebagai pewaris al-Qur’an. Oleh karena itu sudah semestinya seorang guru TPQ menguasai ilmu tajwid dengan baik dan benar. Hasil penelitian ini dibagi kepada dua poin. Poin pertama, dalam hal penguasaan bacaan yang dibagi kepada tiga bidang yaitu, bidang makharijul huruf, secara umum hampir sama yaitu kesalahan dalam pengucapan huruf Dal. Bidang mad wal qasr dalam praktek ditemukan banyak kesalahan dalam mad far’iy seperti mad wajib muttasil, mad lazim mukhaffaf harfi dan mad ‘iwadh. Bidang ghunnah dan bilaghunnah, secara umum masih banyak kesalahan dalam melafaskan bacaan ikhfa dan nun musyaddadah, hanya sebagian kecil yang sudah menguasai baik secara teori maupun praktek. Selanjutnya poin kedua yaitu terdapat dua faktor yang mempengaruhi bacaan al-Qur’an para guru TPQ di Kenagarian Situjuah Batua, yaitu faktor positif seperti kegigihan dalam belajar tahsin al-Qur’an serta faktor usia yang belum lanjut. Dan faktor negatif seperti kurangnya pengetahuan tentang ilmu tajwid serta faktor usia yang sudah lanjut.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini berjudul “Konsep Pariwisata dalam Al-Qur’an”, yang disusun oleh saudara Muhandi, NIM 2219025, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh berkembangnya sektor pariwisata sebagai salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat modern. Dalam perspektif Islam, aktivitas pariwisata tidak hanya dipahami sebagai kegiatan rekreasi, tetapi juga sebagai sarana untuk mengambil pelajaran (ibrah), memperkuat keimanan, mengenal kebesaran Allah Swt., serta merenungkan sejarah kehidupan umat terdahulu sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang komprehensif mengenai konsep pariwisata dalam Al-Qur'an berdasarkan penafsiran para mufasir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep pariwisata dalam Al-Qur'an melalui penafsiran lima kitab tafsir, yaitu Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, Tafsir Al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Ibnu Katsir, dan Tafsir Al-Qurthubi, terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan aktivitas perjalanan, pengamatan alam, serta pengambilan pelajaran dari peninggalan umat terdahulu. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode tafsir maudhu'i (tematik). Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi terhadap sumber primer dan sekunder, sedangkan analisis data menggunakan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima mufasir memiliki kesamaan pandangan bahwa perintah melakukan perjalanan di muka bumi dalam ayat-ayat tersebut bukan sekadar bertujuan untuk rekreasi, tetapi lebih kepada upaya memperoleh pengetahuan, mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu, mengamati tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta, serta memperkuat keimanan kepada-Nya. Perbedaan penafsiran terletak pada penekanan masing-masing mufasir. Tafsir Al-Misbah lebih menonjolkan relevansi perjalanan dengan pengembangan wawasan dan pembentukan karakter. Tafsir Al-Azhar menekankan nilai pendidikan, pembangunan peradaban, dan kesadaran sosial. Tafsir Al-Munir mengaitkan perjalanan dengan fungsi dakwah, tadabbur, dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Sementara itu, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Qurthubi lebih menekankan aspek riwayat, pelajaran dari kehancuran umat terdahulu, serta hikmah yang dapat diambil sebagai bentuk penguatan akidah. Dengan demikian, konsep pariwisata dalam Al-Qur'an merupakan aktivitas yang mengandung dimensi edukatif, spiritual, historis, dan sosial, sehingga mampu mendorong manusia untuk semakin mengenal kebesaran Allah SWT serta mengambil hikmah dari perjalanan yang dilakukan
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin berkembangnya penyampaian tafsir Al-Qur'an melalui media digital, khususnya ceramah yang disebarluaskan melalui platform YouTube. Salah satu tokoh yang aktif menyampaikan dakwah melalui media tersebut adalah Yahya Waloni. Dalam ceramahnya, ia sering menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an sebagai dasar penyampaian pesan keagamaan sehingga menarik untuk dikaji dari perspektif ilmu tafsir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistematika Yahya Waloni dalam menjelaskan ayat-ayat Al-Qur'an serta menganalisis pemahamannya terhadap ayat-ayat yang disampaikan dalam ceramah berjudul Ceramah Tegas! yang dipublikasikan pada 26 Juli 2020 di kanal YouTube Islam Sumirat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian analisis konten (content analysis). Sumber data primer berupa video ceramah Yahya Waloni, sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari kitab-kitab tafsir, buku, jurnal ilmiah, dan berbagai literatur yang berkaitan dengan ilmu tafsir, metodologi penelitian, dan analisis konten. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan studi kepustakaan, kemudian dianalisis secara deskriptif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistematika Yahya Waloni dalam menjelaskan ayat Al-Qur'an diawali dengan menjadikan ayat sebagai landasan utama pembahasan, kemudian memperkuat penjelasan melalui rujukan terhadap literatur keislaman, hadis, kisah-kisah para nabi, serta ilustrasi yang bersifat rasional dan ilmiah. Selanjutnya, kandungan ayat dihubungkan dengan realitas kehidupan masyarakat, kondisi umat Islam, dan berbagai persoalan dakwah, sebelum diakhiri dengan penekanan terhadap implementasi nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Pola penyampaian tersebut menunjukkan kecenderungan sistematika yang bersifat deduktif, yaitu berangkat dari dalil normatif menuju penerapan praktis dalam kehidupan. Adapun pemahaman Yahya Waloni terhadap ayat-ayat Al-Qur'an lebih menonjolkan fungsi dakwah, penguatan akidah, pembinaan ibadah, persatuan umat, dan motivasi keagamaan daripada pembahasan aspek kebahasaan, asbāb al-nuzūl, munāsabah, maupun perbedaan pendapat para mufasir. Dengan demikian, penafsiran yang disampaikan dalam ceramah lebih berorientasi pada penyampaian pesan-pesan dakwah yang aplikatif bagi masyarakat.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Skripsi ini berjudul “Penafsiran Ghosting Dalam Al-Qur’an (Studi Tafsir Tahlili Q.s An-Nmal:20)” yang ditulis oleh Ranti Permata Sari NIRM.S1.VI.19.21.007, Mahasiswa Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini dilatar belakangi oleh istilah Ghosting yang menjadi tranding di masyarakat dan sering dikaitkan dengan masalah percintaan. Dilihat lebih dalam lagi, ternyata istilah ghosting tidak hanya digunakan untuk menyebutkan pemutusan/hilang tiba-tiba dalam hubungan percintaan saja, melainkan menyangkut segala bentuk hubungan sosial. Dan dilihat dari kisahnya Nabi Sulaiman, beliau pernah dighosting oleh salah satu prajuritnya. Oleh karena itu, penulis berusaha memahami secara utuh bagaimana ghosting dalam Al-Qur’an. Karena ha ini lah perlu untuk ditelusuri penafsiran ulama mengenai Ghosting dan menganalisa penafsiran tentang ghosting dalam Al-Qur’an. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan pendekatan kualitatif, Sumber data penelitian terbagi dua, sumber data primer diantaranya tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, tafsir al-Misbah karya M.Quraisy Shihab, tafsir fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Qutb, tafsir Jalalaen karya Jalaludin Al-mahali dan Jalaludin as-suyuti, tafsir Al-Maraghi karya Ahmad Musthafa al-Maraghi dan Tafsir An-Nur karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy. Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Adapun metode yang digunakan penulis dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode Tahlili, yaitu: menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an dengan menjelaskan segala makna secara rinci. Hasil penelitian ini menemukan bahwa ghosting terdapat 1.061 ayat dalam Al-Qur’an, dengan kata ghosting hilang, putus, lenyap dan tiada. Kata hilang terdapat 17 lafadz 787 ayat dalam Al-Qur’an, kata putus terdapat 6 lafadz 241 ayat dalam Al-Qur’an, kata lenyap terdapat 7 lafadz 11 ayat dalam Al-Qur’an, kata tiada terdapat 5 lafadz 10 ayat dalam Al-Qur’an. Sedangkan ayat yang membahas ghosting Nabi Sulaiman dengan Burung Hud-hud terdapat dalam Q.S An-Naml:20, membahas tentang bahwasannya Burung Hud-hud pernah menghilang beberapa saat tanpa memberi kabar dan pengetahuan Nabi Sulaiman. Q.S maryam:59 tentang mengabaikan sholat, Q.S Al-baqarah:266 dan Q.S Al-Hadid:20 kebun yang ditiup angin lalu menghilang, Q.S Al-An’am:76 matahari yang dilihat ibrahim tiba-tiba menghilang, Q.S Al-Isra’:67 ketika kamu ketimpa musibah lalu yang biasa kamu sembah akan hilang kecuali allah, Q.S Al-An’am:94 putusnya hubungan pada hari pemberi syafaat, Q.S Thoha:78 fir’aun ditenggelamkan oleh ombak, Q.S Muhamad 22-23 memutuskan hubungan kekeluargaan, Q.S Arro’du 25 memutuskan perjanjian, Q.S Al-baqarah:166 pada hari kiamat hubungan sesama manusia terputus.
