ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi berjudul “Penafsiran Mahmud Yunus Tentang Batasan Aurat Perempuan Dalam Surah An-Nur 31” yang ditulis olch Delfi Yuliandra, NIM. 2219005, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perbedaan pendapat para ulama dan mufassir mengenai batasan aurat perempuan, khususnya dalam menafsirkan frasa illā mā zhahara minhā (kecuali yang biasa tampak) dalam Q.S. An-Nur: 31, yang ada dalam Tafsir Qur’an Karim memiliki pendekatan penafsiran yang khas dan kontekstual terhadap ayat ini. Adapun rumusan masalah Skripsi ini: Bagaimana penafsiran Mahmud Yunus tentang aurat dalam Q.S. An-Nur: 31, Batasan Masalah: Pertama, mengungkapkan penafsiran Mahmud Yunus terhadap Q.S. An-Nur: 31. Kedua, Analisis terhadap penafsiran Mahmud Yunus Surah An-Nur: 31. Dan tujuan penelitian ini yaitu: untuk mengatahui penafsiran Mahmud Yunus Surah An-Nur: 31. Metode penelitian ini ialah kualitatif, jenis penelitian kepustakaan (library research), dengan pendekatan fikih. Sumber data primer penelitian ini adalah Tafsir Qur’an Karim karya Mahmud Yunus dan sumber sekunder jurnal ilmiah karya Hanna Salsabila, dan teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumentasi dengan pedoman dokumentasi yang tersusun berdasarkan rumusan masalah. Analisis data dilakukan melalui metode deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan, Mahmud Yunus menafsirkan Q.S. An-Nur: 31merujuk kepada tafsir ibnu Abbas bahwa anggota yang biasa terbuka itu adalah muka dan telapak tangan juga diperkuat dengan hadis Nabi juga mengatakan hanya muka dan telapak tangan, tetapi jika dilihat dari pendekatan keilmuan Mahmud Yunus iya ber mazhab hanafi, menurut Wahbah az-Zuhaili dalam tafsir al-Munir mengatakan bahwa Diriwayatkan dari Imam Abu Hanifah bahwasanya kedua telapak kaki juga bukan termasuk aurat. Sebab unsur kerepotan dalam menutup kedua telapak kaki lebih besar daripada dalam menutup kedua telapak tangan, terutama bagi para penduduk. Analisis terhadap penafsiran Mahmud Yunus bahwa penafsirannya merupakan sintesis antara sumber bil ma’tsur (Ibnu Abbas dan hadis Sunan Abu Dawud) dan bil ra’yi (mazhab Hanafi), dengan metode gabungan ijmali-tahlili dan corak adabul ijtima’i. Posisi penafsirannya moderat luas lebih luas dari mazhab Syafi’i namun sejalan dengan mazhab Hanafi serta relevan sebagai rujukan tafsir kontekstual bagi masyarakat Muslim Indonesia yang beragam secara budaya.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi berjudul “ Rekonstruksi Pemikiran Theodor Nöldeke Tentang Kodifikasi Al-Qur`an” yang ditulis oleh Abdul Hamid, NIM. 2219029, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Usulluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur`an (IDAQU) Payakumbuh. Al-Qur'an merupakan kitab suci umat Islam yang diyakini sebagai wahyu Allah Swt yang keasliannya dijaga melalui proses hafalan dan kodifikasi. Namun, dalam sejarah perkembangan akademik Barat,kodifikasi Al-Qur'an sering kali dikaji oleh sarjana orientalis melalui pendekatan historis-kritis yang melahirkan perdebatan teologis dan historis. Salah satu tokoh sentral orientalis dalam kajian ini adalah Theodor Nöldeke melalui karya monumentalnya The History of the Qur'an. Beberapa asumsi Nöldeke dinilai kontroversial dan menuai kritik dari sarjana Muslim karena meragukan validitas riwayat tradisional Islam serta mengabaikan otoritas transmisi riwayat, sehingga diperlukan upaya rekonstruksi ilmiah secara objektif dan berimbang guna memahami dinamika pemikirannya dalam khazanah dialog akademik. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat deskriptif-analitis. Peneliti melakukan telaah kritis terhadap teks dan struktur gagasan tokoh dengan menguji pola argumentasi secara logis dan metodologis. Sumber data penelitian ini dibagi menjadi dua kategori. Sumber primer bertumpu pada karya asli Theodor Nöldeke, yaitu buku The History of the Qur'an edisi revisi. Sumber sekunder mencakup literatur pendukung berupa buku buku ‘Ulum al-Qur’an, skripsi, tesis, disertasi, serta jurnal ilmiah yang mengkaji pemikiran orientalis maupun karya sarjana Muslim yang memberikan kritik. Hasil penelitian di bagi ke dalam dua bagian: 1. Pemikiran Theodor Nöldeke pada bagian asumsinya mengatakan kalau dia meragukan mutu penghafAl-Qur`an hal ini berdasarkan data korban L. Caeni, Theodor Nöldeke berargumen kalau korban dari perang Yamamah itu merupakan mualaf baru bukan para penghafAl-Qur`an (huffaz), Theodor Nöldeke juga meragukan mengenai waktu dalam proses pengumpulan Al-Qur`an pada masa Abu Bakar yang dinilai terlalu singkat lebih kurang 15 bulan untuk proyek yang sebesar itu dan juga Theodor Nöldeke mengganggap bahwa Al-Qur`an yang sudah terkumpul,kemudian Umar Bin Khattab menyerahkanya kepada Hafsah Binti Umar merupakan koleksi Pribadi bukan milik negara. 2. Metode yang digunakan oleh Theodor Nöldeke dalam mengkaji/meneliti sebuah teks Al-Qur`an menggunakan Metode Filologi/ Kritik Historis-Tekstual ala barat yang akan dibahas dalam penelitian ini asumsi dasar Theodor Nöldeke dan tanggapanya. Rekonstruksi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa Theodor Nöldeke tidak langsung percaya dengan adanya apa yang sudah tertulis dalam sebuah teks (skeptisisme metodologis) sehingga dia akan menganalisis gaya bahasa dari teks tersebut, mencari keterkaitan antara teks yang satu dengan teks yang lain, ulama muslim berbeda pendapat mengenai hal tersebus salah satunya menurut Imam Jalaluddin As Suyuti mengatakan kalau apa yang sudah tertulis dalam Al-Qur`an itu memang itu datang dari Allah SWT hal ini di dasarkan pada hadis yang Shahih,Mutawatir.
