2024 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Judul skripsi ini yaitu: “TRADISI MENGAMPUANG MENJELANG RESEPSI PERNIKAHAN DI DESA KUNTU DARUSSALAM, KEC KAMPAR KIRI, KAB KAMPAR, PROVINSI RIAU (Kajian Living Qur’an)” yang ditulis oleh Imam Muhlisin, NIRM SI.VI.19.20.165, Mahasiswa STAI Darul Qur'an Payakumbuh. Diantara tradisi sebelum pernikahan adalah mengampuang, yaitu tradisi pengumpulan dana oleh isi kampung atau kerabat terdekat, tradisi mengampuang di desa Kuntu berbeda dari desa lainnya, di desa ini pengumpulan dana dilakuan secara sistematis dan struktur yaitu dengan pencatatan oleh pihak keluarga. Hal ini merupakan satu diantara poin-poin hidup saling tolong-menolong yang diamalkan masyarakat berlandaskan ajaran Islam al-Qur’an dan hadis atau disebut juga dengan living Qur’an-hadis, nilai-nilai al-Qur’an yang hidup menjadi amalan atau tradisi di tengah masyarakat. Batasan masalah dalam skripsi ini adalah proses pelaksanaan pengumuman pesta pernikahan dan proses pengumpulan dana didalam tradisi mengampuang menjelang resepsi pernikahan di Desa Kuntu Darussalam, Kec. Kampar Kiri, Kab. Kampar, Provinsi Riau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses pelaksanaan pengumuman pesta pernikahan dan bagaimana proses pengumpulan dana didalam tradisi mengampuang menjelang resepsi pernikahan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan living Qur'an. Sesuai dengan lokasi penelitian yang dilaksanakan, maka jenis penelitian yang dilakukan yaitu penelitian lapangan (field research). Sumber data primer dalam penulisan skripsi ini adalah Mamak Kampung, Ninik Mamak luar, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Mayarakat yang mengikuti tradisi mengampuang, sedangkan data sekunder adalah data langsung dari proses acara tradisi mengampuang, seperti foto kegiatan, vidio, dan data-data lainnya sebagai pendukung. Hasil dalam penelitian ini adalah Tahap pertama, dimulai dengan berkumpulnya para sumondo, tunganai tonga umah, tunganai nan ompek dan mamak kampung nan gadang dirumah ahli bait. Tahap kedua memanggil isi kampung yaitu; ghang sumando, anak pancagh, onggang badodon, kawan sakubelan, pipik batoboh, tali sabondo ayugh, balirik tulang bubuong, perantaraan zat dan sifat, untuk dapat menghadiri acara tradisi mengampuang. Tahap ketiga pelaksanaan tradisi mengampuang itu sendiri, yakni; makan-makan, meminta izin membukanya acara dan menyampaikan hajat, menghimbau atau mengumumkan undangan pesta pernikahan si ahli bait untuk sama-sama dapat hadir di acara tersebut, dan meminta bantuan sumbangan biaya pesta pernikahan. Dilaksanakannya tradisi ini adalah untuk menjalin dan memperkuat tali silaturahmi. Selain itu, juga dapat menerapkan sifat tolong-menolong yang dianjurkan oleh al-Qur’an dan hadis. Masyarakat sangat antusias dalam membantu antar sesama saudara untuk saling meringankan beban saudara yang lain. Oleh sebab itu masyarakat telah menghidupkan nilai-nilai al-Qur’an dan hadis di kehidupan sehari-hari atau disebut dengan living Qur’an-hadis.
