2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Al-Qur’an, sebagai firman Allah yang mulia dan petunjuk utama bagi umat manusia, mengandung kekayaan ilmu dan hikmah yang tak ternilai. Setiap kata dan ayatnya menyimpan makna mendalam yang dapat membimbing manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun, untuk menggali mutiara-mutiara ilmu dan hikmah tersebut, diperlukan pemahaman yang komprehensif dan mendalam. Inilah mengapa setiap muslim perlu membekali diri dengan ilmu-ilmu yang tepat, yang dikenal sebagai Ulumul Qur’an. Buku “Ulumul Qur’an: Kunci Membuka Pintu Pemahaman Al-Qur’an” hadir sebagai panduan yang mudah dipahami, dirancang khusus untuk mahasiswa dan pembaca umum yang ingin mempelajari Ulumul Qur’an. Ditulis dengan bahasa yang sederhana dan terstruktur, buku ini mengupas tuntas berbagai aspek penting dalam Ulumul Qur’an. Mulai dari sejarah penurunan Al-Qur’an, proses pengumpulan dan kodifikasi mushaf, nasikh dan mansukh, muhkam dan mutasyabih hingga ragam ilmu yang membantu dalam penafsiran Al-Qur’an, buku ini menyajikan informasi yang komprehensif. Dengan demikian, buku ini diharapkan dapat menjadi “Kunci” yang membuka pintu pemahaman Al-Qur’an, menjadikan pembaca untuk lebih dekat dengan firman Allah dan mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Ulumul Qur`an adalah sebuah metode yang lengkap dan menyeluruh untuk membuka pintu awal dari kedalaman kandungan al-Qur`an. Karenanya, umat Islam secara umum, ataupun secara khusus bagi mahasiswa muslim yang merindukan interaksi lebih mendalam dengan al-Qur`an, secara otomatis akan dituntut untuk mempelajari Ulumul Qur`an. Untuk menjawab tuntutan tersebut, maka sangat dibutuhkan pengajaran Ulumul Qur`an pada mahasiswa muslim sebagai bekal awal dalam berinteraksi lebih lanjut dengan alQur`an. Sebuah pengajaran yang sistematis, sederhana namun tidak kehilangan inti pembahasan Ulumul Qur`an. Buku ini yang menjadi salah satu usaha riil untuk menjawab tuntutan tersebut diambil dari sebuah kitab Ulumul Qur`an yang terkenal, yaitu Mabāḥiṡ fī ‘Ulūm al-Qur`ān karya Syeikh Manna’ al-Qatthan. Tidak hanya sekadar sebagai terjemahan, buku ini juga sebagai rujukan utama dalam mata kuliah Ulumul Qur`an. Isinya juga penyusun ambil dari referensi Ulumul Qur`an lainnya sebagai bahan tambahan para mahasiwa dalam mendukung sumber bacaannya.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Buku ini secara umum memberikan ulasan terkait ‘Ulûmul Qur’ân, dari sisi pengayaan antara pendapat ulama klasik maupun kontemporer. Buku ini berusaha meletakkan sebuah pondasi dasar sebagaimana judul buku ini “Pondasi Dasar Memahami ‘Ulûmul Qur’ân.” Penamaan buku ini sendiri diambil penulis merupakan doa agar buku ini dapat memberi pencerahan dan menanamkan pondasi pemahaman yang kuat bagi mereka yang ingin memahami ‘Ulûmul Qur’ân, sebagaimana bangunan yang dibangun dengan pondasi yang kuat maka ia akan berdiri dengan kokoh
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Al-Qur’an menjadi petunjuk hidup bagi manusia yang mendambakan kebahagiaan yang hakiki. Manusia wajib mengikuti petunjuk-petunjuk Al-Qur’an. Ketika manusia jauh dari petunjuk hidupnya, maka sesungguhnya mereka telah “membinatangkan” dirinya. Telah tampak di hadapan mata kita, seseorang yang tidak berpedoman pada Al-Qur’an, maka perilakunya tidak jauh beda dengan binatang. Jangan bersedih jika engkau tidak dihargai, tetapi bersedihlah jika tidak berharga lagi. Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil, tetapi jadilah manusia yang bermanfaat. Bertemanlah dengan orang yang suka membela kebenaran. Dialah hiasan di kala kita senang dan perisai di waktu susah. Namun, kita tidak akan pernah memiliki seorang teman, jika kita mengharapkan seseorang tanpa kesalahan. Semua manusia itu baik, jika kita bisa melihat kebaikan dan keunikannya. Sebaliknya, semua manusia itu akan buruk dan membosankan, jika kita tidak bisa melihat keduanya. Hidup tanpa rencana tak ubahnya melangkah tanpa arah. Ibaratnya perjalanan tanpa tujuan. Tujuan akhir manusia adalah surga, maka ikutilah petunjuk Al-Qur’an Al-Karim.