BookOpen AccessPDF tersedia
2026•Koleksi Perpustakaan
Skripsi berjudul “Penafsiran Mahmud Yunus Tentang Batasan Aurat Perempuan Dalam Surah An-Nur 31” yang ditulis olch Delfi Yuliandra, NIM. 2219005, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perbedaan pendapat para ulama dan mufassir mengenai batasan aurat perempuan, khususnya dalam menafsirkan frasa illā mā zhahara minhā (kecuali yang biasa tampak) dalam Q.S. An-Nur: 31, yang ada dalam Tafsir Qur’an Karim memiliki pendekatan penafsiran yang khas dan kontekstual terhadap ayat ini. Adapun rumusan masalah Skripsi ini: Bagaimana penafsiran Mahmud Yunus tentang aurat dalam Q.S. An-Nur: 31, Batasan Masalah: Pertama, mengungkapkan penafsiran Mahmud Yunus terhadap Q.S. An-Nur: 31. Kedua, Analisis terhadap penafsiran Mahmud Yunus Surah An-Nur: 31. Dan tujuan penelitian ini yaitu: untuk mengatahui penafsiran Mahmud Yunus Surah An-Nur: 31. Metode penelitian ini ialah kualitatif, jenis penelitian kepustakaan (library research), dengan pendekatan fikih. Sumber data primer penelitian ini adalah Tafsir Qur’an Karim karya Mahmud Yunus dan sumber sekunder jurnal ilmiah karya Hanna Salsabila, dan teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumentasi dengan pedoman dokumentasi yang tersusun berdasarkan rumusan masalah. Analisis data dilakukan melalui metode deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan, Mahmud Yunus menafsirkan Q.S. An-Nur: 31merujuk kepada tafsir ibnu Abbas bahwa anggota yang biasa terbuka itu adalah muka dan telapak tangan juga diperkuat dengan hadis Nabi juga mengatakan hanya muka dan telapak tangan, tetapi jika dilihat dari pendekatan keilmuan Mahmud Yunus iya ber mazhab hanafi, menurut Wahbah az-Zuhaili dalam tafsir al-Munir mengatakan bahwa Diriwayatkan dari Imam Abu Hanifah bahwasanya kedua telapak kaki juga bukan termasuk aurat. Sebab unsur kerepotan dalam menutup kedua telapak kaki lebih besar daripada dalam menutup kedua telapak tangan, terutama bagi para penduduk. Analisis terhadap penafsiran Mahmud Yunus bahwa penafsirannya merupakan sintesis antara sumber bil ma’tsur (Ibnu Abbas dan hadis Sunan Abu Dawud) dan bil ra’yi (mazhab Hanafi), dengan metode gabungan ijmali-tahlili dan corak adabul ijtima’i. Posisi penafsirannya moderat luas lebih luas dari mazhab Syafi’i namun sejalan dengan mazhab Hanafi serta relevan sebagai rujukan tafsir kontekstual bagi masyarakat Muslim Indonesia yang beragam secara budaya.
BookOpen AccessPDF tersedia
2026•Koleksi Perpustakaan
Skripsi berjudul “ Rekonstruksi Pemikiran Theodor Nöldeke Tentang Kodifikasi Al-Qur`an” yang ditulis oleh Abdul Hamid, NIM. 2219029, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Usulluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur`an (IDAQU) Payakumbuh. Al-Qur'an merupakan kitab suci umat Islam yang diyakini sebagai wahyu Allah Swt yang keasliannya dijaga melalui proses hafalan dan kodifikasi. Namun, dalam sejarah perkembangan akademik Barat,kodifikasi Al-Qur'an sering kali dikaji oleh sarjana orientalis melalui pendekatan historis-kritis yang melahirkan perdebatan teologis dan historis. Salah satu tokoh sentral orientalis dalam kajian ini adalah Theodor Nöldeke melalui karya monumentalnya The History of the Qur'an. Beberapa asumsi Nöldeke dinilai kontroversial dan menuai kritik dari sarjana Muslim karena meragukan validitas riwayat tradisional Islam serta mengabaikan otoritas transmisi riwayat, sehingga diperlukan upaya rekonstruksi ilmiah secara objektif dan berimbang guna memahami dinamika pemikirannya dalam khazanah dialog akademik. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat deskriptif-analitis. Peneliti melakukan telaah kritis terhadap teks dan struktur gagasan tokoh dengan menguji pola argumentasi secara logis dan metodologis. Sumber data penelitian ini dibagi menjadi dua kategori. Sumber primer bertumpu pada karya asli Theodor Nöldeke, yaitu buku The History of the Qur'an edisi revisi. Sumber sekunder mencakup literatur pendukung berupa buku buku ‘Ulum al-Qur’an, skripsi, tesis, disertasi, serta jurnal ilmiah yang mengkaji pemikiran orientalis maupun karya sarjana Muslim yang memberikan kritik. Hasil penelitian di bagi ke dalam dua bagian: 1. Pemikiran Theodor Nöldeke pada bagian asumsinya mengatakan kalau dia meragukan mutu penghafAl-Qur`an hal ini berdasarkan data korban L. Caeni, Theodor Nöldeke berargumen kalau korban dari perang Yamamah itu merupakan mualaf baru bukan para penghafAl-Qur`an (huffaz), Theodor Nöldeke juga meragukan mengenai waktu dalam proses pengumpulan Al-Qur`an pada masa Abu Bakar yang dinilai terlalu singkat lebih kurang 15 bulan untuk proyek yang sebesar itu dan juga Theodor Nöldeke mengganggap bahwa Al-Qur`an yang sudah terkumpul,kemudian Umar Bin Khattab menyerahkanya kepada Hafsah Binti Umar merupakan koleksi Pribadi bukan milik negara. 2. Metode yang digunakan oleh Theodor Nöldeke dalam mengkaji/meneliti sebuah teks Al-Qur`an menggunakan Metode Filologi/ Kritik Historis-Tekstual ala barat yang akan dibahas dalam penelitian ini asumsi dasar Theodor Nöldeke dan tanggapanya. Rekonstruksi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa Theodor Nöldeke tidak langsung percaya dengan adanya apa yang sudah tertulis dalam sebuah teks (skeptisisme metodologis) sehingga dia akan menganalisis gaya bahasa dari teks tersebut, mencari keterkaitan antara teks yang satu dengan teks yang lain, ulama muslim berbeda pendapat mengenai hal tersebus salah satunya menurut Imam Jalaluddin As Suyuti mengatakan kalau apa yang sudah tertulis dalam Al-Qur`an itu memang itu datang dari Allah SWT hal ini di dasarkan pada hadis yang Shahih,Mutawatir.
BookOpen AccessPDF tersedia
2025•Koleksi Perpustakaan
Skripsi ini berjudul “Unsur-Unsur Kebudayaan Minangkabau Dalam Kitab Tafsir Al-Azhar” yang ditulis oleh Fauziah NIRM.S1.VI.10.20.156, Mahasiswa Institut Darul Qur‟an Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami interaksi antara teks suci al-Qur‟an dan kebudayaan lokal, khususnya dalam konteks unsur-unsur kebudayaan Minangkabau sebagaimana ditafsirkan dalam kitab Tafsir al-Azhar karya Buya Hamka. Rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana unsur-unsur kebudayaan Minangkabau dalam surah an-Nisa‟ yang terdapat dalam kitab tafsir al-Azhar. Penelitian ini dibatasi pada klasifikasi isi kandungan ayat yang berkaitan dengan unsur-unsur kebudayaan dalam surah anNisa‟, penafsiran serta analisis terhadap penafsiran tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan metode tafsir maudhu’i Muhammad al-Ghazali yakni satu surah yang memiliki ayat dengan tema yang sama. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tentang unsur-unsur kebudayaan Minangkabau yang terdapat pada surah an-Nisa‟ dalam kitab tafsir al-Azhar. Sumber data penelitian terbagi dua, sumber data primer yaitu tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan sumber data sekunder yaitu bukubuku pendukung, jurnal, artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Penelitian ini menemukan bahwa dari 176 ayat yang ada dalam surah anNisa‟, Buya Hamka hanya memasukkan unsur-unsur kebudayaan Minangkabau pada 6 ayat saja yakni ayat 1, 3, 19, 21, 23, dan 24. Adapun unsur-unsur kebudayaan tersebut yaitu sistem kemasyarakatan,yang mana pada ayat 1 unsurunsur kebudayaan sosial kemasyarakatan yang di maksud adalah sistem kekerabatan yang mana Buya Hamka menuliskan bahwa jika seseorang berpegian jauah (merantau) apabila bertemu dengan orang yang satu daerah maka hal yang akan ditanyakan adalah suku. Pada ayat 3 unsur-unsur sosial kemasyarakatan yang di maksud adalah kekerabatan, yang mana kebudayaan Minangkabau menganut sistem kekerabatan menurut garis keturunan ibu (matrelinial) bukan ayah (patrilineal). Pada ayat 19 menggunakan unsur-unsur kebudayaan kesenian dengan menuliskan ungkapan tradisonal di Minangkabau yaitu orang pamenan mato, obat jerih pelerai demam sedingin tempat di kepala yaitu melihat istri yang taat hatipun senang, melihat yang memenuhi harapan, kesusahan ayah terobati itulah kekayaan yang sejati. Pada ayat 21 dalam menjelaskan tentang penceraian, Buya Hamka memasukkan unsur-unsur kebudayaan kesenian dengan menggunakan pantun taliban Minangkabau yang dipantunkan oleh seorang istri yang diceraikan suami, hanya karna si suami ingin mencari yang baru. Pada ayat 23 unsur-unsur kebudayaan yang digunakan adalah bahasa yang mana disana menggunakan bahasa lokal yaitu kemenakan. Pada ayat 23 unsur-unsur kebudayaan yang digunakan yaitu system religi yang mana dalam penafsirannya Buya Hamka meneuliskan salah satu ulama yang berasal dari Minangkabau yaitu Sayid Abdul Hamid al-Khatib (sahabat Buya Hamka) yang nana ayahnya Syaikh Ahmad Khatib (ulama Minangkabau yang masyhur di Mekkah
