Profil penulis
a
2.121 karya publik ditemukan.
JUAL BELI ONLINE TANPA APLIKASI MENURUT AL-QUR'AN
PERINTAH BERBUAT BAIK MENURUT KITAB TAFSIR AL-AZHAR
Konsep Pariwisata Dalam Al-Qur'an
Skripsi ini berjudul “Konsep Pariwisata dalam Al-Qur’an”, yang disusun oleh saudara Muhandi, NIM 2219025, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh berkembangnya sektor pariwisata sebagai salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat modern. Dalam perspektif Islam, aktivitas pariwisata tidak hanya dipahami sebagai kegiatan rekreasi, tetapi juga sebagai sarana untuk mengambil pelajaran (ibrah), memperkuat keimanan, mengenal kebesaran Allah Swt., serta merenungkan sejarah kehidupan umat terdahulu sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang komprehensif mengenai konsep pariwisata dalam Al-Qur'an berdasarkan penafsiran para mufasir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep pariwisata dalam Al-Qur'an melalui penafsiran lima kitab tafsir, yaitu Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, Tafsir Al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili, Tafsir Ibnu Katsir, dan Tafsir Al-Qurthubi, terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan aktivitas perjalanan, pengamatan alam, serta pengambilan pelajaran dari peninggalan umat terdahulu. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode tafsir maudhu'i (tematik). Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi terhadap sumber primer dan sekunder, sedangkan analisis data menggunakan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima mufasir memiliki kesamaan pandangan bahwa perintah melakukan perjalanan di muka bumi dalam ayat-ayat tersebut bukan sekadar bertujuan untuk rekreasi, tetapi lebih kepada upaya memperoleh pengetahuan, mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu, mengamati tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta, serta memperkuat keimanan kepada-Nya. Perbedaan penafsiran terletak pada penekanan masing-masing mufasir. Tafsir Al-Misbah lebih menonjolkan relevansi perjalanan dengan pengembangan wawasan dan pembentukan karakter. Tafsir Al-Azhar menekankan nilai pendidikan, pembangunan peradaban, dan kesadaran sosial. Tafsir Al-Munir mengaitkan perjalanan dengan fungsi dakwah, tadabbur, dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Sementara itu, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al-Qurthubi lebih menekankan aspek riwayat, pelajaran dari kehancuran umat terdahulu, serta hikmah yang dapat diambil sebagai bentuk penguatan akidah. Dengan demikian, konsep pariwisata dalam Al-Qur'an merupakan aktivitas yang mengandung dimensi edukatif, spiritual, historis, dan sosial, sehingga mampu mendorong manusia untuk semakin mengenal kebesaran Allah SWT serta mengambil hikmah dari perjalanan yang dilakukan
Memaafkan dalam Perspektif Al-Qur'an dan Relevansinya dengan Kesehatan secara Holistik
ABSTRAK Skripsi ini berjudul “Memaafkan dalam Perspektif Al-Qur’an dan Relevansinya dengan Kesehatan secara Holistik” yang ditulis oleh Adek Rahmat NIRM 2219038, Mahasiswa Institut Darul Qur’an Payakumbuh. Di Penelitian ini penulis mengangkat topik memaafkan dalam perspektif Al-Qur’an yang mana sudah diperintahkan dalam Al-Qur’an semenjak 1400 tahun yang lalu serta sudah di contohkan oleh Rasulullah SAW dan para Sahabat. Disisi lain, Dalam ilmu kesehatan Holistik punya metode pengobatan secara menyeluruh yang mencakup aspek Spiritual, Emosional, mental dan Fisik. Berbeda dengan pengobatan konvensional yang cendrung berfokus pada pengobatan fisik semata. Dalam pengobatan holistic, terutama dalam ilmu Matalogi (analisis tanda tanda lewat iris, sclera dan pupil mata), dibahas mengenai emosi negative seperti tanda tanda dendam, benci, marah dan konsep memaafkan. Peneliti ingin mensyinkron Ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi dengan Ilmu Matalogi tersebut. Penelitian ini menggunakan Pendekatan Kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (Library Research) dan menggunakan metode Tafsir Maudhu’I (Tematik). Hasil Penelitian Menunjukkan 10 Ayat Al-Qur’an tentang memaafkan dengan akar kata al-afw dan Maghfirah. Dengan akar kata al-afw sebanyak 9 ayat dan dengan akar kata Maghfirah sebanyak 1 ayat. Penelitian ini dibagi kepada dua pembahasan. Pertama, Mengklasifikasi ayat ayat tentang memaafkan. Kedua, penafsiran ayat memaafkan, di bagi kepada empat tema, tema pertama memaafkan dalam interaksi social, tema kedua , maafkan orang kafir , tema ketiga memaafkan walaupun sanggup membalas dan tema ke empat, memaafkan dan tidak dendam dalam ruang lingkup keluarga. Integrasi diantara ayat ayat al-qur’an memiliki hubungan langsung terhadap Kesehatan spriritual, mental, emosional dan fisik. Di sertai penjelasan hubungan memaafkan dengan teori Kesehatan secara holistic.
