Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

a

2.121 karya publik ditemukan.

2026: 2492025: 1312024: 3062023: 2422022: 10012021: 1902020: 12018: 1

Amalan Baco Yasin Ompek Puluh Satu di Desa Panipahan (Kajian Living Qur'an)

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Skripsi ini berjudul “Amalan Baco Yasin Ompek Puluh Satu di Desa Panipahan (Kajian Living Qur’an)”, ditulis oleh M. ARIF NIRM. S1.VI.19.21.003, mahasiswa prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Latar belakang penelitian ini adalah untuk mengkaji amalan baco Yasin ompek puluh satu di Desa Panipahan, Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau dalam konteks Living Qur'an, adanya keunikan dalam pelaksanaan amalan baco Yasin ompek puluh satu di Desa Panipahan, mendorong penulis untuk mengembangkan penelitian di desa tersebut. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah dasar dan praktik pelaksanaan amalan baco Yasin ompek puluh satu di Desa Panipahan dan pengaruh yang dirasakan oleh pemilik hajat setelah baco Yasin ompek puluh satu dan korelasinya terhadap penafsiran dalam kitab Tafsir Surah Yasin karya Ibnu Katsir. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), dengan metode deskriptif kualitatif melalui pendekatan Living Qur’an. Penelitian dilakukan di Desa Panipahan. Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Selanjutnya, dalam menganalisis data penulis menggunakan langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian menemukan bahwa sejarah baco Yasin ompek puluh satu di Desa Panipahan pertama kali dilaksanakan pada tahun 1950 oleh Sayyidi Syekh Abdul Majid Faqih Al-Kholidi Naqsyabandi, ketika belajar langsung dengan gurunya Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Kholidi Naqsyabandi yang merupakan orang yang pertama kali mengajarkan amalan ini terkhusus di daerah Sumatera Utara dan Riau. Amalan ini pertama kali dilakukan oleh Syekh Ahmad ad-Dairobi yang mengatakan bahwa Al-Qur’an bukan hanya firman Allah S.W.T semata, akan tetapi Al-Qur’an juga bermanfaat menyembuhkan berbagai penyakit, bahkan untuk memenuhi berbagai hajat dan kebutuhan manusia. Praktik pelaksanaan amalan baco Yasin ompek puluh satu ini adalah dengan membaca surah Yasin sebanyak 41 kali secara bersama-sama. Imam (pemandu) memulai amalan ini dengan membaca istighfar sebanyak 3 kali, kemudian bertawasul atau istilah di Desa Panipahan membaca Ummul Fatihah dengan membaca beberapa bacaan tertentu dan menghadiahkan bacaan tersebut kepada ruh-ruh orang yang sudah meninggal, kemudian dilanjutkan membaca surah Yasin secara bersama-sama dan ditutup dengan pembacaan do’a. Pengaruh yang dirasakan pemilik hajat setelah baco Yasin ompek puluh satu ini adalah segala hajat yang diminta dikabulakan dan dipermudah oleh Allah S.W.T, dan hal ini sesuai juga yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Kastir dalam kitab Tafsir Surah Yasin, bahwa apabila surah Yasin ini dibacakan pada suatu perkara yang sulit, niscaya Allah S.W.T akan mudahkan.

Talqin Mayat Setelah Dikubur Studi Kasus Terhadap Masyarakat Desa Limbur Merangin, Kecamatan Pamenang Barat, Kabupaten Merangin Provinsi Jambi