BookOpen AccessPDF tersedia
2024•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini dilatar belakangi oleh berbagai macam penyebutan manusia dalam Al-Qur'an yaitu
Basyar, Al-Ins, An-Nas, Bani Adam dan Al-Insan. Namun, penulis menemukan hal menarik dalam
penyebutan manusia yang terdapat dalam Al-Qur'an, terutama dalam Qs. Al-Ma'arij ayat 19 yaitu
menyebutkan tentang sifat atau karakter manusia terutama yang berkaitan dengan Al-Insan.
Kemudian penulis ingin menganalisis dari kedua pendapat mufassir tersebut. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengungkap bagaimana penafsiran Qs. Al-Ma'arij ayat 19 menurut Tafsir Al-Azhar
karya Hamka dan Tafsir Al-Munir karya Wahbah Az-Zuhaili serta analisis penulis dari kedua mufassir.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penafsiran Qs. Al-Ma'arij ayat 19 menurut Hamka bahwa
manusia selalu berkeluh kesah dalam keadaan apapun. Sedangkan Wahbah Az-Zuhaili bahwa manusia
itu sangat berkeluh kesah yang disebabkan oleh munculnya situasi atau kondisi yang berakibat keluh
kesah itu muncul. Analisis penulis, keduanya mengemukakan bahwa manusia diciptakan dari sifat
keluh kesah. Kedua mufassir ini memiliki perbedaan penafsiran, akan tetapi guru kedua mufassir ini
sama-sama Mahmud Syaltut. Namun, kedua mufassir ini mempunyai corak yang berbeda dalam
menulis kitab tafsir yaitu Hamka memakai corak Adabi al-Ijtima'i sedangkan Wahbah Az-Zuhaili
memakai corak fiqih
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK
Skripsi dengan judul “Karakter Pemuda Ideal Perspektif Al-Qur’an (Studi Tafsir Maudhu’i)” yang ditulis oleh Nadhira Ayu Safira, NIRM: S1. VI. 19. 19. 491. Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Sekolah Tinggi Islam Darul Al-Qur’an (STAIDA) Payakumbuh.
Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah Indonesia saat ini sedang mengalami bonus demografi dimana lebih banyak umur produktif (15-64 tahun) dibanding usia non produktif artinya masyarakat Indonesia saat ini lebih banyak pemuda saat ini, suatu momentum untuk perbaikan Indonesia ke depan. Kemajuan teknologi dan informasi dan pengaruh globalisasi membuat informasi dapat diakses dengan mudah dan cepat tanpa ada batasan waktu dan tempat. Selain membawa dampak positif kemajuan teknologi juga membawa dampak negatif pada pemuda yaitu terjadinya kemerosotan moral.
Yang menjadi tujuan dari penelitian ini berdasarkan rumusan masalah yaitu untuk mengetahui klasifikasi ayat tentang karakter pemuda ideal dan menjelaskan penafsiran ayat tentang karakter pemuda ideal perspektif Al-Qur’an.