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini berjudul “Unsur-Unsur Kebudayaan Minangkabau Dalam Kitab Tafsir Al-Azhar” yang ditulis oleh Fauziah NIRM.S1.VI.10.20.156, Mahasiswa Institut Darul Qur‟an Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami interaksi antara teks suci al-Qur‟an dan kebudayaan lokal, khususnya dalam konteks unsur-unsur kebudayaan Minangkabau sebagaimana ditafsirkan dalam kitab Tafsir al-Azhar karya Buya Hamka. Rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana unsur-unsur kebudayaan Minangkabau dalam surah an-Nisa‟ yang terdapat dalam kitab tafsir al-Azhar. Penelitian ini dibatasi pada klasifikasi isi kandungan ayat yang berkaitan dengan unsur-unsur kebudayaan dalam surah anNisa‟, penafsiran serta analisis terhadap penafsiran tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan metode tafsir maudhu’i Muhammad al-Ghazali yakni satu surah yang memiliki ayat dengan tema yang sama. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tentang unsur-unsur kebudayaan Minangkabau yang terdapat pada surah an-Nisa‟ dalam kitab tafsir al-Azhar. Sumber data penelitian terbagi dua, sumber data primer yaitu tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan sumber data sekunder yaitu bukubuku pendukung, jurnal, artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Penelitian ini menemukan bahwa dari 176 ayat yang ada dalam surah anNisa‟, Buya Hamka hanya memasukkan unsur-unsur kebudayaan Minangkabau pada 6 ayat saja yakni ayat 1, 3, 19, 21, 23, dan 24. Adapun unsur-unsur kebudayaan tersebut yaitu sistem kemasyarakatan,yang mana pada ayat 1 unsurunsur kebudayaan sosial kemasyarakatan yang di maksud adalah sistem kekerabatan yang mana Buya Hamka menuliskan bahwa jika seseorang berpegian jauah (merantau) apabila bertemu dengan orang yang satu daerah maka hal yang akan ditanyakan adalah suku. Pada ayat 3 unsur-unsur sosial kemasyarakatan yang di maksud adalah kekerabatan, yang mana kebudayaan Minangkabau menganut sistem kekerabatan menurut garis keturunan ibu (matrelinial) bukan ayah (patrilineal). Pada ayat 19 menggunakan unsur-unsur kebudayaan kesenian dengan menuliskan ungkapan tradisonal di Minangkabau yaitu orang pamenan mato, obat jerih pelerai demam sedingin tempat di kepala yaitu melihat istri yang taat hatipun senang, melihat yang memenuhi harapan, kesusahan ayah terobati itulah kekayaan yang sejati. Pada ayat 21 dalam menjelaskan tentang penceraian, Buya Hamka memasukkan unsur-unsur kebudayaan kesenian dengan menggunakan pantun taliban Minangkabau yang dipantunkan oleh seorang istri yang diceraikan suami, hanya karna si suami ingin mencari yang baru. Pada ayat 23 unsur-unsur kebudayaan yang digunakan adalah bahasa yang mana disana menggunakan bahasa lokal yaitu kemenakan. Pada ayat 23 unsur-unsur kebudayaan yang digunakan yaitu system religi yang mana dalam penafsirannya Buya Hamka meneuliskan salah satu ulama yang berasal dari Minangkabau yaitu Sayid Abdul Hamid al-Khatib (sahabat Buya Hamka) yang nana ayahnya Syaikh Ahmad Khatib (ulama Minangkabau yang masyhur di Mekkah
BookOpen AccessPDF tersedia
2025•Koleksi Perpustakaan
Skripsi ini berjudul “Menyantuni Anak Yatim dan Orang Miskin dalam Perspektif Tafsir Al-Azhar” yang ditulis oleh Nurul Hafizah NIRM.S1.VI.10.20.182, Mahasiswa Institut Darul Qur’an. Al-Qur’an merupakan kitab suci yang di dalamnya terdapat segala kebenaran dan dijadikan sebagai pedoman bagi umat manusia di seluruh dunia. Al- Qur’an juga didalamnya terdapat berbagai ilmu tentang keislaman yang dapat menuntun dan mendorong pemeluknya untuk mempelajari dan juga mengerjakan sebagai tindakan sosial. Manusia sebagai makhluk sosial memerlukan interasksi sosial dengan manusia yang lainnya. Interaksi sosial ini bukan hanya menjalin hubungan dengan lingkungan masyarakat tetapi juga diperlukan sikap untuk saling tolong menolong, saling membantu, tanpa melihat strata sosialnya. Di dalam Al- Qur’an dijelaskan bahwa kita diharuskan untuk saling tolong menolong terhadap sesama. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh Manusia sebagai makhluk sosial memerlukan interasksi sosial dengan manusia yang lainnya. Interaksi sosial ini bukan hanya menjalin hubungan dengan lingkungan masyarakat tetapi juga diperlukan sikap untuk saling tolong menolong, saling membantu, tanpa melihat strata sosialnya. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa kita diharuskan untuk saling tolong menolong terhadap sesama. Dalam hal ini salah satu contoh mewujudkan hubungan yang baik antar sesama mahkluk hidup yaitu menyatuni anak yatim dan orang miskin Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan ketode tafsir maudhu’I Abd Hayy al-Farmawi yakni menentukan tema yang akan dibahas lalu mengumpulkan ayat sesuai dengan tema yang dibahas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tentang menyantuni anak yatim dan orang miskin dalam Tafsir Al-Azhar. Sumber data penelitian terbagi dua, sumber data primer yaitu tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka. Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal, artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Penelitian ini menemukan bahwa ayat yang membahas tentang anak yatim dan orang miskin berjumlah 45 ayat. Ayat yang berkaitan dengan menyantuni anak yatim 17 ayat dan yang berkaitan dengan menyantuni orang miskin 20 ayat. Ayat yang beriringan kata yatim dan miskin ada 8 ayat. Menyantuni anak yatim dan orang miskin terbagi menjadi dua bagian yaitu yang pertama memberi bantuan diantaranya yaitu membayar fidyah, memberi harta yang dicintai, memberi infak, memberi sedekah, memberi zakat, memberi rezeki anak yatim dan orang miskin yang hadir dalam pembagian harta warisan, pembagian ghanimah dan fa’i, memberi makanan dan membayar kafarat. Kedua yaitu berbuat baik diantaranya menjaga dan mengelola harta anak yatim, mengajak orang lain untuk memberi dan membantu, memuliakan anak yatim,tidak sewenang-wenang kepada anak yatim, dan tidak menghardik anak yatim.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini berjudul “Menyantuni Anak Yatim dan Orang Miskin dalam Perspektif Tafsir Al-Azhar” yang ditulis oleh Nurul Hafizah NIRM.S1.VI.10.20.182, Mahasiswa Institut Darul Qur’an. Al-Qur’an merupakan kitab suci yang di dalamnya terdapat segala kebenaran dan dijadikan sebagai pedoman bagi umat manusia di seluruh dunia. Al- Qur’an juga didalamnya terdapat berbagai ilmu tentang keislaman yang dapat menuntun dan mendorong pemeluknya untuk mempelajari dan juga mengerjakan sebagai tindakan sosial. Manusia sebagai makhluk sosial memerlukan interasksi sosial dengan manusia yang lainnya. Interaksi sosial ini bukan hanya menjalin hubungan dengan lingkungan masyarakat tetapi juga diperlukan sikap untuk saling tolong menolong, saling membantu, tanpa melihat strata sosialnya. Di dalam Al- Qur’an dijelaskan bahwa kita diharuskan untuk saling tolong menolong terhadap sesama. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh Manusia sebagai makhluk sosial memerlukan interasksi sosial dengan manusia yang lainnya. Interaksi sosial ini bukan hanya menjalin hubungan dengan lingkungan masyarakat tetapi juga diperlukan sikap untuk saling tolong menolong, saling membantu, tanpa melihat strata sosialnya. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa kita diharuskan untuk saling tolong menolong terhadap sesama. Dalam hal ini salah satu contoh mewujudkan hubungan yang baik antar sesama mahkluk hidup yaitu menyatuni anak yatim dan orang miskin Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan ketode tafsir maudhu’I Abd Hayy al-Farmawi yakni menentukan tema yang akan dibahas lalu mengumpulkan ayat sesuai dengan tema yang dibahas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tentang menyantuni anak yatim dan orang miskin dalam Tafsir Al-Azhar. Sumber data penelitian terbagi dua, sumber data primer yaitu tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka. Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal, artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Penelitian ini menemukan bahwa ayat yang membahas tentang anak yatim dan orang miskin berjumlah 45 ayat. Ayat yang berkaitan dengan menyantuni anak yatim 17 ayat dan yang berkaitan dengan menyantuni orang miskin 20 ayat. Ayat yang beriringan kata yatim dan miskin ada 8 ayat. Menyantuni anak yatim dan orang miskin terbagi menjadi dua bagian yaitu yang pertama memberi bantuan diantaranya yaitu membayar fidyah, memberi harta yang dicintai, memberi infak, memberi sedekah, memberi zakat, memberi rezeki anak yatim dan orang miskin yang hadir dalam pembagian harta warisan, pembagian ghanimah dan fa’i, memberi makanan dan membayar kafarat. Kedua yaitu berbuat baik diantaranya menjaga dan mengelola harta anak yatim, mengajak orang lain untuk memberi dan membantu, memuliakan anak yatim,tidak sewenang-wenang kepada anak yatim, dan tidak menghardik anak yatim.
BookOpen AccessPDF tersedia
2025•Koleksi Perpustakaan
ABSTRAK Skripsi ini berjudul “Kedaulatan Sebuah Negeri dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 55 (kajian tafsir Tahlili))”, yang ditulis oleh Hazhar NIRM. S1.VI.19.21.015, Mahasiswa Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Latar belakang penelitian ini adalah untuk mengkaji dalam tentang makna kedaulatan Sebuah Negeri Dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 55 (kajian tafsir Tahlili))”, penulis ingin menggali dan membahas apakah yang dimaksud berdaulat dalam bernegara menurut Pesfektif Al-Qur’an surat AnNur ayat 55. maka hal inilah yang mendorong penulis untuk mengembangkan penelitian ini. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk megetahui Penafsiran dalam Surah An-Nur Ayat 55 tentang keadaulatan dalam Al-Qur’an, dan Untuk mengetahui analisis kedaulatan dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 55 tentang kedaulatan dalam Al-Qur’an. Penelitian ini adalah penelitian Kepustakaan (Library research), berupa kajian pustaka dengan metode deskriptif kualitatif. dalam menganalisis data penulis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, Melalui kitab-kitab yang di karang oleh ulama-ulama yang diakui akan keilmuanya. Sumber data primer diantaranya tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, tafsir al-Misbah karya M.Quraisy Shihab, tafsir Jalalaen karya Jalaludin Al-mahali dan Jalaludin as-suyuti, tafsir Al-Maraghi karya Ahmad Musthafa al-Maraghi dan Tafsir An-Nur karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, tafsir As-Sa’di karya Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Adapun metode yang digunakan penulis dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode Tahlili, yaitu: menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an dengan menjelaskan segala makna secara rinci. Peneliti menemukan bahwasanya masih banyak orang yang salah kaprah dalam memahami makna dari kedaulatan itu sendiri, mereka menggangap negaranya sudah berdaulat, padahal masih banyak negara yang berkonflik sedangkan kedaulatanya telah diakui, dan masih bnyak orang yang beribadah terhadap keyakinanya justru tidak tenang dalam melaksanakanya, apakah itu yang dinamakan kemerdekaan dalam sebuah bangsa ataupun Negeri. Dalam Surah An-Nur ayat 55 menggambarkan konsep kedaulatan sebuah negeri dalam Islam sebagai suatu anugerah dari Allah swt kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, dalam ayat ini menegaskan bahwa kedaulatan sejati bukan hanya sekedar kebebasan dari penjajahan fisik tetapi juga meliputi keamanan, keadilan, serta kebebasan dalam menjalankan ajaran agama tanpa tekanan, serta menjalankan kehidupan tanpa adanya penindasan dan tekanan-tekanan dari pihak lain.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Skripsi ini berjudul “Kedaulatan Sebuah Negeri dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 55 (kajian tafsir Tahlili))”, yang ditulis oleh Hazhar NIRM. S1.VI.19.21.015, Mahasiswa Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Latar belakang penelitian ini adalah untuk mengkaji dalam tentang makna kedaulatan Sebuah Negeri Dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 55 (kajian tafsir Tahlili))”, penulis ingin menggali dan membahas apakah yang dimaksud berdaulat dalam bernegara menurut Pesfektif Al-Qur’an surat AnNur ayat 55. maka hal inilah yang mendorong penulis untuk mengembangkan penelitian ini. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk megetahui Penafsiran dalam Surah An-Nur Ayat 55 tentang keadaulatan dalam Al-Qur’an, dan Untuk mengetahui analisis kedaulatan dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 55 tentang kedaulatan dalam Al-Qur’an. Penelitian ini adalah penelitian Kepustakaan (Library research), berupa kajian pustaka dengan metode deskriptif kualitatif. dalam menganalisis data penulis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, Melalui kitab-kitab yang di karang oleh ulama-ulama yang diakui akan keilmuanya. Sumber data primer diantaranya tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, tafsir al-Misbah karya M.Quraisy Shihab, tafsir Jalalaen karya Jalaludin Al-mahali dan Jalaludin as-suyuti, tafsir Al-Maraghi karya Ahmad Musthafa al-Maraghi dan Tafsir An-Nur karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, tafsir As-Sa’di karya Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Adapun metode yang digunakan penulis dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode Tahlili, yaitu: menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an dengan menjelaskan segala makna secara rinci. Peneliti menemukan bahwasanya masih banyak orang yang salah kaprah dalam memahami makna dari kedaulatan itu sendiri, mereka menggangap negaranya sudah berdaulat, padahal masih banyak negara yang berkonflik sedangkan kedaulatanya telah diakui, dan masih bnyak orang yang beribadah terhadap keyakinanya justru tidak tenang dalam melaksanakanya, apakah itu yang dinamakan kemerdekaan dalam sebuah bangsa ataupun Negeri. Dalam Surah An-Nur ayat 55 menggambarkan konsep kedaulatan sebuah negeri dalam Islam sebagai suatu anugerah dari Allah swt kepada orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, dalam ayat ini menegaskan bahwa kedaulatan sejati bukan hanya sekedar kebebasan dari penjajahan fisik tetapi juga meliputi keamanan, keadilan, serta kebebasan dalam menjalankan ajaran agama tanpa tekanan, serta menjalankan kehidupan tanpa adanya penindasan dan tekanan-tekanan dari pihak lain.