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

ABSTRAK Skripsi ini berjudul “Talqin Mayat Setelah Di Kubur Studi Kasus Terhadap Masyarakat Desa Limbur Merangin Kecamatan Pamenang Barat Kabupaten Merangin Provinsi Jambi.” yang ditulis oleh Delpi Wijaya NIRM.S1.VI.19.21.054, Mahasiswa Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini dilatar belakangi oleh sebuah tradisi yang ada didalam masyarakat Indonesia terutama di Desa Limbur Merangin Kecamatan Pamenang barat ini yaitu tradisi talqin mayat setelah dikuburkan, tradisi yang sudah ada sejak islam masuk ke Desa Limbur Merangin ini membuat peneliti tertarik untuk mengungkap berbagai aspek dari praktik talqin mayat ini, hal ini perlu ditelusuri penafsiran ulama mengenai praktik talqin mayat setelah dikuburkan. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif, metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara,dan dokumentasi. Sumber data penelitian terbagi menjadi dua, yaitu sumber data primer tokoh agama, adat dan masyarakat Desa Limbur Merangin, serta sumber data sekunder dari literature-literatur yang ada dari kitab-kitab, makalah, jurnal dan lain-lain. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan residu data, display data, kesimpulan dan verifikasi data. Hasil penelitian ini bahwa tradisi ini terjadi tidak lepas dari kebiasan masyarakat Desa Limbur Merangin yang sudah terjadi dari zaman berkembang nya Islam pada Desa Limbur Merangin sampai saat sekarang ini masih di pertahankan, hal ini bisa terjadi juga karena dukungan dari segala pihak yang terkait dan kesepakatan bersama terhadap suatu amalan dengan tujuan yang akan penulis terangkan setelah ini, hal ini bisa terjadi karena sesuai dengan keyakinan mereka yang bermazhab Imam Syafi’i. pembacaan talqin mayat setelah di kubur masyarakat setempat melakukan amalan tersebut berdasarkan dengan dalil yang di ambil dari kitab suci al-Qur’an yaitu yang terdapat dalam surah Az-Zariyat ayat 55dan kitab Ianatut Tholibin juz 2 halaman 140-143.

Karekteristik Munafik Dalam Surat Al-Baqarah ayat 8-16 (Kajian Muqarran Tafsir Fi Zhilalil Qur'an Dan Tafsir Al-Munir)