Metode penelitian ini menggunakan kualitatif dan jenis penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research), yaitu dengan cara mengadakan studi secara teliti literatur-literatur yang berkaitan dengan pokok permasalahan yang dibahas. Adapun pendekatan yang digunakan adalah menggunakan metode tafsir tematik, yaitu mengkaji ayat-ayat yang terhimpun, kemudian menyimpulkan dan menyusun kesimpulan tersebut kedalam kerangka pembahasan sehingga tampak dari segala aspek, dan menilainya dengan kriteria pengetahuan yang benar. Dalam penyajiaanya, penulis menggunakan metode deskriptif analitis untuk mendapatkan gambaran utuh.
Hasil penelitian kata fata dengan berbagai bentuk ada sepuluh yang tersebut dalam Al-Qur’an. Tapi yang masuk pembahasan Karakter Pemuda Ideal Perspektif Al-Qur’an hanya ada lima ayat. Yaitu فِتْيَةٌ Q.S. al-Kahfi [18]: 13, الْفِتْيَةُ Q.S. al-Kahfi [18]: 10, فَتٰىهَا Q.S. Yusuf [12]: 30, لِفَتٰىهُ Q.S al-Kahfi [18]: 60, فَتًى Q.S. al-‘Anbiya [21]: 60. Karakter pemuda ideal dalam Al-Qur’an yaitu: 1) Tauhid kepada Allah (Q.S. al-Kahfi [18]: 10 &13) 2) Keteguhan hati (Q.S. Yusuf [12]: 30), 3) Tawadhu’ (Q.S al-Kahfi [18]: 60), 4) Punya tujuan dan mewujudkannya (Q.S al-Kahfi [18]: 60), 5) Pemberani (Q.S. al-‘Anbiya [21]: 6o
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Judul skripsi ini yaitu: “Implementasi Matan Al-Muqaddimah Al-Jazariyyah Dalam Bacaan Al-Qur’an (Studi Pada Santriwati Sekolah Ash-Habul Qur’an Payakumbuh)” yang ditulis oleh Zikra Sucita, NIRM SI.VI.19.18.078. Mahasiswi program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Qur’an (STAIDA) Payakumbuh. Alasan penulis memilih judul ini adalah: Langkah awal untuk membaca Al-Qur’an adalah dengan mengetahui huruf hijaiyyah serta mampu fasih dalam pengucapannya. Dalam ilmu tajwid pengucapan fasih ini bisa didapati dengan mengetahui makharijul huruf dan shifatul huruf. Kitab tajwid dasar yang memuat materi ini dengan jelas adalah matan Al-Muqaddimah Al-Jazariyyah. Matan ini sanadnya tersambung kepada Imam Ibnul Jazari sebagai penulis matan dan dapat menjadi sandaran ketika membaca Al-Qur’an agar terlepas dari keraguan terhadap suatu hukum tajwid. Menurut penelusuran penulis kepada lembaga-lembaga Al-Qur’an yang ada di Payakumbuh, penulis mendapati sekolah AshHabul Qur’an Payakumbuh satu-satunya sekolah yang menerapkan matan Al-Muqaddimah Al-Jazariyyah sebagai bahan ajarnya. Uniknya lagi sekolah ini merupakan lembaga yang menjadi wadah bagi mereka yang ingin belajar Al-Qur’an dari segala usia mulai anak-anak hingga lansia. Sehingga penulis merasa perlu untuk meneliti bagaimana Implementasi matan Al-Muqaddimah Al-Jazariyyah dalam bacaan Al-Qur’an santriwati AshHabul Qur’an Payakumbuh. Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui implementasi Matan Al-Muqoddimah Al-Jazariyah dalam bacaan Al-Qur’an santriwati Ash-Habul Qur’an Payakumbuh dan Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam penerapannya. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualutatif deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini meliputi sumber primer dan sumber sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, tes dan dokumentasi. Prosedur analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Penulis mendapati hasil bahwa di sekolah AshHabul Qur’an santriwati yang mampu menerapkan Matan Al-Muqaddimah Al-Jazariyah dalam bacaan Al-Qur’annya adalah yang sudah hafal matan tersebut, sedangkan yang lain belum mampu. Dipengaruhi oleh faktor pendukung berupa (1) motivasi diri dan orang sekitar, (2) niat dan mengetahui tujuan mempelajari matan, (3) ketertarikan terhadap ilmu, (4) kehadiran dan masa belajar. Sedangkan Faktor penghambatnya adalah (1) faktor usia, (2) latar belakang pendidikan (3) kurang motivasi dan minat (4) kesibukan dan waktu luang.