Perintah Berbuat Baik dalam Kitab Tafsir Al-Azhar
Skripsi ini berjudul “Perintah Berbuat Baik dalam Kitab Tafsir AlAzhar “yang ditulis oleh Asnita Efendi, NIRM 2219024, mahasiswi Institut Darul Qur‟an Payakumbuh. Penelitian ini mengkaji penafsiran ayat-ayat tentang ma'ruf dalam AlQur'an menurut Tafsir Al-Azhar karya Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka). Kajian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami konsep ma'ruf secara komprehensif, karena selama ini pemaknaannya sering dipersempit hanya sebagai ajakan kepada kebaikan secara umum, padahal Al-Qur'an menampilkan konsep ma'ruf dalam berbagai dimensi kehidupan, seperti dakwah, kepemimpinan, pendidikan, keluarga, dan kehidupan sosial. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui klasifikasi ayat-ayat ma'ruf serta menganalisis penafsiran Buya Hamka terhadap ayat-ayat tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif. Metode penafsiran yang digunakan adalah metode tafsir maudhū'i menurut Abdul Hayy Al-Farmawi, yaitu dengan menghimpun seluruh ayat yang berkaitan dengan tema ma'ruf, mengurutkannya sesuai kronologi turunnya ayat, memperhatikan munāsabah ayat, mengkaji penafsiran dalam Tafsir Al-Azhar, kemudian menyusun konsep yang utuh mengenai makna ma'ruf berdasarkan keseluruhan ayat yang diteliti. Sumber data primer penelitian ini adalah Tafsir Al-Azhar karya Abdul Malik Karim Amrullah, sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari kitab tafsir, buku, jurnal ilmiah, serta literatur lain yang relevan. Hasil penelitian dibagi menjadi dua pembahasan, pertama klasifikasi ayat dibagi menjadi tiga tema yaitu amar ma‟ruf sebagai identitas dan karakter umat, amar ma‟ruf sebagai misi kenabian dan tanggung jawab kepemimpinan, dan amar ma‟ruf sebagai prinsip pendidikan dan etika sosial. Pembahasan kedua yaitu penafsiran ayat berdasarkan Tafsir Al-Azhar.
Jual Beli Online tanpa Aplikasi Menurut Al-Qur`an
Perkembangan teknologi komunikasi digital melahirkan fenomena jual beli online tanpa aplikasi, yakni transaksi melalui telepon atau WhatsApp tanpa dukungan platform e-commerce terstruktur. Praktik ini berpotensi mengandung gharar (ketidakjelasan) akibat ketiadaan dokumentasi formal, ketidakjelasan spesifikasi barang, dan minimnya perlindungan konsumen. Kementerian Perdagangan RI mencatat bahwa dari 20.942 keluhan konsumen sejak 2022 hingga Maret 2025, sebanyak 92% berasal dari transaksi online yang umumnya berkaitan dengan barang tidak sesuai spesifikasi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mengklasifikasikan ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan fenomena tersebut, menafsirkannya melalui Tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili, dan merumuskan pandangan Al-Qur'an yang komprehensif terhadap fenomena jual beli online tanpa aplikasi. Penelitian ini merupakan library research dengan pendekatan kualitatif-deskriptif analitis, menggunakan metode tafsir maudhu'i model kedua Muhammad Baqir al-Shadr yang bertolak dari fenomena kehidupan nyata sebelum mendatangi Al-Qur'an sebagai sumber jawaban. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat-ayat yang relevan terbagi dalam dua tema. Tema yang pertama adalah Muamalah dan Transaksi Ekonomi dalam Islam, mencakup Q.S. Al-Baqarah [2]: 282 tentang perintah pencatatan dan dokumentasi transaksi, Q.S. An-Nisa [4]: 29 tentang larangan transaksi batil dan perintah an-tarādhin yang hakiki, serta Q.S. Al-Baqarah [2]: 275 tentang kehalalan jual beli dan keharaman riba. Tema yang kedua adalah Perdagangan sebagai Konsep Dunia dan Akhirat, diwakili Q.S. As-Saff [61]: 10 tentang tijarah yang menyelamatkan sebagai landasan etika dan spiritualitas perdagangan. Berdasarkan penafsiran az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir, pandangan AlQur'an terhadap jual beli online tanpa aplikasi dapat dirumuskan sebagai berikut. Pertama, status hukum dasarnya adalah boleh (halal) karena termasuk dalam albay' yang dihalalkan Allah secara umum (lil-jinsi). Kedua, kebolehan tersebut terikat pada empat syarat minimal, yaitu adanya dokumentasi digital yang memadai sebagai al-bayyinah modern berdasarkan pandangan Ibnu al-Qayyim yang dikutip az-Zuhaili, terpenuhinya an-tarādhin yang hakiki melalui spesifikasi barang yang jelas dan dapat diverifikasi, terjaganya nilai shidq, amanah, dan tabligh dalam seluruh proses transaksi, serta bebasnya transaksi dari riba, gharar kathir, dan tadlis. Ketiga, apabila syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi sehingga terdapat gharar kathir maka akad menjadi fasid (rusak), dan apabila terdapat tadlis yang disengaja maka akad menjadi batil.