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Skripsi ini berjudul “ KARAKTERISTIK MUNAFIK DALAM SURAT AL-BAQARAH AYAT 8-16 (Kajian Muqaran Tafsir Fi Zilalil Qur’an dan Tafsir al-Munir) ” ditulis oleh Hidayatul Azizati, NIRM:SI.VI.19.21.021, Mahasiswa Prodi Ilmu Qur’an dan Tafsir Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini didasari oleh kenyataan bahwa banyak yang tidak sadar akan sifat dan tanda-tanda munafik. Munafik ini adalah penyakit yang sulit diketahui di masyarakat, bahkan munafik ini lebih berbahaya dari orang kafir. Oleh karena itu penulis ingin menjabarkan dan menjelaskan tentang karakteristik munafik dalam surat Al-Baqarah ayat 8-16. Penulis ingin menganalisis pendapat Sayyid Quthb dan wahbah az-Zuhaili perbedaan dalam menafsirkan karakteristik munafik yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 8-16. Maka penulis ingin menjelaskan dan mengungkap bagaimana penafsiran Qs Al-Baqarah ayat 8-16 menurut tafsir Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb dan tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) menggunakan metode kualitatif. Sumber data primer yaitu, Al-Qur’an, tafsir Fi Zhilalil Qur’an dan tafsir al-Munir dan sumber data sekunder yaitu jurnal, buku, skripsi tulisan-tulisan tokoh lain yang didalamnya terdapat pembahasan yang terkait. Penelitian ini menemukan bahwa Sayyid Quthb dan Wahbah az-Zuhaili sepakat bahwasanya orang-orang munafik menampilkan keimanan di lisan mereka dan berbeda pendapat tentang apa yang kaum munafik simpan di hati mereka. Sayyid Quthb menyebutkan di dalam hatinya mengatakan bahwa mereka merasa tidak memiliki keberanian untuk menghadapi kebenaran dengan iman yang benar dan tidak berani mengatakan pengingkaran secara terus terang terhadap kaum mukminin. Sedangkan Wahbah al-Zuhaili menyebutkan hati mereka penuh dengan kekafiran dan kesesatan. Keduanya juga sepakat tentang penipuan yang dilakukan oleh kaum munafik terhadap Allah yaitu dalam bentuk pendustaan mereka dengan menampilkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran untuk keamanan jiwa dan harta mereka. Adapun mengenai penyakit yang ada di dalam hati orang-orang munafik, keduanya menyebutkan penyakit itu dalam bentuk keragu-raguan antara keimanan dan kekafiran. Adapun mengenai perusakan di muka bumi yang dilakukan oleh kaum munafik, Sayyid Quthb menyatakan perusakan di sini adalah kebaikan, keburukan, keshalihan dan kerusakan yang ada di dalam hati mereka lebih berat kepada hawa nafsu dan tidak lagi cenderung kepada kaidah ilahi (Allah), sedangkan Wahbah az-Zuhaili menyebutkan perusakan yang dilakukan kaum munafik yaitu menyulut fitnah, menebarkan rahasia kaum mukminin kepada kaum kafir, serta ingkar dan menghalangi manusia untuk berjuang di jalan Allah. Keduanya juga berbeda pendapat mengenai orang-orang bodoh yang dimaksud oleh orang munafik ketika diseru untuk beriman, Sayyid Quthb menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah khusus bagi orang-orang miskin saja yang tidak layak menduduki posisi yang terhormat, sedangkan Wahbah az-Zuhaili menyebutkan yang dimaksud adalah orang-orang lemah dari kaum hamba sahaya dan orang-orang miskin yang mengikuti Nabi. Keduanya juga sepakat tentang perumpamaan kaum munafik yakni dengan menyebutkan mereka sebagai pedagang yang rugi karena telah menukarkan hidayah dan petunjuk demi kesesatan. Salah satu yang menjadi perbedaan penafsiran adalah penafsiran Sayyid Quthb dalam kitab tafsir Fi Zhilalil Qur’an merujuk kepada orang-orang munafik yang berasal dari suku Aus dan Khazraj serta orang-orang yang mengikuti mereka. Wahbah az-zuahaili dalam kitab tafsir Al-Munir merujuk kepada orang-orang munafik yang berasal dari orang-orang munafik dari zaman Rasulullah sampai zaman modern.

Ayat-Ayat Antropomorfisme Dalam Kitab Tafsir An-Nuur dan Al-Furqan (Studi Komparatif Kitab Tafsir)