BookOpen AccessPDF tersedia
2025•Koleksi Perpustakaan
ABSTRAK Skripsi ini berjudul “Penafsiran Ghosting Dalam Al-Qur’an (Studi Tafsir Tahlili Q.s An-Nmal:20)” yang ditulis oleh Ranti Permata Sari NIRM.S1.VI.19.21.007, Mahasiswa Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini dilatar belakangi oleh istilah Ghosting yang menjadi tranding di masyarakat dan sering dikaitkan dengan masalah percintaan. Dilihat lebih dalam lagi, ternyata istilah ghosting tidak hanya digunakan untuk menyebutkan pemutusan/hilang tiba-tiba dalam hubungan percintaan saja, melainkan menyangkut segala bentuk hubungan sosial. Dan dilihat dari kisahnya Nabi Sulaiman, beliau pernah dighosting oleh salah satu prajuritnya. Oleh karena itu, penulis berusaha memahami secara utuh bagaimana ghosting dalam Al-Qur’an. Karena ha ini lah perlu untuk ditelusuri penafsiran ulama mengenai Ghosting dan menganalisa penafsiran tentang ghosting dalam Al-Qur’an. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan pendekatan kualitatif, Sumber data penelitian terbagi dua, sumber data primer diantaranya tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, tafsir al-Misbah karya M.Quraisy Shihab, tafsir fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Qutb, tafsir Jalalaen karya Jalaludin Al-mahali dan Jalaludin as-suyuti, tafsir Al-Maraghi karya Ahmad Musthafa al-Maraghi dan Tafsir An-Nur karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy. Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Adapun metode yang digunakan penulis dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode Tahlili, yaitu: menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an dengan menjelaskan segala makna secara rinci. Hasil penelitian ini menemukan bahwa ghosting terdapat 1.061 ayat dalam Al-Qur’an, dengan kata ghosting hilang, putus, lenyap dan tiada. Kata hilang terdapat 17 lafadz 787 ayat dalam Al-Qur’an, kata putus terdapat 6 lafadz 241 ayat dalam Al-Qur’an, kata lenyap terdapat 7 lafadz 11 ayat dalam Al-Qur’an, kata tiada terdapat 5 lafadz 10 ayat dalam Al-Qur’an. Sedangkan ayat yang membahas ghosting Nabi Sulaiman dengan Burung Hud-hud terdapat dalam Q.S An-Naml:20, membahas tentang bahwasannya Burung Hud-hud pernah menghilang beberapa saat tanpa memberi kabar dan pengetahuan Nabi Sulaiman. Q.S maryam:59 tentang mengabaikan sholat, Q.S Al-baqarah:266 dan Q.S Al-Hadid:20 kebun yang ditiup angin lalu menghilang, Q.S Al-An’am:76 matahari yang dilihat ibrahim tiba-tiba menghilang, Q.S Al-Isra’:67 ketika kamu ketimpa musibah lalu yang biasa kamu sembah akan hilang kecuali allah, Q.S Al-An’am:94 putusnya hubungan pada hari pemberi syafaat, Q.S Thoha:78 fir’aun ditenggelamkan oleh ombak, Q.S Muhamad 22-23 memutuskan hubungan kekeluargaan, Q.S Arro’du 25 memutuskan perjanjian, Q.S Al-baqarah:166 pada hari kiamat hubungan sesama manusia terputus.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini berjudul "PENAFSIRAN TSABBIT AQDAMANA Q.S AL-BAQARAH AYAT 250 DAN Q.S ALI IMRAN 147”(KAJIAN TAFSIR MUQARAN)” yang ditulis oleh Rifki Wahyudi NIRM.S1.VI.19.21.008, Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini dilatar belakangi oleh Al-Qur’an yang fungsi utamanya sebagai kitab petunjuk semua manusia, terutama umat islam bahwa untuk selalu mengerjakan kebajikan. Kebajikan sendiri harus istiqomah dilakukan seperti yang di tertera pada H.R Muslim No.38, istoqomah sendiri memiliki banyak makna terutama teguh pendirian untuk selalu berada dalam ajaran Islam, bimbingan Al-Qur’an. Semakna dengan istiqomah terdapat dalam Q.S Al-Baqarah ayat 250 dan Q.S Ali Imran ayat 147 lafadz Tsabbit Aqdama yang memiliki makna teguhkanlah pendirian kami. Fokus penelitian pada lafadz tersebut di karenakan belum ada sebelumnya penelitian terfokus pada lafadz tersebut, hanya pada lafadz istiqomah, di karenakan kedua ayatnya memilik kesamaan memfokuskan kajiannya pada perbandingan penafsiran kedua ayat tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan metode tahlili majmu min al ayat, dalam surat berebeda namun ada kesamaan redaksi dan bahasan. Sumber data penelitian terbagi dua, sumber data primer diantaranya tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, tafsir al-Misbah karya M.Quraisy Shihab, tafsir fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Qutb, tafsir ibnu Katsir karya Ibnu Katsir , tafsir Al-Maraghi karya Ahmad Musthafa al-Maraghi dan Tafsir al-Munir karya syaikh Wahbah az-Zuhaili, tafsir Fathul Qodir karya imam As-Syaukani tafsir At-Thobary karya Imam At-Thobary tafsir al-Kasyaf karya imam Zamakzyari, tafsir al-Baghowi karya Imam al-baghowi Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Adapun metode yang digunakan penulis dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode Tahlili, yaitu: menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an dengan menjelaskan segala makna secara rinci dan membandingkan kedua ayat tersebut atau memuqoronkannya . Hasil penelitian ini menemukan bahwa tsabbit Aqdama yang terdapat dalam Q.S Al-Baqarah ayat 250 dan Q.S Ali Imran ayat 147 memiliki makna kokohkanlah pendirian kami yaitu makna majazi yang makna harfiahnya kokohkanlah kaki (tumit) kami. Lafadz Tsabbit Aqdamana pada kedua ayat ini merupakan do’a raja Tholut dan Pasukannya dan Do’a kaum Ribbiyyun dalam berperang melawan musuh. Perbandingan kedua ayat ini terdapat perbedaan pada redaksi utuh ayatnya, pada aspek historis dan sabab nuzulnya, Q.S Al-Baqarah 250 sabab nuzulnya sebagai penjelasan mengenai syari’at berperang sudah ada pada umat terdahulu seperti Raja Tholut dan pasukannta, Q,S Ali Imran memiliki sabab nuzul peristiwa perang Uhud. Do’a dalam Q.S Ali Imran lebih lengkap lafadznya yang di awali dengan keinsyafan dan merupakan do’anya kaum Ribbiyyun. Aspek balaghohnya Q.S Ali Imran merupakan kalam Isti’arah tamtsiliyyah dan kalam amr bermakna do’a dan Q.S Ali Imran hanya kalam amr bermakna do’a. Kata Kunci: Istiqomah, tafsir, tsabbit aqdamana, muqarran, dan balaghah.