Penafsiran Mahmud Yunus tentang Batasan Aurat Perempuan dalam Surah An-Nur Ayat 31
Skripsi berjudul “Penafsiran Mahmud Yunus Tentang Batasan Aurat Perempuan Dalam Surah An-Nur 31” yang ditulis olch Delfi Yuliandra, NIM. 2219005, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perbedaan pendapat para ulama dan mufassir mengenai batasan aurat perempuan, khususnya dalam menafsirkan frasa illā mā zhahara minhā (kecuali yang biasa tampak) dalam Q.S. An-Nur: 31, yang ada dalam Tafsir Qur’an Karim memiliki pendekatan penafsiran yang khas dan kontekstual terhadap ayat ini. Adapun rumusan masalah Skripsi ini: Bagaimana penafsiran Mahmud Yunus tentang aurat dalam Q.S. An-Nur: 31, Batasan Masalah: Pertama, mengungkapkan penafsiran Mahmud Yunus terhadap Q.S. An-Nur: 31. Kedua, Analisis terhadap penafsiran Mahmud Yunus Surah An-Nur: 31. Dan tujuan penelitian ini yaitu: untuk mengatahui penafsiran Mahmud Yunus Surah An-Nur: 31. Metode penelitian ini ialah kualitatif, jenis penelitian kepustakaan (library research), dengan pendekatan fikih. Sumber data primer penelitian ini adalah Tafsir Qur’an Karim karya Mahmud Yunus dan sumber sekunder jurnal ilmiah karya Hanna Salsabila, dan teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumentasi dengan pedoman dokumentasi yang tersusun berdasarkan rumusan masalah. Analisis data dilakukan melalui metode deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan, Mahmud Yunus menafsirkan Q.S. An-Nur: 31merujuk kepada tafsir ibnu Abbas bahwa anggota yang biasa terbuka itu adalah muka dan telapak tangan juga diperkuat dengan hadis Nabi juga mengatakan hanya muka dan telapak tangan, tetapi jika dilihat dari pendekatan keilmuan Mahmud Yunus iya ber mazhab hanafi, menurut Wahbah az-Zuhaili dalam tafsir al-Munir mengatakan bahwa Diriwayatkan dari Imam Abu Hanifah bahwasanya kedua telapak kaki juga bukan termasuk aurat. Sebab unsur kerepotan dalam menutup kedua telapak kaki lebih besar daripada dalam menutup kedua telapak tangan, terutama bagi para penduduk. Analisis terhadap penafsiran Mahmud Yunus bahwa penafsirannya merupakan sintesis antara sumber bil ma’tsur (Ibnu Abbas dan hadis Sunan Abu Dawud) dan bil ra’yi (mazhab Hanafi), dengan metode gabungan ijmali-tahlili dan corak adabul ijtima’i. Posisi penafsirannya moderat luas lebih luas dari mazhab Syafi’i namun sejalan dengan mazhab Hanafi serta relevan sebagai rujukan tafsir kontekstual bagi masyarakat Muslim Indonesia yang beragam secara budaya.
Rekonstruksi Pemikiran Theodor Nöldeke Tentang Kodifikasi Al-Qur`an
Skripsi berjudul “ Rekonstruksi Pemikiran Theodor Nöldeke Tentang Kodifikasi Al-Qur`an” yang ditulis oleh Abdul Hamid, NIM. 2219029, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Usulluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur`an (IDAQU) Payakumbuh. Al-Qur'an merupakan kitab suci umat Islam yang diyakini sebagai wahyu Allah Swt yang keasliannya dijaga melalui proses hafalan dan kodifikasi. Namun, dalam sejarah perkembangan akademik Barat,kodifikasi Al-Qur'an sering kali dikaji oleh sarjana orientalis melalui pendekatan historis-kritis yang melahirkan perdebatan teologis dan historis. Salah satu tokoh sentral orientalis dalam kajian ini adalah Theodor Nöldeke melalui karya monumentalnya The History of the Qur'an. Beberapa asumsi Nöldeke dinilai kontroversial dan menuai kritik dari sarjana Muslim karena meragukan validitas riwayat tradisional Islam serta mengabaikan otoritas transmisi riwayat, sehingga diperlukan upaya rekonstruksi ilmiah secara objektif dan berimbang guna memahami dinamika pemikirannya dalam khazanah dialog akademik. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat deskriptif-analitis. Peneliti melakukan telaah kritis terhadap teks dan struktur gagasan tokoh dengan menguji pola argumentasi secara logis dan metodologis. Sumber data penelitian ini dibagi menjadi dua kategori. Sumber primer bertumpu pada karya asli Theodor Nöldeke, yaitu buku The History of the Qur'an edisi revisi. Sumber sekunder mencakup literatur pendukung berupa buku buku ‘Ulum al-Qur’an, skripsi, tesis, disertasi, serta jurnal ilmiah yang mengkaji pemikiran orientalis maupun karya sarjana Muslim yang memberikan kritik. Hasil penelitian di bagi ke dalam dua bagian: 1. Pemikiran Theodor Nöldeke pada bagian asumsinya mengatakan kalau dia meragukan mutu penghafAl-Qur`an hal ini berdasarkan data korban L. Caeni, Theodor Nöldeke berargumen kalau korban dari perang Yamamah itu merupakan mualaf baru bukan para penghafAl-Qur`an (huffaz), Theodor Nöldeke juga meragukan mengenai waktu dalam proses pengumpulan Al-Qur`an pada masa Abu Bakar yang dinilai terlalu singkat lebih kurang 15 bulan untuk proyek yang sebesar itu dan juga Theodor Nöldeke mengganggap bahwa Al-Qur`an yang sudah terkumpul,kemudian Umar Bin Khattab menyerahkanya kepada Hafsah Binti Umar merupakan koleksi Pribadi bukan milik negara. 2. Metode yang digunakan oleh Theodor Nöldeke dalam mengkaji/meneliti sebuah teks Al-Qur`an menggunakan Metode Filologi/ Kritik Historis-Tekstual ala barat yang akan dibahas dalam penelitian ini asumsi dasar Theodor Nöldeke dan tanggapanya. Rekonstruksi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa Theodor Nöldeke tidak langsung percaya dengan adanya apa yang sudah tertulis dalam sebuah teks (skeptisisme metodologis) sehingga dia akan menganalisis gaya bahasa dari teks tersebut, mencari keterkaitan antara teks yang satu dengan teks yang lain, ulama muslim berbeda pendapat mengenai hal tersebus salah satunya menurut Imam Jalaluddin As Suyuti mengatakan kalau apa yang sudah tertulis dalam Al-Qur`an itu memang itu datang dari Allah SWT hal ini di dasarkan pada hadis yang Shahih,Mutawatir.