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

ABSTRAK Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya ayat-ayat mutasyabihat (ayat-ayat Antropomorfisme ) dalam al-Qur’an dan untuk memahami dan menejemahkan ayat-ayat ini, maka para ulama telah banyak menulis kitab-kitab tafsir, terutama di Indonesia telah bermunculan para mufassir, salah satunya Teungku Muhammad Hasbi Ash-shiddieqy (1975w)., yang telah menulis kitab tafsir An-nur dan kitab tafsir al-Bayan. Kitab tafsi An-Nuur yang nama lainnya Tafsir al-Qur’anul Majid An-Nuur dan juga kitab Tafsir al-Furqan yang ditulis oleh Ahmad Hasan (1958w), Fokus pembahasan terdiri dari 2: Pertama, menklasifikasi ayat-ayat Antropomorfisme dalam kitab al-Qur’an Karim. Kedua, mengetahui penafsiran ayat-ayat Antropomorfisme dan menalisis penafsiran ayat-ayat Antropomorfisme dalam kitab tafsir an-Nuur dan al-Furqan . Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian pustaka dengan pendekatan penelitian kualitatif dan metode analisa deskpisi. Dengan metode muqaron yang membandingkan dua kitab sumber serta menganalisa ayat-ayat Antropomorfisme yang ada didalamnya. Untuk mengklasifikasi ayat-ayat Antropomorfisme dalam kitab al-Qur’an al-Karim penulis menggunakan kitab al-Mu’jam al-Mufahras li al-Fazhi al-Qur’an al-Karim karangan Muhammad Fuad Abdul Baqi. Di dalam penelitian ini, penulis hanya menkhususkan kepada ayat-ayat yang berkenaan jism Allah seperti Wajh, A’in, Yad, dan Saaq. Lafadz Wajh terdapat pada Q.S 02:115, Q.S 02:272, Q.S 06:52, Q.S 13:22, Q.S 18:28, Q.S 28:88, Q.S 30:38-39, Q.S 55:27, Q.S 76:9, dan Q.S 92:20. Dan lafadz A’in terdapat pada Q.S 11:37, Q.S 20:39, Q.S 23:27, Q.S 52:48, dan Q.S 54:14. Sedangkan lafadz Yad dapat ditemukan pada Q.S 03:26, Q.S 03:73, Q.S 05:64, Q.S 23:88, Q.S 36:83, Q.S 48:10, Q.S 57:29dan Q.S 67:1. Dan Lafadz Saaq hanya terdapat pada Q.S 68:42. Setelah melakukan analisis penulis dapat menyimpulkan penafsiran M.H. Ash-Shiddieqy dan Ahmad Hassan dalam menafsirkan ayat-ayat Antropomorfisme, tidaklah jauh berbeda, adakala melakukan takwil dan adakala melakukan literal sesuai tema ayat itu sendiri. Adapun penafsiran ayat-ayat Yad M.H. Ash-Shiddieqy dan Ahmad Hassan lebih cendrung kepada literal, ini terlihat jelas pada tabel 4.3 yang membahas lafazh yad. Begitu juga dengan ayat Saaq dengan makna betis, mereka juga memilih penafsiran literal, namun Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy menambah keterangan tambahan dalam kurung “terjadi bencana besar”

Ayat-Ayat Antropomorfisme Dalam Kitab Tafsir An-Nuur dan Al-Furqan (Studi Komparatif Kitab Tafsir)

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya ayat-ayat mutasyabihat (ayat-ayat Antropomorfisme ) dalam al-Qur’an dan untuk memahami dan menejemahkan ayat-ayat ini, maka para ulama telah banyak menulis kitab-kitab tafsir, terutama di Indonesia telah bermunculan para mufassir, salah satunya Teungku Muhammad Hasbi Ash-shiddieqy (1975w)., yang telah menulis kitab tafsir An-nur dan kitab tafsir al-Bayan. Kitab tafsi An-Nuur yang nama lainnya Tafsir al-Qur’anul Majid An-Nuur dan juga kitab Tafsir al-Furqan yang ditulis oleh Ahmad Hasan (1958w), Fokus pembahasan terdiri dari 2: Pertama, menklasifikasi ayat-ayat Antropomorfisme dalam kitab al-Qur’an Karim. Kedua, mengetahui penafsiran ayat-ayat Antropomorfisme dan menalisis penafsiran ayat-ayat Antropomorfisme dalam kitab tafsir an-Nuur dan al-Furqan . Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian pustaka dengan pendekatan penelitian kualitatif dan metode analisa deskpisi. Dengan metode muqaron yang membandingkan dua kitab sumber serta menganalisa ayat-ayat Antropomorfisme yang ada didalamnya. Untuk mengklasifikasi ayat-ayat Antropomorfisme dalam kitab al-Qur’an al-Karim penulis menggunakan kitab al-Mu’jam al-Mufahras li al-Fazhi al-Qur’an al-Karim karangan Muhammad Fuad Abdul Baqi. Di dalam penelitian ini, penulis hanya menkhususkan kepada ayat-ayat yang berkenaan jism Allah seperti Wajh, A’in, Yad, dan Saaq. Lafadz Wajh terdapat pada Q.S 02:115, Q.S 02:272, Q.S 06:52, Q.S 13:22, Q.S 18:28, Q.S 28:88, Q.S 30:38-39, Q.S 55:27, Q.S 76:9, dan Q.S 92:20. Dan lafadz A’in terdapat pada Q.S 11:37, Q.S 20:39, Q.S 23:27, Q.S 52:48, dan Q.S 54:14. Sedangkan lafadz Yad dapat ditemukan pada Q.S 03:26, Q.S 03:73, Q.S 05:64, Q.S 23:88, Q.S 36:83, Q.S 48:10, Q.S 57:29dan Q.S 67:1. Dan Lafadz Saaq hanya terdapat pada Q.S 68:42. Setelah melakukan analisis penulis dapat menyimpulkan penafsiran M.H. Ash-Shiddieqy dan Ahmad Hassan dalam menafsirkan ayat-ayat Antropomorfisme, tidaklah jauh berbeda, adakala melakukan takwil dan adakala melakukan literal sesuai tema ayat itu sendiri. Adapun penafsiran ayat-ayat Yad M.H. Ash-Shiddieqy dan Ahmad Hassan lebih cendrung kepada literal, ini terlihat jelas pada tabel 4.3 yang membahas lafazh yad. Begitu juga dengan ayat Saaq dengan makna betis, mereka juga memilih penafsiran literal, namun Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy menambah keterangan tambahan dalam kurung “terjadi bencana besar”