BookOpen AccessPDF tersedia
2025•Koleksi Perpustakaan
Skripsi ini berjudul "PENAFSIRAN TSABBIT AQDAMANA Q.S AL-BAQARAH AYAT 250 DAN Q.S ALI IMRAN 147”(KAJIAN TAFSIR MUQARAN)” yang ditulis oleh Rifki Wahyudi NIRM.S1.VI.19.21.008, Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini dilatar belakangi oleh Al-Qur’an yang fungsi utamanya sebagai kitab petunjuk semua manusia, terutama umat islam bahwa untuk selalu mengerjakan kebajikan. Kebajikan sendiri harus istiqomah dilakukan seperti yang di tertera pada H.R Muslim No.38, istoqomah sendiri memiliki banyak makna terutama teguh pendirian untuk selalu berada dalam ajaran Islam, bimbingan Al-Qur’an. Semakna dengan istiqomah terdapat dalam Q.S Al-Baqarah ayat 250 dan Q.S Ali Imran ayat 147 lafadz Tsabbit Aqdama yang memiliki makna teguhkanlah pendirian kami. Fokus penelitian pada lafadz tersebut di karenakan belum ada sebelumnya penelitian terfokus pada lafadz tersebut, hanya pada lafadz istiqomah, di karenakan kedua ayatnya memilik kesamaan memfokuskan kajiannya pada perbandingan penafsiran kedua ayat tersebut. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan metode tahlili majmu min al ayat, dalam surat berebeda namun ada kesamaan redaksi dan bahasan. Sumber data penelitian terbagi dua, sumber data primer diantaranya tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, tafsir al-Misbah karya M.Quraisy Shihab, tafsir fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Qutb, tafsir ibnu Katsir karya Ibnu Katsir , tafsir Al-Maraghi karya Ahmad Musthafa al-Maraghi dan Tafsir al-Munir karya syaikh Wahbah az-Zuhaili, tafsir Fathul Qodir karya imam As-Syaukani tafsir At-Thobary karya Imam At-Thobary tafsir al-Kasyaf karya imam Zamakzyari, tafsir al-Baghowi karya Imam al-baghowi Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Adapun metode yang digunakan penulis dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode Tahlili, yaitu: menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an dengan menjelaskan segala makna secara rinci dan membandingkan kedua ayat tersebut atau memuqoronkannya . Hasil penelitian ini menemukan bahwa tsabbit Aqdama yang terdapat dalam Q.S Al-Baqarah ayat 250 dan Q.S Ali Imran ayat 147 memiliki makna kokohkanlah pendirian kami yaitu makna majazi yang makna harfiahnya kokohkanlah kaki (tumit) kami. Lafadz Tsabbit Aqdamana pada kedua ayat ini merupakan do’a raja Tholut dan Pasukannya dan Do’a kaum Ribbiyyun dalam berperang melawan musuh. Perbandingan kedua ayat ini terdapat perbedaan pada redaksi utuh ayatnya, pada aspek historis dan sabab nuzulnya, Q.S Al-Baqarah 250 sabab nuzulnya sebagai penjelasan mengenai syari’at berperang sudah ada pada umat terdahulu seperti Raja Tholut dan pasukannta, Q,S Ali Imran memiliki sabab nuzul peristiwa perang Uhud. Do’a dalam Q.S Ali Imran lebih lengkap lafadznya yang di awali dengan keinsyafan dan merupakan do’anya kaum Ribbiyyun. Aspek balaghohnya Q.S Ali Imran merupakan kalam Isti’arah tamtsiliyyah dan kalam amr bermakna do’a dan Q.S Ali Imran hanya kalam amr bermakna do’a. Kata Kunci: Istiqomah, tafsir, tsabbit aqdamana, muqarran, dan balaghah.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Skripsi ini berjudul “Penafsiran Ghosting Dalam Al-Qur’an (Studi Tafsir Tahlili Q.s An-Nmal:20)” yang ditulis oleh Ranti Permata Sari NIRM.S1.VI.19.21.007, Mahasiswa Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini dilatar belakangi oleh istilah Ghosting yang menjadi tranding di masyarakat dan sering dikaitkan dengan masalah percintaan. Dilihat lebih dalam lagi, ternyata istilah ghosting tidak hanya digunakan untuk menyebutkan pemutusan/hilang tiba-tiba dalam hubungan percintaan saja, melainkan menyangkut segala bentuk hubungan sosial. Dan dilihat dari kisahnya Nabi Sulaiman, beliau pernah dighosting oleh salah satu prajuritnya. Oleh karena itu, penulis berusaha memahami secara utuh bagaimana ghosting dalam Al-Qur’an. Karena ha ini lah perlu untuk ditelusuri penafsiran ulama mengenai Ghosting dan menganalisa penafsiran tentang ghosting dalam Al-Qur’an. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan pendekatan kualitatif, Sumber data penelitian terbagi dua, sumber data primer diantaranya tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, tafsir al-Misbah karya M.Quraisy Shihab, tafsir fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Qutb, tafsir Jalalaen karya Jalaludin Al-mahali dan Jalaludin as-suyuti, tafsir Al-Maraghi karya Ahmad Musthafa al-Maraghi dan Tafsir An-Nur karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy. Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Adapun metode yang digunakan penulis dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah metode Tahlili, yaitu: menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an dengan menjelaskan segala makna secara rinci. Hasil penelitian ini menemukan bahwa ghosting terdapat 1.061 ayat dalam Al-Qur’an, dengan kata ghosting hilang, putus, lenyap dan tiada. Kata hilang terdapat 17 lafadz 787 ayat dalam Al-Qur’an, kata putus terdapat 6 lafadz 241 ayat dalam Al-Qur’an, kata lenyap terdapat 7 lafadz 11 ayat dalam Al-Qur’an, kata tiada terdapat 5 lafadz 10 ayat dalam Al-Qur’an. Sedangkan ayat yang membahas ghosting Nabi Sulaiman dengan Burung Hud-hud terdapat dalam Q.S An-Naml:20, membahas tentang bahwasannya Burung Hud-hud pernah menghilang beberapa saat tanpa memberi kabar dan pengetahuan Nabi Sulaiman. Q.S maryam:59 tentang mengabaikan sholat, Q.S Al-baqarah:266 dan Q.S Al-Hadid:20 kebun yang ditiup angin lalu menghilang, Q.S Al-An’am:76 matahari yang dilihat ibrahim tiba-tiba menghilang, Q.S Al-Isra’:67 ketika kamu ketimpa musibah lalu yang biasa kamu sembah akan hilang kecuali allah, Q.S Al-An’am:94 putusnya hubungan pada hari pemberi syafaat, Q.S Thoha:78 fir’aun ditenggelamkan oleh ombak, Q.S Muhamad 22-23 memutuskan hubungan kekeluargaan, Q.S Arro’du 25 memutuskan perjanjian, Q.S Al-baqarah:166 pada hari kiamat hubungan sesama manusia terputus.
BookOpen AccessPDF tersedia
2024•Koleksi Perpustakaan
Penelitian ini dilatarbelakangi kenyataan bahwa manusia sebagai makhluk hidup berpasangpasangan, membutuhkan keluarga yang ideal. Menciptakannya bukan hal yang mudah, banyak faktor
yang menjadi penghambat. Peneliti mengungkapkan bentuk keluarga ideal dalam kisah nabi Ibrahim
dan keluarganya yang terdapat di dalam al-Qur’an.
Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan metode tafsir maudhu’i
Abd Hayy al-Farmawi, sumber data primer diantaranya tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, tafsir al-
Misbah karya M.Quraisy Shihab, tafsir fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Qutb, tafsir al-Maraghi karya
Ahmad Mustafa al-Maraghi, tafsir Kemenag dan Tafsir an-Nur karya Muhammad Hasbi AshShiddieqy. Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal artikel, tesis, skripsi dan sumbersumber lainnya.
Penelitian menemukan terdapat 63 ayat terkait kisah nabi Ibrahim di dalam al-Qur’an, Ismail
putranya ditemukan 12 ayat. Ya’qub cucu Nabi Ibrahim sebanyak 16 ayat. Ayat yang bercerita tentang
nabi Ibrahim dan keluarganya terdapat 12 ayat, 3 ayat berkaitan dengan bentuk keluarga ideal.
Pertama sikap mempercayai dalam Q.S ash-Shaffat ayat 102, kedua sikap menerima kekurangan
keluarga dalam Q.S al-Hijr ayat 54-55, ketiga sikap mengerti dan memahami keadaan keluarga dalam
Q.S Ibrahim ayat 37 dan Q.S ash-Shaffat ayat 102, keempat sikap saling menghargai dalam Q.S ashShaffat ayat 102, kelima sikap saling mencintai dalam Q.S al-Hijr ayat 54-55.