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Judul skripsi adalah “Pengobatan Penyakit dalam Petunjuk Al- Qur’an dan Relevansinya dengan Ilmu Farmasi (Kajian Tematik Ayat-Ayat Syifa’) ”. Ditulis oleh M. AdlinRidho,NIRM,S1.VI.19.19.478. Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Qur’an (STAIDA) Kota Payakumbuh, dengan program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Latar belakang skripsi ini adalahbahwasebagianmasyarakat modern dalammengobatipenyakithanyafokusmengobatifisikdanmenggunakanobat-obatanmodernsaja.Padahaladaaspek non fisik yang jugamestimendapatperhatian.Sebagaimuslimseharusnyaselaluberpedomankepadapetunjuk Al-Qur’antermasukdalammasalahpengobatan.Ilmukesehatan yang mempelajaritentangobatadalahilmufarmasi.Untukbisamengintegrasikanantarailmufarmasidenganpetunjukdalam Al-Qur’an makaperluuntukmengetahuirelevansiantarakeduanya.Sehinggakeduanyabisaberjalansalingberiringantanpameninggalkansalahsatunyauntukmendapatkanhasilpengobatan yang optimal. Tujuandaripenelitianiniyang pertamaadalahuntukmengetahuipengobatan penyakit dalampetunjuk Al-Qur’an melalui tafsir ayat-ayat syifa’dan yangkeduaadalah untuk mengetahui relevansi ilmu farmasi dengan pengobatan penyakit dalampetunjuk Al-Qur’an melalui tafsir ayat-ayat syifa’. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaanyaitumenelaahkitab-kitabtafsir, buku-bukudankaryailmiah yang berkaitandengantemaskripsiini, pengumpulandatanyadenganlangkah-langkahtafsirmaudhu’i, sedangkanteknikanalisadatanyamenggunakanteknikdeskriptifanalitis. Hasildaripenelitianiniadalahbahwapengobatanpenyakitdalampetunjuk Al-Qur’an yangpertamaadalahdenganmenguatkanakidahdenganmeyakinibahwasemuapenyakit yang menimpamerupakanbagiandaritakdirdanhanya Allah yang bisamenyembuhkan.Kepercayaankepadatakdirmengharuskanmanusiauntukberikhtiardanbertawakkal.Petunjukkeduaadalahmencarikesembuhandengan Al-Qur’an dengancaramembaca,memahamisertamengamalkansemuapetunjuk yang adadalam Al-Qur’an. Petunjukketigaadalahdenganmeminummadusebagaiobatalami.Petunjukkeempatadalahdenganterapijiwadan mental, yaitudenganmenghiburdanmemberikanmotivasikepadasisakit, maka secara alami akan memperkuat jiwanya, membangkitkan staminanya, sehinggadapat meringankan penyakitnya. Relevansiilmufarmasidenganpetunjuk Allah dalam Al-Qur’an melaluianalisatafsirayat-ayatsyifa’adalahbahwadalammelakukanikhtiarmengobatipenyakitdibolehkanberobatmenggunakanobatalamiatauobatkimia, dalamhalinisangatrelevandenganilmufarmasisecaraumum.Kemudian yangkeduaadalahpetunjuk Al-Qur’an yang banyakmenyebutkantentangtumbuhandanbuah-buahan yang jikaditelitidenganilmufarmasidapatdiketahuiberbagaikandunganzataktiv yang memilikikhasiatdalampengobatan. Yang ketigaadalah Allah menyebutkandalam Al-Qur’an satu-satunyabahanobatyaitumadu, halinirelevandenganilmufarmasibahwabahanobat yang berasaldaribahanalamdisebutdenganobatalami.Yang keempatadalahterapi mental danjiwa yangsangatrelevandenganilmuimunologi yang dengannyadapatmeningkatkandayatahantubuh.