Nisab Zakat Padi Masyarakat Nagari Sitanang (Kajian Ayat-ayat Zakat)
Skrispsi ini berjudul “NISAB ZAKAT PERTANIAN (PADI) MASYARAKAT NAGARI SITANANG (KAJIAN AYAT-AYAT ZAKAT)”, yang ditulis oleh Syamsul Hanafi, NIM 2219001, Mahasiswa Institut Darul Quran (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan antara pemahaman masyarakat dan praktik pelaksanaan nisab zakat pertanian padi di Nagari Sitanang. Masyarakat pada umumnya telah mengetahui adanya ketentuan nisab sebagai syarat wajib zakat, namun pelaksanaannya masih mengacu pada ukuran lokal yang diwariskan secara turun-temurun sehingga belum sepenuhhnya sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan nisab zakat pertanian padi di Nagari Sitanang serta menganalisis berdasarkan penafsiran ayat-ayat zakat. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan metode tafsir maudu’i Baqir Shadr dengan mengkaji ayat-ayat zakat pertanian, khususnya penafsiran QS. Al-Baqarah : 267 dan QS Al-An’am : 141. Adapun sumber data dari penelitian ini yaitu data primer dengan mewawancarai langsung petani, pemuka masyarakat dan juga alim ulama di Nagari Sitanang, dan data sekunder untuk melengkapi data primer yang terkait dengan zakat pertanian padi. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat Nagari Sitanang mengenai nisab zakat pertanian masih beragam. Sebagian telah memahami dan melaksanakan zakat pertanian dengan berpedoman pada nisab 1.000 gantang sebagai konversi dari lima wasaq, serta mengetahui perbedaan kadar zakat sebesar 10% untuk sawah tadah hujan dan 5% untuk sawah beririgasi. Namun, sebagian masyarakat lainnya hanya mengetahui ukuran nisab berdasarkan tradisi turun-temurun tanpa memahami dasar hukum, kadar zakat, maupun tata cara pendistribusiannya sesuai syariat. Berdasarkan kajian QS. Al-Baqarah ayat 267 dan QS. Al-An'am ayat 141, pelaksanaan zakat pertanian harus mengacu pada ketentuan syariat yang meliputi nisab, kadar zakat, waktu pelaksanaan pada saat panen, serta kualitas hasil panen yang dizakatkan. Dalam kitab tafsir bercorak fiqh lima wasaq disetarakan dengan 653 kg gabah kering. Kemudian penelitian ini juga menunjukkan bahwa tokoh agama memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman masyarakat mengenai zakat pertanian, namun peran tersebut belum optimal karena masih terbatasnya pembinaan dan sosialisasi dari UPZ dan BAZNAS, sehingga diperlukan edukasi yang berkelanjutan agar pelaksanaan zakat pertanian sesuai dengan ketentuan syariat Islam.
Nasehat Sebagai Tahap Penyelesain Nusyuz (Analisis lafadz) Faizhuhunna dalam Tafsir Ahkam AL-Qur'an Karya Ibnu AL-Arabi
Skripsi ini berjudul "Nasehat Sebagai Tahap Penyelesaian Nusyuz (Analisis Lafad Fa'izhuhunna dalam Tafsir Ahkam Al-Qur'an Karya Ibnu Al-Arabi)", yang disusun oleh saudara Pauji Hidayat Tanjung. NIM. 2219041, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur'an (IDAQU) Payakumbuh. Permasalahan yang melatarbelakangi penelitian ini adalah Fenomena. pembangkangan istri (nusyuz) dalam rumah tangga menjadi salah satu persoalan yang banyak dibahas dalam perspektif hukum Islam. Nusyuz dipahami sebagai sikap tidak taat atau munculnya ketidakharmonisan antara suami dan istri yang dapat mengganggu keutuhan keluarga. Jenis peneltian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif, metode yang digunakan bersifat deskriptif analitis. Adapun pendekatan metode tafsir yang digunakan adalah tafsir tahlili. Metode tahlili yang di pakai yaitu metode Abdul Hayy al-Farmawi. Sumber data utama adalah kitab ahkam Al-Qur'an karya Ibn Al-Arabi. Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana bentuk-bentuk nasihat sebagai tahap penyelesaian nusyuz pada lafadz faizhuhunna menurut Tafsir Ahkam Al-Qur'an karya Ibnu al-'Arabi, Batasan masalah yang dibahas yaitu menjelaskan penafsiran Ibnu Al-Arabi' tentang lafad: fa'izhuhunna dalam Q.S. An-Nisa':34, serta Analisis penafsiran lafadz fa'izhuhunna dalam tafsir ibnu AL-Arab Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya langkap ataupun poin-poin yang harus disampaikan kepada istri yang nusyuz, dan Ibn Al-Arabi lebih mengutamakan cara menasihati istri yang nusyuz di banding cara pisah ranjang ataupun memukul.