2024 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Skripsi ini berjudul " Al-Insan Dalam Al-Qur'an (Studi Komparatif Tafsir Al-Azhar dan Tafsir Al-Munir)" yang ditulis oleh Mila Roza, NIRM: S1.VI.19.20.171, Mahasiswa STAI Darul Qur'an Payakumbuh. Penelitian ini dilatar belakangi oleh berbagai macam penyebutan manusia dalam Al-Qur'an yaitu Basyar, Al-Ins, An-Nas, Bani Adam dan Al- Insan. Namun, penulis menemukan hal menarik dalam penyebutan Al-Insan yang terdapat dalam Al-Qur'an yaitu sebanyak 64 kali dalam 42 surat, akan tetapi 14 kali dalam 13 surat diantaranya didampingi oleh kata خلق dan 1 kali dalam 1 surat diantara 13 surat ini penulis temukan kata خلق terdapat setelah penyebutan Al-Insan yaitu dalam Qs. Al-ma'arij ayat 19. Maka dari itu penulis tertarik meneliti penyebutan Al-Insan dalam Al-Qur'an menurut Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar dan Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir, akan tetapi penulis mendalami penyebutan Al-Insan yang dahulu dari kata خلق yang hanya satu kali penyebutan yaitu didalam Qs. Al- Ma'arij ayat 19. Kemudian penulis ingin menganalisis dari kedua pendapat mufassir tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap bagaimana penafsiran Qs. Al-Ma'arij ayat 19 menurut Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan Tafsir Al-Munir karya Wahbah Az-Zuhaili serta analisis penulis dari kedua mufassir. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dan metode tafsir yang dipakai adalah metode muqaran jenis perbandingan antara mufassir, sumber data penelitian terbagi dua: pertama sumber data primer yaitu Al-Qur'an, Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan Tafsir Al- Munir karya Wahbah Az-Zuhaili. Kedua sumber data sekunder adalah data pendukung yang memudahkan untuk meneliti kajian, yaitu: jurnal, buku, skripsi tulisan-tulisan tokoh lain yang didalamnya terdapat pembahasan yang berkaitan dengan pembahasan Al-Insan. Berdasarkan hasil dari penelitian ini yakni penafsiran Qs. Al-Ma'arij ayat 19. Menurut Buya Hamka Qs. Al-Ma'arij ayat 19 adalah manusia yang berkeluh kesah ialah tidak pempunyai ketenangan hati, selalu cemas, selalu ketakutan dan selalu merasa kurang saja. Menurut Wahbah Az-Zuhaili Qs. Al-Ma'arij ayat 19 adalah manusia dibangun diatas rasa bosan atau panik, sangat cemas dan sedikit kesabaran. Analisis penulis, keduanya mengemukakan bahwa manusia diciptakan dari sifat keluh kesah. Sementara perbedaan dari kedua mufassir, Buya Hamka menjelaskan bahwa manusia itu selalu berkeluh kesah dalam keadaan apapun. Sedangkan Wahbah Az- Zuhaili menjelaskan bahwa manusia itu sangat berkeluh kesah yang disebabkan oleh munculnya situasi atau kondisi yang berakibat keluh kesah itu muncul.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
ABSTRAK Skripsi ini berjudul " Al-Insan Dalam Al-Qur'an (Studi Komparatif Tafsir Al-Azhar dan Tafsir Al-Munir)" yang ditulis oleh Mila Roza, NIRM: S1.VI.19.20.171, Mahasiswa STAI Darul Qur'an Payakumbuh. Penelitian ini dilatar belakangi oleh berbagai macam penyebutan manusia dalam Al-Qur'an yaitu Basyar, Al-Ins, An-Nas, Bani Adam dan Al- Insan. Namun, penulis menemukan hal menarik dalam penyebutan Al-Insan yang terdapat dalam Al-Qur'an yaitu sebanyak 64 kali dalam 42 surat, akan tetapi 14 kali dalam 13 surat diantaranya didampingi oleh kata خلق dan 1 kali dalam 1 surat diantara 13 surat ini penulis temukan kata خلق terdapat setelah penyebutan Al-Insan yaitu dalam Qs. Al-ma'arij ayat 19. Maka dari itu penulis tertarik meneliti penyebutan Al-Insan dalam Al-Qur'an menurut Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar dan Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir, akan tetapi penulis mendalami penyebutan Al-Insan yang dahulu dari kata خلق yang hanya satu kali penyebutan yaitu didalam Qs. Al- Ma'arij ayat 19. Kemudian penulis ingin menganalisis dari kedua pendapat mufassir tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap bagaimana penafsiran Qs. Al-Ma'arij ayat 19 menurut Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan Tafsir Al-Munir karya Wahbah Az-Zuhaili serta analisis penulis dari kedua mufassir. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dan metode tafsir yang dipakai adalah metode muqaran jenis perbandingan antara mufassir, sumber data penelitian terbagi dua: pertama sumber data primer yaitu Al-Qur'an, Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan Tafsir Al- Munir karya Wahbah Az-Zuhaili. Kedua sumber data sekunder adalah data pendukung yang memudahkan untuk meneliti kajian, yaitu: jurnal, buku, skripsi tulisan-tulisan tokoh lain yang didalamnya terdapat pembahasan yang berkaitan dengan pembahasan Al-Insan. Berdasarkan hasil dari penelitian ini yakni penafsiran Qs. Al-Ma'arij ayat 19. Menurut Buya Hamka Qs. Al-Ma'arij ayat 19 adalah manusia yang berkeluh kesah ialah tidak pempunyai ketenangan hati, selalu cemas, selalu ketakutan dan selalu merasa kurang saja. Menurut Wahbah Az-Zuhaili Qs. Al-Ma'arij ayat 19 adalah manusia dibangun diatas rasa bosan atau panik, sangat cemas dan sedikit kesabaran. Analisis penulis, keduanya mengemukakan bahwa manusia diciptakan dari sifat keluh kesah. Sementara perbedaan dari kedua mufassir, Buya Hamka menjelaskan bahwa manusia itu selalu berkeluh kesah dalam keadaan apapun. Sedangkan Wahbah Az- Zuhaili menjelaskan bahwa manusia itu sangat berkeluh kesah yang disebabkan oleh munculnya situasi atau kondisi yang berakibat keluh kesah itu muncul.
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan
2024 · Book · Koleksi Perpustakaan