Amalan Baco Yasin Ompek Puluh Satu di Desa Panipahan (Kajian Living Qur'an)

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul “Amalan Baco Yasin Ompek Puluh Satu di Desa Panipahan (Kajian Living Qur’an)”, ditulis oleh M. ARIF NIRM. S1.VI.19.21.003, mahasiswa prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Latar belakang penelitian ini adalah untuk mengkaji amalan baco Yasin ompek puluh satu di Desa Panipahan, Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau dalam konteks Living Qur'an, adanya keunikan dalam pelaksanaan amalan baco Yasin ompek puluh satu di Desa Panipahan, mendorong penulis untuk mengembangkan penelitian di desa tersebut. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah dasar dan praktik pelaksanaan amalan baco Yasin ompek puluh satu di Desa Panipahan dan pengaruh yang dirasakan oleh pemilik hajat setelah baco Yasin ompek puluh satu dan korelasinya terhadap penafsiran dalam kitab Tafsir Surah Yasin karya Ibnu Katsir. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), dengan metode deskriptif kualitatif melalui pendekatan Living Qur’an. Penelitian dilakukan di Desa Panipahan. Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Selanjutnya, dalam menganalisis data penulis menggunakan langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian menemukan bahwa sejarah baco Yasin ompek puluh satu di Desa Panipahan pertama kali dilaksanakan pada tahun 1950 oleh Sayyidi Syekh Abdul Majid Faqih Al-Kholidi Naqsyabandi, ketika belajar langsung dengan gurunya Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Kholidi Naqsyabandi yang merupakan orang yang pertama kali mengajarkan amalan ini terkhusus di daerah Sumatera Utara dan Riau. Amalan ini pertama kali dilakukan oleh Syekh Ahmad ad-Dairobi yang mengatakan bahwa Al-Qur’an bukan hanya firman Allah S.W.T semata, akan tetapi Al-Qur’an juga bermanfaat menyembuhkan berbagai penyakit, bahkan untuk memenuhi berbagai hajat dan kebutuhan manusia. Praktik pelaksanaan amalan baco Yasin ompek puluh satu ini adalah dengan membaca surah Yasin sebanyak 41 kali secara bersama-sama. Imam (pemandu) memulai amalan ini dengan membaca istighfar sebanyak 3 kali, kemudian bertawasul atau istilah di Desa Panipahan membaca Ummul Fatihah dengan membaca beberapa bacaan tertentu dan menghadiahkan bacaan tersebut kepada ruh-ruh orang yang sudah meninggal, kemudian dilanjutkan membaca surah Yasin secara bersama-sama dan ditutup dengan pembacaan do’a. Pengaruh yang dirasakan pemilik hajat setelah baco Yasin ompek puluh satu ini adalah segala hajat yang diminta dikabulakan dan dipermudah oleh Allah S.W.T, dan hal ini sesuai juga yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Kastir dalam kitab Tafsir Surah Yasin, bahwa apabila surah Yasin ini dibacakan pada suatu perkara yang sulit, niscaya Allah S.W.T akan mudahkan.