Penafsiran Mahmud Yunus Tentang Batasan Aurat Perempuan dalam Surah An-Nur ayat 31
Skripsi berjudul “Penafsiran Mahmud Yunus Tentang Batasan Aurat Perempuan Dalam Surah An-Nur 31” yang ditulis olch Delfi Yuliandra, NIM. 2219005, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perbedaan pendapat para ulama dan mufassir mengenai batasan aurat perempuan, khususnya dalam menafsirkan frasa illā mā zhahara minhā (kecuali yang biasa tampak) dalam Q.S. An-Nur: 31, yang ada dalam Tafsir Qur’an Karim memiliki pendekatan penafsiran yang khas dan kontekstual terhadap ayat ini. Adapun rumusan masalah Skripsi ini: Bagaimana penafsiran Mahmud Yunus tentang aurat dalam Q.S. An-Nur: 31, Batasan Masalah: Pertama, mengungkapkan penafsiran Mahmud Yunus terhadap Q.S. An-Nur: 31. Kedua, Analisis terhadap penafsiran Mahmud Yunus Surah An-Nur: 31. Dan tujuan penelitian ini yaitu: untuk mengatahui penafsiran Mahmud Yunus Surah An-Nur: 31. Metode penelitian ini ialah kualitatif, jenis penelitian kepustakaan (library research), dengan pendekatan fikih. Sumber data primer penelitian ini adalah Tafsir Qur’an Karim karya Mahmud Yunus dan sumber sekunder jurnal ilmiah karya Hanna Salsabila, dan teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumentasi dengan pedoman dokumentasi yang tersusun berdasarkan rumusan masalah. Analisis data dilakukan melalui metode deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan, Mahmud Yunus menafsirkan Q.S. An-Nur: 31merujuk kepada tafsir ibnu Abbas bahwa anggota yang biasa terbuka itu adalah muka dan telapak tangan juga diperkuat dengan hadis Nabi juga mengatakan hanya muka dan telapak tangan, tetapi jika dilihat dari pendekatan keilmuan Mahmud Yunus iya ber mazhab hanafi, menurut Wahbah az-Zuhaili dalam tafsir al-Munir mengatakan bahwa Diriwayatkan dari Imam Abu Hanifah bahwasanya kedua telapak kaki juga bukan termasuk aurat. Sebab unsur kerepotan dalam menutup kedua telapak kaki lebih besar daripada dalam menutup kedua telapak tangan, terutama bagi para penduduk. Analisis terhadap penafsiran Mahmud Yunus bahwa penafsirannya merupakan sintesis antara sumber bil ma’tsur (Ibnu Abbas dan hadis Sunan Abu Dawud) dan bil ra’yi (mazhab Hanafi), dengan metode gabungan ijmali-tahlili dan corak adabul ijtima’i. Posisi penafsirannya moderat luas lebih luas dari mazhab Syafi’i namun sejalan dengan mazhab Hanafi serta relevan sebagai rujukan tafsir kontekstual bagi masyarakat Muslim Indonesia yang beragam secara budaya.
NASEHAT SEBAGAI TAHAP PENYELESAIN NUSYUZ (ANALISIS LAFADZ ) fa'izhuhunna dalam tafsir ahkam AL-Qur'an karya ibnu AL-Arabi
Skripsi ini berjudul "Nasehat Sebagai Tahap Penyelesaian Nusyuz (Analisis Lafad Fa'izhuhunna dalam Tafsir Ahkam Al-Qur'an Karya Ibnu Al-Arabi)", yang disusun oleh saudara Pauji Hidayat Tanjung. NIM. 2219041, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur'an (IDAQU) Payakumbuh. Permasalahan yang melatarbelakangi penelitian ini adalah Fenomena. pembangkangan istri (nusyuz) dalam rumah tangga menjadi salah satu persoalan yang banyak dibahas dalam perspektif hukum Islam. Nusyuz dipahami sebagai sikap tidak taat atau munculnya ketidakharmonisan antara suami dan istri yang dapat mengganggu keutuhan keluarga. Jenis peneltian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif, metode yang digunakan bersifat deskriptif analitis. Adapun pendekatan metode tafsir yang digunakan adalah tafsir tahlili. Metode tahlili yang di pakai yaitu metode Abdul Hayy al-Farmawi. Sumber data utama adalah kitab ahkam Al-Qur'an karya Ibn Al-Arabi. Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana bentuk-bentuk nasihat sebagai tahap penyelesaian nusyuz pada lafadz faizhuhunna menurut Tafsir Ahkam Al-Qur'an karya Ibnu al-'Arabi, Batasan masalah yang dibahas yaitu menjelaskan penafsiran Ibnu Al-Arabi' tentang lafad: fa'izhuhunna dalam Q.S. An-Nisa':34, serta Analisis penafsiran lafadz fa'izhuhunna dalam tafsir ibnu AL-Arab Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya langkap ataupun poin-poin yang harus disampaikan kepada istri yang nusyuz, dan Ibn Al-Arabi lebih mengutamakan cara menasihati istri yang nusyuz di banding cara pisah ranjang ataupun memukul.
Penggunaan kata laita dalam Al-Qur'an (Studi Analisis Kitab Tafsir Fathul Qadir karya Imam Asy Syauqani)
Skripsi ini berjudul “Penggunaan kata Laita dalam Al-Qur’an (Studi Analisis Kitab Tafsir Fathul Qadir)” yang ditulis oleh Soleman, NIM. 2219014, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keberagaman penggunaan kata laita dalam Al Qur’an yang tidak selalu dipahami dalam satu makna dalam Al-Qur’an, tetapi dapat menunjukkan makna yang berbeda sesuai dengan konteks ayat. Kata laita memiliki fungsi kebahasaan yang beragam sehingga menarik untuk dikaji melalui penafsiran para mufasir. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan ayat-ayat Al Qur’an yang mengandung kata laita berdasarkan subjek yang mengucapkan, serta menganalisis penafsiran kata laita dalam Tafsir Fathul Qadir. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research). Metode yang digunakan adalah metode tafsir maudhu’i. Sumber data primer penelitian ini adalah Tafsir Fathul Qadir karya Imam Asy-Syauqani, dan sumber sekunder lain yang dapat menjadi data penunjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kata laita dalam Al Qur’an disebutkan sebanyak 14 kali. Dari segi subjek yang mengucapkannya dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, pertama orang beriman 2 ayat, kedua orang munafik 1 ayat, dan ketiga orang kafir 11 ayat. Berdasarkan analisis penafsiran dalam Tafsir Fathul Qadir, penggunaan kata laita menunjukkan variasi makna yang dipengaruhi oleh konteks ayat dan keadaan subjek yang mengucapkannya. Berkaitan dengan orang beriman, laita bermakna angan-angan dan harapan yang sulit terwujud. Pada orang munafik, laita bermakna penyesalan yang lahir dari kepentingan duniawi. Adapun pada orang kafir, laita bermakna angan-angan, harapan, dan penyesalan setelah tersingkapnya kebenaran serta datangnya azab Allah SWT. Dari keseluruhan data yang diteliti, makna yang paling dominan adalah angan-angan, terutama angan-angan terhadap sesuatu yang telah berlalu atau mustahil terwujud kembali. Kata Kunci: Laita, At-Tamanni, Tafsir Fathul Qadir, Penggunaan Kata Laita.