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Skripsi ini berjudul “Kemampuan Membaca Al Qur’an Remaja Masjid Amaliyah Muaro Kecamatan Payakumbuh Utara”, yang ditulis oleh Yanti Elita, NIRM S.1.VI.19.19.532., Mahasiswa Institut Darul Qur‟an Payakumbuh. Latar belakang skripsi ini banyak remaja yang menghadapi kesulitan dalam membaca Al-Qur'an dengan lancar dan benar. Beberapa faktor yang mempengaruhi hal ini antara lain kurangnya pengetahuan tentang tajwid, tidak terbiasa membaca Al-Qur'an sejak dini, atau kurangnya perhatian dari lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar. Kondisi ini mengindikasikan perlunya penelitian tentang kemampuan membaca Al-Qur'an di kalangan remaja masjid, sehingga dapat ditemukan solusi yang tepat untuk meningkatkan kemampuan mereka. Metode penelitian kualitatif deskriptif adalah pendekatan yang sangat cocok untuk meneliti kemampuan membaca Al-Qur'an pada remaja di masjid karena fokusnya adalah pada pemahaman mendalam mengenai fenomena yang terjadi dalam konteks pembelajaran Al-Qur'an. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi, pengalaman, persepsi, dan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca Al-Qur'an di kalangan remaja di masjid. Hasil Penelitian yang penulis temukan adalah berapa remaja sudah membaca dan menerapkan Mahharijul Qur’an dengan baik dan benar. Dan ada beberapa remaja yang tidak tepat dan kurang tepat yang disebabkan karena kebiasaan membaca dari dulu, tergesa-gesa dalam membaca, kesulitan dalam pengucapan huruf hijaiyah Al-Qur’an. Dari total 15 orang sampling, 7 orang dalam kategori bacaan tepat, 4 orang dengan kategori kurang tepat dan 4 orang dalam kategori tidak tepat. Kategori tepat, bacaan dan makharijulnya sudah tepat, kurang tepat dengan keterangan mengganti huruf yang pengucapannya hampir sama, dan kategori tidak tepat dengan keterangan mengganti huruf yang pengucapan serta penulisannya hampir sama. Bacaan remaja masjid yang kategori tepat merupakan Siswa menengah atas dan mahasiswa juga berprofesi sebagai Guru Ngaji. Sedangkan remaja masjid kategori kurang tepat dan tidak tepat merupakan siswa menengah pertama (SMP) dan ada sebagai siswa menengah atas (SMA). Kesimpulan yang Penulis berikan adalah Tingkat kemampuan membaca AlQur’an remaja Masjid Amaliyah Muaro Kecamatan Payakumbuh Utara sebagian berada pada kategori “tepat”. Sebagian lagi pembacaan dan penerapan makharijul hurufnya berada pada kategorti kurang tepat dan tidak tepat yang mana tertukar antara huruf yang hampir sama pengucapannya dan hampir sama penulisannya serta Factor hambatan yang menjadi penyebab remaja masjid berada pada kategori kurang tepat dan tidak tepat adalah terbiasa melafalkan Surat Al Fatihah yang makharijul hurufnya belum sempurna dari kecil, tergesa-gesa dalam membaca dan satu orang sulit dalam pengucapan huruf hijaiyah. Saran yang penulis berikan adalah mengharapkan Masjid Amaliyah Muaro dapat menyelenggarakan program pelatihan tahsin dan tajwid secara rutin bagi remaja masjid, dengan pendampingan ustadz atau guru ngaji yang kompeten, remaja masjid hendaknya terus meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an melalui latihan rutin, mengikuti pengajian, dan memperdalam ilmu tajwid baik secara mandiri maupun berkelompok serta orang tua diharapkan dapat memberikan dukungan penuh terhadap anak-anak mereka untuk belajar membaca Al-Qur’an sejak dini dan mendorong keterlibatan aktif dalam kegiatan masjid.