Penafsiran Tsabbit Aqdamana dalam Q.S Al Baqarah Ayat 250 dan Ali Imran 147

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Skripsi ini berjudul "PENAFSIRAN TSABBIT AQDAMANA Q.S AL-BAQARAH AYAT 250 DAN Q.S ALI IMRAN 147”(KAJIAN TAFSIR MUQARAN)” yang ditulis oleh Rifki Wahyudi NIRM.S1.VI.19.21.008, Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini dilatar belakangi oleh Al-Qur’an yang fungsi utamanya sebagai kitab petunjuk semua manusia, terutama umat islam bahwa untuk selalu mengerjakan kebajikan. Kebajikan sendiri harus istiqomah dilakukan seperti yang di tertera pada H.R Muslim No.38, istoqomah sendiri memiliki banyak makna terutama teguh pendirian untuk selalu berada dalam ajaran Islam, bimbingan Al-Qur’an. Semakna dengan istiqomah terdapat dalam Q.S Al-Baqarah ayat 250 dan Q.S Ali Imran ayat 147 lafadz Tsabbit Aqdama yang memiliki makna teguhkanlah pendirian kami. Fokus penelitian pada lafadz tersebut di karenakan belum ada sebelumnya penelitian terfokus pada lafadz tersebut, hanya pada lafadz istiqomah, di karenakan kedua ayatnya memilik kesamaan memfokuskan kajiannya pada perbandingan penafsiran kedua ayat tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan metode tahlili majmu min al ayat, dalam surat berebeda namun ada kesamaan redaksi dan bahasan. Sumber data penelitian terbagi dua, sumber data primer diantaranya tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, tafsir al-Misbah karya M.Quraisy Shihab, tafsir fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Qutb, tafsir ibnu Katsir karya Ibnu Katsir , tafsir Al-Maraghi karya Ahmad Musthafa al-Maraghi dan Tafsir al-Munir karya syaikh Wahbah az-Zuhaili, tafsir Fathul Qodir karya imam As-Syaukani tafsir At-Thobary karya Imam At-Thobary tafsir al-Kasyaf karya imam Zamakzyari, tafsir al-Baghowi karya Imam al-baghowi Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Adapun metode yang digunakan penulis dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode Tahlili, yaitu: menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an dengan menjelaskan segala makna secara rinci dan membandingkan kedua ayat tersebut atau memuqoronkannya . Hasil penelitian ini menemukan bahwa tsabbit Aqdama yang terdapat dalam Q.S Al-Baqarah ayat 250 dan Q.S Ali Imran ayat 147 memiliki makna kokohkanlah pendirian kami yaitu makna majazi yang makna harfiahnya kokohkanlah kaki (tumit) kami. Lafadz Tsabbit Aqdamana pada kedua ayat ini merupakan do’a raja Tholut dan Pasukannya dan Do’a kaum Ribbiyyun dalam berperang melawan musuh. Perbandingan kedua ayat ini terdapat perbedaan pada redaksi utuh ayatnya, pada aspek historis dan sabab nuzulnya, Q.S Al-Baqarah 250 sabab nuzulnya sebagai penjelasan mengenai syari’at berperang sudah ada pada umat terdahulu seperti Raja Tholut dan pasukannta, Q,S Ali Imran memiliki sabab nuzul peristiwa perang Uhud. Do’a dalam Q.S Ali Imran lebih lengkap lafadznya yang di awali dengan keinsyafan dan merupakan do’anya kaum Ribbiyyun. Aspek balaghohnya Q.S Ali Imran merupakan kalam Isti’arah tamtsiliyyah dan kalam amr bermakna do’a dan Q.S Ali Imran hanya kalam amr bermakna do’a. Kata Kunci: Istiqomah, tafsir, tsabbit aqdamana, muqarran, dan balaghah.

Penafsiran Tsabbit Aqdamana dalam Q.S Al Baqarah Ayat 250 dan Ali Imran 147

2025 · Book · Koleksi Perpustakaan

Skripsi ini berjudul "PENAFSIRAN TSABBIT AQDAMANA Q.S AL-BAQARAH AYAT 250 DAN Q.S ALI IMRAN 147”(KAJIAN TAFSIR MUQARAN)” yang ditulis oleh Rifki Wahyudi NIRM.S1.VI.19.21.008, Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini dilatar belakangi oleh Al-Qur’an yang fungsi utamanya sebagai kitab petunjuk semua manusia, terutama umat islam bahwa untuk selalu mengerjakan kebajikan. Kebajikan sendiri harus istiqomah dilakukan seperti yang di tertera pada H.R Muslim No.38, istoqomah sendiri memiliki banyak makna terutama teguh pendirian untuk selalu berada dalam ajaran Islam, bimbingan Al-Qur’an. Semakna dengan istiqomah terdapat dalam Q.S Al-Baqarah ayat 250 dan Q.S Ali Imran ayat 147 lafadz Tsabbit Aqdama yang memiliki makna teguhkanlah pendirian kami. Fokus penelitian pada lafadz tersebut di karenakan belum ada sebelumnya penelitian terfokus pada lafadz tersebut, hanya pada lafadz istiqomah, di karenakan kedua ayatnya memilik kesamaan memfokuskan kajiannya pada perbandingan penafsiran kedua ayat tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan metode tahlili majmu min al ayat, dalam surat berebeda namun ada kesamaan redaksi dan bahasan. Sumber data penelitian terbagi dua, sumber data primer diantaranya tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, tafsir al-Misbah karya M.Quraisy Shihab, tafsir fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Qutb, tafsir ibnu Katsir karya Ibnu Katsir , tafsir Al-Maraghi karya Ahmad Musthafa al-Maraghi dan Tafsir al-Munir karya syaikh Wahbah az-Zuhaili, tafsir Fathul Qodir karya imam As-Syaukani tafsir At-Thobary karya Imam At-Thobary tafsir al-Kasyaf karya imam Zamakzyari, tafsir al-Baghowi karya Imam al-baghowi Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Adapun metode yang digunakan penulis dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode Tahlili, yaitu: menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an dengan menjelaskan segala makna secara rinci dan membandingkan kedua ayat tersebut atau memuqoronkannya . Hasil penelitian ini menemukan bahwa tsabbit Aqdama yang terdapat dalam Q.S Al-Baqarah ayat 250 dan Q.S Ali Imran ayat 147 memiliki makna kokohkanlah pendirian kami yaitu makna majazi yang makna harfiahnya kokohkanlah kaki (tumit) kami. Lafadz Tsabbit Aqdamana pada kedua ayat ini merupakan do’a raja Tholut dan Pasukannya dan Do’a kaum Ribbiyyun dalam berperang melawan musuh. Perbandingan kedua ayat ini terdapat perbedaan pada redaksi utuh ayatnya, pada aspek historis dan sabab nuzulnya, Q.S Al-Baqarah 250 sabab nuzulnya sebagai penjelasan mengenai syari’at berperang sudah ada pada umat terdahulu seperti Raja Tholut dan pasukannta, Q,S Ali Imran memiliki sabab nuzul peristiwa perang Uhud. Do’a dalam Q.S Ali Imran lebih lengkap lafadznya yang di awali dengan keinsyafan dan merupakan do’anya kaum Ribbiyyun. Aspek balaghohnya Q.S Ali Imran merupakan kalam Isti’arah tamtsiliyyah dan kalam amr bermakna do’a dan Q.S Ali Imran hanya kalam amr bermakna do’a. Kata Kunci: Istiqomah, tafsir, tsabbit aqdamana, muqarran, dan balaghah.