ANALISIS PENAFSIRAN SURAT AL-QARIAH PERSPEKTIF TAFSIR AT-THABARI DAN TAFSIR AL-AZHAR
Skripsi ini berjudul “Analisis Penafsiran Surat Al-Qariah Perspektif Tafsir AtThabari Dan Tafsir Al-Azha” yang ditulis oleh Zulyadein, NIM. 2219021, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya asumsi yang mengatakan hari kiamat terjadi pada hari ini, dan itu. Padahal sebenarnya hanya Allah yang tahu kapan terjadinya. Maka penafsiran surah al Qari`ah ini semoga dapat menjawab seluruh asumsi yang berseleweran dimasyarakat dengan pendekatan penafsiran at Thabari dan Buya Hamka dalam tafsirnya. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research). Metode yang digunakan adalah metode tafsir muqaran. Sumber data primer penelitian ini adalah Tafsir at Thabari dan Tafsir al Azhar, dan sumbersumber sekunder lain yang dapat menjadi data penunjang. Hasil dari penelitian yang dilakukan penulis adalah sebagai berikut. Bahwa dalam penafsiran yang dilakukan tidak terdapat satu ayat dan penafsiran yang mengatakan bahwa hari kiamat terjadi dengan pastinya kapan, akan tetapi dalam ayat tersebut disampaikan bahwa keadaan dan kondisi bagaimana sebelum dan sesudah terjadinya hari kiamat. Pada penafsiran surah al-Qari`ah juga terdapat kekhususan dalam pembahasannya, di antaranya, dari bidang bahasa, al Qariah lebih tegas karena ada pengulangan, lebih to the point karena langsung membahas keadaan manusia dan hari kiamat itu sendiri dibandingkan dengan surah lain, seperti al Zalzalah, kalau di al Zalzalah hanya membahas balasan amal manusia saja. Sedangkan analisis dari perbedaan penafsiran yang dapat disimpulkan adalah pada metode keduanya sama sama menggunakan metode Tahlili yaitu menafsirkan al Qur`an secara keseluruhan yang dimulai dari surah al Fatihah sampai yang terakhir surah an Naas. Pada bagian corak juga sama, akan tetapi berbada dalam pendektan coraknya yaitu lughawi. Buya Hamka menggunakan pendekatan kebahasaan Nusantara, sedangkan at Thabari dengan pendekatan dengan riwayat.
REKONSTRUKSI PEMIKIRAN THEODOR NÖLDEKE TENTANG KODIFIKASI AL-QUR`AN
Skripsi berjudul “ Rekonstruksi Pemikiran Theodor Nöldeke Tentang Kodifikasi Al-Qur`an” yang ditulis oleh Abdul Hamid, NIM. 2219029, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Usulluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur`an (IDAQU) Payakumbuh. Al-Qur'an merupakan kitab suci umat Islam yang diyakini sebagai wahyu Allah Swt yang keasliannya dijaga melalui proses hafalan dan kodifikasi. Namun, dalam sejarah perkembangan akademik Barat,kodifikasi Al-Qur'an sering kali dikaji oleh sarjana orientalis melalui pendekatan historis-kritis yang melahirkan perdebatan teologis dan historis. Salah satu tokoh sentral orientalis dalam kajian ini adalah Theodor Nöldeke melalui karya monumentalnya The History of the Qur'an. Beberapa asumsi Nöldeke dinilai kontroversial dan menuai kritik dari sarjana Muslim karena meragukan validitas riwayat tradisional Islam serta mengabaikan otoritas transmisi riwayat, sehingga diperlukan upaya rekonstruksi ilmiah secara objektif dan berimbang guna memahami dinamika pemikirannya dalam khazanah dialog akademik. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat deskriptif-analitis. Peneliti melakukan telaah kritis terhadap teks dan struktur gagasan tokoh dengan menguji pola argumentasi secara logis dan metodologis. Sumber data penelitian ini dibagi menjadi dua kategori. Sumber primer bertumpu pada karya asli Theodor Nöldeke, yaitu buku The History of the Qur'an edisi revisi. Sumber sekunder mencakup literatur pendukung berupa buku buku ‘Ulum al-Qur’an, skripsi, tesis, disertasi, serta jurnal ilmiah yang mengkaji pemikiran orientalis maupun karya sarjana Muslim yang memberikan kritik. Hasil penelitian di bagi ke dalam dua bagian: 1. Pemikiran Theodor Nöldeke pada bagian asumsinya mengatakan kalau dia meragukan mutu penghafAl-Qur`an hal ini berdasarkan data korban L. Caeni, Theodor Nöldeke berargumen kalau korban dari perang Yamamah itu merupakan mualaf baru bukan para penghafAl-Qur`an (huffaz), Theodor Nöldeke juga meragukan mengenai waktu dalam proses pengumpulan Al-Qur`an pada masa Abu Bakar yang dinilai terlalu singkat lebih kurang 15 bulan untuk proyek yang sebesar itu dan juga Theodor Nöldeke mengganggap bahwa Al-Qur`an yang sudah terkumpul,kemudian Umar Bin Khattab menyerahkanya kepada Hafsah Binti Umar merupakan koleksi Pribadi bukan milik negara. 2. Metode yang digunakan oleh Theodor Nöldeke dalam mengkaji/meneliti sebuah teks Al-Qur`an menggunakan Metode Filologi/ Kritik Historis-Tekstual ala barat yang akan dibahas dalam penelitian ini asumsi dasar Theodor Nöldeke dan tanggapanya. Rekonstruksi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa Theodor Nöldeke tidak langsung percaya dengan adanya apa yang sudah tertulis dalam sebuah teks (skeptisisme metodologis) sehingga dia akan menganalisis gaya bahasa dari teks tersebut, mencari keterkaitan antara teks yang satu dengan teks yang lain, ulama muslim berbeda pendapat mengenai hal tersebus salah satunya menurut Imam Jalaluddin As Suyuti mengatakan kalau apa yang sudah tertulis dalam Al-Qur`an itu memang itu datang dari Allah SWT hal ini di dasarkan pada hadis yang Shahih,Mutawatir.