2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini berjudul “Kemampuan Membaca Al Qur’an Remaja Masjid Amaliyah Muaro Kecamatan Payakumbuh Utara”, yang ditulis oleh Yanti Elita, NIRM S.1.VI.19.19.532., Mahasiswa Institut Darul Qur‟an Payakumbuh. Latar belakang skripsi ini banyak remaja yang menghadapi kesulitan dalam membaca Al-Qur'an dengan lancar dan benar. Beberapa faktor yang mempengaruhi hal ini antara lain kurangnya pengetahuan tentang tajwid, tidak terbiasa membaca Al-Qur'an sejak dini, atau kurangnya perhatian dari lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar. Kondisi ini mengindikasikan perlunya penelitian tentang kemampuan membaca Al-Qur'an di kalangan remaja masjid, sehingga dapat ditemukan solusi yang tepat untuk meningkatkan kemampuan mereka. Metode penelitian kualitatif deskriptif adalah pendekatan yang sangat cocok untuk meneliti kemampuan membaca Al-Qur'an pada remaja di masjid karena fokusnya adalah pada pemahaman mendalam mengenai fenomena yang terjadi dalam konteks pembelajaran Al-Qur'an. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi, pengalaman, persepsi, dan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca Al-Qur'an di kalangan remaja di masjid. Hasil Penelitian yang penulis temukan adalah berapa remaja sudah membaca dan menerapkan Mahharijul Qur’an dengan baik dan benar. Dan ada beberapa remaja yang tidak tepat dan kurang tepat yang disebabkan karena kebiasaan membaca dari dulu, tergesa-gesa dalam membaca, kesulitan dalam pengucapan huruf hijaiyah Al-Qur’an. Dari total 15 orang sampling, 7 orang dalam kategori bacaan tepat, 4 orang dengan kategori kurang tepat dan 4 orang dalam kategori tidak tepat. Kategori tepat, bacaan dan makharijulnya sudah tepat, kurang tepat dengan keterangan mengganti huruf yang pengucapannya hampir sama, dan kategori tidak tepat dengan keterangan mengganti huruf yang pengucapan serta penulisannya hampir sama. Bacaan remaja masjid yang kategori tepat merupakan Siswa menengah atas dan mahasiswa juga berprofesi sebagai Guru Ngaji. Sedangkan remaja masjid kategori kurang tepat dan tidak tepat merupakan siswa menengah pertama (SMP) dan ada sebagai siswa menengah atas (SMA). Kesimpulan yang Penulis berikan adalah Tingkat kemampuan membaca AlQur’an remaja Masjid Amaliyah Muaro Kecamatan Payakumbuh Utara sebagian berada pada kategori “tepat”. Sebagian lagi pembacaan dan penerapan makharijul hurufnya berada pada kategorti kurang tepat dan tidak tepat yang mana tertukar antara huruf yang hampir sama pengucapannya dan hampir sama penulisannya serta Factor hambatan yang menjadi penyebab remaja masjid berada pada kategori kurang tepat dan tidak tepat adalah terbiasa melafalkan Surat Al Fatihah yang makharijul hurufnya belum sempurna dari kecil, tergesa-gesa dalam membaca dan satu orang sulit dalam pengucapan huruf hijaiyah. Saran yang penulis berikan adalah mengharapkan Masjid Amaliyah Muaro dapat menyelenggarakan program pelatihan tahsin dan tajwid secara rutin bagi remaja masjid, dengan pendampingan ustadz atau guru ngaji yang kompeten, remaja masjid hendaknya terus meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an melalui latihan rutin, mengikuti pengajian, dan memperdalam ilmu tajwid baik secara mandiri maupun berkelompok serta orang tua diharapkan dapat memberikan dukungan penuh terhadap anak-anak mereka untuk belajar membaca Al-Qur’an sejak dini dan mendorong keterlibatan aktif dalam kegiatan masjid.
2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Abstrak
Penelitian ini membahas penafsiran Ayat Kursi sebagai media pengobatan dan jimat dalam perspektif karya ‘Alaufaq yang dinisbatkan kepada Imam al-Ghazali. Fokus kajian diarahkan pada bagaimana Ayat Kursi dipahami, dimaknai, dan dipraktikkan dalam tradisi pengobatan spiritual serta penggunaan jimat (tamīmah) di kalangan masyarakat Muslim. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan menganalisis teks-teks dalam ‘Alaufaq, karya-karya tasawuf, serta literatur tafsir dan ulumul Qur’an terkait fungsi ayat-ayat al-Qur’an sebagai sarana perlindungan dan penyembuhan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tradisi sufistik, termasuk dalam ‘Alaufaq, Ayat Kursi tidak hanya dipahami sebagai ayat yang berisi konsep ketuhanan dan kekuasaan absolut Allah, tetapi juga dianggap memiliki nilai-nilai protektif dan terapeutik. Penafsiran tersebut berakar pada keyakinan akan keberkahan (barakah) kalam Ilahi serta praktik wirid, ruqyah, dan amalan-amalan tertentu yang diyakini dapat menghadirkan ketenangan, perlindungan, dan penyembuhan bagi individu. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan adanya perbedaan sudut pandang antara ulama fikih, hadis, dan tasawuf mengenai legitimasi penggunaan ayat sebagai jimat fisik, sehingga membuka ruang diskusi kritis tentang batasan-batasan penggunaan Ayat Kursi dalam konteks pengobatan dan penjagaan diri.
Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan Imam al-Ghazali dalam ‘Alaufaq menempatkan Ayat Kursi sebagai sarana spiritual yang menggabungkan aspek teologis, psikologis, dan simbolik, sehingga menjadikannya bagian dari praktik keagamaan dan kultural yang hidup di masyarakat Muslim hingga saat ini.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Skripsi ini berjudul “Unsur-Unsur Kebudayaan Minangkabau Dalam Kitab Tafsir Al-Azhar” yang ditulis oleh Fauziah NIRM.S1.VI.10.20.156, Mahasiswa Institut Darul Qur‟an Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami interaksi antara teks suci al-Qur‟an dan kebudayaan lokal, khususnya dalam konteks unsur-unsur kebudayaan Minangkabau sebagaimana ditafsirkan dalam kitab Tafsir al-Azhar karya Buya Hamka. Rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana unsur-unsur kebudayaan Minangkabau dalam surah an-Nisa‟ yang terdapat dalam kitab tafsir al-Azhar. Penelitian ini dibatasi pada klasifikasi isi kandungan ayat yang berkaitan dengan unsur-unsur kebudayaan dalam surah anNisa‟, penafsiran serta analisis terhadap penafsiran tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan metode tafsir maudhu’i Muhammad al-Ghazali yakni satu surah yang memiliki ayat dengan tema yang sama. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tentang unsur-unsur kebudayaan Minangkabau yang terdapat pada surah an-Nisa‟ dalam kitab tafsir al-Azhar. Sumber data penelitian terbagi dua, sumber data primer yaitu tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan sumber data sekunder yaitu bukubuku pendukung, jurnal, artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Penelitian ini menemukan bahwa dari 176 ayat yang ada dalam surah anNisa‟, Buya Hamka hanya memasukkan unsur-unsur kebudayaan Minangkabau pada 6 ayat saja yakni ayat 1, 3, 19, 21, 23, dan 24. Adapun unsur-unsur kebudayaan tersebut yaitu sistem kemasyarakatan,yang mana pada ayat 1 unsurunsur kebudayaan sosial kemasyarakatan yang di maksud adalah sistem kekerabatan yang mana Buya Hamka menuliskan bahwa jika seseorang berpegian jauah (merantau) apabila bertemu dengan orang yang satu daerah maka hal yang akan ditanyakan adalah suku. Pada ayat 3 unsur-unsur sosial kemasyarakatan yang di maksud adalah kekerabatan, yang mana kebudayaan Minangkabau menganut sistem kekerabatan menurut garis keturunan ibu (matrelinial) bukan ayah (patrilineal). Pada ayat 19 menggunakan unsur-unsur kebudayaan kesenian dengan menuliskan ungkapan tradisonal di Minangkabau yaitu orang pamenan mato, obat jerih pelerai demam sedingin tempat di kepala yaitu melihat istri yang taat hatipun senang, melihat yang memenuhi harapan, kesusahan ayah terobati itulah kekayaan yang sejati. Pada ayat 21 dalam menjelaskan tentang penceraian, Buya Hamka memasukkan unsur-unsur kebudayaan kesenian dengan menggunakan pantun taliban Minangkabau yang dipantunkan oleh seorang istri yang diceraikan suami, hanya karna si suami ingin mencari yang baru. Pada ayat 23 unsur-unsur kebudayaan yang digunakan adalah bahasa yang mana disana menggunakan bahasa lokal yaitu kemenakan. Pada ayat 23 unsur-unsur kebudayaan yang digunakan yaitu system religi yang mana dalam penafsirannya Buya Hamka meneuliskan salah satu ulama yang berasal dari Minangkabau yaitu Sayid Abdul Hamid al-Khatib (sahabat Buya Hamka) yang nana ayahnya Syaikh Ahmad Khatib (ulama Minangkabau yang masyhur di Mekkah
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya penyempitan makna lafadz Muqaddas
di tengah masyarakat, yang kerap kali hanya dipahami sebatas tempat fisik seperti Masjid
al-Aqsha. Padahal dalam Al-Qur`an lafadz Muqaddas memiliki dimensi makna yang lebih
luas dan dalam mencakup aspek spiritual, geografis, teologis, dan simbolik. Ketidaktahuan
terhadap konteks penggunaan lafadz ini berpotensi menimbulkan kekeliruan pemahaman,
terlebih dalam konteks Baitul Maqdis yang menjadi objek sengketa antarperadaban, baik
dari sisi dunia Islam maupun Barat.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan analisis lafadz Muqaddas yang ada
dalam Al-Qur`an sebagaimana yang digunakan dalam tiga ayat Al-Qur’an, yaitu QS. al-
Ma`idah: 21, Thaha: 12, dan an-Nazi’at: 16. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk
menganalisis penafsiran para mufasir terhadap lafadz tersebut.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan
(library research) dan metode tafsir maudhu‘i (tematik). Sumber data utama berasal dari Al-
Qur’an dan enam kitab tafsir : al-Misbah, Ibnu Katsir, al-Thabari, al-Jashash, al-Munir, dan
al-Azhar.
Hasil penelitian ini terbagi kepada 2 pembahasan. Pertama, analisis lafadz
muqaddas dalam Al-Qur`an mengandung makna kesucian yang bersumber dari kehendak
Ilahi, tidak hanya secara lahiriah tetapi juga spiritual dan teologis. Akar kata q-d-s
menunjukkan makna penyucian dan pemuliaan yang dikaitkan langsung dengan kehadiran
Allah SWT. Kedua, analisis penafsiran ayat-ayat tentang muqaddas dalam Al-Qur`an
terbagi kepada dua penafsiran. Yaitu penafsiran muqaddas dengan makna lembah tuwa
yang terdapat pada dua surat yaitu surat Thaha ayat 12 dan surat an-Nazi’at ayat 16.
Kemudian penafsiran muqaddas dengan makna baitul maqdis yang terdapat pada surat al-
Ma`idah ayat 21. Dengan demikian, konsep kesucian dalam lafadz muqaddas bersifat
teosentris (tuhan sebagai pusat dan sumber utama segala nilai, tujuan dan makna
kehidupan), menegaskan bahwa kesucian suatu tempat lahir dari keterhubungannya dengan
Allah, wahyu, dan para rasul-Nya.