BookOpen AccessPDF tersedia
2024•Koleksi Perpustakaan
Skripsi ini berjudul “Keluarga Ideal Prespektif Al-Qur’an (Studi Tafsir Tematik Ayat-ayat Tentang Nabi Ibrahim dan Keluarganya)” yang ditulis oleh Fatya Rahma Firdaus NIRM.S1.VI.19.20.155, Mahasiswa STAI Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi kenyataan bahwa manusia sebagai makhluk hidup yang diciptakan oleh Allah secara berpasang-pasangan, membutuhkan hubungan yang baik. Namun menciptakan hubungan yang baik bukanlah hal yang mudah, banyak faktor yang menjadi penghambat. Ada beberapa cara membentuk keluarga ideal, salah satunya di dalam alQur’an banyak diterangkan terkait bagaimana etika dalam berkeluarga yang baik, terdapat dalam kisah para nabi maupun orang-orang yang hidup pada zaman nabi. Salah satu contohnya yaitu kisah nabi Ibrahim dan keluarganya yang dapat dijadikan panutan bagi umat muslim. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan metode tafsir maudhu’i Muhammad abd al-Hayy al-Farmawi yakni menentukan tema yang akan dibahas lalu mengumpulkan ayat sesuai dengan tema yang dibahas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk keluarga ideal dalam kisah nabi Ibrahim dan keluarganya di dalam alQur’an. Sumber data penelitian terbagi dua, sumber data primer diantaranya tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, tafsir al-Misbah karya M.Quraisy Shihab, tafsir fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Qutb , tafsir Kemenag dan Tafsir an-Nur karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy. Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Penelitian menemukan bahwa terdapat 63 ayat yang berkaitan dengan kisah nabi Ibrahim di dalam al-Qur’an, Nabi Ismail putranya ditemukan 12 ayat di dalam al-Qur’an. Nabi Ya’qub cucu Nabi Ibrahim disebutkan Allah di dalam al-Qur’an sebanyak 16 ayat. Sedangkan ayat yang bercerita tentang nabi Ibrahim dan keluarganya terdapat 12 ayat, 3 diantaranya bercerita tentang bentuk keluarga ideal dalam kisah nabi Ibrahim dan keluarganya. Pertama sikap mempercayai perkataan dan perbuatan yang terdapat di dalam Q.S ash-Shaffat ayat 102, kisah nabi Ibrahim dan putranya nabi Ismail. Selanjutnya sikap menerima kekurangan keluarga yang terdapat di dalam Q.S al-Hijr ayat 54-55, kisah nabi Ibrahim dan istrinya Sarah. Ketiga sikap mengerti dan memahami keadaan keluarga yang terdapat di dalam Q.S Ibrahim ayat 37 antara Ibrahim dengan istrinya Hajar.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini berjudul “Keluarga Ideal Prespektif Al-Qur’an (Studi Tafsir Tematik Ayat-ayat Tentang Nabi Ibrahim dan Keluarganya)” yang ditulis oleh Fatya Rahma Firdaus NIRM.S1.VI.19.20.155, Mahasiswa STAI Darul Qur’an Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi kenyataan bahwa manusia sebagai makhluk hidup yang diciptakan oleh Allah secara berpasang-pasangan, membutuhkan hubungan yang baik. Namun menciptakan hubungan yang baik bukanlah hal yang mudah, banyak faktor yang menjadi penghambat. Ada beberapa cara membentuk keluarga ideal, salah satunya di dalam alQur’an banyak diterangkan terkait bagaimana etika dalam berkeluarga yang baik, terdapat dalam kisah para nabi maupun orang-orang yang hidup pada zaman nabi. Salah satu contohnya yaitu kisah nabi Ibrahim dan keluarganya yang dapat dijadikan panutan bagi umat muslim. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan metode tafsir maudhu’i Muhammad abd al-Hayy al-Farmawi yakni menentukan tema yang akan dibahas lalu mengumpulkan ayat sesuai dengan tema yang dibahas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk keluarga ideal dalam kisah nabi Ibrahim dan keluarganya di dalam alQur’an. Sumber data penelitian terbagi dua, sumber data primer diantaranya tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, tafsir al-Misbah karya M.Quraisy Shihab, tafsir fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Qutb , tafsir Kemenag dan Tafsir an-Nur karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy. Sumber data sekunder yaitu buku-buku pendukung, jurnal artikel, tesis, skripsi dan sumber-sumber lainnya. Penelitian menemukan bahwa terdapat 63 ayat yang berkaitan dengan kisah nabi Ibrahim di dalam al-Qur’an, Nabi Ismail putranya ditemukan 12 ayat di dalam al-Qur’an. Nabi Ya’qub cucu Nabi Ibrahim disebutkan Allah di dalam al-Qur’an sebanyak 16 ayat. Sedangkan ayat yang bercerita tentang nabi Ibrahim dan keluarganya terdapat 12 ayat, 3 diantaranya bercerita tentang bentuk keluarga ideal dalam kisah nabi Ibrahim dan keluarganya. Pertama sikap mempercayai perkataan dan perbuatan yang terdapat di dalam Q.S ash-Shaffat ayat 102, kisah nabi Ibrahim dan putranya nabi Ismail. Selanjutnya sikap menerima kekurangan keluarga yang terdapat di dalam Q.S al-Hijr ayat 54-55, kisah nabi Ibrahim dan istrinya Sarah. Ketiga sikap mengerti dan memahami keadaan keluarga yang terdapat di dalam Q.S Ibrahim ayat 37 antara Ibrahim dengan istrinya Hajar.
BookOpen AccessPDF tersedia
2024•Koleksi Perpustakaan
Skripsi ini berjudul Solusi Al-Qur’an Terhadap Strawberry Generation (Studi Tafsir Maudhu’i) yang disusun oleh saudari Salsabil Febrihana, NIRM S1.VI.19.20.190, Mahasiswa STAI Darul Qur’an Payakumbuh.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran penulis berkaitan dengan generasi sekarang yang dikenal dengan strawberry generation. Generasi ini dikenal dengan sifat yang mudah menyerah, putus asa dan tidak sabar dalam menghadapi tantangan atau permasalahan yang muncul dalam kehidupannya. Sifat ini sudah tentu dilarang oleh Allah dalam al-Qur’an. Bagi kaum muslimin, wajib hukumnya mencari solusi terhadap permasalahan yang dialami agar terhindar dari hal-hal yang dilarang oleh Allah didalam al-Qur’an. Termasuk permasalahan strawberry generation ini.
Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan metode tafsir maudhu’i yang digagas oleh Al-Farmawi yakni penggabungan ayat-ayat al-Quran yang memiliki tema yang sama dalam al-Qur’an. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui klasifikasi dan penafsiran ayat-ayat al-Qur’an solusi terhadap strawberry generation. Sumber data penelitian terbagi menjadi dua. Pertama, sumber data primer diantaranya tafsir Al-Munir, Al-Misbah, Kemenag, An-Nur, Al-Azhar dan Al-Qurthubi. Kedua sumber data sekunder yaitu buku-buku jurnal ilmiah, tesis, skripsi atau sumber-sumber lainnya yang berkaitan dengan objek permasalahan dalam penelitian.