Penafsiran Ghosting Dalam Al-Qur'an Q.s An-Naml:20 (Tafsir Tahlili)

2025 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Skripsi ini berjudul “Penafsiran Ghosting Dalam Al-Qur’an (Studi Tafsir Tahlili Q.s An-Nmal:20)” yang ditulis oleh Ranti Permata Sari NIRM.S1.VI.19.21.007, Mahasiswa Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini dilatar belakangi oleh istilah Ghosting yang menjadi tranding di masyarakat dan sering dikaitkan dengan masalah percintaan. Dilihat lebih dalam lagi, ternyata istilah ghosting tidak hanya digunakan untuk menyebutkan pemutusan/hilang tiba-tiba dalam hubungan percintaan saja, melainkan menyangkut segala bentuk hubungan sosial. Dan dilihat dari kisahnya Nabi Sulaiman, beliau pernah dighosting oleh salah satu prajuritnya. Oleh karena itu, penulis berusaha memahami secara utuh bagaimana ghosting dalam Al-Qur’an. Karena ha ini lah perlu untuk ditelusuri penafsiran ulama mengenai Ghosting dan menganalisa penafsiran tentang ghosting dalam Al-Qur’an. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan pendekatan kualitatif, Sumber data penelitian terbagi dua, sumber data primer diantaranya tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, tafsir al-Misbah karya M.Quraisy Shihab, tafsir fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Qutb, tafsir Jalalaen karya Jalaludin Al-mahali dan Jalaludin as-suyuti, tafsir Al-Maraghi karya Ahmad Musthafa al-Maraghi dan Tafsir An-Nur karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy. Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Adapun metode yang digunakan penulis dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode Tahlili, yaitu: menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an dengan menjelaskan segala makna secara rinci. Hasil penelitian ini menemukan bahwa ghosting terdapat 1.061 ayat dalam Al-Qur’an, dengan kata ghosting hilang, putus, lenyap dan tiada. Kata hilang terdapat 17 lafadz 787 ayat dalam Al-Qur’an, kata putus terdapat 6 lafadz 241 ayat dalam Al-Qur’an, kata lenyap terdapat 7 lafadz 11 ayat dalam Al-Qur’an, kata tiada terdapat 5 lafadz 10 ayat dalam Al-Qur’an. Sedangkan ayat yang membahas ghosting Nabi Sulaiman dengan Burung Hud-hud terdapat dalam Q.S An-Naml:20, membahas tentang bahwasannya Burung Hud-hud pernah menghilang beberapa saat tanpa memberi kabar dan pengetahuan Nabi Sulaiman. Q.S maryam:59 tentang mengabaikan sholat, Q.S Al-baqarah:266 dan Q.S Al-Hadid:20 kebun yang ditiup angin lalu menghilang, Q.S Al-An’am:76 matahari yang dilihat ibrahim tiba-tiba menghilang, Q.S Al-Isra’:67 ketika kamu ketimpa musibah lalu yang biasa kamu sembah akan hilang kecuali allah, Q.S Al-An’am:94 putusnya hubungan pada hari pemberi syafaat, Q.S Thoha:78 fir’aun ditenggelamkan oleh ombak, Q.S Muhamad 22-23 memutuskan hubungan kekeluargaan, Q.S Arro’du 25 memutuskan perjanjian, Q.S Al-baqarah:166 pada hari kiamat hubungan sesama manusia terputus.