2025 · Book · Koleksi Perpustakaan
Judul skripsi ini adalah “Qarin Dalam Al-Qur’an Menurut Tafsir Al-Azhar” ditulis oleh: Alvin Auliansyah, Nirm: S1.VI.19.20.369. Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an Fakultas Ushuluddin Dan Studi Islam Institut Darul Qur’an Payakumbuh.
Adapun yang melatar belakangi penelitian ini adanya maraknya di media sosial tiktok, yaitu cek khodam live. Bahkan banyak yang menyumbang agar si penyiar mau menyebutkan khodam apa yang ia punya, hanya dengan menyebutkan nama, si penyiar akan mengatakan khodam seperti apa yang ada dalam tubuh pemirsanya. Ada yang khodam Nyi Roro Kidul, Harimau Putih, Kris Merah, Elang Petir, Nyi Blorong dan ada juga yang kosong khodamnya.
Jenis penelitian yang digunakan dalam skripsi ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library Research), menggunakan analisis deskriptif, yang merupakan sebuah metode yang mengambil bahan kajian dari berbagai sumber, dengan pendekatan metode tafsir maudhu’i. Adapun penelitian ini, bersumber dari data primer dan data sekunder. Primer yaitu yang diperoleh dari literatur yang berkaitan langsung dengan judul ini yakni Kitab Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka karna hanya Hamka yang penulis temukan bahwa qarin ada yang makhluk kasar dan halus. Adapun data sekundernya yaitu buku-buku, jurnal, artikel, skripsi dan tulisan yang mengandung isi dari pembahasan.
Hasil dari penelitian ini setelah menganalisa penafsiran Buya Hamka penulis menyimpulkan bahwa ada 8 ayat yang mengisaratkan tentang keberadaannya jin qarin, surat An-Nisa’ ayat 38, surat As-Shaffat ayat 51, surat Fusshilat ayat 25, surat Az-Zukhruf ayat 36,38,53, surat Qaf ayat 23 dan 27. Dari semua ayat yang mengisaratkan tentang jin qarin hanya surat An-Nisa saja yang kategori Madaniyah yang lainnya masuk kategori Makkiyah.
Penafsiran Hamka menjelaskan bahwa jin qarin itu bukan hanya makhluk halus yaitu jin, setan dan malaikat yang membisikkan kebaikan dan kejahatan , namun ada juga dari makhluk kasar yaitu manusia yang perannya sama seperti qarin dari gologan makhluk halus. Karna qarin yang mengajak kepada kejahatan juga ada dari manusia, yang bisa jadi qarin itu adalah sahabat karib selama bergaul di dunia maka harus berhati-hati dalam memilih teman, jangan sampai teman karib hanya memuji perbuatan tanpa ada menasihati kelakuan buruk yang akhirnya membawa kepada kemaksitan, kesyirikan namun selalu merasa bahwa yang dilakukan selama ini adalah suatu kebenaran. Adapun peran qarin dalam kehidupan manusia ada empat macam, pertama sebagai penggiring manusia masuk ke neraka, ke dua sebagai saksi atas apa yang manusia kerjakan selama hidup di dunia, ke tiga menyeru manusia untuk melakukan keburukan, dan yang ke empat menyeru manusia untuk melakukan kebaikan.
2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak
Penelitian ini membahas penafsiran Ayat Kursi sebagai media pengobatan dan jimat dalam perspektif karya ‘Alaufaq yang dinisbatkan kepada Imam al-Ghazali. Fokus kajian diarahkan pada bagaimana Ayat Kursi dipahami, dimaknai, dan dipraktikkan dalam tradisi pengobatan spiritual serta penggunaan jimat (tamīmah) di kalangan masyarakat Muslim. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka (library research) dengan menganalisis teks-teks dalam ‘Alaufaq, karya-karya tasawuf, serta literatur tafsir dan ulumul Qur’an terkait fungsi ayat-ayat al-Qur’an sebagai sarana perlindungan dan penyembuhan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tradisi sufistik, termasuk dalam ‘Alaufaq, Ayat Kursi tidak hanya dipahami sebagai ayat yang berisi konsep ketuhanan dan kekuasaan absolut Allah, tetapi juga dianggap memiliki nilai-nilai protektif dan terapeutik. Penafsiran tersebut berakar pada keyakinan akan keberkahan (barakah) kalam Ilahi serta praktik wirid, ruqyah, dan amalan-amalan tertentu yang diyakini dapat menghadirkan ketenangan, perlindungan, dan penyembuhan bagi individu. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan adanya perbedaan sudut pandang antara ulama fikih, hadis, dan tasawuf mengenai legitimasi penggunaan ayat sebagai jimat fisik, sehingga membuka ruang diskusi kritis tentang batasan-batasan penggunaan Ayat Kursi dalam konteks pengobatan dan penjagaan diri.
Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan Imam al-Ghazali dalam ‘Alaufaq menempatkan Ayat Kursi sebagai sarana spiritual yang menggabungkan aspek teologis, psikologis, dan simbolik, sehingga menjadikannya bagian dari praktik keagamaan dan kultural yang hidup di masyarakat Muslim hingga saat ini.
2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya penyempitan makna lafadz Muqaddas
di tengah masyarakat, yang kerap kali hanya dipahami sebatas tempat fisik seperti Masjid
al-Aqsha. Padahal dalam Al-Qur`an lafadz Muqaddas memiliki dimensi makna yang lebih
luas dan dalam mencakup aspek spiritual, geografis, teologis, dan simbolik. Ketidaktahuan
terhadap konteks penggunaan lafadz ini berpotensi menimbulkan kekeliruan pemahaman,
terlebih dalam konteks Baitul Maqdis yang menjadi objek sengketa antarperadaban, baik
dari sisi dunia Islam maupun Barat.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan analisis lafadz Muqaddas yang ada
dalam Al-Qur`an sebagaimana yang digunakan dalam tiga ayat Al-Qur’an, yaitu QS. al-
Ma`idah: 21, Thaha: 12, dan an-Nazi’at: 16. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk
menganalisis penafsiran para mufasir terhadap lafadz tersebut.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan
(library research) dan metode tafsir maudhu‘i (tematik). Sumber data utama berasal dari Al-
Qur’an dan enam kitab tafsir : al-Misbah, Ibnu Katsir, al-Thabari, al-Jashash, al-Munir, dan
al-Azhar.
Hasil penelitian ini terbagi kepada 2 pembahasan. Pertama, analisis lafadz
muqaddas dalam Al-Qur`an mengandung makna kesucian yang bersumber dari kehendak
Ilahi, tidak hanya secara lahiriah tetapi juga spiritual dan teologis. Akar kata q-d-s
menunjukkan makna penyucian dan pemuliaan yang dikaitkan langsung dengan kehadiran
Allah SWT. Kedua, analisis penafsiran ayat-ayat tentang muqaddas dalam Al-Qur`an
terbagi kepada dua penafsiran. Yaitu penafsiran muqaddas dengan makna lembah tuwa
yang terdapat pada dua surat yaitu surat Thaha ayat 12 dan surat an-Nazi’at ayat 16.
Kemudian penafsiran muqaddas dengan makna baitul maqdis yang terdapat pada surat al-
Ma`idah ayat 21. Dengan demikian, konsep kesucian dalam lafadz muqaddas bersifat
teosentris (tuhan sebagai pusat dan sumber utama segala nilai, tujuan dan makna
kehidupan), menegaskan bahwa kesucian suatu tempat lahir dari keterhubungannya dengan
Allah, wahyu, dan para rasul-Nya.
2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini berjudul “Unsur-Unsur Kebudayaan Minangkabau Dalam Kitab Tafsir Al-Azhar” yang ditulis oleh Fauziah NIRM.S1.VI.10.20.156, Mahasiswa Institut Darul Qur‟an Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami interaksi antara teks suci al-Qur‟an dan kebudayaan lokal, khususnya dalam konteks unsur-unsur kebudayaan Minangkabau sebagaimana ditafsirkan dalam kitab Tafsir al-Azhar karya Buya Hamka. Rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana unsur-unsur kebudayaan Minangkabau dalam surah an-Nisa‟ yang terdapat dalam kitab tafsir al-Azhar. Penelitian ini dibatasi pada klasifikasi isi kandungan ayat yang berkaitan dengan unsur-unsur kebudayaan dalam surah anNisa‟, penafsiran serta analisis terhadap penafsiran tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan metode tafsir maudhu’i Muhammad al-Ghazali yakni satu surah yang memiliki ayat dengan tema yang sama. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tentang unsur-unsur kebudayaan Minangkabau yang terdapat pada surah an-Nisa‟ dalam kitab tafsir al-Azhar. Sumber data penelitian terbagi dua, sumber data primer yaitu tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan sumber data sekunder yaitu bukubuku pendukung, jurnal, artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Penelitian ini menemukan bahwa dari 176 ayat yang ada dalam surah anNisa‟, Buya Hamka hanya memasukkan unsur-unsur kebudayaan Minangkabau pada 6 ayat saja yakni ayat 1, 3, 19, 21, 23, dan 24. Adapun unsur-unsur kebudayaan tersebut yaitu sistem kemasyarakatan,yang mana pada ayat 1 unsurunsur kebudayaan sosial kemasyarakatan yang di maksud adalah sistem kekerabatan yang mana Buya Hamka menuliskan bahwa jika seseorang berpegian jauah (merantau) apabila bertemu dengan orang yang satu daerah maka hal yang akan ditanyakan adalah suku. Pada ayat 3 unsur-unsur sosial kemasyarakatan yang di maksud adalah kekerabatan, yang mana kebudayaan Minangkabau menganut sistem kekerabatan menurut garis keturunan ibu (matrelinial) bukan ayah (patrilineal). Pada ayat 19 menggunakan unsur-unsur kebudayaan kesenian dengan menuliskan ungkapan tradisonal di Minangkabau yaitu orang pamenan mato, obat jerih pelerai demam sedingin tempat di kepala yaitu melihat istri yang taat hatipun senang, melihat yang memenuhi harapan, kesusahan ayah terobati itulah kekayaan yang sejati. Pada ayat 21 dalam menjelaskan tentang penceraian, Buya Hamka memasukkan unsur-unsur kebudayaan kesenian dengan menggunakan pantun taliban Minangkabau yang dipantunkan oleh seorang istri yang diceraikan suami, hanya karna si suami ingin mencari yang baru. Pada ayat 23 unsur-unsur kebudayaan yang digunakan adalah bahasa yang mana disana menggunakan bahasa lokal yaitu kemenakan. Pada ayat 23 unsur-unsur kebudayaan yang digunakan yaitu system religi yang mana dalam penafsirannya Buya Hamka meneuliskan salah satu ulama yang berasal dari Minangkabau yaitu Sayid Abdul Hamid al-Khatib (sahabat Buya Hamka) yang nana ayahnya Syaikh Ahmad Khatib (ulama Minangkabau yang masyhur di Mekkah
2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Judul skripsi ini adalah “Qarin Dalam Al-Qur’an Menurut Tafsir Al-Azhar” ditulis oleh: Alvin Auliansyah, Nirm: S1.VI.19.20.369. Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an Fakultas Ushuluddin Dan Studi Islam Institut Darul Qur’an Payakumbuh.