NISAB ZAKAT PERTANIAN (PADI) MASYARAKAT NAGARI SITANANG (Kajian Ayat-ayat Zakat)
Skrispsi ini berjudul “NISAB ZAKAT PERTANIAN (PADI) MASYARAKAT NAGARI SITANANG (KAJIAN AYAT-AYAT ZAKAT)”, yang ditulis oleh Syamsul Hanafi, NIM 2219001, Mahasiswa Institut Darul Quran (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan antara pemahaman masyarakat dan praktik pelaksanaan nisab zakat pertanian padi di Nagari Sitanang. Masyarakat pada umumnya telah mengetahui adanya ketentuan nisab sebagai syarat wajib zakat, namun pelaksanaannya masih mengacu pada ukuran lokal yang diwariskan secara turun-temurun sehingga belum sepenuhhnya sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan nisab zakat pertanian padi di Nagari Sitanang serta menganalisis berdasarkan penafsiran ayat-ayat zakat. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan metode tafsir maudu’i Baqir Shadr dengan mengkaji ayat-ayat zakat pertanian, khususnya penafsiran QS. Al-Baqarah : 267 dan QS Al-An’am : 141. Adapun sumber data dari penelitian ini yaitu data primer dengan mewawancarai langsung petani, pemuka masyarakat dan juga alim ulama di Nagari Sitanang, dan data sekunder untuk melengkapi data primer yang terkait dengan zakat pertanian padi. Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat Nagari Sitanang mengenai nisab zakat pertanian masih beragam. Sebagian telah memahami dan melaksanakan zakat pertanian dengan berpedoman pada nisab 1.000 gantang sebagai konversi dari lima wasaq, serta mengetahui perbedaan kadar zakat sebesar 10% untuk sawah tadah hujan dan 5% untuk sawah beririgasi. Namun, sebagian masyarakat lainnya hanya mengetahui ukuran nisab berdasarkan tradisi turun-temurun tanpa memahami dasar hukum, kadar zakat, maupun tata cara pendistribusiannya sesuai syariat. Berdasarkan kajian QS. Al-Baqarah ayat 267 dan QS. Al-An'am ayat 141, pelaksanaan zakat pertanian harus mengacu pada ketentuan syariat yang meliputi nisab, kadar zakat, waktu pelaksanaan pada saat panen, serta kualitas hasil panen yang dizakatkan. Dalam kitab tafsir bercorak fiqh lima wasaq disetarakan dengan 653 kg gabah kering. Kemudian penelitian ini juga menunjukkan bahwa tokoh agama memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman masyarakat mengenai zakat pertanian, namun peran tersebut belum optimal karena masih terbatasnya pembinaan dan sosialisasi dari UPZ dan BAZNAS, sehingga diperlukan edukasi yang berkelanjutan agar pelaksanaan zakat pertanian sesuai dengan ketentuan syariat Islam.
Penafsiran Surah Al-Fatihah dalam Tafsir Al-bahr Al-Muhit
Skripsi yang berjudul ―Penafsiran Surah Al-Fatihah dalam Tafsir Al-Bahr AlMuhith‖ yang disusun oleh Ardiansyah NIM 2219045 program studi Ilmu AlQur‘an dan Tafsir Institut Darul Qur‘an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh posisi surah Al-Fatihah dianggap sebagai surah yang paling mulia dalam Al-Quran karena memiliki peran yang krusial dalam pelaksanaan sholat, yaitu sebagai salah satu dari rukun sholat. Pengkajian surah Al-Fatihah sangat dibutuhkan untuk memahami makna dari setiap potongan ayat dalam surah tersebut. Salah satu diantaranya adalah penafsiran surah AlFatihah dari aspek lughawi. Hal tersebut mendorong minat penulis untuk meneiliti penafsiran surah Al-Fatihah dalam tafsir Al-Bahr Al-Muhith, untuk mengetahui bagaimana penafsiran surah Al-Fatihah dalam tafsir Al-Bahr Al-Muhith berdasarkan aspek ilmu nahwu dan ilmu sharaf. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian pustaka (library reseach), dengan pendekatan kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini berfokus langsung pada kitab tafsir Al-Bahr Al-Muhith surah Al-Fatihah, artikel, jurnal dan buku-buku lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah bentuk dokumentasi, dimana data-data pada penelitian ini diperoleh dari dokumen-dokumen berupa kitab-kitab lughah, buku, tulisan, dan lampiran. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan bentuk deskriptif analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama pada penafsiran surah Al-Fatihah dalam tafsir Al-Bahr Al-Muhith berdasarkan aspek ilmu nahwu ditemukan hasil, ayat pertama huruf ba‘ pada kata bismi makna sebagai isti‟anah (memohon pertolongan), ilshaq (keterikatan), ayat kedua lafadz ―Al-hamdu” dibaca dengan rafa‘ sebagai mubtada‘ , “lillaahi”, terdapat huruf lam bermakna istihqaq (hak mutlak). menujukkan pernyataan segala pujian adalah milik Allah semata. Pada susunan ayat kelima “iyyaka na‟budu”, terdapat taqdim (pendahuluan) pada peletakan maf‘ul yang berfungsi sebagai hasr (pembatasan), artinya segala ibadah tidak layak dilakukan kecuali semata-mata karena Allah. Kedua, ditinjau dari segi ilmu sharaf ditemukan hasil; pada ayat ketiga lafadz “Ar-Rahman Ar-Rahim” menunjukkan bentuk mubalaghah, Ar-Rahman bermakna kasih sayang secara umum, sedangkan Ar-Rahim diberikan secara khusus dan berkelanjutan. Pada ayat kelima lafadz “nasta‟iin” berasal dari wazan “istif‟al” menunjukkan makna permohonan, artinya sesungguhnya manusia selalu membutuhkan pertololongan dari Allah dan hanya Allah lah yang mampu menolong manusia dalam keadaan apapun. Pada ayat ketujuh lafadz an‟amta merupakan wazan af‟ala yang berfungsi memberikan pengaruh kepada objek atau menjadikan seseorang memperoleh sesuatu, arti ayat ini menjadi ―Engkau beri mikmat‖.