Hasil penelitian ini memiliki dua pembahasan. Pembahasan pertama mengenai klasifikasi ayat tentang solusi al-Qur’an terhadap strawberry generation, yang terdapat dalam QS. Taha : 130, QS. Ali-Imran : 146, QS. Yusuf : 87, QS. Az-Zumar : 53, QS. Al-An’am : 44, QS. Al-Baqarah : 112. Pembahasan kedua, mengenai penafsiran ayat tentang solusi al-Qur’an terhadap strawberry generation, yang dibagi menjadi tiga tema. Pertama, sabar. Dengan sabar, maka timbullah ridho dalam hati menerima segala yang telah ditakdirkan oleh Allah dalam hidup ini. Sehingga dapat menciptakan ketenangan hati, jiwa dan fikiran. Dalam membimbing strawberry generation pun juga haruslah dengan sabar. Adakalanya kesabaran diuji saat anak-anak mengeluh dan saat membangun mental. Jika tidak sabar, maka akan terbawa putus asa juga. Kedua, mengingat rahmat Allah sehingga muncul rasa syukur, tidak mudah mengeluh serta tidak mudah berputus asa. Mengingat rahmat Allah, juga harus diiringi dengan berusaha semaksimal mungkin. Ketiga, tunduk dan patuh kepada Allah (bertawakkal kepada Allah) serta berbuat baik (beramal soleh) ini membuktikan penghambaan seorang hamba dan bukti bahwa manusia itu lemah serta bergantung kepada Allah. Dan tawakal ini harus dibarengi dengan usaha yang maksimal. Sehingga menimbulkan hal-hal yang positif dalam hidupnya. Ketika sudah tidak mengalami kekhawatiran atau kerisauan dalam hidup, maka akan terhindar dari sifat putus asa serta tidak hanya berserah diri saja. Tapi jika tidak dapat diatasi, maka permasalahan tersebut diserahkan/dikembalikan kepada Allah.
ThesisOpen AccessPDF tersedia
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Skripsi ini berjudul Solusi Al-Qur’an Terhadap Strawberry Generation (Studi Tafsir Maudhu’i) yang disusun oleh saudari Salsabil Febrihana, NIRM S1.VI.19.20.190, Mahasiswa STAI Darul Qur’an Payakumbuh.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran penulis berkaitan dengan generasi sekarang yang dikenal dengan strawberry generation. Generasi ini dikenal dengan sifat yang mudah menyerah, putus asa dan tidak sabar dalam menghadapi tantangan atau permasalahan yang muncul dalam kehidupannya. Sifat ini sudah tentu dilarang oleh Allah dalam al-Qur’an. Bagi kaum muslimin, wajib hukumnya mencari solusi terhadap permasalahan yang dialami agar terhindar dari hal-hal yang dilarang oleh Allah didalam al-Qur’an. Termasuk permasalahan strawberry generation ini.
Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research) dengan metode tafsir maudhu’i yang digagas oleh Al-Farmawi yakni penggabungan ayat-ayat al-Quran yang memiliki tema yang sama dalam al-Qur’an. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui klasifikasi dan penafsiran ayat-ayat al-Qur’an solusi terhadap strawberry generation. Sumber data penelitian terbagi menjadi dua. Pertama, sumber data primer diantaranya tafsir Al-Munir, Al-Misbah, Kemenag, An-Nur, Al-Azhar dan Al-Qurthubi. Kedua sumber data sekunder yaitu buku-buku jurnal ilmiah, tesis, skripsi atau sumber-sumber lainnya yang berkaitan dengan objek permasalahan dalam penelitian.
Hasil penelitian ini memiliki dua pembahasan. Pembahasan pertama mengenai klasifikasi ayat tentang solusi al-Qur’an terhadap strawberry generation, yang terdapat dalam QS. Taha : 130, QS. Ali-Imran : 146, QS. Yusuf : 87, QS. Az-Zumar : 53, QS. Al-An’am : 44, QS. Al-Baqarah : 112. Pembahasan kedua, mengenai penafsiran ayat tentang solusi al-Qur’an terhadap strawberry generation, yang dibagi menjadi tiga tema. Pertama, sabar. Dengan sabar, maka timbullah ridho dalam hati menerima segala yang telah ditakdirkan oleh Allah dalam hidup ini. Sehingga dapat menciptakan ketenangan hati, jiwa dan fikiran. Dalam membimbing strawberry generation pun juga haruslah dengan sabar. Adakalanya kesabaran diuji saat anak-anak mengeluh dan saat membangun mental. Jika tidak sabar, maka akan terbawa putus asa juga. Kedua, mengingat rahmat Allah sehingga muncul rasa syukur, tidak mudah mengeluh serta tidak mudah berputus asa. Mengingat rahmat Allah, juga harus diiringi dengan berusaha semaksimal mungkin. Ketiga, tunduk dan patuh kepada Allah (bertawakkal kepada Allah) serta berbuat baik (beramal soleh) ini membuktikan penghambaan seorang hamba dan bukti bahwa manusia itu lemah serta bergantung kepada Allah. Dan tawakal ini harus dibarengi dengan usaha yang maksimal. Sehingga menimbulkan hal-hal yang positif dalam hidupnya. Ketika sudah tidak mengalami kekhawatiran atau kerisauan dalam hidup, maka akan terhindar dari sifat putus asa serta tidak hanya berserah diri saja. Tapi jika tidak dapat diatasi, maka permasalahan tersebut diserahkan/dikembalikan kepada Allah.
BookOpen AccessPDF tersedia
2023•Koleksi Perpustakaan
Judul skripsi ini adalah Pengajian Tafsir Al-Qur’an di Ranting Aisyiyah Balai Jaring Air Tabit Kecamatan Payakumbuh Timur (Kajian Living Qur’an) yang ditulis oleh Ariful Fikrin NIRM S1.VI.19.19.451 mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Qur’an (STAIDA) Payakumbuh. Fenomena sosial keagamaan yang terlihat di jamaah di Balai Jaring Air Tabit Kecamatan Payakumbuh Timur, dimana jamaah memiliki keinginan yang sangat kuat dalam mempelajari ilmu agama, khususnya dalam mempelajari al qur’an. Adapun kebiasaan yang mereka lakukan hanya mendengarkan kajian ceramah di Masjid atau Mushalla yang dalam pelaksanakannya setiap malam (setelah shalat Magrib sampai waktu Isya) dan setelah shalat Subuh hingga hanya bisa mendengarkan santapan rohani yang lama kelamaan menimbulkan kebosanan bagi para jamaah, sedangkan mereka tersebut siangnya sibuk dengan pekerjaan sehari hari, kondisi ini sangat berbeda dengan yang dilakukankan oleh kebanyakan kaum muslimin /muslimat di berbagai Nagari, sehingga yang menjadi pokok permasaalahan bagi penulis adalah ingin mengajak jemaah untuk menggali lagi isi al qur’an dengan sistem pengajian tafsir al qur’an yang diadakan di Majelis Ta’lim Ranting Aisyiyah Balai Jaring Air Tabit, serta motivasi apa yang mendorong jamaah bersemangat dalam menggali dan mempelajari isi al qur’an itu sendiri yang selama ini mereka dapat melalui ceramah-ceramah biasa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan pengajian tafsir al qur’an di Ranting Aisyiyah Balai Jaring Tabit, bagaimana pelaksanaannya serta mengetahui apa motif dari jamaah melaksanakan pengajian tafsir al qur’an dan nilai-nilai apa yang didapat dalam pelaksanaan pengajian tafsir al qur’an tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, kuisioner terbuka dan dokumentasi yang ada, sedangkan subjek penelitian adalah jamaah Majelis Ta’lim Ranting Aisyiyah Balai Jaring Air Tabit yang berjumlah 38 orang, dan penulis merupakan instrumen utama dari peneltian ini, sedangkan analisis data mengikuti apa yang dikatakan J.Maleong yaitu mereduksi, kategorisasi, sintesisasi dan menyusun hipotesis kerja Hasil penelitian didapat bahwa dalil/dasar dari jamaah untuk melaksanakan pengajian tafsir al qur’an adalah karena jemaah sudah mulai bosan dengan mempelajari isi al qur’an hanya melalui ceramah-ceramah yang mereka dengar pada setiap pengajian, sedangkan pembacaan Al-Qur’an ketika belajar tafsir al qur’an dapat lebih mendalami apa isi dan kandungan yang terdapat dalam al qur’an tersebut.