Adapun yang melatar belakangi penelitian ini adanya maraknya di media sosial tiktok, yaitu cek khodam live. Bahkan banyak yang menyumbang agar si penyiar mau menyebutkan khodam apa yang ia punya, hanya dengan menyebutkan nama, si penyiar akan mengatakan khodam seperti apa yang ada dalam tubuh pemirsanya. Ada yang khodam Nyi Roro Kidul, Harimau Putih, Kris Merah, Elang Petir, Nyi Blorong dan ada juga yang kosong khodamnya.
Jenis penelitian yang digunakan dalam skripsi ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library Research), menggunakan analisis deskriptif, yang merupakan sebuah metode yang mengambil bahan kajian dari berbagai sumber, dengan pendekatan metode tafsir maudhu’i. Adapun penelitian ini, bersumber dari data primer dan data sekunder. Primer yaitu yang diperoleh dari literatur yang berkaitan langsung dengan judul ini yakni Kitab Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka karna hanya Hamka yang penulis temukan bahwa qarin ada yang makhluk kasar dan halus. Adapun data sekundernya yaitu buku-buku, jurnal, artikel, skripsi dan tulisan yang mengandung isi dari pembahasan.
Hasil dari penelitian ini setelah menganalisa penafsiran Buya Hamka penulis menyimpulkan bahwa ada 8 ayat yang mengisaratkan tentang keberadaannya jin qarin, surat An-Nisa’ ayat 38, surat As-Shaffat ayat 51, surat Fusshilat ayat 25, surat Az-Zukhruf ayat 36,38,53, surat Qaf ayat 23 dan 27. Dari semua ayat yang mengisaratkan tentang jin qarin hanya surat An-Nisa saja yang kategori Madaniyah yang lainnya masuk kategori Makkiyah.
Penafsiran Hamka menjelaskan bahwa jin qarin itu bukan hanya makhluk halus yaitu jin, setan dan malaikat yang membisikkan kebaikan dan kejahatan , namun ada juga dari makhluk kasar yaitu manusia yang perannya sama seperti qarin dari gologan makhluk halus. Karna qarin yang mengajak kepada kejahatan juga ada dari manusia, yang bisa jadi qarin itu adalah sahabat karib selama bergaul di dunia maka harus berhati-hati dalam memilih teman, jangan sampai teman karib hanya memuji perbuatan tanpa ada menasihati kelakuan buruk yang akhirnya membawa kepada kemaksitan, kesyirikan namun selalu merasa bahwa yang dilakukan selama ini adalah suatu kebenaran. Adapun peran qarin dalam kehidupan manusia ada empat macam, pertama sebagai penggiring manusia masuk ke neraka, ke dua sebagai saksi atas apa yang manusia kerjakan selama hidup di dunia, ke tiga menyeru manusia untuk melakukan keburukan, dan yang ke empat menyeru manusia untuk melakukan kebaikan.