PEMAHAMAN YAHYA WALONI TERHADAP AYAT AL-QUR’AN (ANALISIS KONTEN)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin berkembangnya penyampaian tafsir Al-Qur'an melalui media digital, khususnya ceramah yang disebarluaskan melalui platform YouTube. Salah satu tokoh yang aktif menyampaikan dakwah melalui media tersebut adalah Yahya Waloni. Dalam ceramahnya, ia sering menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an sebagai dasar penyampaian pesan keagamaan sehingga menarik untuk dikaji dari perspektif ilmu tafsir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistematika Yahya Waloni dalam menjelaskan ayat-ayat Al-Qur'an serta menganalisis pemahamannya terhadap ayat-ayat yang disampaikan dalam ceramah berjudul Ceramah Tegas! yang dipublikasikan pada 26 Juli 2020 di kanal YouTube Islam Sumirat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian analisis konten (content analysis). Sumber data primer berupa video ceramah Yahya Waloni, sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari kitab-kitab tafsir, buku, jurnal ilmiah, dan berbagai literatur yang berkaitan dengan ilmu tafsir, metodologi penelitian, dan analisis konten. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan studi kepustakaan, kemudian dianalisis secara deskriptif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistematika Yahya Waloni dalam menjelaskan ayat Al-Qur'an diawali dengan menjadikan ayat sebagai landasan utama pembahasan, kemudian memperkuat penjelasan melalui rujukan terhadap literatur keislaman, hadis, kisah-kisah para nabi, serta ilustrasi yang bersifat rasional dan ilmiah. Selanjutnya, kandungan ayat dihubungkan dengan realitas kehidupan masyarakat, kondisi umat Islam, dan berbagai persoalan dakwah, sebelum diakhiri dengan penekanan terhadap implementasi nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Pola penyampaian tersebut menunjukkan kecenderungan sistematika yang bersifat deduktif, yaitu berangkat dari dalil normatif menuju penerapan praktis dalam kehidupan. Adapun pemahaman Yahya Waloni terhadap ayat-ayat Al-Qur'an lebih menonjolkan fungsi dakwah, penguatan akidah, pembinaan ibadah, persatuan umat, dan motivasi keagamaan daripada pembahasan aspek kebahasaan, asbāb al-nuzūl, munāsabah, maupun perbedaan pendapat para mufasir. Dengan demikian, penafsiran yang disampaikan dalam ceramah lebih berorientasi pada penyampaian pesan-pesan dakwah yang aplikatif bagi masyarakat.
Penafsiran Surat Al-Qariah Perspektif Tafsir AT-Thabari dan Tafsir AL-Azhar
Skripsi ini berjudul “Analisis Penafsiran Surat Al-Qariah Perspektif Tafsir AtThabari Dan Tafsir Al-Azha” yang ditulis oleh Zulyadein, NIM. 2219021, mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, Institut Darul Qur’an (IDAQU) Payakumbuh. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya asumsi yang mengatakan hari kiamat terjadi pada hari ini, dan itu. Padahal sebenarnya hanya Allah yang tahu kapan terjadinya. Maka penafsiran surah al Qari`ah ini semoga dapat menjawab seluruh asumsi yang berseleweran dimasyarakat dengan pendekatan penafsiran at Thabari dan Buya Hamka dalam tafsirnya. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research). Metode yang digunakan adalah metode tafsir muqaran. Sumber data primer penelitian ini adalah Tafsir at Thabari dan Tafsir al Azhar, dan sumbersumber sekunder lain yang dapat menjadi data penunjang. Hasil dari penelitian yang dilakukan penulis adalah sebagai berikut. Bahwa dalam penafsiran yang dilakukan tidak terdapat satu ayat dan penafsiran yang mengatakan bahwa hari kiamat terjadi dengan pastinya kapan, akan tetapi dalam ayat tersebut disampaikan bahwa keadaan dan kondisi bagaimana sebelum dan sesudah terjadinya hari kiamat. Pada penafsiran surah al-Qari`ah juga terdapat kekhususan dalam pembahasannya, di antaranya, dari bidang bahasa, al Qariah lebih tegas karena ada pengulangan, lebih to the point karena langsung membahas keadaan manusia dan hari kiamat itu sendiri dibandingkan dengan surah lain, seperti al Zalzalah, kalau di al Zalzalah hanya membahas balasan amal manusia saja. Sedangkan analisis dari perbedaan penafsiran yang dapat disimpulkan adalah pada metode keduanya sama sama menggunakan metode Tahlili yaitu menafsirkan al Qur`an secara keseluruhan yang dimulai dari surah al Fatihah sampai yang terakhir surah an Naas. Pada bagian corak juga sama, akan tetapi berbada dalam pendektan coraknya yaitu lughawi. Buya Hamka menggunakan pendekatan kebahasaan Nusantara, sedangkan at Thabari dengan pendekatan dengan riwayat.