2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
تجريد أجرت الباحثة حميدة الكسري، طالبة في قسم تعليم اللغة العربية بكلية التربية، المعهد العالي الإسلامي دار القرآن بباياكمبوه، في السنة الدراسية 2025/1446، بحثًا بعنوان "تأثير تعليم المحادثة باستخدام كتاب العربية بين يديك في الصف السابع بمعهد الحاج مسكين كبوباتون تانه داتر". جاءت هذه الدراسة استجابةً للمشكلات التي لاحظتها الباحثة في ضعف مهارات المحادثة لدى الطالبات، وعدم فعالية الوسائل التعليمية المستخدمة في تحسين قدرة الطالبات على التعبير الشفهي باللغة العربية. ومن هنا، رغبت الباحثة في استخدام كتاب "العربية بين يديك" كبديل للكتب التقليدية، نظرًا لما يحتويه من حوارات واقعية، ومفردات مناسبة، وصور توضيحية تُسهم في جذب اهتمام الطالبات. اعتمدت الباحثة على المنهج الكمي التجريبي من نوع Pretest-Posttest Control Group Design، حيث استخدمت أدوات متنوعة لجمع البيانات مثل الاختبارات القبلية والبعدية، والملاحظة الصفية، والمقابلات، والاستبيانات. وتم اختيار طالبات الصف السابع في معهد الحاج مسكين كعينة بحثية، حيث بلغ عددهن 25 طالبة. أما نتائج الباحثة، فقد أظهرت وجود فرق ملحوظ في متوسط نتائج الاختبار القبلي والبعدي بعد استخدام الكتاب، حيث ارتفع المتوسط من 77.20 في الاختبار القبلي إلى 83.44 في الاختبار البعدي، مما يدل على أن تعليم المحادثة باستخدام كتاب "العربية بين يديك" له تأثير إيجابي وفعّال في ترقية مهارة الكلام لدى الطالبات في الصف السابع. وبذلك، توصلت الباحثة إلى أن استخدام هذا الكتاب يُعدّ وسيلة تعليمية ناجحة لتحسين مهارات المحادثة باللغة العربية في بيئة التعليم الإسلامي.
2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
تم العثور على مشكلات تتعلق بعملية التعلم، حيث لا يزال إتقان مهارة القراءة باللغة العربية لدى طالبات الصف السابع منخفضًا جدًا. ويرجع ذلك إلى عدم اهتمام الطالبات بتعلم اللغة العربية، وهي لغة غير مألوفة بالنسبة لغالبيتهن، بالإضافة إلى الصعوبات التي تواجههن في قراءة النصوص العربية بسبب عدم تعودهن عليها. يهدف هذا البحث إلى معرفة تأثير استخدام الوسائل السمعية البصرية في إتقان مهارة القراءة العربية لدى طالبات معهد ابن القيم باياكمبوه، كما يهدف إلى تبيان كيفية استخدام هذه الوسائل لتحسين وتطوير مهارة القراءة العربية وتعزيز فهم النصوص لدى الطالبات. في هذا البحث، استخدمت الباحثة المنهج الكمي التجريبي من نوع "ما قبل التصميم التجريبي" (Pre-Experimental Design)، وهو تصميم "المجموعة الواحدة مع قياس قبلي وبعدي" (One Group Pretest-Posttest Design). وتُعدُّ التقنيات هي الخطوات المنطقية والمراحل المعقولة التي تمر بها الباحثة لجمع البيانات المتعلقة بالبحث، وهذه الخطوات والمراحل هي: أولًا: جمع البيانات المتعلقة بمشكلة البحث، وهي تأثير استخدام الوسائل السمعية البصرية على إتقان مهارة القراءة العربية، وذلك من خلال مقابلة الباحثة للمعلمة المسؤولة عن تدريس اللغة العربية، والتحدث معها حول تعليم مهارة القراءة في الفصل، بالإضافة إلى استخدام الاستبيان. ثانيًا: فيما يتعلق ببيانات قدرة الطالبات على مهارة القراءة، فقد استخدمت الباحثة الاختبار القبلي والبعدي. ثالثًا: فيما يتعلق ببيانات المدرسة، فقد استخدمت الباحثة الملاحظة والوثائق. وأخيرًا، فيما يتعلق بتأثير استخدام الوسائل السمعية البصرية في تحسين مهارة القراءة ورفع مستوى إتقان الطالبات لها، فقد استخدمت الباحثة الاستبيان أيضًا. تظهر النتائج التي توصل إليها هذا البحث ما يلي: أولا هناك فرق واضح بين نتائج التعلم قبل استخدام الوسيلة السمعية البصرية وبعدها، حيث بلغ متوسط الاختبار القبلي 57، ثم ارتفع بعد تطبيق المعالجة من قِبل الباحثة لتقييم مدى إتقان الطالبات لمهارة القراءة وفقًا للنظرية المستخدمة، إلى متوسط بلغ 70 في الاختبار البعدي. ثانيا وبحسب جدول الفترات (Interval)، فإن فئة الأسئلة ذات المستوى المرتفع جدًا تتراوح درجاتها بين 70 وما فوق، بينما تتراوح درجات الفئة المنخفضة بين 57، والفئة المنخفضة جدًا تتراوح درجاتها بين 63 و78. وقد بلغ عدد الإجابات الصحيحة من أصل 13 سؤالًا (موزعة على 10 أسئلة في الفئة العالية جدًا، وسؤالين في الفئة العليا، وسؤال واحد في الفئة المتوسطة). ثالثا وفي ضوء هذه النتائج، يمكن الاستنتاج أن استخدام الوسائل السمعية البصرية في تدريس مهارة القراءة العربية قد أثر بشكل إيجابي في تحسين مستوى المهارة لدى نفس الطالبات.
2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir